Sehari ini diriku berbuat apa aja sih? Yah itu yang saya
mau ceritakan kepada Anda semua. Tentang apa yang saya lakukan hari ini yang
pertama adalah bantu teman ngerjain
Skripsi. Teman mulai kirim kabar bahwa ia bingung tentang bab dalam skripsi
yang ia coba kerjakan pada hari itu. Karena bingung ia mencoba menghubungi
saya, yang dipercaya bisa untuk menyelesaikan tugasnya.
Dalam tugasnya yang dibingungkan ialah tentang bagaimana
membuat Kartu Data. Ia sambat karena mungkin tabel data yang
dibuat tidak mencukupi untuk tempat data yang dibutuhkan. Kartu data itu
sebenarnya sudah ada dalam konsep pemikirannya, tetapi ia ragu-ragu untuk
menuangkannya dalam lembar kertas. Kemudian saya menyarankan padanya agar ia
tidak ragu-ragu dalam pengambilan keputusan. Nggir ra minggir tabrak! Itu mungkin mewakili saran saya kepadanya
pagi itu. Untuk apa ragu-ragu, jangan takut untuk menuliskan gagasamu kawan.
Jika engkau masih berkutat di sesuatu itu
maka yang lain tidak akan terjamah,
sedangkan yang lain juga perlu perhatianmu. Jika masih pusing jadikan seorang
teman untuk sarana curhat atau éngkél-éngkélan
(debat,red) agar tercapai
kesepakatan dan engkau tahu kesalahanmu dimana.
Menjadi perkara lagi jika engkau pergi keluarkota tidak
bawa dompet. Itu yang terjadi siang tadi, setelah rampung acara ‘bimbingan’
mucul masalah baru. Dompet yang berisi uang, STNK, dan kartu-kartu penting lain
tertinggal di kamar. Sempat bingung apa yang mau dikerjakan. Waktu itu sudah
saatnya makan siang, perut keroncongan, men!.
Tapi karena kuasa Tuhan teman mau ngutangi uang untuk sekedar makan siang,
dan yang lebing menguntungkan lagi makanya dekat dengan kosan, jadi sekalian
bisa ambil uang, jadi tidak perlu ngutang.
Siang itu terasa panas, matahari serasa di atas kepala
meskipun sudah condong ke arah Barat. Dengan deng-degan motor dipacu dengan kecepatan 60 kilometer per jam
membelah kota Jogja yang sedang ramai karena istirahat siang. Cukup
menegangkan, melaju di tengah kota ranpa membawa surat kendaraan bernotor.
Semoga siang itu tidak ada cêgatan, dan
tidak bertindak bodoh melanggar lalu lintas. Perjalanan terasa singkat, kami
telah sampai di tempat makan. Kupinjam motornya untuk ambil dompet yang
tertinggal di kos sedangkan dia pesen makan.
Wus, perjalanan dari tempat makan ke kos memang tergolong
singkat. Kosku Cuma terletak beberapa meter dari tempat makan kami. Sampai di
kos, tas langsung tak lempar, ambil
dompet, dan langsung menuju ke tempat makan tadi. Siang itu kami berdua makan
mie ayam dan minum es jeruk. Terasa nikmat sekali siang itu. Mie ayam hangat
ditambah es jeruk dingin, emmm…..
Sekaran tiba saatnya pembayaran. Setelah saya mengeluarkan dompet dan
akan membayar makan siang itu. Dengan baik hati ia mau nraktir makan kami berdua. Rejeki anak soleh sekali….
Hari beranjak sore, males mulai datang. siang waktu males
bagiku untuk beraktifitas. Siang itu biasanya saya tidur siang. Eh ternyata ada
kabar dari teman yang ingin mampir. Tanpa sadar kantukpun datang tidak sempat
balas kabar dari teman itu akhirnyapun tidur. Tidak lama berselang, tidurku
terganggu dengan kedatangan tamu. Ya sudah, mungkin cukup tidurku untuk siang
itu. Sudah fres, tp agak BT juga.
