
Maiyahan, KepatihanYogyakarta
Reportase Maiyahan di Kepatihan, Yogyakarta (19/06/2017)
Apa yang membedakan makhluk hidup
dengan makluk tidak hidup? Menurut syair sebuah tembang dolanan bahwa beda
orang hidup dan orang mati itu adalah fakor kreasinya. Coba simak syair
berikut:
“…Mak Jênthit lolo lobah, yen obah ngedéni bocah, yén urip golekå
dhuwit.”
Dari sini kita tahu bahwa salah
satu ciri orang hidup ialah ia mempunyai kemampuan untuk mengkreasikan hidupnya
untuk hal-hal yang produktif bagi kemaslahatannya pribadi. Namun itu hanya
sekelumit faktor dimana seseorang dinyatakan
hidup. faktor lainya yang lebih urgen adalah bernafas.hal ini yang membedakan secara signifikanapakah ia
tergolong benda atau sudah makhluk.
Bernafas itu adalah proses
mengeluarkan dan memasukan udara bersih yang mengandung zat yang berguna untuk
tubuh dan mengeluarkan zat yang tidak diperlukan. Proses inilah yang disebut
dengan bernafas. Dan tentunya ini juga yang membedakan mana makhluk hidup atau
bukan. Pemasukan zat yang berguna dam pengeluaran zat yang tidak berguna, bagi
makhluk hidup kadang berbeda. Untuk jalan hidupnya ada yang membutuhkan oksigen dan mengeluarkan
karbon dioksida (manusia, hewan), ada juga yang membutuhkan karbon dioksida dan
mengeluarkan oksigen (tumbuhan). Dan ada pula yang sama sekali tidak memerlukan
keduanya untuk hidup (bakteri). Inilah beda mahluk hidup dan makluk tidak
hidup.
Bernafas membedakan mahluk
bernyawa atau tidak. Bernafas adalah esensi mahluk hidup. proses penarikan dan
pengeluaran zat yang kurang beguna bagi tubuh makluk. Jika ditunjau lebih dalam
dan dikontekskan dengan kehidupan pribadi seorang Abdullah, mungkin penjabarannya adalah setiap tarikan meupakan
tadabur dan tafakur alias mikir dan introspeksi dan pengeluaranya berupa amal
soleh (kebaikan, keselamatan, kemanfaatan bagi semua, Amêmangun karyènak tyasing sasamå).
Sebenarnya proses bernafas ini
juga berlaku untuk kedidupan kita
sehari-hari. Dimulai dengan kebaikan diri, kebaikan sosial, dan berakhir pada insan kamil (manusia sempurna). Jika
diibaratkan dengan sebuah tarikan nafas ia menjadi sarana mikir dan introspeksi
untuk menjadi manusia lebih baik. Setiap tarikan nafas mengandung dzikir hu-Allah, setiap hari melakukan shalat
lima kali, setiap malam melakukan tahajud. Itu adalah tempat kita mengambil
nafas. Yang nantinya dikeluarkan sebagai amal sholeh untuk sesama.
Seperti yang saya sampaikan tadi
diatas bahwa manusia tanpa masuk-keluarnya nafas ia menjadi tidak organic lagi,
ia menjadi sebuah mesin. Hal simpel, bahwa mesin tidak membutuhkan nafas karena
ia adalah sebuah benda. Ia mewujud sebagai manusia, namun esensinya adalah
sebuah mesin, yang kaku dan dingin. Pendayagunaan pikiran dan hati agar
semuanya mênêp sehingga kurang memberi manfaat yang lebih luas kepada liyan.
Ada tarekat yang menjalankan khalwat dengan sarana tarikan nafas. Hal ini dimaksudkan
agar ia selalu ingat akan Tuhannya. Hu
ketika menarik dan Allah ketika
menghembuskan nafas. Hal itu dilakukan secara kontinyu, agar ia tak lupa sangkan paran. Setiap nafas yang dikofer
dengan dzikir menjadikan makhluk itu tidak ngawur dalam menjalani kehidupan.
karena apa? Ya karena ia selau ingat kepada Allah Swt.
Setiap hari lima kali kita
melakukan shalat. Shalat yang dilakukan ini sebagai bersyukur kepada Gusti
Allah juga sebagai sarana tadabur dan tafakur, penarikan nafas. Setiap narik
nafas yang kita lakukan dalam lima waktu tertentu dalam sehari semalam ini
menjadikan kita lebih mawas diri. mengintorspeksi apa yang kita lakukan pada
jam-jam yang telah berlalu. Adakah pada jam-jam yang telah terlewat kita
menyia-nyiakan waktu? Atau dalam waktu yang terlewat itu kita telah menyakiti
hati atau menyakiti fisik orang lain secara sadar ataupun tidak?
Setiap sehari semalam ada jam-jam
mustajab. Sepertiga malam. Ini juga berkaitan dengan pengambilan nafas panjang.
