#ResensiBuku
|
Judul Buku
|
: Kelir Tanpa Batas
|
|
Pengarang
|
: Umar Kayam
|
|
Penerbit
|
: Gama Media, Pusat Studi Kebudayaan
UGM, Bantuan The Toyota Foundation
|
|
Tahun Terbit
|
: 2001
|
|
Cetakan
|
: Pertama
|
|
Tempat Terbit
|
: Indonesia
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: x+453 hlm
|
|
ISBN
|
: 979-9552-06-0
|
Pagelaran wayang itu sangat
merakyat, semua orang Jawa mengenal, atau yaah, paling tidak pernah dengar
tentang wayang. Wayang merupakan salah satu identitas kejawaan yang saya tahu.
Tentunya disamping kebudayaan yang lain yang beraneka macamnya itu. Wayang
merambah dari Desa-Kota dengan perannya masing-masing, dan tentunya membawa
misi untuk corong rakyat sebagai kritik halus bagi pemerintah. Namun jaman
dahulu kala, wayang juga sebagai alat untuk kepentingan kuasa yang dipakai para
kaum Priyayi. Yah, begitulah wayang ada dan bertransformasi sesuai tuntutan
zamannya.
Di Era mbah Harto wayang menjadi
salah satu primadona, tentunya disamping kata kunci pembangunan yang
digembar-gemborkan oleh pemerintah. Setiap pagelaran wayang selalu ramai. Ada
yang jualan, ngemis, dll. ataupun namun tidak melampaui niat mereka dari
awalnya yaitu: nonton wayang. Di
setiap tempat digelarnya wayang pasti akan ramai. Apa lagi jika digelar di
tempat keramaian-keramaian layaknya Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur
secara umum. Setiap acara kampung, bersih desa, ataupun ruwatan peran wayang
sangat dominan disana. Karena itu hingga sekarang pagelaran wayang masih
disakralkan, meskipun banyak kreasi-kreasi baru oleh dalang muda. Namun hal itu
tidak menjadikan wayang sirna sinarnya.
Jika kita mendengar kata
‘wayangan’ pasti benak kita langsung tertuju pada dhalang, cerita wiyaga,
sindhen dan simpingan wayang yang berjumlah banyak itu. wayangan yang dibahas
disini adalah masalah pakem atau cerita. cerita wayang, yang baik bagi kaum tua
yaitu harus sesuai dengan cerita dari jaman dahulu, dimana tokoh A harus
seperti ini, gaya bicaranya harus seperti ini, ceritanya harus begini. Tidak
memungkinkan untuk pengembangan lebih lanjut. Berbeda dengan dalang muda yang
baru-baru ini hadir.
Hadirnya dalang muda yang makan
pojok sekolahan menjadikan pegelaran wayangan tidak sesaklek dulu. Mereka
merasa jengah terhadap apa yang disebut ‘pakem’. Mereka cenderung ingin merubah
yang saklek itu menjadi suatu suguhan yang baru dan kekinian. Maka dalam
pagelaran wayang itu, khususnya wayang yang digelar oleh pada dalang muda,
menjadi semakin semarak, lebih berwarna. Pada dalang muda berani menampilkan
bahan tambahan dalam pagelaran wayang semacam dangdut, campursari, lawak dll.
Yang sebelumnya tidak ada pada pementasan wayang yang dilakukan sesepuh mereka.
Tarik menarik antara kebaruan dan
dradisi terjadi. disatu pihak dalang sepuh mempertahankan pakem yang meraka
dapatkan, disisi lain dalang muda mempunai semangat kebaruan untuk merombak
tatanan yang sudah baku agar sesuai dengan tuntutan zamannya. Pendukung mereka
pun juga sama ada yang menginginkan pagelaran wayang nurut pakem yang ada dan
ada juga yang menginginkan sesuatu yang baru, yang luar biasa. Yah apa boleh
buat Anda lebih suka yang mana? Itu terserah Anda, semuannya pilihan.
Di bab terakhir dibicarakan
wayang sebagai corong pemerintah. Seperti tulisan saya di Krishna Sen dulu, wayang pun menjadi corong pemerintah untuk
menyuwarakan anti komunis. Sebelum pagelaran wayang digelar, reng-rengan lakon harus disetorkan dan
dijabarkan kepada Dinas Penerangan. Jika di Krishna Sen adalah layar kaca ini
layar kain. Beda media, sama rasa. Namun semuanya tidak lantas membuat dalang
itu takut untuk menyuawakan suara hati rakyat kecil, hanya kritik bagi
pemerintah agak diperhalus supaya sindiran-sindiran mereka tidak terenendus
Dinas Penerangan.
Kata kunci: (wayang, dhalang, corong, Dinas Penerangan)
OLeh: Lingga Fajar.
Sleman, 16 Juli 2017/25 Sawal 1438 H
No comments:
Post a Comment