Friday, 8 May 2020

Futuhat Makiyah jilid 2 : sebuah coretan singkat tentang Bismilah



Judul Buku
: Al Futuhat Al Makiyah : Risalah tentang Makrifah Rahasia-rahasia Sang Raja dan KerajaanNya Jilid 2
Pengarang
: Ibnu Arabi, alih bahasa oleh Harun Nur Rosyid
Penerbit
: Darul Futuhat
Tahun Terbit
: 2018
Cetakan
: Kedua
Tempat Terbit
: Indonesia
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: xlii+408 hlm
ISBN
: 978.602.7398.85-3

Membaca sebuah masterpiece dari seorang ilmuan dan juga sufi jujur merupakan hal yang feeling good bagiku. Dari membaca sebuah karya ini aku menemukan keruntutan berpikir, logika dan tak ketinggalan adalah sebuah insight keilahian yang kadang relevan dalam hidupku sebagai manusia. Yah, gak bisa dipungkiri lagi beliau juga manusia. Sisi kemanusiaan itu ada dan menjadikannya ya sepertiku, kamu dan orang lain. Makan, minum dan berdoa pada Tuhannya. That’s it. Namun disamping ada kesamaan, aku dan dia berbeda wadah, waktu, momentum, horizon social dan kemasyarakatan..

Malam ini malam bulan purnama ramadhan 1441 Hijriah. Masa-masa sulit karena adanya pagebluk Covid 19. Entah kenapa aku ingin menulis lagi. Sebenarnya gabut sih, hehe. Sambil menghisap rokok jarum super. Dan diiringi lagu Putih dari Efek Rumah Kaca kata-kata meluncur di lembar word putih. Paragraph demi paragraph aku tulis perlahan agar supaya tidak kehabisan nafas narasi. Malam ini terasa sangat hening. Tak ada yang keluar rumah. Dalam hening ini kadang aku mikir apakah covid itu tahu siang dan malam ya? Maksudku pemberlakuan jam malam untuk pagebluk ini saya rasa kurang tepat sih. Apakah kalo siang covid 19 takut? Atau malam covid 19 tidur? entahlah. Yah kembali lagi, itu asumsi pribadi saja. Seep yuk mulai.

Buku yang akan diresensi kali ini adalah buku sang maestro sufi, Ibnu Arabi, seorang penganut tasawuf filsafati berasal dari Andalusia Spanyol 1165 (maaf ini keterangan dari Wikipedia). Ibnu Arabi mendapat julukan sang belerang merah. Menurut wikiperdia juga, Ibnu Arabi menganut konsep wahdatul wujud. Fyi, wahdatul wujud adalah sebuah konsep lelaku tasawuf yang garis besarnya adalah penyatuan antara ciptaan dan Tuhannya. Tokoh-tokoh yang sejalan dengan ini adalah Al Halaj, atau ketika kita melihat Nusantara kita akan bertemu dengan Syeh Lemah Abang (Syeh Siti Jenar) di kerajaan Demak Bintara. Sebenarnya masih lumayan banyak narasi yang berkaitan dengan konsep wahdatul wujud ini. Assalamualaina waalaibadillahi sholihin. Keselamatan atas kalian para abdi Allah Swt. dan orang-orang saleh semua.

Buku yang akan saya review disini adalah buku Futuhat Makiyah Julid 2. Futuhat Makiyah sendiri ada beberapa jilid. Yang setiap jilid memiliki tema tema besar tersendiri. Pada jilid 2 pun begitu. Banyak sub bab yang ada di dalam buku itu. Buku ini lumayan tebal sekiar 300 + lembar. Dan beruntungnya buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Harun. Yang sekarang juga masih  berproses untuk menterjemahkan jilid-jilid selanjutnya dari kitab Futuhat Makiyah. Banyak kisah luar biasa dibalik penterjemahan Futuhat. Tapi ranahnya bukan disini. Hehee

Pesan dari saya sebagai pembaca yang masih awam ini adalah: buku ini lumayan berat dari segi isi. Banyak hal-hal baru yang bagi saya masih bingung dalam mencerna kalimat. Jadi untuk membacaya diselang seling. Hehe. Tapi kemarin untuk pembacaan buku ini saya tabrak aja secara urut entah itu masuk atau tidak. Karena masuk, paham, itu urusan yang diatas. Hehe.

