Tuesday, 11 October 2016

hari bahagia



Sehari ini diriku berbuat apa aja sih? Yah itu yang saya mau ceritakan kepada Anda semua. Tentang apa yang saya lakukan hari ini yang pertama adalah bantu teman ngerjain Skripsi. Teman mulai kirim kabar bahwa ia bingung tentang bab dalam skripsi yang ia coba kerjakan pada hari itu. Karena bingung ia mencoba menghubungi saya, yang dipercaya bisa untuk menyelesaikan tugasnya.

Dalam tugasnya yang dibingungkan ialah tentang bagaimana membuat Kartu Data. Ia sambat karena mungkin tabel data yang dibuat tidak mencukupi untuk tempat data yang dibutuhkan. Kartu data itu sebenarnya sudah ada dalam konsep pemikirannya, tetapi ia ragu-ragu untuk menuangkannya dalam lembar kertas. Kemudian saya menyarankan padanya agar ia tidak ragu-ragu dalam pengambilan keputusan. Nggir ra minggir tabrak! Itu mungkin mewakili saran saya kepadanya pagi itu. Untuk apa ragu-ragu, jangan takut untuk menuliskan gagasamu kawan. Jika engkau masih berkutat di sesuatu itu  maka yang lain tidak akan terjamah, sedangkan yang lain juga perlu perhatianmu. Jika masih pusing jadikan seorang teman untuk sarana curhat atau éngkél-éngkélan (debat,red) agar tercapai kesepakatan dan engkau tahu kesalahanmu dimana.

Menjadi perkara lagi jika engkau pergi keluarkota tidak bawa dompet. Itu yang terjadi siang tadi, setelah rampung  acara ‘bimbingan’ mucul masalah baru. Dompet yang berisi uang, STNK, dan kartu-kartu penting lain tertinggal di kamar. Sempat bingung apa yang mau dikerjakan. Waktu itu sudah saatnya makan siang, perut keroncongan, men!. Tapi karena kuasa Tuhan teman mau ngutangi uang untuk sekedar makan siang, dan yang lebing menguntungkan lagi makanya dekat dengan kosan, jadi sekalian bisa ambil uang, jadi tidak perlu ngutang.

Siang itu terasa panas, matahari serasa di atas kepala meskipun sudah condong ke arah Barat. Dengan deng-degan motor dipacu dengan kecepatan 60 kilometer per jam membelah kota Jogja yang sedang ramai karena istirahat siang. Cukup menegangkan, melaju di tengah kota ranpa membawa surat kendaraan bernotor. Semoga siang itu tidak ada cêgatan, dan tidak bertindak bodoh melanggar lalu lintas. Perjalanan terasa singkat, kami telah sampai di tempat makan. Kupinjam motornya untuk ambil dompet yang tertinggal di kos sedangkan dia pesen makan.

Wus, perjalanan dari tempat makan ke kos memang tergolong singkat. Kosku Cuma terletak beberapa meter dari tempat makan kami. Sampai di kos, tas langsung tak lempar, ambil dompet, dan langsung menuju ke tempat makan tadi. Siang itu kami berdua makan mie ayam dan minum es jeruk. Terasa nikmat sekali siang itu. Mie ayam hangat ditambah es jeruk dingin, emmm…..  Sekaran tiba saatnya pembayaran. Setelah saya mengeluarkan dompet dan akan membayar makan siang itu. Dengan baik hati ia mau nraktir makan kami berdua. Rejeki anak soleh sekali….

Hari beranjak sore, males mulai datang. siang waktu males bagiku untuk beraktifitas. Siang itu biasanya saya tidur siang. Eh ternyata ada kabar dari teman yang ingin mampir. Tanpa sadar kantukpun datang tidak sempat balas kabar dari teman itu akhirnyapun tidur. Tidak lama berselang, tidurku terganggu dengan kedatangan tamu. Ya sudah, mungkin cukup tidurku untuk siang itu. Sudah fres, tp agak BT juga. Buka-buka hp instagraman like always.  Sesuatu yang tidak berguna yang saya lakukan setiap hari. Waktuku terbuang banyak untuk itu. Sial!

