
(sumber: https://www.goodreads.com/book/show/31369907-kiat-sukses-hancur-lebur)
|
Judul Buku
|
: Kiat Sukses Hancur Lebur
|
|
Pengarang
|
: Martin Suryajaya
|
|
Penerbit
|
: Banana
|
|
Tahun Terbit
|
: 2016
|
|
Cetakan
|
: Kedua
|
|
Tempat Terbit
|
: Pondok Cina, Depok
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: 216 hlm
|
|
ISBN
|
: 978-979-1079-54-9
|
Pertama kali membaca judul buku ane langsung tertarik Gan!
Judulnya bikin penasaran. Kiat Sukes
Hancur Lebur. Wehh. Di cacatatan akhir, belakang buku disana dituliskan
macem-macem kayak kiat sukses lolos CPNS, beternak lele, cara mengenal dan
menjalankan akuntasi avant grande. Pokoke
lucu. Buku berwarna kuning soft
dengan gambar-gambar yang aneh ini terasa ringan dibawa karena dicetak
menggunakan kertas paper book, jadi
lebih ringan dibanding kalo dicetak mengginakan kertas HVS. Overall fisik buku baik namun ada dua
halaman menjelang bagian akhir yang tulisannya membayang, mengakibatan beberapa
kata tidak bisa dibaca. Agak burem juga tulisannya. Buku ini tak tebus dengan
harga lumayan mahal. 50.000. sempat sedih juga sih karena ketika kita pingin
tahu, malah tidak difasilitasi oleh negara dengan subsidi harga kertas atau
dengan penghapusan pajak buku. Kan bukunya jadi mahal. Jane pinginku sih buku nantinya bisa dibandrol dengan harga yang murah,
untuk memfasilitasi kita-kita sebagai hewan pemamah buku. Semoga Anda mendengar
curhatan rakyat jelata ini pak Presiden.
Selanjutnya kita mencoba mendhudhah
isi dari buku. Pada awalnya buku ini menceritakan tentang kanker karena
sering cebok berkepanjangan. What? Cebok!
Benar! Teryata cebok bisa bikin kanker. Hantaman pertama oleh Mas Martin ini
cukup menggelikan. Pertama baca yah cukup terhibur. Tentang korelasi cebok dan
kanker ini dimasukan belio di sub bab Kiat Sukes di Usia Berkepala Tiga. Cukup
imajinatif petualangan pemikiran mas Martin dengan menabrakkan cerita-cerita yang
ada dengan grafik, tabel, fabel, sapu, dan lele. Byar! Hilang teks sastra novel
yang konvensional diacak acak oleh belio. Menjadi serpihan remah-remah peyek.
Namun tetap asih dinikmati bersama nasi pecel kemebul. Oke next.
Mulai ketengan mulailah mas Martin mencoba
menggambar secara perlahan tentang Orba. Salah satu rezim militeristik ala mbah
Harto. Kalo diriku sih membilang rezim ini adalah rezim pentung, dimana ABRI
mempunyai fungsi ganda sebagai salah satu alat negara untuk memerintah
(politik) dan sebagai benteng keamanan. Namun tak jarang mereka #MENCYDUK
orang-orang yang antipemerintah. Keamanan terjamin, nilai tukar rupiah terhadap
dolar AS stabil dikisaran Rp.1.600 s.d.Rp. 2.000 rupiah per dolar. Piye lur? Ish penak jamanku to?
Masyarakat ‘tertib’ atau jika nakal akan ‘ditertibkan’.kata orang ini menjadi
rezim OTORITER. Yah? Aba betul?
Mas Martin dalam novel pertamanya ini juga menyelipkan kejahatan
genosida, kejahatan HAM berat yang nggak selesai-selesai hingga kini. walaupun
sudah lapor ke PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) alias UN (United Nation) tentang
perkara ini. namun PBB seolah tidak ambil pusing tentang kejahatan besar yang
menyangkut nyawa jutaan orang Indonesia ini. hingga belio memlesetkan
organisasi perdamaian dunia ini dengan istilah Persatuan Bayang Bayang atau United Nothing. Selarik tipis, lamat-lamat Anda akan menemukan kata
jendral, kesunyian, #PestaSeks, ikan lele dan ikan tongkol. Yah! Narasinya
mirip Animal Farmnya George Orwell
gitu, tapi ditambah satiran-satiran lucu dan diremuk sedemikian rupa. Oh iya,
Mas Martin itu (paling tidak hingga naskah ini ditulis) belio adalah editor di IndoProgress. Cukup sekian dan
terimakasih. Saya kira cukup review buku yang baru saya baca. Tetap sehat mas
Martin, terus berkarya!
Kata kunci: ikan lele, genosida, Persatuan Bayang Bayang (PBB) , United Nothing (UN)
No comments:
Post a Comment