Pertama yang saya dapat dari buku ini adalah sebuah narasi tentang Bismillah. Bismilah merupakan Ayat pertama dari surat alfatihah. Disini huruf arab itu dipreteli satu persatu dan dimaknai begitu dalam, huruf pertama dari alfatihah adalah huruf ba. Dalam huruf ba sendiri adalah titik awal mula kehidupan. Tatanan seharusnya yang harus dipatuhi secara sadar atau pun tidak, secara terpaksa ataupun dengan senang hati. hirarkis antar khalik dan makhluk. Antara Pencipta dan yang yang diciptakan. Jika dipreteli huruf ba sendiri terdiri dari sebuah garis lengkung seperti kapal yang dibawahnya ada titik. Bentuk garis lengkung pada huruf ba melambangkan  kuasa tuhan dan titik yang ada di bawahnya adalah ciptaan. Ciptaan disini meliputi alam raya, manusia, hewan, tumbuhan mineral dan lain-lain. Segala  ciptaan berbagi ruang di sebuah titik. Jika titik itu ketika dibuka berisi alam raya dan manusia di dalamnya. Disini manusia seharusnya minder. Kamu punya apa? Kamu bisa apa? Kamu punya upaya usaha apa? Punya daya apa? Hingga menganggap dirimu penting, Ruang untuk sombong seharusnya tidak ada. Lelaku manusia sebagai khalifah tidak adakan terjadi apabila tidak atas karena cinta dan juga kasih saying dan pertolonganNya.

Sedangkan kuasa Tuhan melingkupinya secara mutlak sehingga titik itu melebur dalam keagunganNya. Segala yang ada bersandar pada kemahaanNya menyerah tanpa syarat. Sesuai dan presisi dengan sunatullah dan kodratnya. Hanya manusia yang agak khusus, dia diberi pilihan utuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Kebaikan atau keburukan, kegelapan atau cahaya yang terang.. Dia bisa memilih. Alam raya, hewan, tumbuhan, mineral tidak. Tapi ini yang membuat manusia sombongnya bukan main. Sok soakan. Dia kira Tuhan butuh? Tidak sama sekali. Yang butuh adalah ciptaan itu sendiri terhadap belas kasih tuhannya. Adanya ciptaan adalalah untuk menyembah. Tuhan tidak akan batal menjadi tuhan ketika manusia ataupun alam raya tidak menyembahnya.  

Kedua yang saya dapat di buku ini adalah kanjeng nabi Muhammad yang sudah ada sebelum alam diciptakan. Jujur kaget, bagaimana ceritanya kanjeng nabi Muhammad yang lahir di 400 an masehi itu bisa ada pada awal pencipaan bumi langit ini? Kanjeng nabi Muhammad dalam wujud software menjadi cetak biru alam semesta seisinya. Nur Muhammad atau hakikat Muhammadiyah menjadi dasar semua sunatullah dan kodratullah atas semua ciptaan yang ada di alam semesta. “Aku telah menjadi nabi ketika Adam masih berwujud air dan tanah”. Dan setelah kanjeng nabi diwujudkan oleh Allah swt pada 22 april 571. Beliau menjadi kabar gembira untuk manusia dan alam semesta. Shalawlahu alla Muhammad. Kanjeng nabi Muhammad sebagai manusia yang dilahirkan dari ayah bernama Abdullah dan ibu bernama Aminah. Ada pertayaan retorik yang menarik di buku ini. Retorik itu berbunyi : “Nabi Adam dan Nabi Muhammad jika dibandingkan tingkat kesulitannya di bumi susah mana?”

Kelahiran beliau juga berimplikasi pada tatanan nature blessing setelahnya. Manusia-manusia luar biasa akan lahir lebih banyak dari pada sebelum beliau lahir ke bumi. Daratan arab punya Alkawarismi, di spanyol ada Ibnu Arabi, di barat ada Wewton, Einstein, Da Vinci dan di Nusantara sendiri ada Prabu Jayabaya, Hayamuwuk, Sunan Kalijaga, Syek Siti Jenar. Sebelum beliau lahir apakah tidak ada? Tentu saja ada, namun dari segi kuantitaas/ jumlahnya tidak sebanyak ketika beliau lahir. Sebut saja aristoteles, plato, Socrates, isa bin Maryam, budha, dll. Mungkin cukup dulu resensi untuk hari ini. Terpujilah engkau kanjeng nabi. Salam dariku yang bukan apa-apa ini. Allahuma sholiala sayidina Muhammad.




