
(sumber :http://abuenadlir.blogspot.co.id/2010/10/legasi-dan-pembaharuan-hasan-hanafi.html)
Datang telat. Emang sengaja sih. Soale aku tadi makan dulu, hehehehe.
Setelah sau sesi Ngaji Filsafat aku absen, saatnya ngaji lagi. Tema ngaji bulan
Januari ini masih sama: Teologi
Pembebasan. Setelah kemarin nyekip Ngaji
Filsafat Ali Syariarti, sekarang nyoba ngaiji lagi dengan tokoh yang berbeda:
Hasan Hanafi.
Datang terlambat, terus masuk
gerbang masjid. Hari ini lumayan penuh. Para santri yang hadir parkir di tempat
biasa. Meraka parkir di selatan dan timur masjid. Emm. Kalau dipikir-pikir sih Ngaji FIlsafat sekarang sudah lebih mendingan
jumlah santrinya ketimbang yang dulu, saktu statusnya masih rintisan. Motor tak parkir di selatan masjid. Saya
mengamati susasana.
Hari itu, Jogja nggak ada angin, ungkep lur! Alias
sumuk. Pun waktu saya berangkat dari
kosan sempat merasakan butiran –butiran hujan yang menyapa, belum kroyokan sih.
Mungkin hal ini juga yang membuat lapak buku dikukuti lebih awal. Motro berbaris rapi begitu pula sandal para
mahasantri.
Tema bulan ini : Teologi Pembebasan, hati kecil saya
kurang sreg sebenarnya. Nggak begitu
cocok. Mungkin karena saya sukanya yang alusan
mirip seperti mas Fauzan atau mas Garuda. Bagi saya tema Ngaji Filsafat
bulan ini cocok untuk mas Dowo dan sahabat UIN yang lain. Karena menurut pengamatan
saya, mereka suka tenteng hal-hal progresif.
Teologi pembebasan bercorak
progresif. Berdasar pada gerakan penentang kemapanan, penumpasan ketidakadilan,
dan penghapus kesewenang-wenangan, ini adalah koentji untuk Endonesa yang lebih
baek.
Teologi
Pembebasan ini dipilih pak Faiz karena mumpung masih liburan, dan karena
ingin ancang-ancang untuk masuk ke
tema-tema kuliahan. Menurut saya ini mungkin juga karena bliyo peka terhadap
demo-demo yang terjadi di UIN dan sekeitarnya, apa lagi masalahnya kalau bukan
penolakan pembangunan NYIA. Saking semangatnya, pak Faiz sampe lupa bahwa di
bulan Januari ini, hari Rabunya ada lima. Dan tokoh yang diusulkan baru empat. “yah
nanti incidental saja” begitu kata pak Faiz.
Masuk masjid jam 9 lebih. Langsung mojok
dekat piintu sambil sendhen. Jaket saya buka. Ternyata rasa sumuk tidak hanya saya yang merasakan, tapi
mahasantri lain, yang terbukti lima kipas angin utama dinyalakan mas takmir
agar memberi kenyamanan mereka yang mencari ngelmu.
Saya datang telat, otomats saya
tidak nyimak pengantar bliyo tentang
Hasan Hanafi. Datang langsung membahas tentang pokok pikiran Hasan Hanafi. Ya wis lah saya duduk, diam dan
mendengarkan.
Begitu masuk, pembahasannya langsung
mengenai cara kembali ke Qur’an dan Hadist. Yang menurut Hasan Hanafi, kembali
kepada Qur’an dan Hadist tidak mudah, namun ya tidak sulit.
“Untuk memahami Qur;an dan Hadist,
langkah pertama yang harus dilakukan
adalah.mengetahui latar belakang historisnya dulu. Dimana ayat itu turun, pas
ngapain, dan keadaan sosial saat jaman itu seperti apa dan bagaimana. Terkadang
kita sendiri kembali kepada Qur’an dan Hadis yang terjemahan, terima jadi. Tidak
mudeng konteks ayat itu turun”. Terang pak Faiz.