Buka-buka hp instagraman like always. Sesuatu yang tidak berguna yang saya lakukan
setiap hari. Waktuku terbuang banyak untuk itu. Sial!
Akhirnya adzan Ashar
pun berkumandang. Siap-siap utuk pergi ke Masjid. Masjid itu jadi langganan
sholatku selama ngekos disana. Dulu setiap ada acara saya musti diundang dan
hadir disetiap acara yang diselenggarakan. Sekarang? Nanti dulu karena semakin
tua, seseorang semakin banyak komunitas yang diikuti (paling tidak untuk saya
pribadi). Oleh karena itu sekarang, jika ada acara, jarang saya ikuti. Tiba
disana sudah rokaat kedua. Dengan
panik saya ambil airu wudzu dan
segera nyusul. Shalat mulai rokaat ke
tiga. Untuk yang dua rokaat kuranganya saya tambah sehabis salam.
Setelah sholat usai saya kembali ke kos. Saat itu saya
mendapat kabar dari teman kelas jurnalistik masjid untuk ikut berkumpul
berembug tentang cover dari buku yang
akan turun cetak. Sempat galau juga waktu itu, memilih antara gabut di kos atau ikut rembug di kelas
jurnalistik. Sore itu galau lagi. Akhirnya saya untuk menunda pergi ke kelas
jurnalistik, ingin cukur rambut dulu karena sudah dua bulan rambut tidak
dicukur. Selain ingin tampilan baru juga ingin hemat shampo. Lalu saya
memutuskan untuk pergi ke tukang cukur
setelah sholat ashar itu.
Tiba ditempat tukang cukur ternyata antri. Antri dua
kepala. Oke ditunggu dengan sabar dan biasa saja. Yang menjadi perhatianku di
tempat tukang cukur itu adalah kakek-kakek yang sedang dukur plontos. Ada keinginan untuk semodel
dengan dia. Tetapi saya pikir dua kali, kalau saya cukur seperti itu apa kata
teman-teman nanti? Seperti lampu taman? Tuyul? Itulah yang menjadi
pertimbanganku utuk tidak bercukur sama dengan bapaknya. Mungkin ini yang
menjadi alasan mengapa tidak majunya seseorang. Dikarenakan takut bully-an orang lain, ia takut uttuk
berbeda. Dalam konteks ini berbeda itu berbeda yang baik tentunya.
Bapak itu telah selesai bercukur plontos. Dan saya masih
memperhatikanya dengan seksama. Apa yang dilakukannya setelah itu adalah
menstater motor mio lawas yang ia bawa untuk bercukur itu. Ia sempat ngomong
bahwa intinya stater motor itu agak susah. Mungkin akinya mati, atau yang
lainnya saya kurang tahu. Sekali, dua, tiga kali gagal stater motor saya baru
sadar ia butuh bantuan. Mungkin telat untuk ukuran membantu orang, tapi telat
lebih baik daripada tidak sama sekali. Motor itupun sekali selah berhasil
berbunyi. Ada rasa bangga karena sudah berhasil menyelah motor itu.
Untuk selanjutnya tidak begitu menarik. Hanya seorang muda
yang berumuran diatasku. Cukurnyapun tidak begitu total seperti bapak-bapak
sebelumnya. Orang itu memakai kaos berkerah warna kuning dengan blok berbentuk
segitiga dari dada hingga leher. Dan di
punggung tertulis sebuah frenchise sate yang sudah buka cabang paling tidak di
dua tempat. Cukurnyapun hanya penipisan rambut sebelah pinggir, menyisakan
tengah. Kurang lebih lima menit orang itu selesai sekarang giliranku untuk
bercukur.
Ditempat itu saya memilih model cukur yang saya biasa
lakukan disitu, satu setengah senti rata.
Tukang cukurpun mulai bekerja. Senti demi senti rambut mulai terpotong,
jatuh kebawah. Mulai terkumpul banyak. Cukur mendapat seperempat bagian, teman
dari tukang cukurpun datang. Menanyakan kabar, dan punya acara apa setelah ini.
maka tukang cukurpun menjawab mancing.
