|
Judul Buku
|
: Al Futuhat Al Makiyah : Risalah
tentang Makrifah Rahasia-rahasia Sang Raja dan KerajaanNya Jilid 2
|
|
Pengarang
|
: Ibnu Arabi, alih bahasa oleh Harun
Nur Rosyid
|
|
Penerbit
|
: Darul Futuhat
|
|
Tahun Terbit
|
: 2018
|
|
Cetakan
|
: Kedua
|
|
Tempat Terbit
|
: Indonesia
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: xlii+408 hlm
|
|
ISBN
|
: 978.602.7398.85-3
|
menulis senang
menulis dan olah data statistika
Friday, 8 May 2020
Futuhat Makiyah jilid 2 : sebuah coretan singkat tentang Bismilah
Thursday, 3 October 2019
Post Truth : Menelisik Masa Setelah Kebenaran
Selamat hari Kamis kawan. Semoga harimu menyenangkan. Setelah lama menghilang, saya kembali lagi menulis. Mencurahkan isi gagasan untuk mengurangi beban di kepala. Dan masa transisi itu mungkin, bagiku, lumayan berat. Karena itu aku rehat untuk sementara waktu.
Belakangan ini terjadi gegeran yang melibatkan mahasiswa dan siswa STM yang mempertahankan hak privat mereka yang mulai diatur pemerintah lewat Undang-undangnya. Selain itu yang menjadi sorotan adalah pelemahan KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) Yang terkesan mendadak. Dari proses hingga pengesahannya. Dan alasan mereka (DPR,red) hal ini sudah sejak lama menjadi agenda. Tepatnya pas jaman presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Penuh kontroversi memang RUUK ini. Pak Jokowi sebagai presiden RI menunda pengesahan RUUK. Dan yang berlu digaris bawahi adalah menunda bukan membatalkan. Rakyat yang wakili oleh mahasiswa dan STM akhirnya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Saya menyebutnya Gerakan Mahasiswa Semesta. Tapi sayangnya saya hanya bisa menonton dari pinggir saya. Tidak masuk Gelanggang.
Ya seperti itulah. Tapi untuk sementara saya pingin menilai percikan-percikan di pinggir. Aktivis sosmed. Ya. Mencoba menilai aksi dari balik layar gawai. Dan lebih spesifik ketika beredarnya Group Whatsapp yang berisi anak STM yang hendak berbuat anarkis tapi setelah di telisik lebih jauh ternyata yang ada di dalamnya adalah para oknum polisi. Sempat terkejut sesaat. Semua pertanyaan melintas. Untuk apa mereka melakukan ini? Siapa yang menyuruh? Sejak kapan mereka membuat group WA ini? Untuk tujuan apa? Berapa anggaran mereka untuk kumpul-kumpul? Dan masih banyal pertanyaan lain terkait hal ini yang terlintas di kepala.
Oknum polisi memblowup masalah ini ke media mainstream dan rakyat menjadi geger. Semakin keruh. Seolah olah STM akan berbuat anarkis. Membuat seseorang atau sesuatu viral, sekarang sangatlah mudah. Sumber yang minim pun kalau ada kita malas membacanya. Klarifikasi menjadi barang mahal sekarang. Tapi jikalau ada pasti dia bukan orang sembarangan . Dan orang seperti ini mungkin jika diprosentasekan akan lebih sedikit daripada orang yang menelan mentah mentah sebuah berita atau apapun itu hanya lewat headlinenya saja. Dan mereka pun terpancing. Ikut gegeran tanpa tahu yang mereka gegerkan itu apa dan bagaimana.
Akhirnya aku mencoba menjernihkan pikiran agar semuanya lebih terang. Tidak terikat dengan yang lain. Mencoba merasionalkan segalanya. Meskipun sulit menerima.
Sebagian sudah terbuka dan masih banyak yang belum. Akhirnya kutarik garis untuk memahami hal ini. Dan ketemu. Post Truth. Post Truth adalah kebenaran yang sudah terlewati. Ketika kebenaran merupakan sebuah batas antara tidak benar dan tidak benar. Kebenaran kini tipis. Setipis kertas. Satu kelompok mengklaim kebenaran adalah miliknya dan yang lain salah. Sisi yang lain juga seperti itu. Banyak yang terpeleset. Karena kebenaran saat ini tipis dan licin. Yang membuatnya adalah ya mereka sendiri. Yang sebelumnya kebenaran itu luas. Mereka dan aku mereduksinya hingga samapai setipis kertas, lebih licin dari oli taptapan atau lebih tajam dari pedang.
Kebenaran di era ini sejatinya bukan kebenaran yang perlu diperjuangkan. Ditanggapi secara santai dan perlu klarifikasi lebih lanjut. Terulah berjuang. Aku tahu ini susah tapi kita harus mencobaya sekuat tenaga.
Jika menyatir sabda kanjeng Nabi Muhammad saw.
"Kelak umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Dan hanya satu golonngan yang masuk surga"
Saat ini sedang terjadi. Umat Islam terpecah menjadi 72. Masing masing 36 kanan-kiri. Dan hanya satu dari mereka yang masuk surga. Mungkin saya adalah ketujuh puluh dua golongan tersebut. Dan mulai saat ini akan mencoba untuk menjadi satu golongan yang dijanjukan Tuhan masuk surga. Toh ketika sudah berusaha tetep bukan yang masuk surga ya saatnya mengeluarkan jurus terakhir.
"Wis biasa"
Dan senyum.
Selamat aktifitas
Sleman, Kamis 3 Oktober 2019
Sunday, 3 February 2019
Natura Non Facit Saltum, Alam tidak membuat lompatan (?)
“Alam tidak membuat lompatan, tapi kami melakukannya!”
Thursday, 10 May 2018
#DhaharanTradisional: Pukis

(sumber:https://www.vemale.com/resep-makanan/107507-resep-cara-membuat-kue-pukis-simpel-ternyata.html)
#DhaharanTradisional: Cenil

(sumber: https://www.vemale.com/resep-makanan/111320-resep-cara-membuat-jajanan-tradisional-cenil.html)
Tradhisi Sura wonten Magetan

(sumber: https://jatim.antaranews.com/berita/118098/manisnya-roti-bolu-khas-magetan)
Sembahyang Para Warga Bali wontên Pura Gowa Lawah
(sumber:http://indonesia-traveler.com/I/Bali-Travel-Klungkung.php)
