Sunday, 25 September 2016

daripada marah




Kadang-kadang menulis itu memerlukan mood. kalau dijabarkan disini mood adalah sebuah perasaan yang menyangkut emosi seseorang. bisa itu sedih, senang, marah, dan lain-lain. mood disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal sudah saya sebutkan di atas, sedangkan faktor eksternal adalah adanya stimulus dari luar yang berupa suara bising, hujan rintik-rintik, tidak punya uang dll.

Mood sangat erat berkaitan dengan energi yang kita keluarkan. Misal ketika sedang perasaan tidak enak dan saat itu dirangsang oleh sesuatu yang tidak enak pula maka bisa jadi orang itu akan sedih atau marah. Energi yang dikeluarkan ketika orang marah itu sangat besar, sayang belum ada alat yang bisa mengukur kemarahan orang, kalau tekanan jantung sih pakai tensimeter bisa.

Kembali ke mood, ketika orang marah isi hati hanya ingin supaya marahnya tersalurkan. Marah tersalurkan biasanya dengan merusak barang-barang, menyakiti orang yang membuat marah, mengumpat atau aktifitas sejenis yang bisa menjadi saluran orang tersebut agar lega. Jika pelampiasan marah tidak menuntut tanggung jawab maka akan saya lakukan detik ini juga. Namun sangat disayangkan kemarahan saya terbentur oleh pertanggunggungan jawab yang akan saya pikul nanti. dengan kondisi yang 'masih panas' saya mencoba untuk mencari katarsis lain. Main hp? Chating? Tidur mungkin opsi terakhir yang akan saya ambil. Namun tidurpun (kalau saya) belum bisa meredakan secara signifikan marah yang saya derita. Dengan masih keadaan meledak ledak saya mencoba menahan. Untungnya Akal masih bekerja dengan baik, sehat wal afiat, sehingga saya masih dapat mengambil keputusan yang logis, tidak main tangan.saya alihkan kekuatan yang meledak-ledak tersebut dengan cara menulis.

Inilah yang saya lakukan sekarang. sebab saya pernah mendengar bahwa seseorang yang sedang marah (seperti saya saat ini) dan orang yang sedang jatuh cinta akan menghasilkan karya master piecenya. Jika ia menulis puisi, maka taste dari tulisan itu akan keluar, untuk itu perlu sekali dicoba saran ini. Pertimbangannya adalah : saya, ketimbang gulang-gulung tidak ada manfaatnya maka, lebih baik menulis atau menggambar. Intinya adalah produktif. Marah yang Prodiktif ataupun cinta yang produktif. Produktif yang saya maksud disini adalah sarana mengkaryakan emosi tanpa menimbulkan efek negatif. Marah yang menjurus pada tidakan buruk

Seperti yang saya jelaskan diatas : Memukul, mengumpat, merusak dll. Sedangkan orang yang sedang jatuh cinta juga sama, tahu kan dua orang yang sedang dimabuk cinta tingkahnya bagaimana? Sepasang sejoli itu melakukan tindakan tidak senonoh di tempat umum misalnya. Kalau dilihat dari prespektif pribadi tindakan itu tidak menghargai Hak Asasi Manusia. Engkau kira saya tidak inginkan itu, wahai pemuda? Ya pingin bro....

Artikel ini adalah sarana pengekspresian diri. Mangga untuk teman-teman mengapresiasi, toh ini juga sekedar curhatan waktu senggang aja, isinya macem-macem, silahkan dicicipi sak penake, sak cukupe, sak longgare. Jika bermanfaat silahkan dipakai jika tidak silahkan diskip.

JOS!!!

No comments:

Post a Comment