Tuesday, 7 November 2017

Cara Menanam Ideologi yang Baik dan Benar

Catatan Santri

Hasil gambar untuk louis althusser
Louis Altrousser

(sumber :http: //braungardt.trialectics.com/projects/political-theory/althusser/ideology/)

Cerita ini diawali dari angkringan ngarep MJS. Dimana ublik nyala temaram dan di sisi kananku ada tumpukan sega kucing beserta kawan-kawannya. Sayup terdengar suara mas Ngain lagi ngaji. Entah blio ngaji surat apa. Saya ndak begitu paham. Waktu menujukan pukul setengah delapan lebih beberapa menit. Gelaran Ngaji Filsafat belum dimulai.

Mas Ngain adalah qari’ yang udah ngetop di MJS. Belio punya suara bagus. Yah dibanding temen-temennya di Kandang Macan tentunya. (kandang macan : sebutan untuk Asrama tempat takmir berdiam). “Oh, ngene iki toh tibake. Saurunge gelaran Ngaji Filsafat diwiwiti, ana pembacaan ayat suci Al Qur’an. Wah mashook! Kaya ngaji tenanan rek!” batinku. Mas Ngain sudah menikah, sedang nulis tesis.

Hari Rabu ini (25/10) gelaran Ngaji Filsafat membahas tentang Ideologi dan Kritik Modernitas. Rabu ini juga merupakan Rabu pungkasan dalam gelaran Ngaji Filsafat MJS. Untuk penutup, minggu ini membahas seorang bernama Louis Althusser.

Selesai makan di angkirngan kuda besi tua saya tak geret masuk masjid. Saat itu suasana masih sepi. Para mahasantri masih ngobrol ngalor-ngidul di serambi dan di buh bawah pohon ketapang. Pak Faiz belum rawuh. Pak Faiz adalah guru ngaji kami.di MJS. Blio orangnya kecil, yah tingginya sekitar 165 cm lah. Blio pengajar di UIN SUKA Fakultas Ushuludin a.k.a Fakultas Filsatat yang di Arabkan. Entah, adakah perbedaan Filsafat sendiri dengan Ushuludin? Sama dan sebangun? Atau keduanya memuat ideology yang berbeda? Siji ngalor siji ngidul?

Saya saat itu belum sembahyang Isya’. Ya uwis saya dengan agak kekenyangan saya berjalan ke tempat wudhu. Wudhu selesai saya berjalan menuju masjid lewat pelataran timur. “Hayo! tak pegang! Tak pegang!” kata kak Aina. “Aja toh, aku wis wudhu” keluhku. Yawis belalu begitu saja. Aku masuk masjid takbiratul Ikhram.  

Kak Ai, yang tadi simpangan di plataran timur masjid itu adalah seorang wanita air. Dalam tubuhnya yang kecil terdapat cita-cita yang besar. Ia care terhadap Jogja dan air. Ketika sumur-sumur kering akibat pembangunan kota yang kian masif. Ia turun tangan dengan aktifis-aktifis air yang lain semacam mas Elianto, aktifis Jogja Ora Didol. Blio jurusan sastra pada jenjang S.1 dan mengembangkan passionnya kembali ngulik-ngulik ilmu humaniora di jenjang selanjutnya. Thesisnya tentnag kelangkaan air di jogja. Saya lupa judulnya apa, tapi kemarin pernah lihat garapan belio. Kak Ai juga seneng nulis. Tulisanya yang berat itu ada Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, sama yang selow ada antologi arsip ngaji filsat seri Kebahagiaan. Atau niji Buletin Jum’at di MJS. Ia mengrspkan ngaji Filsafat edisi kebahagiaan bersama teman-teman lain diantaranya kak Ipung, Kak Agus dan Kak Muhlis. Yang terakhir ini tukang cerita di MJS. Kalo kak Mukh cerita, siap-siap kacang, kuaci dan kopi. Dijamim mashok! Karena ceritanya pjg bgt.