Thursday, 3 October 2019

Post Truth : Menelisik Masa Setelah Kebenaran

Selamat hari Kamis kawan. Semoga harimu menyenangkan. Setelah lama menghilang, saya kembali lagi menulis. Mencurahkan isi gagasan untuk mengurangi beban di kepala. Dan masa transisi itu mungkin, bagiku, lumayan berat. Karena itu aku rehat untuk sementara waktu.

Belakangan ini terjadi gegeran yang melibatkan mahasiswa dan siswa STM yang mempertahankan hak privat mereka yang mulai diatur pemerintah lewat Undang-undangnya. Selain itu yang menjadi sorotan adalah pelemahan KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) Yang terkesan mendadak. Dari proses hingga pengesahannya. Dan alasan mereka (DPR,red) hal ini sudah sejak lama menjadi agenda. Tepatnya pas jaman presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Penuh kontroversi memang RUUK ini. Pak Jokowi sebagai presiden RI menunda pengesahan RUUK. Dan yang berlu digaris bawahi adalah menunda bukan membatalkan. Rakyat yang wakili oleh mahasiswa dan STM akhirnya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Saya menyebutnya Gerakan Mahasiswa Semesta. Tapi sayangnya saya hanya bisa menonton dari pinggir saya. Tidak masuk Gelanggang.

Ya seperti itulah. Tapi untuk sementara saya pingin menilai percikan-percikan di pinggir. Aktivis sosmed. Ya. Mencoba menilai aksi dari balik layar gawai. Dan lebih spesifik ketika beredarnya Group Whatsapp yang berisi anak STM yang hendak berbuat anarkis tapi setelah di telisik lebih jauh ternyata yang ada di dalamnya adalah para oknum polisi. Sempat terkejut sesaat. Semua pertanyaan melintas. Untuk apa mereka melakukan ini? Siapa yang menyuruh? Sejak kapan mereka membuat group WA ini? Untuk tujuan apa? Berapa anggaran mereka untuk kumpul-kumpul? Dan masih banyal pertanyaan lain terkait hal ini yang terlintas di kepala.

Oknum polisi memblowup masalah ini ke media mainstream dan rakyat menjadi geger. Semakin keruh. Seolah olah STM akan berbuat anarkis. Membuat seseorang atau sesuatu viral, sekarang sangatlah mudah. Sumber yang minim pun kalau ada kita malas membacanya.  Klarifikasi menjadi barang mahal sekarang. Tapi jikalau ada pasti dia bukan orang sembarangan . Dan orang seperti ini mungkin jika diprosentasekan akan lebih sedikit daripada orang yang menelan mentah mentah sebuah berita atau apapun itu hanya lewat headlinenya saja. Dan mereka pun terpancing. Ikut gegeran tanpa tahu yang mereka gegerkan itu apa dan bagaimana.

Akhirnya aku mencoba menjernihkan pikiran agar semuanya lebih terang. Tidak terikat dengan yang lain. Mencoba merasionalkan segalanya. Meskipun sulit menerima.

Sebagian sudah terbuka dan masih banyak yang belum. Akhirnya kutarik garis untuk memahami hal ini. Dan ketemu. Post Truth. Post Truth adalah kebenaran yang sudah terlewati. Ketika kebenaran merupakan sebuah batas antara tidak benar dan tidak benar. Kebenaran kini tipis. Setipis kertas. Satu kelompok mengklaim kebenaran adalah miliknya dan yang lain salah. Sisi yang lain juga seperti itu. Banyak yang terpeleset. Karena kebenaran saat ini tipis dan licin. Yang membuatnya adalah ya mereka sendiri. Yang sebelumnya kebenaran itu luas. Mereka dan aku mereduksinya hingga samapai setipis kertas, lebih licin dari oli taptapan atau lebih tajam dari pedang.

