Thursday, 22 June 2017

Ajar Ambêgan dengan Mbah Nun dan JM

Rakyat harus mampu menarik nafas panjang ke dalam sebagai kontemplasi agar mampu menjadi stabilisator bangsa.
Maiyahan, KepatihanYogyakarta

Reportase Maiyahan di Kepatihan, Yogyakarta (19/06/2017)

Apa yang membedakan makhluk hidup dengan makluk tidak hidup? Menurut syair sebuah tembang dolanan bahwa beda orang hidup dan orang mati itu adalah fakor kreasinya. Coba simak syair berikut:

“…Mak Jênthit lolo lobah, yen obah ngedéni bocah, yén urip golekå dhuwit.”

Dari sini kita tahu bahwa salah satu ciri orang hidup ialah ia mempunyai kemampuan untuk mengkreasikan hidupnya untuk hal-hal yang produktif bagi kemaslahatannya pribadi. Namun itu hanya sekelumit faktor dimana seseorang dinyatakan  hidup. faktor lainya yang lebih urgen adalah bernafas.hal ini yang membedakan secara signifikanapakah ia tergolong benda atau sudah makhluk.

Bernafas itu adalah proses mengeluarkan dan memasukan udara bersih yang mengandung zat yang berguna untuk tubuh dan mengeluarkan zat yang tidak diperlukan. Proses inilah yang disebut dengan bernafas. Dan tentunya ini juga yang membedakan mana makhluk hidup atau bukan. Pemasukan zat yang berguna dam pengeluaran zat yang tidak berguna, bagi makhluk hidup kadang berbeda. Untuk jalan hidupnya ada  yang membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida (manusia, hewan), ada juga yang membutuhkan karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen (tumbuhan). Dan ada pula yang sama sekali tidak memerlukan keduanya untuk hidup (bakteri). Inilah beda mahluk hidup dan makluk tidak hidup.

Bernafas membedakan mahluk bernyawa atau tidak. Bernafas adalah esensi mahluk hidup. proses penarikan dan pengeluaran zat yang kurang beguna bagi tubuh makluk. Jika ditunjau lebih dalam dan dikontekskan dengan kehidupan pribadi seorang Abdullah, mungkin penjabarannya adalah setiap tarikan meupakan tadabur dan tafakur alias mikir dan introspeksi dan pengeluaranya berupa amal soleh (kebaikan, keselamatan, kemanfaatan bagi semua, Amêmangun karyènak tyasing sasamå).

Sebenarnya proses bernafas ini juga berlaku untuk kedidupan  kita sehari-hari. Dimulai dengan kebaikan diri, kebaikan sosial, dan berakhir pada insan kamil (manusia sempurna). Jika diibaratkan dengan sebuah tarikan nafas ia menjadi sarana mikir dan introspeksi untuk menjadi manusia lebih baik. Setiap tarikan nafas mengandung dzikir hu-Allah, setiap hari melakukan shalat lima kali, setiap malam melakukan tahajud. Itu adalah tempat kita mengambil nafas. Yang nantinya dikeluarkan sebagai amal sholeh untuk sesama.

Seperti yang saya sampaikan tadi diatas bahwa manusia tanpa masuk-keluarnya nafas ia menjadi tidak organic lagi, ia menjadi sebuah mesin. Hal simpel, bahwa mesin tidak membutuhkan nafas karena ia adalah sebuah benda. Ia mewujud sebagai manusia, namun esensinya adalah sebuah mesin, yang kaku dan dingin. Pendayagunaan pikiran dan hati agar semuanya mênêp sehingga kurang memberi manfaat yang lebih luas kepada liyan.

Ada tarekat yang menjalankan khalwat  dengan sarana tarikan nafas. Hal ini dimaksudkan agar ia selalu ingat akan Tuhannya. Hu ketika menarik dan Allah ketika menghembuskan nafas. Hal itu dilakukan secara kontinyu, agar ia tak lupa sangkan paran. Setiap nafas yang dikofer dengan dzikir menjadikan makhluk itu tidak ngawur dalam menjalani kehidupan. karena apa? Ya karena ia selau ingat kepada Allah Swt.

Setiap hari lima kali kita melakukan shalat. Shalat yang dilakukan ini sebagai bersyukur kepada Gusti Allah juga sebagai sarana tadabur dan tafakur, penarikan nafas. Setiap narik nafas yang kita lakukan dalam lima waktu tertentu dalam sehari semalam ini menjadikan kita lebih mawas diri. mengintorspeksi apa yang kita lakukan pada jam-jam yang telah berlalu. Adakah pada jam-jam yang telah terlewat kita menyia-nyiakan waktu? Atau dalam waktu yang terlewat itu kita telah menyakiti hati atau menyakiti fisik orang lain secara sadar ataupun tidak?

