(sumber: http://www.azquotes.com/quote/681407)
Seluruh planet, apa
yang kita sebut dengan istilah 'Gaia' adalah jaringan proses saling memberi dan
menerima. Manusia adalah bagian dari tak terpisahkan dari 'Gaia'
Pernahkah antum mendengar kara Gaia, Pertiwi, Ratu, Ibu Kota, Bupati dll.
Mengapa mereka semua bermakna feminis? Adakah makna dibalik penggunaan kata
yang berkonotasi keibuan ini?
Mungkin perlu saya sebutkan
disini bahwa feminis itu sudah menjadi bagian dari dunia. maskulin dan feminim
itu bukan terkait pada jenis kemalin laki-laki atau perempuan, namun lebih
kepada konstruk sosial-antropologis-spiritual. paling tidak yang mengenal
konstruk feminis ini ada beberapa negara yang saya kenal antara lain Yunani,
dan Indonesia.
Oke saya akan bahas sekenanya.
Seperti yang saya kemukakan diatas bahwa feminis itu merupakan konstruk
sosial-antropologis-spiritual. ia bukan melulu merupakan kostruk kodrati yang
berimplikasi pada sunatullah yang
terkait dengan jenis kelamin tersebut. kita ambil contoh menstruasi, mengandung dan melahirkan.
Itu yang namanya kodrat. Hal ini tidak bisa diganggu gugat. Kecuali Anda
melakukan transgender. Berubah seperti Power Ranger. Hahaha….
Kita akan bahas satu persatu
konstuk sosial dari feminis ini. konstuk sosial dari feminis ini terkati dengan
hibungan anatar manusia yang terjadi di lingkungan sosial. Ambil contoh
memasak, mencuci, dan hal-hal lain yang terkait dengan aktifitas domestik alias
di dalam rumah. Seorang entah itu laki-laki atau perempuan sering dilabeli anak
rumahan yang berkonotasi feminis karena melakukan segala hal yang berada di
dalam rumah, tidak keluar-keluar. Nah itu yang pertama.
Lebih luas lagi cakupan
antropologis. Nah pada titik ini seseorang telah keluar rumah dan masuk pada
pos-pos kerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya atau bisa juga berperan
sebagai seorang diplomat untuk menyuarakan hak masyarakat yang diwakiliya di
parlemen. Feminis dalam bidang antrolpologis sebut saja teknisi, pelaku
kesehatan (dokter) sopir, atau anggota DPR. Namun ketika kita bicara masalah
feminis di ranah antropologis batas-batasnya menjadi kian kabur, tidak sejelas
seperti feminis yang berlatar belakang sosial. Nah ini….
Yang ketiga, feminisme dibidang
spiritual. sering kita abai bahwa spiritual pun juga tidak lebas dari dikotomi
ini. seorang dikatakan feminis ketika ia masih senangtiasa kekuarangan, banyak
mengeluh, dan lain sebagainya. ia masih meminta kecukupan kepada sesuatu yang fana. ia masih bergantung pada uang,
jabatan, penghidupan, dll. Sehingga menyebabkan ia lupa akan Causa Prima yang meujudkan dia di bumi
ini. sebenarnya hanya Allah Swt. Lah yang patut menjadi maskulin atas hidup
kita. bukan sesuatu yang fana, yang
nantinya akan hilang lebur dalam gerusan waktu. Kita ambil contoh seorang sufi
tanah Ngarab yang bernama Rabi’ah Al Addawiyah. Meskipun ia dikaruniai tubuh
seorang wanita namun sebenarnya secara spiritual ia sangat maskulin. Ia hanya
mengharap belas kasih kapada Tuhanya, tidak kepada mahluk di belantara kesementaraan
ini. menurut Cak Kuswaidi Syafi’i, kekuatan spiritual Rabi’ah jika ditakar
adalah setara kukuatan seratus orang lelaki biasa. Nah, jadi untuk menandingi
kekuatan spiritualitas maskulin Rabi’ah diperlukan seratus orang kaya saya. Nah
loh…
Terus hubungannya dengan Gaia,
Pertiwi dll. yang tadi apa?
Begini, yang namanya feminis itu
ternyata masuk kebidang-bidang lain bukan hanya ranah diatas. Namun hingga
sampai pada tahapan paling dasariah lain. Yaitu tempat hidup kita sendiri,
bumi. kok begitu? masak bumi punya strata sosial, nggak mungkin! bid’ah!!!
Bumi yang kita tempati ini kalo
menurut orang-orang Yunani sana. Berkonotasi sebagai perempan. Hal ini
disebabkan karena bumi ini tempat hidup orang banyak. Tempat kita menanam dan
menuai. Tempat segala keindahan ada. Tempat fisik menjalankan aktifitasnya.
Bercengkerama. Penyembuhan diri, intinya bumi ini tempatnya kita, para manusia
berkumpul dan menikmati anugrah Nya yang kelihatan. Maka munculah idiom feminis
bagi bumi ini, orang Yunani menamainya dengan Gaia.
Gaia merupakan induk dimana
sistem kehidupan dimulai. Jarring-jaring kehidupan teranyam, tempat mahluk cari
makan. Menurut Capra, Gaia adalah biosfera pendukung kehidupan. disana ada air,
udara, api, dan tanah yang mengandung berbagai macam isi. Pembentukan substansi
baru, mutasi, dan lain sebagainya terjadi di lapisan ini.
Beda di Yunani beda lagi di
Indonesia atau lebih khususnya di Jawa. Kita mengenal bumi ini dengan sebutan
Pertiwi atau Ibu Pertiwi. untuk teraf fungsinya mirip dengan saudara kita yang
berada di Yunani. Namun yang membedakan adalah disini ada penghormatan khusus
untuk adanya rejeki yang turun dari Tuhan lewat perantara tangan halus Ibu
Pertiwi. biasanya syukuran dilakukan dengan tumpengan yang dilakukan di tengah
sawah, sungai, atau bukit yang nantinya tumpengan itu akan dimakan oleh warga
sekitar ataupun para pendatang secara bersama-sama. Hmmm…
Demikianlah. Bumi ini menurut
beberapa peradaban merupakan ibu yang mengasuh. Hal ini juga diadopsi oleh
tatanan sosial masyarakat. Ratu, Ibu Kota, Bupati dan Almamater. Akhirnya
perbawa seorang ibu yang mengasuh, membimbing ini diadopsi untuk diterapkan
kedalam terma-terma sosial-antropologis. Adanya penamaan Ratu, Ibu Kota, dan
Bupati, Almamater, mungkin agar bisa mengambil perbawa seorang ibu yang bisa
mengasuh dan membimbing.
Iki ya mung karanganku dhewe
Rek!,
Kemis Legi 20 pasa 1438/ 15 Juni 2017
Oleh : Lingga Fajar
(sumber: Capra, Fritjof.2001. Jaring-Jaring
Kehidupan:Visi Baru Epistemologi Kehiduapan (terj.).Yogyakarta:Fajar
Pustaka Baru)
No comments:
Post a Comment