Kebenaran di era ini sejatinya bukan kebenaran yang perlu diperjuangkan. Ditanggapi secara santai dan perlu klarifikasi lebih lanjut. Terulah berjuang. Aku tahu ini susah tapi kita harus mencobaya sekuat tenaga.

Jika menyatir sabda kanjeng Nabi Muhammad saw.

"Kelak umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Dan hanya satu golonngan yang masuk surga"

Saat ini sedang terjadi. Umat Islam terpecah menjadi 72. Masing masing 36 kanan-kiri. Dan hanya satu dari mereka yang masuk surga. Mungkin saya adalah ketujuh puluh dua golongan tersebut. Dan mulai saat ini akan mencoba untuk menjadi satu golongan yang dijanjukan Tuhan masuk surga. Toh ketika sudah berusaha tetep bukan yang masuk surga ya saatnya mengeluarkan jurus terakhir.

"Wis biasa"

Dan senyum.
Selamat aktifitas

Sleman, Kamis 3 Oktober 2019

Sunday, 3 February 2019

Natura Non Facit Saltum, Alam tidak membuat lompatan (?)


Hasil gambar untuk origin of species bahasa indonesia pdf
Penerbit indoliterasi


Mengelana di dunia biologi, bagiku adalah sesuatu yang menyenangkan. Sebenarnya bukan hanya di bidang ini (biologi) saja yang membuatku kesengsem. Tapi segala ilmu yang lucu-lucu, yang berisi berbagai macam ‘keasyikan’. Karena sejatinya aku suka segala hal yang baru. Bagiku, hal baru begitu menyenangkan. Ya! Hal itu sangat-sangat menyenangkan. Aku mungkin bagi kalian adalah seseorang yang kepo. Dan itu saya akui. Hehe…

Kekepoanku kali ini membuatku ketemu dengan bapak biologi yang kondang. Ya, benar, Charles Darwin. Ia menulis tentang berbagai macam hal yang sesuai dengan passionnya, salah satunya tentang biologi. Dalam bukunya Origin of Species membuka cakrawala keilmuan baru bagiku. Gagasannya begitu brilian, narasi-narasi khas Barat yang teratur, baru (bagiku), otentik, dan menuju kepada kesimpulan yang sementara bahwa “Alam tidak membuat lompatan”.

Garis besar buku ini menceritakan tentang evolusi makluk hidup, yang menurutu Darwin, berasal dari satu sel yang sama dan seiring berjalannya waktu terus menerus berkembang hingga sekarang dan nanti. Makhluk bersel satu itu tumbuh dan berkembang menurut beberapa pertimbangan alam. Paling tidak yang saya tahu adalah tatanan kimia dalam sel tersebut, letak geografis, fisiologis yang terus menerus beradaptasi menyesuaikan dengan si makluk dan lingkungannya. Makhluk bersel satu itu terus menerus berkembang, mentransformasi dirinya menjadi semakin kompleks. Hingga pada suatu titik, perkembangannya sudah berbeda secara signifikan dari awalnya. Sehingga membentuk apa yang di bidang biologi disebut genus, kingdom, dan spesies. 

Makhluk yang bersel kompleks, mereka sadar atau tidak melakukan transformasi berkelanjutan menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar diri mereka. Sehingga unsur berikutnya yang berperan adalah geografis. Mereka menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Berbagai macam hal mereka lakukan untuk bertahan hidup dengan menyesuaikan diri tersebut. Ketika mereka tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan maka jumlah mereka akan berkurang atau bahkan punah. dan digantikan oleh keturunan mereka yang baru dan lebih advance dalam kemampuan mereka untuk bertahan hidup.

Modifikasi fisiologis selanjutnya yang berperan disana. Setelah mereka bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, alam membuat seleksi pada susunan tubuh mereka. Biasanya yang paling terlihat adalah modifikasi fisiologis yang. Terkait dengan susunan tubuh bagian luar makluk tersebut. Suatu waktu, alam menganuhrahkan sayap, suatu waktu mereka dianugrahi indra penciuman, perababaan yang lebih dibanding dengan nenek moyangnya dulu. Namun modifikasi ini tidak begitu saja terhadi. Ada yang tumbuh, ada yang hilang. Ada yang semakin tajam ada yang semakin tumpul. Hal itu adalah lazim jika kit menganut hokum natura non facit saltum.