Setiap sehari semalam ada jam-jam mustajab. Sepertiga malam. Ini juga berkaitan dengan pengambilan nafas panjang. Setelah seharian beramal, pada waktu itu kita mencoba mengintrospeksi kembali diri kita agar sesuai dengan apa yang diperintahkanNya. Penyerapan nafas spiritual yang jarang dilakuan kaum modern yang hanya berkutat pada kedangkalan-kedangkalan (kali ilang kêdhungé). Pada waktu-waktu inilah kita disunahkan untuk melakukan nafas panjang Keilahian agar kembali sinkron dengan maunya Tuhan. Dan sekali lagi hamêmangun kayènak tyasing sasamå.

Ambil nafas dan hembus nafas dilakukan secara berulang. Setiap detik kita ingat alamat kita dan mulai beramal lewat karya-karya, setiap lima kali sehari kita introspeksi waktu kita beramal kewat perilaku, setiap malam kita mengintrospeksi siang kita. setelah sempurna menjalankan tarik-hembus nafas lewat tadabur, tafakur dan amal sholeh pada hari Jum’at kita saatunya kita menyelaraskan nafas kita itu kepada nafas yang lebih besar, nafas sosial.

Pada hari Jum’at semua orang berkumpul di Masji Jami’ untuk melakukan shalat Jum’at secra berjamaanh. Ini juga merupakan proses penarikan nafas, tadabur dan tafakur akan kedirian kita yang kini lebih luas skupnya. Keluarnya tetap sama yaitu amal sholeh yang dilakukan kepada sesama makhluk, khususnya manusia. peka terhadap keadaan sosial, saling membantu, toleransi, gotong royong dsb. Oleh karena itu pada Surat Al Jumu’ah kita diajarkan setelah menjalankan sholat Jum’at, kita diharuskan untuk bertebaran di bumi Allah Swt. Untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan yang telah kita dapatkan pada tahap penarikan nafas tadi. Bukan cuma mengkafirkan orang lain, menebar kebencian, saling ejek, dsb. Dan selali lagi hamêmangun kayènak tyasing sasamå.

Dan ternyata penarikan nafas itu tidak berhenti pada tataran hari Jum’at saja, momentum penarikan nafas untuk mengintrospeksi, tadabur, dan tafakur juga dilakukan di hari-hari lain. Paling tidak yang saya ketahui ada beberapa yaitu setiap sebulan sekali pada tanggal 13, 14, 15 sebagai introspeksi bulanan, setiap pêthuk wêton, setiap sepasar atau 35 hari sekali, pas pada hari kelahiran kita. Hitungan ini dihitung berlandaskan hitungan Jawa yang katanya puol musyriknya. Ambil nafas tahunan pada saat sasi paså atau bulan Ramadhan seperti saat ini. ini semua dalam rangka menyelaraskan diri agar sesuai apa yang diinginkan Tuhan yaitu pada akhrinya berbuat amal sholeh, hamêmangun kayènak tyasing sasamå.

Pada bulan Ramadhan seperti ini juga ada beberapa hari yang disana tempat kita mengambil nafas lebih panjang. Yak! Sepuluh hari terakhir. Tempat diturunkanya malam lailatul qadar, malam seribu bulan. Yang disana kita disunahkan untuk iktikaf alias berdiam diri. yang menurut saya lebih pada menyiapkan diri untuk menerima anugrah yang besar, malam lailatul qadar. Namun ada yang menggelitik benak saya ketika pak kiai mengatturkan sebuah celoteh bahwa setiap jengkal tanah di  bumi ini merupakan masjid Allah. hal ini berimplikasi bahwa yang namanya iktikaf boleh dilakukan dimana saja, tidak hanya di masjid karena semua tempat sejatinya adalah masjid. Gitu kata pak kiai yang nyentirk ini. yang penting sudah baca niat nawaitu iktikafa lilahi tangala….

Iktikaf atau berdiam diri kini definisinya menjadi lebih luas. Tidak hanya di masjid, mushala, atau saung. Iktikaf bisa dilakukan di observatorium, hutan, gunung, kali, sumber mata air, yang pastinya tidak kalah syahdu dengan Iktikaf di mushala. Dan hal ini diperkuat dengan ajaran bahwa Gusti Allah menciptakan ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, ayat Nya yang tergurat dalam alam semesta dan yang kita baca dalam mushaf Al Qur’an. Apa lagi ditemani dengan aroma terapi menyan atau dupa ratus. Pasti lebih syahdu wkwkwkwk.…

Selamat mudik bagi semuanya! semoga  ketika mudik ke kampung halaman nanti ada hal yang bisa dibagi entah jajan, kangen, atau ilmu-ilmu yang bernafaat. Ciao!

Kata kunci : (nafas, hidup, iktikaf, hamêmangun kayènak tyasing sasamå)

Sleman,
Wanci lingsir bagaskara, 27 paså 1438 H/ 22 Juni 2017
Oleh : Lingga Fajar

No comments:

Post a Comment