
(sumber gambar :https://www.tokopedia.com/abdulwahhab/kisah-1001-malam-abu-nawas-sang-penggeli-hati)
|
Judul Buku
|
: Kisah 1001 Malam: Abu Nawas Sang
Penggeli Hati
|
|
Pengarang
|
: M. B. Rahimsyah
|
|
Penerbit
|
: Lintas Media
|
|
Genre
|
: fiksi
|
|
Tahun Terbit
|
: -
|
|
Cetakan
|
: -
|
|
Tempat Terbit
|
: Jombang
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: 113 hlm
|
|
ISBN
|
: (PDF)
|
“Ya Abu, dimanakah batas alam
semesta ciptaan Tuhan kita?” tanya Harun Al Rasyid.
“Di dalam pikiran wahai paduka yang
mulia” jawab Abu Nawas.
“Ketidakterbatasan itu ada karena
adanya keterbatasan yang ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. dari itu,
manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagad raya ini. Sesuatu yang
terbatas tentu saja tak mampu mengukur sesuatu yang tak terbatas”. Lanjut Abu
Nawas.
Kisah 1001 Malam itu kayaknya
kisah-kisah Arab. Certitanya mungkin beraneka macam. sebut saja Alladin dan
Lampu Ajaib, Abu Nawas dsb. Kisah-kisah ini menurut saya bercerita tentang
keajaiban-keajaiban yang terjadi di tanah Arab sana. Namun ini sih masih
menjadi perkiraan saya. toh saya juga masih membaca dua buku yang saya sebutkan
di atas. Namun lebih tepatnya, Abu Nawas saya membacanya sedangkan Alladin saya
lihat di tivi. Film besutan Disney ini cukup ciamik juga lho
.
Buku ini menceritakan tentnag Abu
Nawas (ya iya lah). Ia diceritakan sebagai seorang sufi yang mumpuni dalam ilmu
hati. ia tinggal di Baghdad atau sekitaran Kufah. Yah pokoknya daerah sana lah.
Karena ilmunya tinggi, Abu Nawas memiliki banyak pengikut. Diceritakan hampir seluruh Bahdad mengenal Abu
Nawas.
Abu Nawas diceritakan sebagai
seorang ahli mantiq alias logika. Dengan logika yang mapan, ia mempenaminkan
teman, murid, pengawal kerajaan, hingga rajanya pun tidak luput digarapi Abu
Nawas. Ilmu mantiq yang mapan ia adalah koentji. Dengan ini Abu bisa menangkap
peuncuri, melakukan jokes-jokes segar, sampai
dengan ilmu mantiq, dapat meloloskannya dari percobanaan pembunuhan.
Syahdan tersebutlah sebuah kerajaan
yang terletak di Timur tengah, tempat hidup Abu Nawas. Amir disana bernama Sri
Paduka Harun Al Rasyid. Abu dan paduka Harun berteman sangat dekat. Terkadang mereka
guyon, namun hingga pada suatu saat paduka Harun jengkel pada Abu karena
goyonnya keterlaluan. Pernah karena guyonnya sudah keterlaluan, paduka Harun Al
Rasyid sampai ingin memancung Abu Nawas. Namun selalu gagal.
Dengan perangainya yang lucu, san
woles. Abu nawas menjadi seorang yang dikangeni oleh teman, dan sang raja pun
juga merasa sedih ketika Abu Nawas tidak ada. Itulah sekelumti cerita dari buku
yang sudah saya baca kari Senin (8/1) selama beberapa jam saja. Hehehe…
Sleman, 9 Januari 2018
No comments:
Post a Comment