Catatan Santri

Louis Altrousser
(sumber :http: //braungardt.trialectics.com/projects/political-theory/althusser/ideology/)
Cerita ini diawali dari angkringan ngarep MJS. Dimana ublik nyala temaram dan di sisi kananku ada tumpukan sega kucing
beserta kawan-kawannya. Sayup terdengar suara mas Ngain lagi ngaji. Entah blio
ngaji surat apa. Saya ndak begitu paham. Waktu menujukan pukul setengah delapan
lebih beberapa menit. Gelaran Ngaji Filsafat belum dimulai.
Mas Ngain adalah qari’ yang udah
ngetop di MJS. Belio punya suara bagus. Yah dibanding temen-temennya di Kandang
Macan tentunya. (kandang macan : sebutan untuk Asrama tempat takmir berdiam). “Oh, ngene iki toh tibake. Saurunge gelaran
Ngaji Filsafat diwiwiti, ana pembacaan ayat suci Al Qur’an. Wah mashook! Kaya
ngaji tenanan rek!” batinku. Mas Ngain sudah menikah, sedang nulis tesis.
Hari Rabu ini (25/10) gelaran Ngaji
Filsafat membahas tentang Ideologi dan Kritik Modernitas. Rabu ini juga
merupakan Rabu pungkasan dalam
gelaran Ngaji Filsafat MJS. Untuk penutup, minggu ini membahas seorang bernama
Louis Althusser.
Selesai makan di angkirngan kuda
besi tua saya tak geret masuk masjid.
Saat itu suasana masih sepi. Para mahasantri masih ngobrol ngalor-ngidul di
serambi dan di buh bawah pohon
ketapang. Pak Faiz belum rawuh. Pak
Faiz adalah guru ngaji kami.di MJS. Blio orangnya kecil, yah tingginya sekitar
165 cm lah. Blio pengajar di UIN SUKA Fakultas Ushuludin a.k.a Fakultas
Filsatat yang di Arabkan. Entah, adakah perbedaan Filsafat sendiri dengan
Ushuludin? Sama dan sebangun? Atau keduanya memuat ideology yang berbeda? Siji ngalor siji ngidul?
Saya saat itu belum sembahyang
Isya’. Ya uwis saya dengan agak kekenyangan saya berjalan ke tempat wudhu.
Wudhu selesai saya berjalan menuju masjid lewat pelataran timur. “Hayo! tak
pegang! Tak pegang!” kata kak Aina. “Aja
toh, aku wis wudhu” keluhku. Yawis belalu begitu saja. Aku masuk masjid takbiratul Ikhram.
Kak Ai, yang tadi simpangan di
plataran timur masjid itu adalah seorang wanita air. Dalam tubuhnya yang kecil
terdapat cita-cita yang besar. Ia care terhadap Jogja dan air. Ketika
sumur-sumur kering akibat pembangunan kota yang kian masif. Ia turun tangan
dengan aktifis-aktifis air yang lain semacam mas Elianto, aktifis Jogja Ora
Didol. Blio jurusan sastra pada jenjang S.1 dan mengembangkan passionnya
kembali ngulik-ngulik ilmu humaniora di jenjang selanjutnya. Thesisnya tentnag
kelangkaan air di jogja. Saya lupa judulnya apa, tapi kemarin pernah lihat
garapan belio. Kak Ai juga seneng nulis. Tulisanya yang berat itu ada Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia, sama yang selow ada antologi arsip ngaji filsat
seri Kebahagiaan. Atau niji Buletin Jum’at di MJS. Ia mengrspkan ngaji Filsafat
edisi kebahagiaan bersama teman-teman lain diantaranya kak Ipung, Kak Agus dan
Kak Muhlis. Yang terakhir ini tukang cerita di MJS. Kalo kak Mukh cerita,
siap-siap kacang, kuaci dan kopi. Dijamim mashok! Karena ceritanya pjg bgt.