Sebut saja tikus mondok (mungkin teman-teman belum tahu tikus mondok? Coba googling atau cari di youtube) tikus mondok, menurut Darwin, nenek moyannnya memiliki mata dan kemampuan melihat seperti pada lazimnya tikus. Namun seiring berjalannya waktu, nenek moyang tikus mondok terhimpit dengan keadaan yang mengharuskannya sembunyi di dalam tanah untuk menghindari predator-predator. Seiring berjalannya waktu, alam  memodifikasi susunan tubuh tikus modok dengan indra peciuman dan perabaan yang tajam, namun dalam suatu waktu, kemampuan melihat tikus ini tereduksi, karena mungkin ketika di dalam tanah apa yang mau dilihat? Itu sih pendapat saya. Saya juga Cuma menebak-nebak. Mungkin ini salah satu contoh natura non facit saltum yang dikemukakan oleh Darwin. Dan mungkin perkembangan ini akan terus berjalan menuju titik yang kurang bisa terprediksi. 

Namun masih relevankan natura non facit saltumnya Darwin dalam iklim keilmuan yang berkembang sangat cepat ini? Entahlah saya juga kurang tahu. Dalam perkembangan ilmu sains dan teknologi yang seperti ini dimungkinkan teori Darwin, tentang ini sudah kurang relevan lagi. Keraguan saya muncul karena di masa kini, para ilmuan brusaha menemukan rumus-rumus  kehidupan dalam makhluk hidup. Mencoba mempelajarinya, dan mungkin nantinya akan memodifikasi dan menciptakan makhluk-mahluk baru. Siapa tahu?

“Alam tidak membuat lompatan, tapi kami melakukannya!”




Thursday, 10 May 2018

#DhaharanTradisional: Pukis

Hasil gambar untuk pukis
(sumber:https://www.vemale.com/resep-makanan/107507-resep-cara-membuat-kue-pukis-simpel-ternyata.html)

Bahan :
Tergu  250 gr
4 tigan ayam
Gendhis pasisr 250 gr
Ragi instan 1 sendok teh
Meises 3 sendok makan
Santên 300 ml
Margarin 3 sendok makan

Tata caranipun :
-. Ingkang sêpisan, tepung trigu dipuncampur kaliyan ragi instan. Dipun ublêng ngantos rata.
-. Lajêng tigan saha gendhis ingakang sampun dipun kocok ngantos mumpruk
-. Tigan saha gêndhis ingakang sampun nyampur kalawau dipun tambahakên tepung trigu saha ragi sekedhik mbaka sêkêdhik
-. Lajêng dipuntambahakên santên. Adonan menika dipun tilar sekêdhap watawis 30 menit.
-. Samêktaakên cithakan kagêm pukis mênika, ampun kêsupèn Loyang mênika dipunparingi margarin supados adonan bakal pukis mênika boten kêlèt.
-. Pukis ingkang sawêg wujud adonan dipuntuang wonten cithakan mênika, kagem pêlêngkap pukis mênika saged katambahakên meises, keju, utawi bahan sanèsipun supados langkung sekéca. 

#DhaharanTradisional: Cenil

Hasil gambar untuk cenil
(sumber: https://www.vemale.com/resep-makanan/111320-resep-cara-membuat-jajanan-tradisional-cenil.html)


Bahan :

150 gram têpung kanji
Sarêm sakcekapipun
120 ml toya
½ sendok teh gêndhis
Pewarna dhahran.
Klapa  nèm parut

Tata cara :
-. Campur têpung kaji kaliyan gêndhis, sarêm, saha pewarna makan. Dipun campur ngantos rata.
-. Samêktaakên toya, ingkang umob sapêrlu kagêm ngukus cênil mênika.
-. Lêbêtakên cênil mênika wontên ing nglêbêt kukusan.
-. Rantos ngantos 10 mênit, lajêng cênil mênika kasamêktaakên kaliyan gêndhis saha parutan klapa nèm.

