Saturday, 11 November 2017

Majelis Tidak Alim : Membaca Soleh Solihun

Hasil gambar untuk majelis tidak alim
(Sumber" bukabuku.com)

Judul Buku
: Majelis Tidak Alim
Pengarang
: Soleh Solihun
Penerbit
: Rak Buku
Tahun Terbit
: 2015
Cetakan
: Ketiga
Tempat Terbit
: Depok,  Jakarta
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: xiv+401 hlm
ISBN
: 978-602-732-302-5

Soleh Solihun adalah seorang komika. Ya udah gitu. Cita-citanya sebenanya bukan seorang komika. Soleh Solihun bercita-cita menjadi seorang dai dan tentara. Alasannya? Karena seorang tentara itu ditakuti dan dai adalah karena amalannya yang membuatnnya masuk surga.
Sholeh Solihun adaah keturunan blasteran Jawa-Sunda. Ia lahir dengan 3 orang bersaudara. Ia seorang mbarep alias anak yang lahir pertama dari ketiga saudara-saudarannya. Masa kecilnya dihabiskan di salah satu daerah di Jawa Barat bernama Maragong atau apa saya lupa. Disana Soleh menerima pendidkan pertamanya dari ayah dan ibunya. Ia, dalam bukunya ini, mencoba mengangkat permasalahan tentang pabrik semen yang menyebabkan orang di desanya terserang ISPA.
Dalam buku ini soleh menceritakan kehidupannya. Tulisannya berisi materi stand up, curhatannya ketika di angkot dan yang paling geer adalah ceritanya tentang ‘yang saru-saru’ meskipun tertutup sedikit tapi pembaca yang sudah dewasa pasti mengetahui hal tersebut dan ketawa-ketiwi di dalam hati karena hal itu sangat dekat dengan kita. heheheh.
Buku bersampul hitam ini dikhususkan untuk 18 tahun keatas. Ya memang sih seperti bahasan sebelumnya, di dalam buku ini terkait dengan hal-hal yang berbau seronok. Namun tidak seperti buku-buku stensilan karya Anny Arrow yang ngetop itu (yang dalam buku ini disebut dengan ‘unyil’) buku-buku stensilan adalah sarana pembayangan buat anak-anak muda 80an untuk bahan zina tangan. alias onani. Ya karena saat itu belum jaman internet. Sehingga mendapatkan bahan begitu susahnya. Ya itulah.
Soleh lulusan UNPAD FIKOM jurusan jurnalistik. Ini awal pertama ia memulai karrier. Menjadi seorang reporter MTV Max Trend dan dilanjut sebagai redaktur majalah Playboy. Iya, Playboy. Keterampilannya dalam menulis juga berefek dalam keterampilannya dalam berbicara juga. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan seseorang untuk ngisi acara di sebuah pementasan off air. Dan si penguindang merasa cocok dengan Sholeh karena sanggup memancing tawa penonton. Wkwkwkwkwkwkwkwk xixixixixixi hahahahaha. Mulai dari sini karirnya menjadi komika kian melijit

No comments:

Post a Comment