Berkumpul dengan penggiat literasi
seperti mereka ini membuat pemikiran menjadi luas. Yah dari pada di rumah
tentnunya. Karena berkumpul dengan mereka saya sendiri menjadi terpacu untuk
berkarya lebih. Dari segi kualitas maupun kuantitas. Nulis ini juga, hasil saya
srawung dengan mas dan mbak-mbak mahasatri di MJS. Semua itu pilhan. Cari ilmu
itu bisa dimana saja! Nggak usah saklek,
Shalat menuju detik-detik akhir. Pak Faiz datang dengan
Jupiternya. Dengan jaket hitam tebal blio parkir di depan Asrama. Turun
langsung menuju dekat mimbar. Duduk santai, flashdisk nacep, oke ngaji dimulai!
Ngaji hari ini membahas tentang Ideologi dari Louis
Altrhousser. “Louis Altrhusser adalah orang Italia, blio lahir 1911 meninggal
1990” mulai gak konsen sembahnyange
asem. Salam, tengok kiri-kanan langsung merapat.
“Louis Althrousser, dimasa akhir hidupnya kurang
mengenakkan. Ia menghabiskan sisa umurnya di penjara karena dituduh membuhuh
istrinya sendiri. Ia hadir untuk mengkritisi sosialismenya Marx”. Marx adalah
pendiri sosialis di Uni Soviet. Penggerak kaum proletar untuk melawan kaum
borjuis yang yang menguasai hampir semua sendi kehidupan rakyat Uni Soviet saat
itu. tentunya sebelum Uni Soviet pecah menjadi negara kecil-kecil seperti
sekarang. Magnum Opusnya Marx adalah Das Kapital, yang tebalnya bikin mblenger. Belum baca sih, tapi pingin.
Kitab ini menjadi peganan untuk melawan penindasan kaum borujuis. Di dalamnya
sudah ada pakem untuk merebut kuasa dari kaum kapitalis. Yeeah! Namun di sini
(Indonesia) Komunis dan Sosialis sudah menjadi hantu tersendiri sejak zaman
Mbah Harto. Sosials ataupun komunis masih menjadi pisau tajam yang setiap
datang momen yang mashook, akan diungkal, dipertajam yang nantinya untuk menikam
lawan politik.
“Orang ngritik itu ada aturannya.
Seperti yang kita bahas kemarin di Ngaji Filsafat Sebelumnya” begitu kata pak Faiz. “Mengkritiki sesuatu
sebaiknya dilakukan dengan sopan, tidak di depan banyak orang dan memberi
solusi”. Pak Mencoba menyambungkan hal ini dengan edisi sebelumnya tetang Etika
Mencari Ilmu yang sudah berlangsung dua, tiga bulan yang lalu. “Banyak orang di
era postmodern ini, ngritik iya! Tapi tidak memberi solusi. Jika ditanya
bagaimana solusinya ia malah menjauh” ada benarnya juga ya?
Bahasan selanjutnya pak Faiz menjelaskan tentang ideology.
“Ideology berasal dari kata Idea dan logos. Idea bermakna pikiran dan logos
berarti ilmu” begitu belio mencoba menjelaskan. Ideology bermakna ilmu tentang
idea atau pikiran. Ideology menurutku adalah sebuah cara pandang tentang dunia.
bukan dunia secara keseluruhan, namun yang parsial, menurut apa yang ada dalam
pikiranku. Ideology kadang diidentikan dengan sosialisme. Namun hal ini kurang
pas. Ideology adalah kepunyaan semua orang. Yah gampanganya cara pandang.
“Setiap orang mempunyai ideology.
Tak berideologi pun itu sudah memilih salah satu ideology” begitu kata pak
Faiz. “Susah kalau orang itu ideologinya mencla-mencle.
Mending langsung dikatakan bahwa ideologiku warna pink. (missal) maka saya
tidak akan menyentuh hal-hal sensitive yang berkaitan dengan ideology yang kamu
punyai, itu” tambah pak Faiz.
Ideology has very
little to do with consciousness it is profoundly unconsciousness. Ideologi itu sangat sedikit bersinggungan
dengan kesadaran, lha wong itu (ideology) adalah sebuah ketidak sadaran. Begitu
kutipan yang di kutip Pak Faiz. Wah mashook. Ideology merupakan representasi
dari kenyataan diamana ia bukan hal yang nyata, yang sebenarya. Ideology
mendistorsi realitas.