Akhirnya adzan Ashar pun berkumandang. Siap-siap utuk pergi ke Masjid. Masjid itu jadi langganan sholatku selama ngekos disana. Dulu setiap ada acara saya musti diundang dan hadir disetiap acara yang diselenggarakan. Sekarang? Nanti dulu karena semakin tua, seseorang semakin banyak komunitas yang diikuti (paling tidak untuk saya pribadi). Oleh karena itu sekarang, jika ada acara, jarang saya ikuti. Tiba disana sudah rokaat kedua. Dengan panik saya ambil airu wudzu dan segera nyusul. Shalat mulai rokaat ke tiga. Untuk yang dua rokaat kuranganya saya tambah sehabis salam.

Setelah sholat usai saya kembali ke kos. Saat itu saya mendapat kabar dari teman kelas jurnalistik masjid untuk ikut berkumpul berembug tentang cover dari buku yang akan turun cetak. Sempat galau juga waktu itu, memilih antara gabut di kos atau ikut rembug di kelas jurnalistik. Sore itu galau lagi. Akhirnya saya untuk menunda pergi ke kelas jurnalistik, ingin cukur rambut dulu karena sudah dua bulan rambut tidak dicukur. Selain ingin tampilan baru juga ingin hemat shampo. Lalu saya memutuskan untuk pergi  ke tukang cukur setelah sholat ashar itu.

Tiba ditempat tukang cukur ternyata antri. Antri dua kepala. Oke ditunggu dengan sabar dan biasa saja. Yang menjadi perhatianku di tempat tukang cukur itu adalah kakek-kakek yang sedang dukur plontos. Ada keinginan untuk semodel dengan dia. Tetapi saya pikir dua kali, kalau saya cukur seperti itu apa kata teman-teman nanti? Seperti lampu taman? Tuyul? Itulah yang menjadi pertimbanganku utuk tidak bercukur sama dengan bapaknya. Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa tidak majunya seseorang. Dikarenakan takut bully-an orang lain, ia takut uttuk berbeda. Dalam konteks ini berbeda itu berbeda yang baik tentunya.

Bapak itu telah selesai bercukur plontos. Dan saya masih memperhatikanya dengan seksama. Apa yang dilakukannya setelah itu adalah menstater motor mio lawas yang ia bawa untuk bercukur itu. Ia sempat ngomong bahwa intinya stater motor itu agak susah. Mungkin akinya mati, atau yang lainnya saya kurang tahu. Sekali, dua, tiga kali gagal stater motor saya baru sadar ia butuh bantuan. Mungkin telat untuk ukuran membantu orang, tapi telat lebih baik daripada tidak sama sekali. Motor itupun sekali selah berhasil berbunyi. Ada rasa bangga karena sudah berhasil menyelah motor itu.

Untuk selanjutnya tidak begitu menarik. Hanya seorang muda yang berumuran diatasku. Cukurnyapun tidak begitu total seperti bapak-bapak sebelumnya. Orang itu memakai kaos berkerah warna kuning dengan blok berbentuk segitiga dari dada hingga leher.  Dan di punggung tertulis sebuah frenchise sate yang sudah buka cabang paling tidak di dua tempat. Cukurnyapun hanya penipisan rambut sebelah pinggir, menyisakan tengah. Kurang lebih lima menit orang itu selesai sekarang giliranku untuk bercukur.

