Wednesday, 14 September 2016

buku dan internet







menulis buatku adalah sarana untuk pelurusan nalar. Maksud dari pelurusan nalar adalah dengan menggunakan sarana tulisan kita bisa mencoba berfiikir secara runtut dan tertata agar gagasan kita (sedikit banyak) dapat disampaikan kepada orang lain. Gagasan kita itulah yang nantinya mereka akhirnya mengerti apa gagasan kita sebagai penulis.

Penulis mempunyai dunia tersendiri yang mungkin bisa sama dan mungkin juga tidak dengan dunia pembaca. Penulis mungkin adalah seorang kapiten,  seorang gembala, guru, pelaut, dsb. Perbedaan pekerjaan itu kemungkinan sesuai dengan cara pandang mereka mengenai seseuatu yang dekat dengan dunianya. Contohnya seorang guru mempunyai pandangan yang luas mengenai penulisan RPP, silabus, pengajaran, dll secara menyeluruh (meskipun masih tataran konsep). Begitu pula petani, dokter, kapiten, dll. Namun semua itu mungkin dapat dimengerti oleh segelintir orang yang hidup. Untuk premisnya adalah manusia itu hidup pada tataran sosial kemasyarakatan yang multidimensi & heterogen.

kembali ke aktifitas menulis. menulis memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang lain melalui tulisan. Sesuatu yang dikomunikasikan dengan orang lain itu adalah pada tataran IDEA yang abstrak. Idea merupakan roh dari penulis yang ingin disampaikan kepada pembaca mengenai peristiwa, ajakan, umpatan, refleksi dan masih banyak yang lainya. Idea sebenarnya secara primer diwujudkan oleh manusia melalui kata-kata lisan. Dikarenakan lisan kita 'tak bertulang' maka sering berubah apa yang kita nyatakan. hal ini belum bisa dipertanggung jawabkan.

lisan kini telah diganti dengan aksara. Untuk memudahkan mengambil tanggung jawab dari apa yang kita nyatakan, maka kita menulisnya. Adanya tulisan itu memungikinkan kita agar di lain waktu kita dapat melihat apa apa yang menjadi roh dari sebuah gagasan. Tulisan juga bersifat monumental, artinya dengan sarana tulisan kita dapat menurunkan gagasan kita kepada anak cucu meskipun kita telah meninggal. Seperti keterangan monumen itu adalah untuk kenangan, maka dengan kita menulis kita telah memperpanjang umur kita secara bertahap. Kita akan hidup kembali tatkala seorang membaca tulisan kita.

setelah membaca tulisan saya sendiri saya mencoba berefleksi. setiap tulisan adalah karya monumental yang abadi. Keabadian tulisan menurut saya juga menyangkut masalah moral dari penulis. Tulisan baik menjadikan kita mendapat curahan pahala dan tulisan buruk menimbulkan kekacauan dan keresahan dimana-mana. Baik buruk tulisan itu bagai air yang senantiasa mengalir kepada seorang penulis. Air yang mengalir bukan saja menyejukan tapi juga menhanguskan. Jadi sebisa mungkin tulisan itu menjadi sarana pencerahan bagi orang lain bukan sarana untuk adu otot dan pemecah belahan.

namun dipihak lain saya masih merasa bingung. Tentang monumen yang berada di Internet. Gagasan saya bisakah abadi seperti yang saya tulis di buku atau Internet adalah budaya lisan versi baru? Internet merupakan sarana komunikasi tulisan, gagasan. Jika dianalogikan kita semacam titip kepada yang punya warung agar tulisan kita laku. Entah apa yang akan dilakukan pemilik warung itu ketika suatu saat warung itu bangkrut. Sadar atau tidak Internet itu pasti ada pemimpin puncaknya, yang suatu saat nanti dengan mudah ia memegang kendali atas semuanya ketika semua telah terkoneksi. Manusia menjadi bergantung dengan internet, semua perangkat integrated dan saat sistem down maka... Byar terjadi kekacauan. Teori konspirasi macam apa ini? Entahlah saya mencoba mengatakan uneg-uneg saya disini.

terlepas internet itu milik siapa, saya hanya bisa mengatakan : disini setiap orang berhak menyatakan pendapatnya, gagasanya, idenya, perilakunya, keseharianya, namun bainya harus ada batas. disini orang telanjang pun dapat dengan mudah beriteraksi dengan orang lain yang sama-sama telanjang. Saling mengumpat, saling mencemooh, saling memuji, dan lain dari pada itu Internet, gagasan dan monumen adalah lompatan dari keberhasilan manusia dalam hal komunikasi. Dan menurut saya, buku adalah monumen paling tinggi diatas internet.

No comments:

Post a Comment