Tuesday, 9 January 2018

1001 Malam : Abu Nawas



(sumber gambar :https://www.tokopedia.com/abdulwahhab/kisah-1001-malam-abu-nawas-sang-penggeli-hati)

Judul Buku
: Kisah 1001 Malam: Abu Nawas Sang Penggeli Hati
Pengarang
: M. B. Rahimsyah
Penerbit
: Lintas Media
Genre
: fiksi
Tahun Terbit
: -
Cetakan
: -
Tempat Terbit
: Jombang
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: 113 hlm
ISBN
: (PDF)

“Ya Abu, dimanakah batas alam semesta ciptaan Tuhan kita?” tanya Harun Al Rasyid.
“Di dalam pikiran wahai paduka yang mulia” jawab Abu Nawas.
“Ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan yang ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. dari itu, manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagad raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu saja tak mampu mengukur sesuatu yang tak terbatas”. Lanjut Abu Nawas.


Kisah 1001 Malam itu kayaknya kisah-kisah Arab. Certitanya mungkin beraneka macam. sebut saja Alladin dan Lampu Ajaib, Abu Nawas dsb. Kisah-kisah ini menurut saya bercerita tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi di tanah Arab sana. Namun ini sih masih menjadi perkiraan saya. toh saya juga masih membaca dua buku yang saya sebutkan di atas. Namun lebih tepatnya, Abu Nawas saya membacanya sedangkan Alladin saya lihat di tivi. Film besutan Disney ini cukup ciamik juga lho
.
Buku ini menceritakan tentnag Abu Nawas (ya iya lah). Ia diceritakan sebagai seorang sufi yang mumpuni dalam ilmu hati. ia tinggal di Baghdad atau sekitaran Kufah. Yah pokoknya daerah sana lah. Karena ilmunya tinggi, Abu Nawas memiliki banyak pengikut.  Diceritakan hampir seluruh Bahdad mengenal Abu Nawas.

Abu Nawas diceritakan sebagai seorang ahli mantiq alias logika. Dengan logika yang mapan, ia mempenaminkan teman, murid, pengawal kerajaan, hingga rajanya pun tidak luput digarapi Abu Nawas. Ilmu mantiq yang mapan ia adalah koentji. Dengan ini Abu bisa menangkap peuncuri, melakukan jokes-jokes segar,  sampai dengan ilmu mantiq, dapat meloloskannya dari percobanaan pembunuhan.

Syahdan tersebutlah sebuah kerajaan yang terletak di Timur tengah, tempat hidup Abu Nawas. Amir disana bernama Sri Paduka Harun Al Rasyid. Abu dan paduka Harun berteman sangat dekat. Terkadang mereka guyon, namun hingga pada suatu saat paduka Harun jengkel pada Abu karena goyonnya keterlaluan. Pernah karena guyonnya sudah keterlaluan, paduka Harun Al Rasyid sampai ingin memancung Abu Nawas. Namun selalu gagal.

Dengan perangainya yang lucu, san woles. Abu nawas menjadi seorang yang dikangeni oleh teman, dan sang raja pun juga merasa sedih ketika Abu Nawas tidak ada. Itulah sekelumti cerita dari buku yang sudah saya baca kari Senin (8/1) selama beberapa jam saja. Hehehe…


Sleman, 9 Januari 2018

No comments:

Post a Comment