Monday, 6 February 2017



Kaping telu, wong kang sholeh kumpulana

Sebuah Pembacaan Ngaji Maulana Rumi di MJS



 

Sholeh itu menurut saya dibagi menjadi dua, soleh secara intelektual dan soleh secara spiritual. maksud dari kesolehan sendiri adalah sikap batin yang berperan sesuai dengan fungsinya. Bila dikaitkan dengan intelektual secara intelektual dan sholeh secara spiritual itu ada ketika kita bisa berkumpul dengan orang yang sama freksuensi keilahiannya namun berbeda pemakaianya. Soleh secara intelektual, hal ini milik kaum akademisi, kaum cerdik pandai yang senantiasa mengunamakan logika empirisme mereka. Semuanya serba teratur, runtut, sistematis, kaku dan dingin dan ada kalanya penuh dengan data-data yang mereferensi dari sumber lain. Sedangkan soleh tipe kedua, adalah kesolehean yang dimiliki oleh kaum pecinta. Soleh ini adalah kebalikan dari soleh tipe pertama. Ketika cinta membara, semuanya benteng tinggi keteraturan, kedirian, batas-jarak, aku engkau, telah hilang musnah bagi sang pencinta. Yang ada hanya bayangan kekasihnya yang bersemayam setiap hari ia berada dalam banjir bandang ilahiah yang menyebabkan hati ini luka menganga yang begitu nikmat.
Syarat untuk menjadi seorang pecinta adalah masuk lewat logika akal dan selanjutnya setelah masuk fase ekstese biarkan hati menjalankan peranya. Akal hanya sebagai pengantar untuk nyempung kedalam banjir bandang ilahiah. Tidak jarang ketika manusia sedang mengalami banjir bandang ilahiah, akal mengintervensi kecintaan tersebut. Dan saran dari Maulana Rumi adalah, jangan biaran anak kecil itu (baca:akal) mengganggumu ketika engkau sedang bercinta. Tugasnya hanya mengantarkan, selebihnya sudah urusan hati. Para pencinta malah mencari cara untuk melukai hatinya. Luka menganga yang rindu akan wajah sang kekasih. Tidak terpaut akan keindahan surgawi ataupun kepedihan ketika terperosok kedalam neraka. Bagi para pecinta, hal itu tidaklah memberi efek apapun. Kesalahan seorang kekasih akan lebur karena api cinta yang membara, dan pahala seorang yang jauh akan tidak dianggap. Indahnya ketika kesalahan, sebelum hal itu dilakukan, sudah diampuni. Dan celaka engkau orang yang jauuh, meskipun pahalamu segunung Sinai, hilang bagai debu yang terbilas air.
Penggunaan intelektual untuk mengantarkan seseorang menuju kecintaan ilahiah wajib hukumnya untuk dicari. Cinta yang didekati dengan banyak jalan akan akan memudahkan sang pencinta untuk larut dalam mabuk ilahi. Juga harus dimengerti tugas akal hanya mengantarkan, dan dilarang interfensi. Akal yang disana terdapat berbagai macam ilmu tentang benda-benda, nama, konsep yang masih cacat marilah kita bawa untuk mengantarkan sang Aku ini menuju transedensi lewat adanya cinta tadi. Biarkan cinta yang membara ini membakar habis kefanaan yang berada dalam akal dan membuatnya menjadi bahan bakar seseorang untuk meraih transedensi. Cak Kuswadi dalah hal ini sedikir berudarasa. Nabi Isa datang dengan mewujudkan hal yang transeden itu kedalam sesuatu yang lebih kongkrit sedang Kanjeng Nabi Muhammad sebaliknya, mentransedensikan sesuatu yang kelihatan menuju kehadirat Yang Maha HIdup.

No comments:

Post a Comment