Tuesday, 4 July 2017

Bancakan

Gambar terkait
(Sumber: sinarharapan.net)

Terror telah terjadi kembali di negeri ini. kini terror menyerang pembela kebenaran. Yak! Benar. Anggota kepolisian menjadi sasaran terror yang lagi booming kurang lebih satu minggu terakhir. Kedua anggota Polisi ini mendapat gelar Anumerta dari Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Semoga arwah kedua orang polisi Anumerta ini mendapat tempat di sisiNya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

Terror dalam waktu dekat ini kok kian santer terdengar ya? Paling tidak di media mainstream TV swasta nasional. Setiap breaking news satu jam sekali pasti itu-itu saja yang disuguhkan. Kalaupun berkembang mungkin hanya sekedar penemuan anggota keluarga, sanak famili dari keluarga korban maupun tersangka yang dimintai keterangan. Dan pembabaran barang bukti terkait dengan Negara Islam Irak-Suriah (NIIS) yang terpampang sebagai barang bukti. Itu terus yang diberitakan selama saya paling tidak seminggu ada di rumah, pulang kampung kemarin.

Sebenarnya dalam kasus ini perlu diklarifikasi apa itu sebenarnya terror. Kalau menurut saya, terror itu menciptakan ketakutan yang terstruktur dengan cara membuat kekacauan sosial. Korban dari terror tersebut mungkin bisa berupa nyawa ataupun struktur bangunan yang hancur setengah hancur ataupun hanya dirusak sebagian kecil. Inti dari terror menurut saya agar tercipta ketakutan di masyarakat. Agar mereka kacau karena takut. Pertimbangan suatu masyarakat yang panik menjadikan setiap langkah yang diambil menjadi kacau dan keropos di satu sisi karena gegar sosial. Ketika semua kaget, struktur sosial mudah diserang, dimana terjadi kekosongan, mungkin ada yang rembes. Semacam intrusi air laut kedalam air tanah karena ruangan kosong. Sehingga menjadikan air tanah tercampur dengan air laut.

Terror ini saya kira telah berhasil. Terror dengan melakukan pembunuhan secara terencana kepada dua anumerta ini telah menjadikan pak pilisi beserta jajarannya memperkuat penjagaan di polsek terdekat. Pak polisi yang budiman memperkuat menjagaan di sarangnya agar tidak ada lagi anumerta-anumerta lain yang mati sia-sia karena tindakan dari teroris. Paling tidak ini terjadi di Surabaya belakangan ini.

Enah mengapa pikiran saya langsung tertuju dengan persekongkolan jahat penjualan negara ya? Bukan terkait masalah keamanan nasional, ataupun gerakan radikal semacam ISIS. Paradigm ini dibangun dari pemikiran yang entah kapan saya simak dalam ngaji ataupun setelah membaca suatu buku. didalamnya menyatakan premis-premis sebagai berkut pertama kita sebagai Negara Kepulauan yang kaya akan sumber daya. Kedua memasuki globalisasi ekonomi, sosial, budaya yang secara masif dikoar-koarkan di media akan membentuk mindset kita. ketiga kelangkaan sumber daya di negeri asing dan aseng karena telah habis tersedot dari sejak dulu kala. Dan premis terakhir adalah wacana yang samar-samar saya dengar dari pak Presiden Please invest to my Country.

Ketar-ketir memang. Kemarin subsidi listrik dicabut, harga rokok naik, pasar tradisional tidak seramai dulu, para pemilik ladang tebu juga agak sesak nafas karena harga tebu turun. Dan kini dari narasumber yang terpercaya orang aseng telah punya lahan di Kalimantan untuk memproduksi gula sendiri. Itulah!!!!

Arêp sambat nanging karo såpå?

Kata Kunci : (Anumerta, Teror, Adol Negara)

Oleh : Lingga Fajar

Sleman, Selasa, 4 Juli 2017

No comments:

Post a Comment