Spesifiknya mancing sidat. Sudah
menjadi primadona di seantero DIY-Jateng, sidat itu mempunyai nilai ekonomis
lumayan tinggi. Sekitar 100 ribu per kilo. Entahah untuk apa ikan itu, yang
jelas itu ikan langka dan (katanya) bisa untuk obat.
Tukang cukurpun sanggup berangkat nyidat setelah menyelesaikan satu kepala, yaitu saya. mereka ngobrol tentang umpan untuk nyidat nanti. Antara lain yang saya
tangkap yaitu umpan yang mau mereka beli adalah unthel cacing dan emprit yang
akan dibeli di pasar Pasty. Ketika itu saya berfikir, unthel itu sudah umum di kalangan pemancing sidat, dan ini ada
umpan lain yaitu emprit. Emprit yang
masih hidup? Tentunya tidak. Emprit harus
dibunuh dulu sebelum menjadikanya umpan. Untuk tempat mincingnya mereka berdua
memilih di sekitar Imogiri, makam raja-raja Mataram. Selain mempunyai nilai
ekonomis yang cukup tinggi, sidat juga dipercaya hidup di tempat-tempat mistis,
seperti yang saya sebutkan diatas, selain itu juga di daerah tempuran. Mereka
senang mencari makan disana.
Tidak berselang lama datang satu teman lagi, mungkin dia
juga gabut alias gaji buta, tidak ada
kerjaan sore itu. Mereka berdua bercengkrama tentang apa yang akan dilakukan
setelah itu. Tukang cukurpun menjawab bahwa mereka berdua akam mincing sidat di
Imogiri. Tanpa pikir panjang teman yang ketiga itupun ikut. Namun yang menjadi
masalah adalah ia tidak mempunyai pancing. Mungkin ia mau pinjam pancing atau
apa. Untuk senar, timbêl, dan mata
kail ia sudah punya. Teman yang pertama menawari pancingnya untuk dipinjam
kepada teman yang baru datang tadi. Oke masalah pancing sudah terjawab. Setelah
itu mereka berjanji akan berangkat setelah ini, namun sebelum itu mereka akan
mampir pasar Pasty untuk membeli umpan.
Dalam bayangan mereka sudah akan berangkat sebentar lagi.
Namun kemudian datang lagi satu kepala yang minta dicukur. Seorang anak muda
umur sekitar 20an tahun dengan sedikit kekurangan, tangan kananya tumbuth
kurang sempurna. Lelaki itu mempunyai tangan kecil tanpa jari-jari, panjangnya
mungkin hanya sekitar separuh panjang lengan orang dewasa. Orang itu sebut saja
mas Dewå. Ia berstatus mahasiswa di salah satu peguruan tinggi, namun dengan
keterbatasan yang ia miliki , mas Dewå mempunyai segudang prestasi. Dari
ceritanya, mas Dewå tergolong orang sibuk, paling tidak untuk satu minggu ini.
agenda terdekat ia mau pergi ke Bandung untuk apa saya juga kurang mengerti. Sebagai
orang normal saya merasa tersaingi, denga keadaannya seperti itu ia bisa meraih
impian. Sedangkan saya? diberi anggota tubuh normal sempurna, tapi apa yang
saya lakukan hingga kini? Hanya membuang waktu. sial!
Cukur saya pun sudah selesai. Saya meninggalkan kebanggaan
kepada mas Dewå dan segala prestasi dan semangat yang ia peroleh. Setelah itu
saya berjalan menuju kos dengan langkah yang masih berfikir, masih bertaut
dengan keadaan mas Dewå. Tak lama berselang saya telah sampai di kos. Segera
saya mancolokan kabel-label CPU, Monitor
dan Sound untuk sekedar main game. Pada saat itu perasaan sedang galau. Mau
main game atau ikut rembug cover
buku. Maka saya belum memilih keduanya, saya instagraman lagi karena belum tahu yang akan saya lakukan. Paling
tidak untuk 15 menit kedepan dengan masih ditunggu teman yang sedari tadi
nongkrong main HP.