Berkumpul dengan penggiat literasi seperti mereka ini membuat pemikiran menjadi luas. Yah dari pada di rumah tentnunya. Karena berkumpul dengan mereka saya sendiri menjadi terpacu untuk berkarya lebih. Dari segi kualitas maupun kuantitas. Nulis ini juga, hasil saya srawung dengan mas dan mbak-mbak mahasatri di MJS. Semua itu pilhan. Cari ilmu itu bisa dimana saja! Nggak usah saklek,

Shalat menuju detik-detik akhir. Pak Faiz datang dengan Jupiternya. Dengan jaket hitam tebal blio parkir di depan Asrama. Turun langsung menuju dekat mimbar. Duduk santai, flashdisk nacep, oke ngaji dimulai!

Ngaji hari ini membahas tentang Ideologi dari Louis Altrhousser. “Louis Altrhusser adalah orang Italia, blio lahir 1911 meninggal 1990”  mulai gak konsen sembahnyange asem. Salam, tengok kiri-kanan langsung merapat.

“Louis Althrousser, dimasa akhir hidupnya kurang mengenakkan. Ia menghabiskan sisa umurnya di penjara karena dituduh membuhuh istrinya sendiri. Ia hadir untuk mengkritisi sosialismenya Marx”. Marx adalah pendiri sosialis di Uni Soviet. Penggerak kaum proletar untuk melawan kaum borjuis yang yang menguasai hampir semua sendi kehidupan rakyat Uni Soviet saat itu. tentunya sebelum Uni Soviet pecah menjadi negara kecil-kecil seperti sekarang. Magnum Opusnya Marx adalah Das Kapital, yang tebalnya bikin mblenger. Belum baca sih, tapi pingin. Kitab ini menjadi peganan untuk melawan penindasan kaum borujuis. Di dalamnya sudah ada pakem untuk merebut kuasa dari kaum kapitalis. Yeeah! Namun di sini (Indonesia) Komunis dan Sosialis sudah menjadi hantu tersendiri sejak zaman Mbah Harto. Sosials ataupun komunis masih menjadi pisau tajam yang setiap datang momen yang mashook, akan diungkal, dipertajam yang nantinya untuk menikam lawan politik.

“Orang ngritik itu ada aturannya. Seperti yang kita bahas kemarin di Ngaji Filsafat Sebelumnya”  begitu kata pak Faiz. “Mengkritiki sesuatu sebaiknya dilakukan dengan sopan, tidak di depan banyak orang dan memberi solusi”. Pak Mencoba menyambungkan hal ini dengan edisi sebelumnya tetang Etika Mencari Ilmu yang sudah berlangsung dua, tiga bulan yang lalu. “Banyak orang di era postmodern ini, ngritik iya! Tapi tidak memberi solusi. Jika ditanya bagaimana solusinya ia malah menjauh” ada benarnya juga ya?

Bahasan selanjutnya pak Faiz menjelaskan tentang ideology. “Ideology berasal dari kata Idea dan logos. Idea bermakna pikiran dan logos berarti ilmu” begitu belio mencoba menjelaskan. Ideology bermakna ilmu tentang idea atau pikiran. Ideology menurutku adalah sebuah cara pandang tentang dunia. bukan dunia secara keseluruhan, namun yang parsial, menurut apa yang ada dalam pikiranku. Ideology kadang diidentikan dengan sosialisme. Namun hal ini kurang pas. Ideology adalah kepunyaan semua orang. Yah gampanganya cara pandang.

“Setiap orang mempunyai ideology. Tak berideologi pun itu sudah memilih salah satu ideology” begitu kata pak Faiz. “Susah kalau orang itu ideologinya mencla-mencle. Mending langsung dikatakan bahwa ideologiku warna pink. (missal) maka saya tidak akan menyentuh hal-hal sensitive yang berkaitan dengan ideology yang kamu punyai, itu” tambah pak Faiz.

Ideology has very little to do with consciousness it is profoundly unconsciousness.  Ideologi itu sangat sedikit bersinggungan dengan kesadaran, lha wong itu (ideology) adalah sebuah ketidak sadaran. Begitu kutipan yang di kutip Pak Faiz. Wah mashook. Ideology merupakan representasi dari kenyataan diamana ia bukan hal yang nyata, yang sebenarya. Ideology mendistorsi realitas.

