(Sumber: sinarharapan.net)
Terror telah terjadi kembali di
negeri ini. kini terror menyerang pembela kebenaran. Yak! Benar. Anggota
kepolisian menjadi sasaran terror yang lagi booming kurang lebih satu minggu
terakhir. Kedua anggota Polisi ini mendapat gelar Anumerta dari Kepolisian
Republik Indonesia (POLRI). Semoga arwah kedua orang polisi Anumerta ini
mendapat tempat di sisiNya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.
Terror dalam waktu dekat ini kok
kian santer terdengar ya? Paling tidak di media mainstream TV swasta nasional.
Setiap breaking news satu jam sekali
pasti itu-itu saja yang disuguhkan. Kalaupun berkembang mungkin hanya sekedar
penemuan anggota keluarga, sanak famili dari keluarga korban maupun tersangka
yang dimintai keterangan. Dan pembabaran barang bukti terkait dengan Negara
Islam Irak-Suriah (NIIS) yang terpampang sebagai barang bukti. Itu terus yang
diberitakan selama saya paling tidak seminggu ada di rumah, pulang kampung
kemarin.
Sebenarnya dalam kasus ini perlu
diklarifikasi apa itu sebenarnya terror. Kalau menurut saya, terror itu
menciptakan ketakutan yang terstruktur dengan cara membuat kekacauan sosial.
Korban dari terror tersebut mungkin bisa berupa nyawa ataupun struktur bangunan
yang hancur setengah hancur ataupun hanya dirusak sebagian kecil. Inti dari
terror menurut saya agar tercipta ketakutan di masyarakat. Agar mereka kacau
karena takut. Pertimbangan suatu masyarakat yang panik menjadikan setiap
langkah yang diambil menjadi kacau dan keropos di satu sisi karena gegar
sosial. Ketika semua kaget, struktur sosial mudah diserang, dimana terjadi
kekosongan, mungkin ada yang rembes. Semacam intrusi air laut kedalam air tanah
karena ruangan kosong. Sehingga menjadikan air tanah tercampur dengan air laut.
Terror ini saya kira telah
berhasil. Terror dengan melakukan pembunuhan secara terencana kepada dua
anumerta ini telah menjadikan pak pilisi beserta jajarannya memperkuat
penjagaan di polsek terdekat. Pak polisi yang budiman memperkuat menjagaan di
sarangnya agar tidak ada lagi anumerta-anumerta lain yang mati sia-sia karena
tindakan dari teroris. Paling tidak ini terjadi di Surabaya belakangan ini.
Enah mengapa pikiran saya
langsung tertuju dengan persekongkolan jahat penjualan negara ya? Bukan terkait
masalah keamanan nasional, ataupun gerakan radikal semacam ISIS. Paradigm ini
dibangun dari pemikiran yang entah kapan saya simak dalam ngaji ataupun setelah
membaca suatu buku. didalamnya menyatakan premis-premis sebagai berkut pertama kita sebagai Negara Kepulauan
yang kaya akan sumber daya. Kedua memasuki
globalisasi ekonomi, sosial, budaya yang secara masif dikoar-koarkan di media
akan membentuk mindset kita. ketiga kelangkaan sumber daya di negeri
asing dan aseng karena telah habis tersedot dari sejak dulu kala. Dan premis
terakhir adalah wacana yang samar-samar saya dengar dari pak Presiden Please invest to my Country.
Ketar-ketir memang. Kemarin
subsidi listrik dicabut, harga rokok naik, pasar tradisional tidak seramai
dulu, para pemilik ladang tebu juga agak sesak nafas karena harga tebu turun.
Dan kini dari narasumber yang terpercaya orang aseng telah punya lahan di
Kalimantan untuk memproduksi gula sendiri. Itulah!!!!
Arêp sambat nanging karo såpå?
Kata Kunci : (Anumerta, Teror,
Adol Negara)
Oleh : Lingga Fajar
Sleman, Selasa, 4 Juli 2017
No comments:
Post a Comment