Sunday, 3 February 2019

Natura Non Facit Saltum, Alam tidak membuat lompatan (?)


Hasil gambar untuk origin of species bahasa indonesia pdf
Penerbit indoliterasi


Mengelana di dunia biologi, bagiku adalah sesuatu yang menyenangkan. Sebenarnya bukan hanya di bidang ini (biologi) saja yang membuatku kesengsem. Tapi segala ilmu yang lucu-lucu, yang berisi berbagai macam ‘keasyikan’. Karena sejatinya aku suka segala hal yang baru. Bagiku, hal baru begitu menyenangkan. Ya! Hal itu sangat-sangat menyenangkan. Aku mungkin bagi kalian adalah seseorang yang kepo. Dan itu saya akui. Hehe…

Kekepoanku kali ini membuatku ketemu dengan bapak biologi yang kondang. Ya, benar, Charles Darwin. Ia menulis tentang berbagai macam hal yang sesuai dengan passionnya, salah satunya tentang biologi. Dalam bukunya Origin of Species membuka cakrawala keilmuan baru bagiku. Gagasannya begitu brilian, narasi-narasi khas Barat yang teratur, baru (bagiku), otentik, dan menuju kepada kesimpulan yang sementara bahwa “Alam tidak membuat lompatan”.

Garis besar buku ini menceritakan tentang evolusi makluk hidup, yang menurutu Darwin, berasal dari satu sel yang sama dan seiring berjalannya waktu terus menerus berkembang hingga sekarang dan nanti. Makhluk bersel satu itu tumbuh dan berkembang menurut beberapa pertimbangan alam. Paling tidak yang saya tahu adalah tatanan kimia dalam sel tersebut, letak geografis, fisiologis yang terus menerus beradaptasi menyesuaikan dengan si makluk dan lingkungannya. Makhluk bersel satu itu terus menerus berkembang, mentransformasi dirinya menjadi semakin kompleks. Hingga pada suatu titik, perkembangannya sudah berbeda secara signifikan dari awalnya. Sehingga membentuk apa yang di bidang biologi disebut genus, kingdom, dan spesies. 

Makhluk yang bersel kompleks, mereka sadar atau tidak melakukan transformasi berkelanjutan menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar diri mereka. Sehingga unsur berikutnya yang berperan adalah geografis. Mereka menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Berbagai macam hal mereka lakukan untuk bertahan hidup dengan menyesuaikan diri tersebut. Ketika mereka tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan maka jumlah mereka akan berkurang atau bahkan punah. dan digantikan oleh keturunan mereka yang baru dan lebih advance dalam kemampuan mereka untuk bertahan hidup.

Modifikasi fisiologis selanjutnya yang berperan disana. Setelah mereka bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, alam membuat seleksi pada susunan tubuh mereka. Biasanya yang paling terlihat adalah modifikasi fisiologis yang. Terkait dengan susunan tubuh bagian luar makluk tersebut. Suatu waktu, alam menganuhrahkan sayap, suatu waktu mereka dianugrahi indra penciuman, perababaan yang lebih dibanding dengan nenek moyangnya dulu. Namun modifikasi ini tidak begitu saja terhadi. Ada yang tumbuh, ada yang hilang. Ada yang semakin tajam ada yang semakin tumpul. Hal itu adalah lazim jika kit menganut hokum natura non facit saltum.

Sebut saja tikus mondok (mungkin teman-teman belum tahu tikus mondok? Coba googling atau cari di youtube) tikus mondok, menurut Darwin, nenek moyannnya memiliki mata dan kemampuan melihat seperti pada lazimnya tikus. Namun seiring berjalannya waktu, nenek moyang tikus mondok terhimpit dengan keadaan yang mengharuskannya sembunyi di dalam tanah untuk menghindari predator-predator. Seiring berjalannya waktu, alam  memodifikasi susunan tubuh tikus modok dengan indra peciuman dan perabaan yang tajam, namun dalam suatu waktu, kemampuan melihat tikus ini tereduksi, karena mungkin ketika di dalam tanah apa yang mau dilihat? Itu sih pendapat saya. Saya juga Cuma menebak-nebak. Mungkin ini salah satu contoh natura non facit saltum yang dikemukakan oleh Darwin. Dan mungkin perkembangan ini akan terus berjalan menuju titik yang kurang bisa terprediksi. 

Namun masih relevankan natura non facit saltumnya Darwin dalam iklim keilmuan yang berkembang sangat cepat ini? Entahlah saya juga kurang tahu. Dalam perkembangan ilmu sains dan teknologi yang seperti ini dimungkinkan teori Darwin, tentang ini sudah kurang relevan lagi. Keraguan saya muncul karena di masa kini, para ilmuan brusaha menemukan rumus-rumus  kehidupan dalam makhluk hidup. Mencoba mempelajarinya, dan mungkin nantinya akan memodifikasi dan menciptakan makhluk-mahluk baru. Siapa tahu?

“Alam tidak membuat lompatan, tapi kami melakukannya!”




No comments:

Post a Comment