Setelah seharian beramal, pada waktu itu kita mencoba mengintrospeksi kembali
diri kita agar sesuai dengan apa yang diperintahkanNya. Penyerapan nafas
spiritual yang jarang dilakuan kaum modern yang hanya berkutat pada
kedangkalan-kedangkalan (kali ilang
kêdhungé). Pada waktu-waktu inilah kita disunahkan untuk melakukan nafas
panjang Keilahian agar kembali sinkron dengan maunya Tuhan. Dan sekali lagi hamêmangun kayènak tyasing sasamå.
Ambil nafas dan hembus nafas
dilakukan secara berulang. Setiap detik kita ingat alamat kita dan mulai
beramal lewat karya-karya, setiap lima kali sehari kita introspeksi waktu kita
beramal kewat perilaku, setiap malam kita mengintrospeksi siang kita. setelah
sempurna menjalankan tarik-hembus nafas lewat tadabur, tafakur dan amal sholeh
pada hari Jum’at kita saatunya kita menyelaraskan nafas kita itu kepada nafas
yang lebih besar, nafas sosial.
Pada hari Jum’at semua orang
berkumpul di Masji Jami’ untuk melakukan shalat Jum’at secra berjamaanh. Ini
juga merupakan proses penarikan nafas, tadabur dan tafakur akan kedirian kita
yang kini lebih luas skupnya. Keluarnya tetap sama yaitu amal sholeh yang
dilakukan kepada sesama makhluk, khususnya manusia. peka terhadap keadaan
sosial, saling membantu, toleransi, gotong royong dsb. Oleh karena itu pada
Surat Al Jumu’ah kita diajarkan setelah menjalankan sholat Jum’at, kita
diharuskan untuk bertebaran di bumi Allah Swt. Untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan
yang telah kita dapatkan pada tahap penarikan nafas tadi. Bukan cuma
mengkafirkan orang lain, menebar kebencian, saling ejek, dsb. Dan selali lagi hamêmangun kayènak tyasing sasamå.
Dan ternyata penarikan nafas itu
tidak berhenti pada tataran hari Jum’at saja, momentum penarikan nafas untuk
mengintrospeksi, tadabur, dan tafakur juga dilakukan di hari-hari lain. Paling
tidak yang saya ketahui ada beberapa yaitu setiap sebulan sekali pada tanggal
13, 14, 15 sebagai introspeksi bulanan, setiap pêthuk wêton, setiap sepasar atau 35 hari sekali, pas pada hari
kelahiran kita. Hitungan ini dihitung berlandaskan hitungan Jawa yang katanya puol musyriknya. Ambil nafas tahunan
pada saat sasi paså atau bulan Ramadhan seperti saat ini. ini semua dalam
rangka menyelaraskan diri agar sesuai apa yang diinginkan Tuhan yaitu pada
akhrinya berbuat amal sholeh, hamêmangun
kayènak tyasing sasamå.
Pada bulan Ramadhan seperti ini
juga ada beberapa hari yang disana tempat kita mengambil nafas lebih panjang.
Yak! Sepuluh hari terakhir. Tempat diturunkanya malam lailatul qadar, malam seribu bulan. Yang disana kita disunahkan
untuk iktikaf alias berdiam diri.
yang menurut saya lebih pada menyiapkan diri untuk menerima anugrah yang besar,
malam lailatul qadar. Namun ada yang
menggelitik benak saya ketika pak kiai mengatturkan sebuah celoteh bahwa setiap
jengkal tanah di bumi ini merupakan
masjid Allah. hal ini berimplikasi bahwa yang namanya iktikaf boleh dilakukan
dimana saja, tidak hanya di masjid karena semua tempat sejatinya adalah masjid.
Gitu kata pak kiai yang nyentirk ini. yang penting sudah baca niat nawaitu iktikafa lilahi tangala….
Iktikaf atau berdiam diri kini
definisinya menjadi lebih luas. Tidak hanya di masjid, mushala, atau saung. Iktikaf
bisa dilakukan di observatorium, hutan, gunung, kali, sumber mata air, yang
pastinya tidak kalah syahdu dengan Iktikaf
di mushala. Dan hal ini diperkuat dengan ajaran bahwa Gusti Allah
menciptakan ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, ayat Nya yang tergurat dalam alam
semesta dan yang kita baca dalam mushaf Al Qur’an. Apa lagi ditemani dengan
aroma terapi menyan atau dupa ratus. Pasti lebih syahdu wkwkwkwk.…
Selamat mudik bagi semuanya!
semoga ketika mudik ke kampung halaman
nanti ada hal yang bisa dibagi entah jajan, kangen, atau ilmu-ilmu yang
bernafaat. Ciao!
Kata kunci : (nafas, hidup,
iktikaf, hamêmangun kayènak tyasing
sasamå)
Sleman,
Wanci lingsir bagaskara, 27 paså
1438 H/ 22 Juni 2017
Oleh : Lingga Fajar
No comments:
Post a Comment