Kaping telu, wong kang sholeh kumpulana
Sebuah Pembacaan Ngaji Maulana Rumi di MJS
Sholeh itu menurut saya dibagi menjadi dua, soleh secara
intelektual dan soleh secara spiritual. maksud dari kesolehan sendiri adalah
sikap batin yang berperan sesuai dengan fungsinya. Bila dikaitkan dengan
intelektual secara intelektual dan sholeh secara spiritual itu ada ketika kita
bisa berkumpul dengan orang yang sama freksuensi keilahiannya namun berbeda
pemakaianya. Soleh secara intelektual, hal ini milik kaum akademisi, kaum
cerdik pandai yang senantiasa mengunamakan logika empirisme mereka. Semuanya
serba teratur, runtut, sistematis, kaku dan dingin dan ada kalanya penuh dengan
data-data yang mereferensi dari sumber lain. Sedangkan soleh tipe kedua, adalah
kesolehean yang dimiliki oleh kaum pecinta. Soleh ini adalah kebalikan dari
soleh tipe pertama. Ketika cinta membara, semuanya benteng tinggi keteraturan,
kedirian, batas-jarak, aku engkau, telah hilang musnah bagi sang pencinta. Yang
ada hanya bayangan kekasihnya yang bersemayam setiap hari ia berada dalam
banjir bandang ilahiah yang menyebabkan hati ini luka menganga yang begitu
nikmat.
Syarat untuk menjadi seorang pecinta adalah masuk lewat
logika akal dan selanjutnya setelah masuk fase ekstese biarkan hati menjalankan
peranya. Akal hanya sebagai pengantar untuk nyempung
kedalam banjir bandang ilahiah. Tidak jarang ketika manusia sedang
mengalami banjir bandang ilahiah, akal mengintervensi kecintaan tersebut. Dan
saran dari Maulana Rumi adalah, jangan biaran anak kecil itu (baca:akal)
mengganggumu ketika engkau sedang bercinta. Tugasnya hanya mengantarkan,
selebihnya sudah urusan hati. Para pencinta malah mencari cara untuk melukai
hatinya. Luka menganga yang rindu akan wajah sang kekasih. Tidak terpaut akan
keindahan surgawi ataupun kepedihan ketika terperosok kedalam neraka. Bagi para
pecinta, hal itu tidaklah memberi efek apapun. Kesalahan seorang kekasih akan lebur karena api cinta yang membara, dan
pahala seorang yang jauh akan tidak dianggap. Indahnya ketika kesalahan,
sebelum hal itu dilakukan, sudah diampuni. Dan celaka engkau orang yang jauuh,
meskipun pahalamu segunung Sinai, hilang bagai debu yang terbilas air.
Penggunaan
intelektual untuk mengantarkan seseorang menuju kecintaan ilahiah wajib
hukumnya untuk dicari. Cinta yang didekati dengan banyak jalan akan akan
memudahkan sang pencinta untuk larut dalam mabuk ilahi. Juga harus dimengerti tugas
akal hanya mengantarkan, dan dilarang interfensi. Akal yang disana terdapat
berbagai macam ilmu tentang benda-benda, nama, konsep yang masih cacat marilah
kita bawa untuk mengantarkan sang Aku ini menuju transedensi lewat adanya cinta
tadi. Biarkan cinta yang membara ini membakar habis kefanaan yang berada dalam
akal dan membuatnya menjadi bahan bakar seseorang untuk meraih transedensi. Cak
Kuswadi dalah hal ini sedikir berudarasa. Nabi Isa datang dengan mewujudkan hal
yang transeden itu kedalam sesuatu yang lebih kongkrit sedang Kanjeng Nabi
Muhammad sebaliknya, mentransedensikan sesuatu yang kelihatan menuju kehadirat
Yang Maha HIdup.
No comments:
Post a Comment