Friday, 16 June 2017

Bumi Punya Jenis Kelamin?

Hasil gambar untuk capra quotes gaia\

Seluruh planet, apa yang kita sebut dengan istilah 'Gaia' adalah jaringan proses saling memberi dan menerima. Manusia adalah bagian dari tak terpisahkan dari  'Gaia'

Pernahkah antum mendengar kara Gaia, Pertiwi, Ratu, Ibu Kota, Bupati dll. Mengapa mereka semua bermakna feminis? Adakah makna dibalik penggunaan kata yang berkonotasi keibuan ini?

Mungkin perlu saya sebutkan disini bahwa feminis itu sudah menjadi bagian dari dunia. maskulin dan feminim itu bukan terkait pada jenis kemalin laki-laki atau perempuan, namun lebih kepada konstruk sosial-antropologis-spiritual. paling tidak yang mengenal konstruk feminis ini ada beberapa negara yang saya kenal antara lain Yunani, dan Indonesia.

Oke saya akan bahas sekenanya. Seperti yang saya kemukakan diatas bahwa feminis itu merupakan konstruk sosial-antropologis-spiritual. ia bukan melulu merupakan kostruk kodrati yang berimplikasi pada sunatullah yang terkait dengan jenis kelamin tersebut. kita ambil contoh menstruasi, mengandung dan melahirkan. Itu yang namanya kodrat. Hal ini tidak bisa diganggu gugat. Kecuali Anda melakukan transgender. Berubah seperti Power Ranger. Hahaha….

Kita akan bahas satu persatu konstuk sosial dari feminis ini. konstuk sosial dari feminis ini terkati dengan hibungan anatar manusia yang terjadi di lingkungan sosial. Ambil contoh memasak, mencuci, dan hal-hal lain yang terkait dengan aktifitas domestik alias di dalam rumah. Seorang entah itu laki-laki atau perempuan sering dilabeli anak rumahan yang berkonotasi feminis karena melakukan segala hal yang berada di dalam rumah, tidak keluar-keluar. Nah itu yang pertama.

Lebih luas lagi cakupan antropologis. Nah pada titik ini seseorang telah keluar rumah dan masuk pada pos-pos kerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya atau bisa juga berperan sebagai seorang diplomat untuk menyuarakan hak masyarakat yang diwakiliya di parlemen. Feminis dalam bidang antrolpologis sebut saja teknisi, pelaku kesehatan (dokter) sopir, atau anggota DPR. Namun ketika kita bicara masalah feminis di ranah antropologis batas-batasnya menjadi kian kabur, tidak sejelas seperti feminis yang berlatar belakang sosial. Nah ini….

Yang ketiga, feminisme dibidang spiritual. sering kita abai bahwa spiritual pun juga tidak lebas dari dikotomi ini. seorang dikatakan feminis ketika ia masih senangtiasa kekuarangan, banyak mengeluh, dan lain sebagainya. ia masih meminta kecukupan kepada sesuatu yang fana. ia masih bergantung pada uang, jabatan, penghidupan, dll. Sehingga menyebabkan ia lupa akan Causa Prima yang meujudkan dia di bumi ini. sebenarnya hanya Allah Swt. Lah yang patut menjadi maskulin atas hidup kita. bukan sesuatu yang fana, yang nantinya akan hilang lebur dalam gerusan waktu. Kita ambil contoh seorang sufi tanah Ngarab yang bernama Rabi’ah Al Addawiyah. Meskipun ia dikaruniai tubuh seorang wanita namun sebenarnya secara spiritual ia sangat maskulin. Ia hanya mengharap belas kasih kapada Tuhanya, tidak kepada mahluk di belantara kesementaraan ini. menurut Cak Kuswaidi Syafi’i, kekuatan spiritual Rabi’ah jika ditakar adalah setara kukuatan seratus orang lelaki biasa. Nah, jadi untuk menandingi kekuatan spiritualitas maskulin Rabi’ah diperlukan seratus orang kaya saya. Nah loh…

Terus hubungannya dengan Gaia, Pertiwi dll. yang tadi apa?

Begini, yang namanya feminis itu ternyata masuk kebidang-bidang lain bukan hanya ranah diatas. Namun hingga sampai pada tahapan paling dasariah lain. Yaitu tempat hidup kita sendiri, bumi. kok begitu? masak bumi punya strata sosial, nggak mungkin! bid’ah!!!

Bumi yang kita tempati ini kalo menurut orang-orang Yunani sana. Berkonotasi sebagai perempan. Hal ini disebabkan karena bumi ini tempat hidup orang banyak. Tempat kita menanam dan menuai. Tempat segala keindahan ada. Tempat fisik menjalankan aktifitasnya. Bercengkerama. Penyembuhan diri, intinya bumi ini tempatnya kita, para manusia berkumpul dan menikmati anugrah Nya yang kelihatan. Maka munculah idiom feminis bagi bumi ini, orang Yunani menamainya dengan Gaia.

Gaia merupakan induk dimana sistem kehidupan dimulai. Jarring-jaring kehidupan teranyam, tempat mahluk cari makan. Menurut Capra, Gaia adalah biosfera pendukung kehidupan. disana ada air, udara, api, dan tanah yang mengandung berbagai macam isi. Pembentukan substansi baru, mutasi, dan lain sebagainya terjadi di lapisan ini.

Beda di Yunani beda lagi di Indonesia atau lebih khususnya di Jawa. Kita mengenal bumi ini dengan sebutan Pertiwi atau Ibu Pertiwi. untuk teraf fungsinya mirip dengan saudara kita yang berada di Yunani. Namun yang membedakan adalah disini ada penghormatan khusus untuk adanya rejeki yang turun dari Tuhan lewat perantara tangan halus Ibu Pertiwi. biasanya syukuran dilakukan dengan tumpengan yang dilakukan di tengah sawah, sungai, atau bukit yang nantinya tumpengan itu akan dimakan oleh warga sekitar ataupun para pendatang secara bersama-sama. Hmmm…

Demikianlah. Bumi ini menurut beberapa peradaban merupakan ibu yang mengasuh. Hal ini juga diadopsi oleh tatanan sosial masyarakat. Ratu, Ibu Kota, Bupati dan Almamater. Akhirnya perbawa seorang ibu yang mengasuh, membimbing ini diadopsi untuk diterapkan kedalam terma-terma sosial-antropologis. Adanya penamaan Ratu, Ibu Kota, dan Bupati, Almamater, mungkin agar bisa mengambil perbawa seorang ibu yang bisa mengasuh dan membimbing.

Iki ya mung karanganku dhewe Rek!,

Kemis Legi 20 pasa 1438/ 15 Juni 2017
Oleh : Lingga Fajar

(sumber: Capra, Fritjof.2001. Jaring-Jaring Kehidupan:Visi Baru Epistemologi Kehiduapan (terj.).Yogyakarta:Fajar Pustaka Baru)

No comments:

Post a Comment