15 menit itu saya gabut.
Tidak ngerti saya harus ngapain tercetus gagasan untuk pergi
dari kamar menuju suasana baru. Saya memutuskan untuk pergi ke tempat rembug cover buku. Oke pilihan telah
diputuskan. Komputer desktop yang tadinya nyala kini saya perintah untuk hibernate. Lalu saya pamitan dengan
teman yang sedari tadi sibuk main HP. Pamitan seperti biasa. Lalu saya langsung
cus menuju tempat motor lalu saya selah motor itu seperti biasa. Sore itu
medung menggelayut hampir hujan. Angin terasa dingin dan mungkin nanti malam
akan turun hujan.
Honda Prima 83’ melaju di jalan Jogja dengan santai.
Meninggalkan gapura dan kosan menuju kejalan besar yang lagi rame-ramenya saat
itu. Maklum pas waktu pulang kerja. Meninggalkan kos tadi jam menunjukan jam
16:15 sore. Motorpun menyeberang tanpa kesulitan berarti. Pergi meninggalakan
kos, teman, dan kenangan tentang mas Dewå. Motor melaju pelan menuju bangjo. Sebelah kiri terlihat bakul buah yang parkir semrawut, karena
dipinggir jalan (bagi saya) sangat menggangu pengendara lain. Apa lagi ketika
jam-jam sibuk seperti sekarang. Asem!. Lampu menunjukan angka 10 dan setelah
itu detikan berganti dengan peringatan “siap-siap” dan setelah itu muncul angka
3, 2, 1, dan motor Hondapun berjalan..
Tiba di tempat rembug
cover kelas jurnalistik. Saya lihat disana baru ada dua orang. Mas Paijo
dan Paidi. Mas Paijo adalah pimpinan dari kelas jurnalistik dan mas Paidi sama
seperti saya sebagai contributor buku yang sebentar lagi turun cetak. Mas Paijo
sibuk dengan gawainya, mas Paidi sibuk membaca koran, dan saya sibuk mengamati
mereka dengan sesekali bermain instaram.
Tak lama kemudian mas Paijo berdiri menuju kebelakang mengambil sesuatu, yaitu
buku dan majalah. Buku yang dibeli ketika ada bazar buku di salah satu
Universitas. Ia mendapatka buku tentang sejarah kitab kuning dengan harga 25
ribu. Bagi saya harga itu murah sekali. Buku asli, cetakan paper book, ringan, murah. Namun mas paijo juga membandingkan
dengan buku dengan judul yang sama edisi revisi namun harganya jauh berbeda.
Buku hasil revisi dijual dengan harga 130 ribu. Sempat tercengang juga. Wew!
Mas Paijo selain membawa buku dari bazar juga tabloid
Basis. Setelah bercerita tentang harga buku diskonan yang tidak begitu menarik
buat saya. ia menawarkan Tabloid yang penuh warna dan mungin lebih menarik
daripada dialog tentang buku diskonan itu. Halaman cover yang saya perhatikan
pertama ada hal yang menarik. Tulisan besar yang sengaja di blowup yeng menandakan bahwa inilah yang
menjadi artikel primadona pada Basis edisi kali ini. Mungkin editor ingin
bercerita seperti itu! Yang menanik perhatian saya waktu itu adalah artikel
tentang agama internet. Wah, seperti apa?
Ini reportase saya.
Dengan berkembangnya IT menjadikan manusia saling terhubung
dengan orang lain. Jarak yang dahulu menjadi masalah kini telah hilang. Jaman
inipun menjadi ‘tak berjarak’. Semua dalam genggaman. Setiap menit setiap orang
bercengkrama dengan orang lain tanpa harus bertemu dan bertatap muka seperti
dulu yang ia lakukan sebelum adanya internet. Setiap menit juga ia dapat
melempar bom Molotov kepada pihak
yang ia tidak sukai dengan anonim. Menyenangkan bukan? Metode yang biasanya
dilakukan untuk merusak ketentraman publik dengan cara hit and run. Tanpa bertanggung jawab.
