Wednesday, 17 January 2018

Catatan Santri: Hasan Hanafi dan Pesan Pak RT

Hasil gambar untuk hasan hanafi

(sumber :http://abuenadlir.blogspot.co.id/2010/10/legasi-dan-pembaharuan-hasan-hanafi.html)

Datang telat. Emang sengaja sih. Soale aku tadi makan dulu, hehehehe. Setelah sau sesi Ngaji Filsafat aku absen, saatnya ngaji lagi. Tema ngaji bulan Januari ini masih sama: Teologi Pembebasan. Setelah kemarin nyekip Ngaji Filsafat Ali Syariarti, sekarang nyoba ngaiji lagi dengan tokoh yang berbeda: Hasan Hanafi.

Datang terlambat, terus masuk gerbang masjid. Hari ini lumayan penuh. Para santri yang hadir parkir di tempat biasa. Meraka parkir di selatan dan timur masjid. Emm. Kalau dipikir-pikir sih  Ngaji FIlsafat sekarang sudah lebih mendingan jumlah santrinya ketimbang yang dulu, saktu statusnya masih rintisan. Motor tak parkir di selatan masjid. Saya mengamati susasana.

Hari itu, Jogja nggak ada angin, ungkep lur! Alias sumuk. Pun waktu saya berangkat dari kosan sempat merasakan butiran –butiran hujan yang menyapa, belum kroyokan sih. Mungkin hal ini juga yang membuat lapak buku dikukuti lebih awal. Motro berbaris rapi begitu pula sandal para mahasantri.

Tema bulan ini : Teologi Pembebasan, hati kecil saya kurang sreg sebenarnya. Nggak begitu cocok. Mungkin karena saya sukanya yang alusan mirip seperti mas Fauzan atau mas Garuda. Bagi saya tema Ngaji Filsafat bulan ini cocok untuk mas Dowo dan sahabat UIN yang lain. Karena menurut pengamatan saya, mereka suka tenteng hal-hal progresif.

Teologi pembebasan bercorak progresif. Berdasar pada gerakan penentang kemapanan, penumpasan ketidakadilan, dan penghapus kesewenang-wenangan, ini adalah koentji untuk Endonesa yang lebih baek.

Teologi Pembebasan ini dipilih pak Faiz karena mumpung masih liburan, dan karena ingin ancang-ancang untuk masuk ke tema-tema kuliahan. Menurut saya ini mungkin juga karena bliyo peka terhadap demo-demo yang terjadi di UIN dan sekeitarnya, apa lagi masalahnya kalau bukan penolakan pembangunan NYIA. Saking semangatnya, pak Faiz sampe lupa bahwa di bulan Januari ini, hari Rabunya ada lima. Dan tokoh yang diusulkan baru empat. “yah nanti incidental saja” begitu kata pak Faiz.

Masuk masjid jam 9 lebih. Langsung mojok dekat piintu sambil sendhen. Jaket saya buka. Ternyata rasa sumuk  tidak hanya saya yang merasakan, tapi mahasantri lain, yang terbukti lima kipas angin utama dinyalakan mas takmir agar memberi kenyamanan mereka yang mencari ngelmu.

Saya datang telat, otomats saya tidak nyimak pengantar bliyo tentang Hasan Hanafi. Datang langsung membahas tentang pokok pikiran Hasan Hanafi. Ya wis lah saya duduk, diam dan mendengarkan.

Begitu masuk, pembahasannya langsung mengenai cara kembali ke Qur’an dan Hadist. Yang menurut Hasan Hanafi, kembali kepada Qur’an dan Hadist tidak mudah, namun ya tidak sulit.

“Untuk memahami Qur;an dan Hadist, langkah pertama yang harus dilakukan adalah.mengetahui latar belakang historisnya dulu. Dimana ayat itu turun, pas ngapain, dan keadaan sosial saat jaman itu seperti apa dan bagaimana. Terkadang kita sendiri kembali kepada Qur’an dan Hadis yang terjemahan, terima jadi. Tidak mudeng konteks ayat itu turun”. Terang pak Faiz.