Tradhisi Sura wonten Magetan

Hasil gambar untuk bolu rahayu magetan
(sumber: https://jatim.antaranews.com/berita/118098/manisnya-roti-bolu-khas-magetan)


Tradisi sura wontên ing magetan menika kawastanan rayahan bolu rahayu. Bolu rahayu mênika minangka tandha raos puji nyukur dhumatêng Ngarsanipun Gusti kang murbeng gesang awit sih nugrahanipun warga Magetan cekap sandhang klawan têdha.

Adicara rayahan bolu rahayu mênika kawiwitan kanthi ngawontênakên pasar rakyat, kirab nayaka praja, rayahan bolu rahayu, lajeng kapungkasi kanthi pagêlaran ringgit wacucal sedalu natas, ingkang dhlangipun saking putra daerah.

Adicara rayahan Bolu Rahayu Mênika kawiwita déning pasar rakyat ingkang kalaksasnan wontên ing sak kidulipun alul-alun Magêtan. Ancasipun pasar rakyat mªnika kagêm sarana pamèran barang-barang tiyang Magêtan ingkang awuhud dhêdhaharan ugi piranti-piranti ingkang migunani.
Kalajêngakên kathi ngawontênakên lomba lêdhug sura. Ledhug sura mênika minangka ajang têtandhingan antawisipun bocah-bocah sêkolah ingkang wontên ing Magêtan. Mliginipun kagêm para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) saha Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Lajêng siyangipun wosing adicara rayahan bolu rahayu, bolu mênika saksampunipun dipundongani dening para agamawan saha para tutuwa adat lajêng dipuninêpké wontên ing Surya Graha abolu menika dipundamêl rayahan  saksampunipun ngawontênakên adicara pisowanan antawisipun Bupati Magêtan kaliyan para kawula.

Bolu ingkang dipunrayah mênika wontên sêkawan warni, ingggih mênika awujud bedhug, gong, lêsung, gunungan lajêng katambahan setunggal mêlih awujud gunungan ingkang isinipun wulu wetu Kabupatèn Magêtan kadosta pala gumantung, pala kesampar pala wija, ugi pala kependhêm.

Tumpeng sêkawan wêrni mênika anggadhahi têgês filosofis mêkatên. (1) lesung menika anggadhahi têgês kawula Magêtan mênika kathah-kathah nyambut damêl wontên kebon utawi sabin. (2) gong menika wujud saking pakaryanipun warga Magetan mênika botên namung têtanèn kemawon ananging ugi saged ndamêl gamelan. (3) bedhug anggadhahi têgês bilih kathah-kathah kawula Magêtan menika ngrasuk agama Islam utawi minangka sarana dakwah, (4) ingkang awujud gunungan mênika anggadhahi têgês manunggaling cipta-rasa-karsa para kawula.

Sembahyang Para Warga Bali wontên Pura Gowa Lawah

Hasil gambar untuk goa lawa bali
(sumber:http://indonesia-traveler.com/I/Bali-Travel-Klungkung.php)


Rikala sontên ing sapingiring pantai Sanur warga Bali ngwontênakên sembahyang saperlu ngabdi marang Hyang Widhi. Anggènipun para warga Bali nglampahi Sembahyang menika wontên saklêletipun pura ing sakngandhapipun gowa ingakng kawasatanan Gowa Lawa.

Gowa Lawa mênika  salah setunggaling objek wisata alam wontên ing Bali kejawi sêgatèn, gunung, saha objek wisata belanja. Wontên ing Guwa Lawa mênika para warga Bali kakung, estri, saha bocah bocah sami khusyuk anggènipun dedonga wontên ing mrika.

Pura wontên ing sakngandhapipun Guwa Lawa mênika ugi anggadhahi paugêran. Sintên kémawon  ingkang mlêbêt Pura mênika kedah nutup aurat ngagêm jarik ingkang dipunsamêktaakên déning panjagi. Lajêng tiyang èstri ingkag nêmbé ‘karawuhan tamu’ botên angsal mlêbet Pura mênika.
Pura mênika minangka pêparing saking Gusti ingkang kêdah dyukuri kanthi  dipun rumat saksaé-saénipun supados pêparingipun Gusti mênika sagêd lêstantun ngantos dumugi sakmangké. (LF)