(“Nah lho! Mbok kira kembali kepada Qur’an dan Hadist itu mudah apa? Itu pun
baru satu langkah, belum langkah kedua dan ketiganya”. Hati saya interupsi)
Memang benar sih apa kata bliyo bahwa kembali kepada Qur’an Hadist herus
melewati tahapan yang berjenjang. Tapi saa sendiri menemukan di balik kerumitan
tersebut ada hikmahnya. Hikmah yan saya dapat ialah bahwa dengan mengulik
hal-hal rumit, kita mau tidak mau dihadapkan dengan aktifitas pikir dan rasa
yang rumit. Oleh karena itu kita menjadi berkaca kembali tentang maksud sebuah
ayat. Dan kebanyakan orang mencari dalil adalah untuk beradu argumen atau
sedang menjalankan dakwah. Seolah-olah argument tukang ndalil tersebut telah
diacc oleh Gusti Allah. padahal mung pinggin nggugu karepe dhewe. Terburu nafsu.
(Yang Diatas Sana lihat sambil
senyum-senyum, sambil bersabda “Mbok kira, aku iki kambing hitam apa?kok
dalil-dalilKu kamu punter sedemikian rupa untuk membenarkan nafsumu untuk
ngapusi orang lain?”.)
Dengan penalaran yang njleimet terseebut kita akan dijauhkan
atas sifat sombong. Kita lebih mawas diri, menintorspeksi diri. Tidak mencari
dalil sebagai pembenaran nafsu kita.
“Jaman saya masih kecil, saya lihat
orang-orang kampanye. Partainya cuma tiga waktu itu. hojau, kuning, dan merah. Partai
hijau, waktu kampanye menyuarakan Qul
Huallahu ahad sambil ngangat telunjuk. Itu maksudnya adalah pililah saya karena
saya dapat nomor ururt satu, dan tuhan itu satu. Kalau ia kampanye seperti itu,
hari ini ia sudah dipolosikan dengan tuduhan penistaan agama”. kata pak Faiz
Poin kedua tenang gerakan. Menurut Hasan
Hanafi, gerakan itu harus semseta. Dalam bergerak tidak bolah pilih-pilih. Kita
harus mempunyai satu visi dan misi yang sama untuk menghantam kemapanan. Disini
diistilahkan dengan ‘orang kiri’ lawanya adalah ‘orang kanan’ dimana mereka,
orang kanan, itu adalah kumpulan orang yang menghagemoni kita, otoritas adalah
milik mereka, penentu nilai-nilai, dan yang menentukan kita harus ngapain.
“Kita sebagai orang kiri yang kere
harus bahu membahu” kata pimpinan rang kere.
“Kamu marksis! Kamu saya tunjuk
untuk mengarsiteki gerakan! Tata dan persiapkan manusia-manusia anarko, kita
tolak NYIA”. Begitu kata komandan.
“Kamu orang liberal kere1 kamu saya
tunjuk untuk mengkritisi, mencari celah dari gerakan kita atau pihak lawan. Tunjukan
mana titik-titik lemah yang rawan”. Tambahnya.
“Siap bosqu” teriak mereka serempak.
“Setelah semua terkoordinasi dengan
baik kita gempur kemapanan, jangan bergerak sendii. Berjejaringlah!”.
Poin terakhir yang saya dengarkan
dari Hasan Hanafi adalah : Jangan
Kamilandanen. Kamilandanen adalah istilah Jawa yang menujuk pada
orang-orang yang berpenampilan, berperilaku,d an bergaya seperti orang Barat. Barat
adalah kiblat kemapanan. Begitu kira-kira.
Orang-orang Landa (Barat) selalu
menjunjung rasionalias mereka. dan celakanya. Kita berkiblat kepada mereka.
ketika kiblat kita Barat, kita memandang diri kita rendah. Ya ramashook. lha wong jatahnya dhewe-dhewe.
ya jelas tidak mashok ini.
Kita memandang Barat adalah kiblat
kemajuan. Kemajuan barat ya sebanding dengan kaum-kaum barat yang lain. Tidak bisa
dijadikan patokan maju mundurnya sebuah negara. Tidak bisa dijadikan acuan.
“Orang barat cenderung berorientasi
pada wadah. Sedangkan kita isi. Jarang ada orang barat yang membahas tentang
isi. Pak Faiz menberi penjelasan.
Dan tulisan ini diakhiri dengan dua buah
quotes.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
Pak RT, 17 Agustusan
“Walaupun saya sudah lama mendapat
pendidikan Barat, namun saya perlu tegaskan lagi bahwa adalah orang Jawa”
Sultan Hamengku Buwana IX, Tahta
untuk Rakyat.
Sleman, 17 januari 2018
No comments:
Post a Comment