(“Nah lho! Mbok kira kembali kepada Qur’an dan Hadist itu mudah apa? Itu pun baru satu langkah, belum langkah kedua dan ketiganya”. Hati saya interupsi)

Memang benar sih apa kata bliyo bahwa kembali kepada Qur’an Hadist herus melewati tahapan yang berjenjang. Tapi saa sendiri menemukan di balik kerumitan tersebut ada hikmahnya. Hikmah yan saya dapat ialah bahwa dengan mengulik hal-hal rumit, kita mau tidak mau dihadapkan dengan aktifitas pikir dan rasa yang rumit. Oleh karena itu kita menjadi berkaca kembali tentang maksud sebuah ayat. Dan kebanyakan orang mencari dalil adalah untuk beradu argumen atau sedang menjalankan dakwah. Seolah-olah argument tukang ndalil tersebut telah diacc oleh Gusti Allah. padahal mung pinggin nggugu karepe dhewe. Terburu nafsu.

(Yang Diatas Sana lihat sambil senyum-senyum, sambil bersabda “Mbok kira, aku iki kambing hitam apa?kok dalil-dalilKu kamu punter sedemikian rupa untuk membenarkan nafsumu untuk ngapusi orang lain?”.)

Dengan penalaran yang njleimet terseebut kita akan dijauhkan atas sifat sombong. Kita lebih mawas diri, menintorspeksi diri. Tidak mencari dalil sebagai pembenaran nafsu kita.

“Jaman saya masih kecil, saya lihat orang-orang kampanye. Partainya cuma tiga waktu itu. hojau, kuning, dan merah. Partai hijau, waktu kampanye menyuarakan Qul Huallahu ahad sambil ngangat telunjuk. Itu maksudnya adalah pililah saya karena saya dapat nomor ururt satu, dan tuhan itu satu. Kalau ia kampanye seperti itu, hari ini ia sudah dipolosikan dengan tuduhan penistaan agama”. kata pak Faiz

Poin kedua tenang gerakan. Menurut Hasan Hanafi, gerakan itu harus semseta. Dalam bergerak tidak bolah pilih-pilih. Kita harus mempunyai satu visi dan misi yang sama untuk menghantam kemapanan. Disini diistilahkan dengan ‘orang kiri’ lawanya adalah ‘orang kanan’ dimana mereka, orang kanan, itu adalah kumpulan orang yang menghagemoni kita, otoritas adalah milik mereka, penentu nilai-nilai, dan yang menentukan kita harus ngapain.

“Kita sebagai orang kiri yang kere harus bahu membahu” kata pimpinan rang kere.

“Kamu marksis! Kamu saya tunjuk untuk mengarsiteki gerakan! Tata dan persiapkan manusia-manusia anarko, kita tolak NYIA”. Begitu kata komandan.

“Kamu orang liberal kere1 kamu saya tunjuk untuk mengkritisi, mencari celah dari gerakan kita atau pihak lawan. Tunjukan mana titik-titik lemah yang rawan”. Tambahnya.

“Siap bosqu” teriak mereka serempak.

“Setelah semua terkoordinasi dengan baik kita gempur kemapanan, jangan bergerak sendii. Berjejaringlah!”.

Poin terakhir yang saya dengarkan dari Hasan Hanafi adalah : Jangan Kamilandanen. Kamilandanen adalah istilah Jawa yang menujuk pada orang-orang yang berpenampilan, berperilaku,d an bergaya seperti orang Barat. Barat adalah kiblat kemapanan. Begitu kira-kira.

Orang-orang Landa (Barat) selalu menjunjung rasionalias mereka. dan celakanya. Kita berkiblat kepada mereka. ketika kiblat kita Barat, kita memandang diri kita  rendah. Ya ramashook. lha wong jatahnya dhewe-dhewe. ya jelas tidak mashok ini.

Kita memandang Barat adalah kiblat kemajuan. Kemajuan barat ya sebanding dengan kaum-kaum barat yang lain. Tidak bisa dijadikan patokan maju mundurnya sebuah negara. Tidak bisa dijadikan acuan.

“Orang barat cenderung berorientasi pada wadah. Sedangkan kita isi. Jarang ada orang barat yang membahas tentang isi. Pak Faiz menberi penjelasan.

Dan tulisan ini diakhiri dengan dua buah quotes.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
Pak RT, 17 Agustusan

“Walaupun saya sudah lama mendapat pendidikan Barat, namun saya perlu tegaskan lagi bahwa adalah orang Jawa”
Sultan Hamengku Buwana IX, Tahta untuk Rakyat.


Sleman, 17 januari 2018

No comments:

Post a Comment