Monday, 17 July 2017

Cerita Perwayangan dan Orde Baru

#ResensiBuku
1342560 

Judul Buku
: Kelir Tanpa Batas
Pengarang
: Umar Kayam
Penerbit
: Gama Media, Pusat Studi Kebudayaan UGM, Bantuan The Toyota Foundation
Tahun Terbit
: 2001
Cetakan
: Pertama
Tempat Terbit
: Indonesia
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: x+453 hlm
ISBN
: 979-9552-06-0

Pagelaran wayang itu sangat merakyat, semua orang Jawa mengenal, atau yaah, paling tidak pernah dengar tentang wayang. Wayang merupakan salah satu identitas kejawaan yang saya tahu. Tentunya disamping kebudayaan yang lain yang beraneka macamnya itu. Wayang merambah dari Desa-Kota dengan perannya masing-masing, dan tentunya membawa misi untuk corong rakyat sebagai kritik halus bagi pemerintah. Namun jaman dahulu kala, wayang juga sebagai alat untuk kepentingan kuasa yang dipakai para kaum Priyayi. Yah, begitulah wayang ada dan bertransformasi sesuai tuntutan zamannya.

Di Era mbah Harto wayang menjadi salah satu primadona, tentunya disamping kata kunci pembangunan yang digembar-gemborkan oleh pemerintah. Setiap pagelaran wayang selalu ramai. Ada yang jualan, ngemis, dll. ataupun namun tidak melampaui niat mereka dari awalnya yaitu: nonton wayang. Di setiap tempat digelarnya wayang pasti akan ramai. Apa lagi jika digelar di tempat keramaian-keramaian layaknya Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur secara umum. Setiap acara kampung, bersih desa, ataupun ruwatan peran wayang sangat dominan disana. Karena itu hingga sekarang pagelaran wayang masih disakralkan, meskipun banyak kreasi-kreasi baru oleh dalang muda. Namun hal itu tidak menjadikan wayang sirna sinarnya.

Jika kita mendengar kata ‘wayangan’ pasti benak kita langsung tertuju pada dhalang, cerita wiyaga, sindhen dan simpingan wayang yang berjumlah banyak itu. wayangan yang dibahas disini adalah masalah pakem atau cerita. cerita wayang, yang baik bagi kaum tua yaitu harus sesuai dengan cerita dari jaman dahulu, dimana tokoh A harus seperti ini, gaya bicaranya harus seperti ini, ceritanya harus begini. Tidak memungkinkan untuk pengembangan lebih lanjut. Berbeda dengan dalang muda yang baru-baru ini hadir.

Hadirnya dalang muda yang makan pojok sekolahan menjadikan pegelaran wayangan tidak sesaklek dulu. Mereka merasa jengah terhadap apa yang disebut ‘pakem’. Mereka cenderung ingin merubah yang saklek itu menjadi suatu suguhan yang baru dan kekinian. Maka dalam pagelaran wayang itu, khususnya wayang yang digelar oleh pada dalang muda, menjadi semakin semarak, lebih berwarna. Pada dalang muda berani menampilkan bahan tambahan dalam pagelaran wayang semacam dangdut, campursari, lawak dll. Yang sebelumnya tidak ada pada pementasan wayang yang dilakukan sesepuh mereka.

Tarik menarik antara kebaruan dan dradisi terjadi. disatu pihak dalang sepuh mempertahankan pakem yang meraka dapatkan, disisi lain dalang muda mempunai semangat kebaruan untuk merombak tatanan yang sudah baku agar sesuai dengan tuntutan zamannya. Pendukung mereka pun juga sama ada yang menginginkan pagelaran wayang nurut pakem yang ada dan ada juga yang menginginkan sesuatu yang baru, yang luar biasa. Yah apa boleh buat Anda lebih suka yang mana? Itu terserah Anda, semuannya pilihan.

Di bab terakhir dibicarakan wayang sebagai corong pemerintah. Seperti tulisan saya di Krishna Sen dulu, wayang pun menjadi corong pemerintah untuk menyuwarakan anti komunis. Sebelum pagelaran wayang digelar, reng-rengan lakon harus disetorkan dan dijabarkan kepada Dinas Penerangan. Jika di Krishna Sen adalah layar kaca ini layar kain. Beda media, sama rasa. Namun semuanya tidak lantas membuat dalang itu takut untuk menyuawakan suara hati rakyat kecil, hanya kritik bagi pemerintah agak diperhalus supaya sindiran-sindiran mereka tidak terenendus Dinas Penerangan.

Kata kunci: (wayang, dhalang, corong, Dinas Penerangan)
OLeh: Lingga Fajar.
Sleman, 16 Juli 2017/25 Sawal 1438 H  

No comments:

Post a Comment