(Sumber" bukabuku.com)
|
Judul Buku
|
: Majelis Tidak Alim
|
|
Pengarang
|
: Soleh Solihun
|
|
Penerbit
|
: Rak Buku
|
|
Tahun Terbit
|
: 2015
|
|
Cetakan
|
: Ketiga
|
|
Tempat Terbit
|
: Depok, Jakarta
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: xiv+401 hlm
|
|
ISBN
|
: 978-602-732-302-5
|
Soleh Solihun adalah seorang komika.
Ya udah gitu. Cita-citanya sebenanya bukan seorang komika. Soleh Solihun
bercita-cita menjadi seorang dai dan tentara. Alasannya? Karena seorang tentara
itu ditakuti dan dai adalah karena amalannya yang membuatnnya masuk surga.
Sholeh Solihun adaah keturunan
blasteran Jawa-Sunda. Ia lahir dengan 3 orang bersaudara. Ia seorang mbarep alias anak yang lahir pertama
dari ketiga saudara-saudarannya. Masa kecilnya dihabiskan di salah satu daerah
di Jawa Barat bernama Maragong atau apa saya lupa. Disana Soleh menerima
pendidkan pertamanya dari ayah dan ibunya. Ia, dalam bukunya ini, mencoba mengangkat
permasalahan tentang pabrik semen yang menyebabkan orang di desanya terserang ISPA.
Dalam buku ini soleh menceritakan kehidupannya.
Tulisannya berisi materi stand up, curhatannya ketika di angkot dan yang paling
geer adalah ceritanya tentang ‘yang saru-saru’ meskipun tertutup sedikit tapi
pembaca yang sudah dewasa pasti mengetahui hal tersebut dan ketawa-ketiwi di
dalam hati karena hal itu sangat dekat dengan kita. heheheh.
Buku bersampul hitam ini dikhususkan
untuk 18 tahun keatas. Ya memang sih seperti bahasan sebelumnya, di dalam buku
ini terkait dengan hal-hal yang berbau seronok. Namun tidak seperti buku-buku
stensilan karya Anny Arrow yang ngetop itu (yang dalam buku ini disebut dengan
‘unyil’) buku-buku stensilan adalah sarana pembayangan buat anak-anak muda 80an
untuk bahan zina tangan. alias onani. Ya karena saat itu belum jaman internet.
Sehingga mendapatkan bahan begitu susahnya. Ya itulah.
Soleh lulusan UNPAD FIKOM jurusan
jurnalistik. Ini awal pertama ia memulai karrier. Menjadi seorang reporter MTV
Max Trend dan dilanjut sebagai redaktur majalah Playboy. Iya, Playboy.
Keterampilannya dalam menulis juga berefek dalam keterampilannya dalam
berbicara juga. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan seseorang untuk
ngisi acara di sebuah pementasan off air. Dan si penguindang merasa cocok
dengan Sholeh karena sanggup memancing tawa penonton. Wkwkwkwkwkwkwkwk xixixixixixi
hahahahaha. Mulai dari sini karirnya menjadi komika kian melijit
No comments:
Post a Comment