Pak Faiz mengambil contoh kondisi riil ekonomi saat ini. Menurut blio adalah alienasi, eksploitasi. Eksploitasi adalah pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan, dan alienasi adalah keterasingan, dari apa? Dari kemanusiaan lah! Sifat dasar manusia yang ingin tahu, berkembang, dan bersosialisasi. Ideologi, kata pak Faiz merupakan pain killer.”Wis toh, enak-enak” atau “Ngapain kalian kerja susah-susah toh juga mati”, “Ngapain sih kalian mbuat gerakan-gerakan segala. Toh nanti juga kalah”. Nah  pain killer itu meneguhkan status quo. Supaya roda kehidupan mandheg, tidak bergerak. Agar yang di atas tetap di atas dan yang berada di bawah enjoy dengan kemelaratannya. Bgst!

  Althrouser mengkritik pemikiran Marx. Menurut Althrousser, Pikirannya Marx terlalu saklek. Dunia sosial tidak segampang dunia eksak atau itung-itungan. “Manusia itu unik dan penuh teka-teki” kata Altrhiusser. Setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk melanggengkan status quo. Tidak seperti yang digariskan Marx di Das Kapital, manusia tidak sesimpel itu. itu yang luput dari kaca mata Marx yang enggan disebut Marxis, meskipun ia sebagai pencipta Marxisme. Laku seorang manusia tidak disa ditebak. Mungkin dengan perlakuan A manusia menjadi penurut. Namun ketika perlakuan A diterapkan pada kelompok lain bisa jadi hasilnya akan berbeda. Atau malah justru bertentangan dengan eksperimen pertama. Itulah uniknya manusia.

Kritik kedua Althrusser kepada Marx adalah ‘Economic Base’. Setiap perliaku kita didasari oleh motif ekonomi. “Bukan” Kata Althrusser. Manusia tidak selalu menerapkan prinsip ekonomi dalam setiap kehidupannya. “Jika semuanya dapat dimasukan dalam motif ekonomi bagaimana kamu menyimpulkan ideology orang harakiri atau pejuang-pejuang kemerdekaan atau pacar yang rela njemput kekasihnya di tengah hujan badai?  Meskipun nanti jika pemenang itu mengusung tampuk kekuasaaan akan mejadi ekonomi juga? Hmm….

Ideologi memiliki manusia. bukan sebaliknya. Ideology dibentuk oleh sekelompok manusia dan telah disetujui sebagai acuan baku dari sebuah ‘sesuatu’ tersebut. mungkin sebuah kode etik profesi mungkin? Entahlah. “Ideologi mepada hakikatnya melayani kekuasaan. Ideology bukan hanya seperangkat sistem gagasan. Ideology  berperan dalam exercise of power, maintenance of power, dan struggle of power. Wealah textbook banget ya? Okelah aku dhewe ya ra dhong, pas kuwi ngantuk xixixixi…

“Krucuk….krucuk….krucuk….” seorang menuang kopi di jumbo, di atas meja TPA lurus dan datar berbentuk persegi panjang dengan tinggi 30 sentian. Dibuat dari kayu jati, antep. Kata takmir meja itu kadang-kadang buat maniim mayat ketika ada yang meninggal. Hiii seyemm…. Kerat gelas hampur semua kosong, disana hanya tinggal sepasang gelas yang mungkin sedang ngobrol. Entah ngobrol apa. Gelasnya diambil satu masnya yang tadi. Gelas  kini tinggal satu dan  menjadi jomblolah ia.

Terus-terus, ideology itu sejak kapan ada kakak? Oke, penanaman ideology dimulai sejak kita lahir. Lingkungan keluarga inti yang terdiri dari bapak dan ibu yang menanampan ideology pertama kepada kita. secara sadar atau pun tidak sadar. Namun kebanyakan ideology ditanankan secara tidak sadar. Seperti kutipan di atas. Ia merasuk dalam alam bawah sadar kita dan menjadi gerak langkah kita sehari-hari, dan itu benar. Selanjutnya lingkup yang lebih luas masyarakt, ia juga menanamkan ideology kepada kata.

