(sumber : http://perpustakaan.fmipa.unpak.ac.id/dashboard.php?menu=lihat_buku&kode_buku=632.9/LOU/p)
|
Judul Buku
|
: Pengendalian Hama Terpadu :
Sebuah Pengantar
|
|
Pengarang
|
: Mary Louise Flint & Robert
Van Den Bosch
|
|
Penerbit
|
: Kanisius
|
|
Tahun Terbit
|
: 1990
|
|
Cetakan
|
: Ketiga
|
|
Tempat Terbit
|
: Yogyakarta
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: 144 hlm
|
|
ISBN
|
: 979-413-532-1
|
Belajar tentang hama lebih dahulu
kita harus belajar tentang spesies, biologi, jarring-jaring kehidupan dan
biosfera. Semua terjalin menjadi satu dalam kerangka kehidupan yang tersaji
dalam Alam Semesta. Semuanya saling terkait mulai dari sel-sel hingga lingkup
biosfera yang luas, yang di dalamnya terkandung berbagai macam makhluk hidup
dan lingkungannya. Yah kalau dibagi mungkin hanya terdapat dua subbag : biotik
dan abiotik alias bagian makluk hidup dan makhluk tak hidup.
Makhluk hidup ada kalanya berjumlah
dinamis, naik dan turun pada setiap musimnya, namun tidak melampaui ambang
batas. Patah, tumbuh, hilang, berganti. Seperti itulah sebenarnya kehidupan.
selalu ada proses menuju kebaruan-kebaruan tertentu. Namun peradaban manusia
meredefinisikannya agak berbeda.
Seiring peradaban yang mulai
berkembang, manusia mulai membuka lahan-lahan baru. Yang sebelumnya nomaden
alias berpindah kini sudah menjadi masyarakat bercocok tanam. Mereka mulai
menggunakan akalnya untuk membudidayakan sebuah entitas tertentu dari tanaman
budidaya, pertama adalah untuk kelompoknya dan untuk selanjutnya meluas hingga
sampai taraf barter, dan industrialisasi.
Tak ayal perubahan peradaban manusia
ini mencoba menjadikan hal baru dalam luang lingkup kajian kebuimian atau
kajian natural. Makhluk hidup lain terpaksa menyingkir karena pembukaan lahan
pertanian baru. Namun hewan-hewan ini terus saja masuk kedalam lahan budidaya
hanya untuk satu kata: mencari makan. Satu, dua, hewan menurut manusia pada
saat itu tidak menjadi masalah. Namun ketika sudah datang secara beramai-ramai
manusia dengan kebudayaannya menyebut hewan yang sedang mencari makan itu
sebagai hama.
Hama dipandang sebagai penggangu
lahan pertanian. Hama merusak nilai dari tanaman budidaya sehingga tidak laku
dijual. dahulu adanya hama ini tetap dibuarkan hidup karena akal manusia belum
begitu berkembang. Berkembang pun masih sebatas trial and error untuk mencegah
atau menghilangkan suatu hama. Seiring berjalannya teknologi peradaban menjadi
semakin maju. Apa lagi memasuki masa-masa industry belakangan ini.Pada masa
kini, tanaman hasil budidaya sebisa mungkin bebas dari cacat, karena iti hama diharamkan untuk menyentuh
tamaman budidaya yang akan dijual ini.
Hama adalah makhluk hidup yang
saling bersaing untuk mendapatkan sumber makanan. Bisa jadi sumber makanan yang
dimakan oleh organisme A dan B itu sama. Oleh karena itu terjadi perebutan
sumberdaya yang terbatas itu. dan karena berkedudukan sama alias sejajar dengan
kita maka kita menyebut hewan tersebut hama. Kalau masih bingung kita ganti A
dan B itu adalah manusia dan belalang atau tikus.
Hama sebetulnya ya segitu-segitu
saja. Jumlahnya dinamis naik turun mirip gelombang. Setiap speses memmerlukan
spesies lain untuk bertahan hidup, atau juga mendapat makanan dari spesies
tersebut, semuannya saling menguntungkan. Seakan-akan sudah menjadi sunatullah
para binatang itu saling memangsa untuk menjaga kebelangsungan hidupnya. Sadis?
Tidak itu sudah kodrat.
Manusia membasmi hama menggunakan
zat kimia. Sebut saja DDT dan diendrin. Dua zat kimia yang tergolong sangat
berbahaya bagi kehidupan. bukan hanya bagi hama namun bagi manusia sekali pun.
Penggunaan bahan ajaib ini sempat menjadikan dunia perkebunan menjadi geger.
Dampak DDT bisa dikatakan membanggakan karena berhasil nenahan laju tumbuh
kembang malaria atau pun membunuh serangga-serangga hama tanaman. Namun
disamping itu juga penggunaan DDT punya dampak yang mengerikan bagi lingkungan
sekitarnya.
Manusia pun juga terkena dampak
penggunaan DDT atau racun-cacun sejenis.Ibu menjadi rentan terhadap paparan
racun-racun tersebut. sebingga mengakibatkan bayi yang meminum ASI dari ibu yang
terpapar DDT akan tumbuh dengan tidak normal atau daya tahan tubuh dari si bayi
akan menurun drastic atau bahkan cacat. Oleh karena itu penggunaan metode
terpadu dalam manghadapi hama mutlak diperlukan untuk menmperpanjang umur bumi
ini.
Sebuah pengendalian hama terpadu
memerlukan berbagai macam metode dan cara. Kombinasi antara satu metode dan
metode lain agar menghasilkan sesuatu senjata yang dipandang ampuh dalam
melawan hama. Hombinasi metode A dan B missal untuk melawan hama Z. mungkin
akan lebih efektif dilakukan ketimbang hanya dengan metode A saja. Bukan saja
metode A ini akan meningkat terus pemakaannya dalam segi kuantitas, namun juga
akan merugikan hewan-hewan pendukung yang lain. Dan ini penanggulangan hama
sudah sampai pada rekayasa genetika. Namun sayangnya saya belum membaca
hasilnya tersebut.
Kadang saya berpikir, jika hama
diidentikan dengan populasi yang meledak tidak terkendali. Pikiran saya
langusng tertuju pada manusia. apakah manusia juga merupakan hama bagi bumi
ini? pertumbuhannya yang tidak terkendali, menghabiskan sumberdaya, merusak
bumi atas kepentingannya sendiri. Eksploitasi besar-besaran berkedok
kemaslahatan umat manusia. apakah itu dibenarkan? Kadang juga kasihan melihat
semuanya sirna terbasmi demi kepentingan manusia yang serakah. Mana yang
disebut hama mereka ataukah kita?
No comments:
Post a Comment