Thursday, 9 November 2017

Belajar Tentang Hama Yuuk

Hasil gambar untuk Pengendalian Hama Terpadu : Sebuah Pengantar

(sumber : http://perpustakaan.fmipa.unpak.ac.id/dashboard.php?menu=lihat_buku&kode_buku=632.9/LOU/p)

Judul Buku
: Pengendalian Hama Terpadu : Sebuah Pengantar
Pengarang
: Mary Louise Flint & Robert Van Den Bosch
Penerbit
: Kanisius
Tahun Terbit
: 1990
Cetakan
: Ketiga
Tempat Terbit
: Yogyakarta
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: 144 hlm
ISBN
: 979-413-532-1

Belajar tentang hama lebih dahulu kita harus belajar tentang spesies, biologi, jarring-jaring kehidupan dan biosfera. Semua terjalin menjadi satu dalam kerangka kehidupan yang tersaji dalam Alam Semesta. Semuanya saling terkait mulai dari sel-sel hingga lingkup biosfera yang luas, yang di dalamnya terkandung berbagai macam makhluk hidup dan lingkungannya. Yah kalau dibagi mungkin hanya terdapat dua subbag : biotik dan abiotik alias bagian makluk hidup dan makhluk tak hidup.
Makhluk hidup ada kalanya berjumlah dinamis, naik dan turun pada setiap musimnya, namun tidak melampaui ambang batas. Patah, tumbuh, hilang, berganti. Seperti itulah sebenarnya kehidupan. selalu ada proses menuju kebaruan-kebaruan tertentu. Namun peradaban manusia meredefinisikannya agak berbeda.
Seiring peradaban yang mulai berkembang, manusia mulai membuka lahan-lahan baru. Yang sebelumnya nomaden alias berpindah kini sudah menjadi masyarakat bercocok tanam. Mereka mulai menggunakan akalnya untuk membudidayakan sebuah entitas tertentu dari tanaman budidaya, pertama adalah untuk kelompoknya dan untuk selanjutnya meluas hingga sampai taraf barter, dan industrialisasi.
Tak ayal perubahan peradaban manusia ini mencoba menjadikan hal baru dalam luang lingkup kajian kebuimian atau kajian natural. Makhluk hidup lain terpaksa menyingkir karena pembukaan lahan pertanian baru. Namun hewan-hewan ini terus saja masuk kedalam lahan budidaya hanya untuk satu kata: mencari makan. Satu, dua, hewan menurut manusia pada saat itu tidak menjadi masalah. Namun ketika sudah datang secara beramai-ramai manusia dengan kebudayaannya menyebut hewan yang sedang mencari makan itu sebagai hama.
Hama dipandang sebagai penggangu lahan pertanian. Hama merusak nilai dari tanaman budidaya sehingga tidak laku dijual. dahulu adanya hama ini tetap dibuarkan hidup karena akal manusia belum begitu berkembang. Berkembang pun masih sebatas trial and error untuk mencegah atau menghilangkan suatu hama. Seiring berjalannya teknologi peradaban menjadi semakin maju. Apa lagi memasuki masa-masa industry belakangan ini.Pada masa kini, tanaman hasil budidaya sebisa mungkin bebas dari cacat,  karena iti hama diharamkan untuk menyentuh tamaman budidaya yang akan dijual ini.  
Hama adalah makhluk hidup yang saling bersaing untuk mendapatkan sumber makanan. Bisa jadi sumber makanan yang dimakan oleh organisme A dan B itu sama. Oleh karena itu terjadi perebutan sumberdaya yang terbatas itu. dan karena berkedudukan sama alias sejajar dengan kita maka kita menyebut hewan tersebut hama. Kalau masih bingung kita ganti A dan B itu adalah manusia dan belalang atau tikus.
Hama sebetulnya ya segitu-segitu saja. Jumlahnya dinamis naik turun mirip gelombang. Setiap speses memmerlukan spesies lain untuk bertahan hidup, atau juga mendapat makanan dari spesies tersebut, semuannya saling menguntungkan. Seakan-akan sudah menjadi sunatullah para binatang itu saling memangsa untuk menjaga kebelangsungan hidupnya. Sadis? Tidak itu sudah kodrat.
Manusia membasmi hama menggunakan zat kimia. Sebut saja DDT dan diendrin. Dua zat kimia yang tergolong sangat berbahaya bagi kehidupan. bukan hanya bagi hama namun bagi manusia sekali pun. Penggunaan bahan ajaib ini sempat menjadikan dunia perkebunan menjadi geger. Dampak DDT bisa dikatakan membanggakan karena berhasil nenahan laju tumbuh kembang malaria atau pun membunuh serangga-serangga hama tanaman. Namun disamping itu juga penggunaan DDT punya dampak yang mengerikan bagi lingkungan sekitarnya.
 Tanah yang tercemar DDT menjadi tanah beracun yang nantinya zat-zat hara yang dibutuhkan tanaman akan tercampur racun DDT sehingga menjadikan buah atau sayur-sayuran tidak layak dikonsumsi. Bukan hanya itu, racun DDT akan mencemari air dan udara. Dan ternyata partikel racun DDT yang ringan itu gampang dibawa oleh angin kemana-mana. Suatu kasus menunjukan bahwa racun DDT disemprtotkan di wilayah Amerika bagian Selatan dampak pencemarannya biasa sampai Antartika, hingga penguin pun ikut keracunan atau penyemprtotan di lakukan di Afrika dampaknya hingga kepulauan Amerika.
Manusia pun juga terkena dampak penggunaan DDT atau racun-cacun sejenis.Ibu menjadi rentan terhadap paparan racun-racun tersebut. sebingga mengakibatkan bayi yang meminum ASI dari ibu yang terpapar DDT akan tumbuh dengan tidak normal atau daya tahan tubuh dari si bayi akan menurun drastic atau bahkan cacat. Oleh karena itu penggunaan metode terpadu dalam manghadapi hama mutlak diperlukan untuk menmperpanjang umur bumi ini.
Sebuah pengendalian hama terpadu memerlukan berbagai macam metode dan cara. Kombinasi antara satu metode dan metode lain agar menghasilkan sesuatu senjata yang dipandang ampuh dalam melawan hama. Hombinasi metode A dan B missal untuk melawan hama Z. mungkin akan lebih efektif dilakukan ketimbang hanya dengan metode A saja. Bukan saja metode A ini akan meningkat terus pemakaannya dalam segi kuantitas, namun juga akan merugikan hewan-hewan pendukung yang lain. Dan ini penanggulangan hama sudah sampai pada rekayasa genetika. Namun sayangnya saya belum membaca hasilnya tersebut.

Kadang saya berpikir, jika hama diidentikan dengan populasi yang meledak tidak terkendali. Pikiran saya langusng tertuju pada manusia. apakah manusia juga merupakan hama bagi bumi ini? pertumbuhannya yang tidak terkendali, menghabiskan sumberdaya, merusak bumi atas kepentingannya sendiri. Eksploitasi besar-besaran berkedok kemaslahatan umat manusia. apakah itu dibenarkan? Kadang juga kasihan melihat semuanya sirna terbasmi demi kepentingan manusia yang serakah. Mana yang disebut hama mereka ataukah kita? 

No comments:

Post a Comment