Pak Faiz mengambil contoh kondisi riil ekonomi saat ini. Menurut
blio adalah alienasi, eksploitasi. Eksploitasi adalah pemanfaatan sumberdaya
secara berlebihan, dan alienasi adalah keterasingan, dari apa? Dari kemanusiaan
lah! Sifat dasar manusia yang ingin tahu, berkembang, dan bersosialisasi.
Ideologi, kata pak Faiz merupakan pain
killer.”Wis toh, enak-enak” atau “Ngapain kalian kerja susah-susah toh juga
mati”, “Ngapain sih kalian mbuat gerakan-gerakan segala. Toh nanti juga kalah”.
Nah pain
killer itu meneguhkan status quo. Supaya roda kehidupan mandheg, tidak bergerak. Agar yang di
atas tetap di atas dan yang berada di bawah enjoy
dengan kemelaratannya. Bgst!
Althrouser
mengkritik pemikiran Marx. Menurut Althrousser, Pikirannya Marx terlalu saklek.
Dunia sosial tidak segampang dunia eksak atau itung-itungan. “Manusia itu unik
dan penuh teka-teki” kata Altrhiusser. Setiap manusia mempunyai kecenderungan
untuk melanggengkan status quo. Tidak seperti yang digariskan Marx di Das
Kapital, manusia tidak sesimpel itu. itu yang luput dari kaca mata Marx yang
enggan disebut Marxis, meskipun ia sebagai pencipta Marxisme. Laku seorang
manusia tidak disa ditebak. Mungkin dengan perlakuan A manusia menjadi penurut.
Namun ketika perlakuan A diterapkan pada kelompok lain bisa jadi hasilnya akan
berbeda. Atau malah justru bertentangan dengan eksperimen pertama. Itulah
uniknya manusia.
Kritik kedua Althrusser kepada Marx adalah ‘Economic Base’. Setiap perliaku kita didasari oleh motif
ekonomi. “Bukan” Kata Althrusser. Manusia tidak selalu menerapkan prinsip ekonomi
dalam setiap kehidupannya. “Jika semuanya dapat dimasukan dalam motif ekonomi bagaimana kamu menyimpulkan ideology orang harakiri
atau pejuang-pejuang kemerdekaan atau pacar yang rela njemput kekasihnya di
tengah hujan badai? Meskipun nanti jika pemenang
itu mengusung tampuk kekuasaaan akan mejadi ekonomi juga? Hmm….
Ideologi memiliki manusia. bukan sebaliknya. Ideology
dibentuk oleh sekelompok manusia dan telah disetujui sebagai acuan baku dari
sebuah ‘sesuatu’ tersebut. mungkin sebuah kode etik profesi mungkin? Entahlah.
“Ideologi mepada hakikatnya melayani kekuasaan. Ideology bukan hanya
seperangkat sistem gagasan. Ideology
berperan dalam exercise of power,
maintenance of power, dan struggle of power. Wealah textbook banget ya?
Okelah aku dhewe ya ra dhong, pas
kuwi ngantuk xixixixi…
“Krucuk….krucuk….krucuk….” seorang menuang kopi di jumbo, di
atas meja TPA lurus dan datar berbentuk persegi panjang dengan tinggi 30
sentian. Dibuat dari kayu jati, antep. Kata takmir meja itu kadang-kadang buat
maniim mayat ketika ada yang meninggal. Hiii seyemm…. Kerat gelas hampur semua
kosong, disana hanya tinggal sepasang gelas yang mungkin sedang ngobrol. Entah
ngobrol apa. Gelasnya diambil satu masnya yang tadi. Gelas kini tinggal satu dan menjadi jomblolah ia.
Terus-terus, ideology itu sejak kapan ada kakak? Oke, penanaman
ideology dimulai sejak kita lahir. Lingkungan keluarga inti yang terdiri dari
bapak dan ibu yang menanampan ideology pertama kepada kita. secara sadar atau
pun tidak sadar. Namun kebanyakan ideology ditanankan secara tidak sadar.
Seperti kutipan di atas. Ia merasuk dalam alam bawah sadar kita dan menjadi
gerak langkah kita sehari-hari, dan itu benar. Selanjutnya lingkup yang lebih
luas masyarakt, ia juga menanamkan ideology kepada kata.