Ohhh, pantes ketika mendengar music ndangdut, jempol dan badan ini tak mau berhenti bergoyang. Ternyata karena ideology yang ditanamkan pada saat kita masih kecil. Gitu toh? Kita sok menjadi anak rock, alternative, atau EDM, padahal dalam batin meronta, music apa iki ramashook. Maaf curhat

Menurut Altrhusser penanaman ideology itu melalui dua cara. Pertama ISA (Ideological State Aparatus) dan kedua RSA (Represive State Aparatus). Kedua tandem ini merupakan duet maut penanaman ideology dari penguasa kepada kita. ISA adalah cara penanaman ideology secara ‘alusan’ dan RSA adalah penanaman ideology dengan cara kekerasan. Ketika isa berhasil menanamkan ideology kepada kita, tak jadi masalah. Namun jika penggunaan ISA ramashook, atau kitanya membelot, nakal dsb. maka penguasa akan menggunakan RSA, dipenthungi lur! Nah setelah kia dipenthungi itulah kita kan sadar, ya tapi masih ragu ragu gitu. Dah untuk mengatasi keraguan itu maka masuklah yang namanya ISA. “Sudahlah mbok jangan berontak, kasihan toh badannya digebugin sampek biru-biru kaya gitu”. Begitu kita-kita bujukan dari ISA dan dalam bawah sadar kira “Ya wis lah manut aja” inilah keebatan dou tandem ISA dan RSA.

ISA ditanamkan oleh keluarga, lembaga keagamaan, sekolah, komunikasi, politik dan budaya, dan RSA dilakukan oleh aparat penegak hukum macam polisi, sherrif, jaksa, dan penjara.

Secara sangkat kelihatan ciri-ciri ISA dan RSA. Inilah yang kata saya, tandem penanam ideology kepada kita. dan satu kali lagi yang namannya ideology itu tidak bisa hilang, namun hanya berpindah dari satu ideology ke ideology lain. Itu kalimat penutup dari saya.

“Alhamdullah, Ngaji Filsafat seri Ideologi dan Kritik Modernitas telah selesai, untuk bulan depan kita akan membahas tentang Filsafat Sejarah” waiki, yang ditunggu. Bulan November lusa kita akan sinau tentang filsafat sejarah. bagaimana dan apa itu sejarah? tunggu babarannya minggu depan ya!

Masjid mulai sepi, beberapa orang masih berdiskusi membentuk gerombol-gerombol sendiri-sendiri. Saya mider menarik gelas yang sudah tak berisi dengan baki, dan saya taruh di atas meja dengan berdiri.

Selesai itu saya menuju ke tengah ikut ngobol dengan Sang Guru. yah sekedar curhat biasa, diselingi dengan curhatan blio tentang betapa capeknya ngalor ngidul ngejob, sebagai dosen terbang di salah satu universitas di Jakarta. Senin sampek Sabtu blio ngajar dari jenjang S1 dan S2,Rabu ngisi pengajian di MJS setiap Rabu dengan 200an mahasantri, yang nggak semua ngerti tentang filsafat, mulai senang berfilsafat. Me timenya belio bersama keluarga di hari Minggu yang tak bisa di ganggu. Saya mendengarkan sambil ndlosor. Mantafff…

Ada seorang yang datang, salim, cium tangan, menuju laptop dan namcepin flashdisk. Minta slide show yang barusan dibabar di Ngaji malam ini. ada yang datang diskusi tentang materi yang barusan di berikan.

Yah itulah sekelumit cerita malam ini sebagai penutup gelaran Ngaji Filsafat seri Ideologi dan Kritik Modernitas bulan Oktober. Terima kasih sudah baca rekaman catatan Ngaji ini. dan mohon kritik dan sarannya coiii…

Di akhir pertemuan :
“Pak sampeyan kok nggak jadi Guru Besar (professor) toh pak, Kan sudah bisa?” Tanya seorang mahasantri.
“Saya nggak bisa jadi guru besar, lha wong badan saya emang segini. Nggak bisa tambah besar lagi” kata pak Faiz woles.

Kata Kunci : Kritik Modernitas, Ideologi, Oktober, Althrousser

Sleman, Kamis 26 Oktober 2017

No comments:

Post a Comment