Sunday, 23 July 2017

Bahagianya Menjadi Anak Kecil

Hasil gambar untuk open court reading and writing over the moon
(Sumber:amazon.com)

Judul Buku
: Open Court Reading and Writing : Over The Moon
Pengarang
: Carl Bereiter dkk,
Penerbit
: Open Court
Tahun Terbit
: 1989
Cetakan
: Pertama
Tempat Terbit
: Amerika Serikat
Bahasa
: Inggris
Halaman
: 447 hlm
ISBN
: 0-8126-4015-2

Menjadi anak kecil memang begitu menggembirakan. Bisa bermain sepuasnya, tidak usah berpikir yang berat-berat, tidak usah patuh pada tatanan sosial yang berlaku, boleh berlaku seenaknya dan bebas mengimajinasikan sesuatu yang lebih luas. Pikiran anak-anak masih belum tersekat oleh norma-norma orang dewasa. Mereka masih murni untuk menjelajah ruang-ruang yang belum terbuka.
Impian, imajinasi, kreasi, kreatifitas dibentuk ketika dalam masa kecil tersebut. menurut hukum psikologi perkembangan, umur 1 s.d 3 tahun merupakan kesempatan emas untuk mengembangkan potensi-potensi di atas. Potensi-potensi di atas bisa terangsang salah satunya dengan merangsang daya pikirnya menggunakan bacaan. Pembacaan buku cerita oleh orang tua menjelang tidur ataupun mereka dapat membaca buku secara mandiri. Hal ini bisa merangsang tumbukh kembang nalar, imajinasi, daya kreasi, dan emosi mereka secara signifikan.

Saya membayangkan ketika dibacakan buku cerita oleh ibu. Pelan-pelan meresapinya dan sesekali bertanya. Diterangi cahaya yang redup, bantal, kasur, guling dan selimut yang empuk bergambar beruang berwarna biru. Mainan-mainan di atas meja di samping kepala berupa action figure Naruto. Pelan-pelan masuk kedalam dunia khayal membayangkan certita yang disampaikan ibu. Dan ketika telah selesai membacanya ibu mengecup keningku dan mengucapkan selamat tidur. Dan petualangan menembus tingginya bulan pun dimulai.

Mimpiku malam itu indah sekali. Pada detik pertama aku berjumpa dengan hewan-hewan aneh, hewan motologi, dan cerita-cerita lama yang mengagumi betapa syahdunya hal itu. Impian perlahan mulai menyentuh kekenyataan. Tidak lagi perkara hewan-aneh. Kali ini aku bertemu sahabat-sahabat lama yang begitu riang gembira bermain bersama. Ana Ani, Budi dan Ratna. Kami lari lari bersama riang gembira. Bagian ketiga dari cerita aku bertemu dengan Prometheus yang mebcuri api Zeus dan diberikannya kepada manusia. dan karena itu manusia menjadi penguasa dunia, namun sayang malang bagi Prometheus, ia harus menjalani hukuman yang diberikan Zeus.

Mimpiku sekarang bertambah nyata. Aku bersama teman-teman membuat layang-layang. Setelah layang-layang sudah siap aku membawanya ketebing hijau curam pinggir laut yang biru ditemani suara camar, disana aku dan teman-teman bermain layangan sepuasnya, riang gembira. Disaat yang sama aku jadi teringat temanku yang lain yang tidak bisa main layangan pagi itu. kemarin ia habis jatuh dari pohon makannya kata ibunya ia harus istirahat untuk memulihkan kondisinya dulu baru bisa bermain bersama kami.

Semuanya berubah aku tersedot oleh lubang hitam. Aku tidak lagi berada di pinggir pantai dengan perpaduan hijau dan biru serta semilir angin dan burung camar. Tiba tiba anganku terlempat kepada sebuah lembar monokromatik. Disama aku disuguhkan kepada penemuan-penemuan yang luar biasa: Awal Revolusi Industri. Penemuan mesin uap yang menjadi prototype mesin-mesin jaman sekarang. Awal mulanya hanya sebuah penemuan yang kurang berarti dan kini menjadi mesin penyedot sumber daya yang luar bersatu dengan manusia yang serakah. Jadilah mesin penghancur yang mengerikan. Dan aku kini tengah memakai salah satu produknya. Dari situ muncul bank-bank konvensional yang bertembah terus menerus. Dolar-dolar senengtiansa mengalir menggati pohon-pohon yang tumbang. Lahan kering dan tandus. Air? Lupakan!

HIngga pada suatu waktu ketika setiap kejenuhan mulai memuncak, tejadilah bencana. Bencana alam dan bencana kemanusiaan hadir secara bersamaan. Melumat manusia yang katanya bisa menjaga dan merawat. Bergantilah manusia-manusia lama dengan manusia baru yang lebih open dengan keadaan alam. Manusia-manusia baru sahabat alam. Kini dalam mimpi, aku merenenung di sembuah kamar dengan lampu led berwarna putih. Sejenak kupandangi layar-layar monokrom yang tersaji. Perlahan berganti dari satu warna-kewarna lain. Muncul kemudian hilang.

Dan aku pun telah sadar dengan suara adzan Subuh. Nanti akan aku tuliskan kejadian yang begitu panjang melewati ceruk-ceruk imaji yang dalam setelah aku menghadap Tuhanku di Shalat Subuh ini.
Sekian.

No comments:

Post a Comment