Ohhh, pantes ketika mendengar music ndangdut, jempol dan
badan ini tak mau berhenti bergoyang. Ternyata karena ideology yang ditanamkan
pada saat kita masih kecil. Gitu toh? Kita sok menjadi anak rock, alternative,
atau EDM, padahal dalam batin meronta, music apa iki ramashook. Maaf curhat
Menurut Altrhusser penanaman ideology itu melalui dua cara. Pertama ISA (Ideological State Aparatus)
dan kedua RSA (Represive State
Aparatus). Kedua tandem ini merupakan duet maut penanaman ideology dari
penguasa kepada kita. ISA adalah cara penanaman ideology secara ‘alusan’ dan RSA
adalah penanaman ideology dengan cara kekerasan. Ketika isa berhasil menanamkan
ideology kepada kita, tak jadi masalah. Namun jika penggunaan ISA ramashook,
atau kitanya membelot, nakal dsb. maka penguasa akan menggunakan RSA, dipenthungi lur! Nah setelah kia
dipenthungi itulah kita kan sadar, ya tapi masih ragu ragu gitu. Dah untuk
mengatasi keraguan itu maka masuklah yang namanya ISA. “Sudahlah mbok jangan berontak, kasihan toh badannya digebugin sampek
biru-biru kaya gitu”. Begitu kita-kita bujukan dari ISA dan dalam bawah
sadar kira “Ya wis lah manut aja” inilah
keebatan dou tandem ISA dan RSA.
ISA ditanamkan oleh keluarga, lembaga keagamaan, sekolah,
komunikasi, politik dan budaya, dan RSA dilakukan oleh aparat penegak hukum
macam polisi, sherrif, jaksa, dan penjara.
Secara sangkat kelihatan ciri-ciri ISA dan RSA. Inilah yang
kata saya, tandem penanam ideology kepada kita. dan satu kali lagi yang
namannya ideology itu tidak bisa hilang, namun hanya berpindah dari satu
ideology ke ideology lain. Itu kalimat penutup dari saya.
“Alhamdullah, Ngaji Filsafat seri Ideologi dan Kritik
Modernitas telah selesai, untuk bulan depan kita akan membahas tentang Filsafat
Sejarah” waiki, yang ditunggu. Bulan November lusa kita akan sinau tentang
filsafat sejarah. bagaimana dan apa itu sejarah? tunggu babarannya minggu depan
ya!
Masjid mulai sepi, beberapa orang masih berdiskusi membentuk
gerombol-gerombol sendiri-sendiri. Saya mider menarik gelas yang sudah tak
berisi dengan baki, dan saya taruh di atas meja dengan berdiri.
Selesai itu saya menuju ke tengah ikut ngobol dengan Sang
Guru. yah sekedar curhat biasa, diselingi dengan curhatan blio tentang betapa
capeknya ngalor ngidul ngejob, sebagai dosen terbang di salah satu universitas
di Jakarta. Senin sampek Sabtu blio ngajar dari jenjang S1 dan S2,Rabu ngisi
pengajian di MJS setiap Rabu dengan 200an mahasantri, yang nggak semua ngerti
tentang filsafat, mulai senang berfilsafat. Me timenya belio bersama keluarga
di hari Minggu yang tak bisa di ganggu. Saya mendengarkan sambil ndlosor.
Mantafff…
Ada seorang yang datang, salim, cium tangan, menuju laptop
dan namcepin flashdisk. Minta slide show yang barusan dibabar di Ngaji malam
ini. ada yang datang diskusi tentang materi yang barusan di berikan.
Yah itulah sekelumit cerita malam ini sebagai penutup
gelaran Ngaji Filsafat seri Ideologi dan Kritik Modernitas bulan Oktober.
Terima kasih sudah baca rekaman catatan Ngaji ini. dan mohon kritik dan
sarannya coiii…
Di akhir pertemuan :
“Pak sampeyan kok nggak jadi Guru
Besar (professor) toh pak, Kan sudah bisa?” Tanya seorang mahasantri.
“Saya nggak bisa jadi guru besar,
lha wong badan saya emang segini. Nggak bisa tambah besar lagi” kata pak Faiz
woles.
Kata Kunci : Kritik Modernitas,
Ideologi, Oktober, Althrousser
Sleman, Kamis 26 Oktober 2017
No comments:
Post a Comment