Ditempat itu saya memilih model cukur yang saya biasa lakukan disitu, satu setengah senti rata. Tukang cukurpun mulai bekerja. Senti demi senti rambut mulai terpotong, jatuh kebawah. Mulai terkumpul banyak. Cukur mendapat seperempat bagian, teman dari tukang cukurpun datang. Menanyakan kabar, dan punya acara apa setelah ini. maka tukang cukurpun menjawab mancing. Spesifiknya mancing sidat. Sudah menjadi primadona di seantero DIY-Jateng, sidat itu mempunyai nilai ekonomis lumayan tinggi. Sekitar 100 ribu per kilo. Entahah untuk apa ikan itu, yang jelas itu ikan langka dan (katanya) bisa untuk obat.

Tukang cukurpun sanggup berangkat nyidat setelah menyelesaikan satu kepala, yaitu saya. mereka ngobrol tentang umpan untuk nyidat nanti. Antara lain yang saya tangkap yaitu umpan yang mau mereka beli adalah unthel cacing dan emprit yang akan dibeli di pasar Pasty. Ketika itu saya berfikir, unthel itu sudah umum di kalangan pemancing sidat, dan ini ada umpan lain yaitu emprit. Emprit yang masih hidup? Tentunya tidak. Emprit harus dibunuh dulu sebelum menjadikanya umpan. Untuk tempat mincingnya mereka berdua memilih di sekitar Imogiri, makam raja-raja Mataram. Selain mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, sidat juga dipercaya hidup di tempat-tempat mistis, seperti yang saya sebutkan diatas, selain itu juga di daerah tempuran. Mereka senang mencari makan disana.

Tidak berselang lama datang satu teman lagi, mungkin dia juga gabut alias gaji buta, tidak ada kerjaan sore itu. Mereka berdua bercengkrama tentang apa yang akan dilakukan setelah itu. Tukang cukurpun menjawab bahwa mereka berdua akam mincing sidat di Imogiri. Tanpa pikir panjang teman yang ketiga itupun ikut. Namun yang menjadi masalah adalah ia tidak mempunyai pancing. Mungkin ia mau pinjam pancing atau apa. Untuk senar, timbêl, dan mata kail ia sudah punya. Teman yang pertama menawari pancingnya untuk dipinjam kepada teman yang baru datang tadi. Oke masalah pancing sudah terjawab. Setelah itu mereka berjanji akan berangkat setelah ini, namun sebelum itu mereka akan mampir pasar Pasty untuk membeli umpan.

Dalam bayangan mereka sudah akan berangkat sebentar lagi. Namun kemudian datang lagi satu kepala yang minta dicukur. Seorang anak muda umur sekitar 20an tahun dengan sedikit kekurangan, tangan kananya tumbuth kurang sempurna. Lelaki itu mempunyai tangan kecil tanpa jari-jari, panjangnya mungkin hanya sekitar separuh panjang lengan orang dewasa. Orang itu sebut saja mas Dewå. Ia berstatus mahasiswa di salah satu peguruan tinggi, namun dengan keterbatasan yang ia miliki , mas Dewå mempunyai segudang prestasi. Dari ceritanya, mas Dewå tergolong orang sibuk, paling tidak untuk satu minggu ini. agenda terdekat ia mau pergi ke Bandung untuk apa saya juga kurang mengerti. Sebagai orang normal saya merasa tersaingi, denga keadaannya seperti itu ia bisa meraih impian. Sedangkan saya? diberi anggota tubuh normal sempurna, tapi apa yang saya lakukan hingga kini? Hanya membuang waktu. sial!

Cukur saya pun sudah selesai. Saya meninggalkan kebanggaan kepada mas Dewå dan segala prestasi dan semangat yang ia peroleh. Setelah itu saya berjalan menuju kos dengan langkah yang masih berfikir, masih bertaut dengan keadaan mas Dewå. Tak lama berselang saya telah sampai di kos. Segera saya mancolokan kabel-label CPU, Monitor dan Sound untuk sekedar main game. Pada saat itu perasaan sedang galau. Mau main game atau ikut rembug cover buku. Maka saya belum memilih keduanya, saya instagraman lagi karena belum tahu yang akan saya lakukan. Paling tidak untuk 15 menit kedepan dengan masih ditunggu teman yang sedari tadi nongkrong main HP.

