Penerbit indoliterasi
Mengelana di dunia biologi, bagiku adalah sesuatu yang
menyenangkan. Sebenarnya bukan hanya di bidang ini (biologi) saja yang
membuatku kesengsem. Tapi segala ilmu yang lucu-lucu, yang berisi berbagai
macam ‘keasyikan’. Karena sejatinya aku suka segala hal yang baru. Bagiku, hal
baru begitu menyenangkan. Ya! Hal itu sangat-sangat menyenangkan. Aku mungkin
bagi kalian adalah seseorang yang kepo. Dan itu saya akui. Hehe…
Kekepoanku kali ini membuatku ketemu dengan bapak biologi
yang kondang. Ya, benar, Charles Darwin. Ia menulis tentang berbagai macam hal
yang sesuai dengan passionnya, salah satunya tentang biologi. Dalam bukunya
Origin of Species membuka cakrawala keilmuan baru bagiku. Gagasannya begitu
brilian, narasi-narasi khas Barat yang teratur, baru (bagiku), otentik, dan
menuju kepada kesimpulan yang sementara bahwa “Alam tidak membuat lompatan”.
Garis besar buku ini menceritakan tentang evolusi makluk
hidup, yang menurutu Darwin, berasal dari satu sel yang sama dan seiring
berjalannya waktu terus menerus berkembang hingga sekarang dan nanti. Makhluk bersel
satu itu tumbuh dan berkembang menurut beberapa pertimbangan alam. Paling tidak
yang saya tahu adalah tatanan kimia dalam sel tersebut, letak geografis,
fisiologis yang terus menerus beradaptasi menyesuaikan dengan si makluk dan
lingkungannya. Makhluk bersel satu itu terus menerus berkembang,
mentransformasi dirinya menjadi semakin kompleks. Hingga pada suatu titik,
perkembangannya sudah berbeda secara signifikan dari awalnya. Sehingga membentuk
apa yang di bidang biologi disebut genus, kingdom, dan spesies.
Makhluk yang bersel kompleks, mereka sadar atau tidak
melakukan transformasi berkelanjutan menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar
diri mereka. Sehingga unsur berikutnya yang berperan adalah geografis. Mereka menyesuaikan
diri dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Berbagai macam hal mereka lakukan
untuk bertahan hidup dengan menyesuaikan diri tersebut. Ketika mereka tidak
dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan maka jumlah mereka akan berkurang
atau bahkan punah. dan digantikan oleh keturunan mereka yang baru dan lebih
advance dalam kemampuan mereka untuk bertahan hidup.
Modifikasi fisiologis selanjutnya yang berperan disana. Setelah
mereka bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, alam membuat
seleksi pada susunan tubuh mereka. Biasanya yang paling terlihat adalah
modifikasi fisiologis yang. Terkait dengan susunan tubuh bagian luar makluk
tersebut. Suatu waktu, alam menganuhrahkan sayap, suatu waktu mereka dianugrahi
indra penciuman, perababaan yang lebih dibanding dengan nenek moyangnya dulu. Namun
modifikasi ini tidak begitu saja terhadi. Ada yang tumbuh, ada yang hilang. Ada
yang semakin tajam ada yang semakin tumpul. Hal itu adalah lazim jika kit
menganut hokum natura non facit saltum.
Sebut saja tikus mondok (mungkin teman-teman belum tahu
tikus mondok? Coba googling atau cari di youtube) tikus mondok, menurut Darwin,
nenek moyannnya memiliki mata dan kemampuan melihat seperti pada lazimnya
tikus. Namun seiring berjalannya waktu, nenek moyang tikus mondok terhimpit
dengan keadaan yang mengharuskannya sembunyi di dalam tanah untuk menghindari
predator-predator. Seiring berjalannya waktu, alam memodifikasi susunan tubuh tikus modok dengan
indra peciuman dan perabaan yang tajam, namun dalam suatu waktu, kemampuan
melihat tikus ini tereduksi, karena mungkin ketika di dalam tanah apa yang mau
dilihat? Itu sih pendapat saya. Saya juga Cuma menebak-nebak. Mungkin ini salah
satu contoh natura non facit saltum yang dikemukakan oleh Darwin. Dan mungkin
perkembangan ini akan terus berjalan menuju titik yang kurang bisa terprediksi.
Namun masih relevankan natura non facit saltumnya Darwin
dalam iklim keilmuan yang berkembang sangat cepat ini? Entahlah saya juga
kurang tahu. Dalam perkembangan ilmu sains dan teknologi yang seperti ini
dimungkinkan teori Darwin, tentang ini sudah kurang relevan lagi. Keraguan saya
muncul karena di masa kini, para ilmuan brusaha menemukan rumus-rumus kehidupan dalam makhluk hidup. Mencoba mempelajarinya,
dan mungkin nantinya akan memodifikasi dan menciptakan makhluk-mahluk baru. Siapa
tahu?
“Alam tidak membuat lompatan, tapi kami melakukannya!”
“Alam tidak membuat lompatan, tapi kami melakukannya!”
No comments:
Post a Comment