(sumber gambar: https://majalah.ottencoffee.co.id/4-hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-membeli-biji-kopi/)
Menjadi penikmat kopi ternyata tidak semudah apa yang
dibayangkan. Cangkem yang terbiasa minum kopi sachetan kini sempat gegar cangkem gara-gara merasakan kopi
dengan berbagai macam rasa. Kopi yang saya pikir hanya memiliki rasa pahit,
ternyata memiliki rasa yang begitu bhineka. Iya! Kek Ngindonesa gitu! Persis.
“Rasa kopi tergantung pohon perindangnya” begitu kata mas
Cepot. Ia seorang barista. Biasanya kopi Bali, karena pohon perindannya pohon
jeruk lemon maka rasa kopinya cenderung kecut. Nah itu yang menjadi titikan kopi dadi Pulau Dewata. Namun
rasa kopi bisa dispesifikan lagi menutur tempat dimana kopi itu ditanam. Setiap
tempat memiliki rasanya sendiri sendiri. Meskipun sama-sama dari Bali, rasanya
bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Kopi yang saya coba
kemarin adalah kopi Kintamani. Fix, rasanya asem, pahit. Hmmm…
Kopi enak itu kopi yang syudah tua. Bukan kopi muda.
Ciri-ciri kopi tua adalah buahnya merah bukan ijo. Dalam biji kopi tua terdapat
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang begitu penuh. Makanya jika di roasting alias dibakar, rasanya akan
keluar dan wanginya nauddubilaah. Beda dengan kopi yang masih ijo. Kopi muda
alias kopi yang masih ijo itu bergetah, jika di roasting akan lama matengnya. Dan jika digerus dan dijadikan kopi seduh
maka bisa bisa peminumnya bisa mencret. Yaawlaaa! Lagi, jika peng-roastingan biji kopi antara muda (hijau)
dan tua (merah) dijadikan satu maka akan ada yang harus ngalah. Ngalah disini
entah kopi yang tua harus hancur alias gosong untuk memburu kematangan yang
lebih muda atau jika sudah pada kematangan yang tua, maka biji yang muda tidak
matang dan jadinya akan belang. Yah itu!
Manajemen perkopian tidak lepas dari ulah cukong.
Pengepul-pengepul nakal yang menggoyakan hati petani untuk mendapatkan duit
instan. Merena menawari para petani untuk menjual biji kopi mereka yang masih
hijau. Kalau tidak salah politik seperti ini dinamakan ijon. Dulu juga pernah terjadi pada waktu musim yang tidak
bersahabat, dimana petani padi harus menjual tanaman padinya yang masih hijau
untuk menanggulangi kerugian yang lebih berat. Pastinya para tengkulak (baca:
cukong) itu membeli padi para petani dengan harga sadis. Begitu pula pada kopi.
Di beberapa daerah bertani dengan sistem ijon mungkin terlihat lebih
menguntungkan. Namun jika mereka lebih bersabar mereka akan mendapat hasil yang
cukup menjandikan. Jika kopi hasil ijon itu laku dengan harga 3000/kilo maka
ketika sudah matang merata, harga 1kg biji kopi akan naik hingga 10.000/ kilo.
Weew…. Di Ngindonesa ini, menurut mas Cepot, yang punya menejemen kopi yang
sudah baik ada di Gayo, Sumatra Utara dan Bali. Kedua tempat ini sudah punya
menejemen kopi dan kualiti kontrol yang baik dalam hal perkopian. Tengkulak
nakal tidak bisa mengiming-imingi mereka dengan uang.
Koperasi adalah koenji!. Ketika para petani kopi kesulitan
makan, koperasi seyogyanya harus meminjami mereka uang utnuk makan dan
kebutuhan sehari-hari. Dan nanti akan dibayat ketika musim panen kopi mereka
lakukan. Dan para petani baiknya juga diedukasi tentnag kopi agar kualitas kopi
meraka tetep stabil.
Saya berpikir, gimana kalau kopi yang enak dan bhineka itu kita nikmati
terlebih dahulu, sedang kalau lebih baru kita ekspor. Masak petani kopi tidak
menikmati kopi tandurane dhewe, hanya untuk mencukupi kebutuhan orang luar
negeri. Cukuplah kita diapusi VOC dengan politik kopinya sehingga para petani
kopi tidak bisa merasakan kopinya sendiri. Yah terlepas dari asal muasal kopi
itu. kami bersyukur sudah bisa menikmati kopi enak sebagai karunia Tuhan YME. Selamat
ngopi lur!
No comments:
Post a Comment