15 menit itu saya gabut. Tidak ngerti saya harus ngapain tercetus gagasan untuk pergi dari kamar menuju suasana baru. Saya memutuskan untuk pergi ke tempat rembug cover buku. Oke pilihan telah diputuskan. Komputer desktop yang tadinya nyala kini saya perintah untuk hibernate. Lalu saya pamitan dengan teman yang sedari tadi sibuk main HP. Pamitan seperti biasa. Lalu saya langsung cus menuju tempat motor lalu saya selah motor itu seperti biasa. Sore itu medung menggelayut hampir hujan. Angin terasa dingin dan mungkin nanti malam akan turun hujan.

Honda Prima 83’ melaju di jalan Jogja dengan santai. Meninggalkan gapura dan kosan menuju kejalan besar yang lagi rame-ramenya saat itu. Maklum pas waktu pulang kerja. Meninggalkan kos tadi jam menunjukan jam 16:15 sore. Motorpun menyeberang tanpa kesulitan berarti. Pergi meninggalakan kos, teman, dan kenangan tentang mas Dewå. Motor melaju pelan menuju bangjo. Sebelah kiri terlihat bakul buah yang parkir semrawut, karena dipinggir jalan (bagi saya) sangat menggangu pengendara lain. Apa lagi ketika jam-jam sibuk seperti sekarang. Asem!. Lampu menunjukan angka 10 dan setelah itu detikan berganti dengan peringatan “siap-siap” dan setelah itu muncul angka 3, 2, 1, dan motor Hondapun berjalan..

Tiba di tempat rembug cover kelas jurnalistik. Saya lihat disana baru ada dua orang. Mas Paijo dan Paidi. Mas Paijo adalah pimpinan dari kelas jurnalistik dan mas Paidi sama seperti saya sebagai contributor buku yang sebentar lagi turun cetak. Mas Paijo sibuk dengan gawainya, mas Paidi sibuk membaca koran, dan saya sibuk mengamati mereka dengan sesekali bermain instaram. Tak lama kemudian mas Paijo berdiri menuju kebelakang mengambil sesuatu, yaitu buku dan majalah. Buku yang dibeli ketika ada bazar buku di salah satu Universitas. Ia mendapatka buku tentang sejarah kitab kuning dengan harga 25 ribu. Bagi saya harga itu murah sekali. Buku asli, cetakan paper book, ringan, murah. Namun mas paijo juga membandingkan dengan buku dengan judul yang sama edisi revisi namun harganya jauh berbeda. Buku hasil revisi dijual dengan harga 130 ribu. Sempat tercengang juga. Wew!

Mas Paijo selain membawa buku dari bazar juga tabloid Basis. Setelah bercerita tentang harga buku diskonan yang tidak begitu menarik buat saya. ia menawarkan Tabloid yang penuh warna dan mungin lebih menarik daripada dialog tentang buku diskonan itu. Halaman cover yang saya perhatikan pertama ada hal yang menarik. Tulisan besar yang sengaja di blowup yeng menandakan bahwa inilah yang menjadi artikel primadona pada Basis edisi kali ini. Mungkin editor ingin bercerita seperti itu! Yang menanik perhatian saya waktu itu adalah artikel tentang agama internet. Wah, seperti apa?  Ini reportase saya.

Dengan berkembangnya IT menjadikan manusia saling terhubung dengan orang lain. Jarak yang dahulu menjadi masalah kini telah hilang. Jaman inipun menjadi ‘tak berjarak’. Semua dalam genggaman. Setiap menit setiap orang bercengkrama dengan orang lain tanpa harus bertemu dan bertatap muka seperti dulu yang ia lakukan sebelum adanya internet. Setiap menit juga ia dapat melempar bom Molotov kepada pihak yang ia tidak sukai dengan anonim. Menyenangkan bukan? Metode yang biasanya dilakukan untuk merusak ketentraman publik dengan cara hit and run. Tanpa bertanggung jawab.