Kini teknologi bukan sedar sarana untuk menyambung tali
silaturhahim kepada orang lain, manun kini beranjak kapada paganism. Paganisme
yang dulu pernah berkembang di masa Jahiliyah kini muncul kembali dengan
bungkus yang baru, yaitu Internet yang Maha Kuasa. Setiap detik manusia ingin
mencari eksistensi dirinya dalam dunia tak kasat mata itu. Setiap orang
menyembah internet dengan caranya masing-masing. Setiap orang juga secara sadar
ataupun tidak mengorbankan waktunya untuk ‘beribadah’ di depan internet. Berjam-jam tidak akan
terasa, waktu yang semestinya utnuk kontemplasi, mencari diri sendiri dalam
keheningan kini tidak bisa lagi karena hingar bingar internet yang mencoba
nemarik kita dalam kuasanya. Tidak tanggung-tanggung jutaan jamaa’ah internet tesebar
di seluruh dunia, menginginkan keinginan yang sama.
Internet merubah cara berinteraksi, sosial, dan kultur dari
manusia. Dalam tabloid Basis itu yang menjadi sorotan setelah agama Internet dengan I besar adalah perkembangan internet itu sendiri. Internet
merupakan thrird wave dalam sejarah manusia dan peradabanya.
Gelombang pertama adalah gelobang
pertanian. Hal ini merubah cara pandang manusia yang dulunya hidup berpindah
menjadi menetap pengolahan lahan, bercocok tanam. Gelombang yang kedua adalah gelombang industrialisasi.
Hal ini mengakibatkan gampangnya memperoleh barang-barang yang dulu sangat
mahal kini didapat dengan harga sangat murah berkat industiralisasi. Namun
industrialisasi, selain berdampak pisitif. Juga mempunyai dampat negatif. Penggunaan
bahan bakar fosil yang terakumulasi di atmosfir menjadikan suhi bumi naik.
Entah benar atau salah keterangan tersebut saya juga kurang tahu. Dan yang ketiga yaitu internet ini.
Selanjutnya yang menarik perhatian lagi adalah Paus
Fransiskus yang menggunakan HP. Menggunakan HP mungkin hal yang biasa, maun
ketika seorang Paus menggunakan HP adalah sesuatu yang wah. Paus, sepengetahuan
saya, selalu menjaga ortodoksi dalam peribadahanya. Tidak begitu tertarik
dengan perkembangan IT dan lain sejenisnya. Namun kini telah berubah. Pada
zaman modern seperti ini agama juga telah tersusupi nilai IT secara
pelan-pelan. (kalau tidak salah) beliau juga memfatwakan bahwa Kesenangan tidak bisa diunduh di appstore
ataupun playstore. Hmmm…
Dengan ini lengkap sudah penetrasi internet. Sudah
menjangkau berbagai macam sudut kampong, selokan kota dan sekarang di tempat
suci layaknya Vatikan. Wah super sekali. Setiap manusia kini terhunung dengan
internet dengan segala keindahanya dan mudharatnya. Tidak bisa terbendung
memang, gebrakan internet telalu luat untuk ditahan dan kini banjir informasi
telah melanda seluruh bumi tanpa terkecuali. Mirip banjir Nuh waktu itu. Namun
ini mumgkin baru awal dari sebuah konspirasi global. Mungkin ada yang lebih
mengerikan dibalik banjir informasi ini? ketika ruang privat sama hampir
menghilang. Saat itu manusia gampang terombang ambing oleh arus informasi.
Berbahagialah mereka yang telam membuat kapal dan ikut dalam bahtera Nuh semoga
selamat hingga nanti.
Ternyata tidak sia-sia pergi dari kos, dan mendapat
pengalaman baru dan wawasan baru. Sip! Dan terima kasih pada kalian yang sudah
membaca artikel ini.
*dhong
No comments:
Post a Comment