Kini teknologi bukan sedar sarana untuk menyambung tali silaturhahim kepada orang lain, manun kini beranjak kapada paganism. Paganisme yang dulu pernah berkembang di masa Jahiliyah kini muncul kembali dengan bungkus yang baru, yaitu Internet yang Maha Kuasa. Setiap detik manusia ingin mencari eksistensi dirinya dalam dunia tak kasat mata itu. Setiap orang menyembah internet dengan caranya masing-masing. Setiap orang juga secara sadar ataupun tidak mengorbankan waktunya untuk ‘beribadah’  di depan internet. Berjam-jam tidak akan terasa, waktu yang semestinya utnuk kontemplasi, mencari diri sendiri dalam keheningan kini tidak bisa lagi karena hingar bingar internet yang mencoba nemarik kita dalam kuasanya. Tidak tanggung-tanggung jutaan jamaa’ah internet tesebar di seluruh dunia, menginginkan keinginan yang sama.

Internet merubah cara berinteraksi, sosial, dan kultur dari manusia. Dalam tabloid Basis itu yang menjadi sorotan setelah agama Internet dengan I besar adalah perkembangan internet itu sendiri. Internet merupakan thrird wave  dalam sejarah manusia dan peradabanya. Gelombang pertama adalah gelobang pertanian. Hal ini merubah cara pandang manusia yang dulunya hidup berpindah menjadi menetap pengolahan lahan, bercocok tanam. Gelombang yang kedua adalah gelombang industrialisasi. Hal ini mengakibatkan gampangnya memperoleh barang-barang yang dulu sangat mahal kini didapat dengan harga sangat murah berkat industiralisasi. Namun industrialisasi, selain berdampak pisitif. Juga mempunyai dampat negatif. Penggunaan bahan bakar fosil yang terakumulasi di atmosfir menjadikan suhi bumi naik. Entah benar atau salah keterangan tersebut saya juga kurang tahu. Dan yang ketiga yaitu internet ini.

Selanjutnya yang menarik perhatian lagi adalah Paus Fransiskus yang menggunakan HP. Menggunakan HP mungkin hal yang biasa, maun ketika seorang Paus menggunakan HP adalah sesuatu yang wah. Paus, sepengetahuan saya, selalu menjaga ortodoksi dalam peribadahanya. Tidak begitu tertarik dengan perkembangan IT dan lain sejenisnya. Namun kini telah berubah. Pada zaman modern seperti ini agama juga telah tersusupi nilai IT secara pelan-pelan. (kalau tidak salah) beliau juga memfatwakan bahwa Kesenangan tidak bisa diunduh di appstore ataupun playstore. Hmmm…

Dengan ini lengkap sudah penetrasi internet. Sudah menjangkau berbagai macam sudut kampong, selokan kota dan sekarang di tempat suci layaknya Vatikan. Wah super sekali. Setiap manusia kini terhunung dengan internet dengan segala  keindahanya dan mudharatnya. Tidak bisa terbendung memang, gebrakan internet telalu luat untuk ditahan dan kini banjir informasi telah melanda seluruh bumi tanpa terkecuali. Mirip banjir Nuh waktu itu. Namun ini mumgkin baru awal dari sebuah konspirasi global. Mungkin ada yang lebih mengerikan dibalik banjir informasi ini? ketika ruang privat sama hampir menghilang. Saat itu manusia gampang terombang ambing oleh arus informasi. Berbahagialah mereka yang telam membuat kapal dan ikut dalam bahtera Nuh semoga selamat hingga nanti.

Ternyata tidak sia-sia pergi dari kos, dan mendapat pengalaman baru dan wawasan baru. Sip! Dan terima kasih pada kalian yang sudah membaca artikel ini.
*dhong

No comments:

Post a Comment