
(Sumber:amazon.com)
Judul Buku
|
: Open Court Reading and Writing :
Over The Moon
|
Pengarang
|
: Carl Bereiter dkk,
|
Penerbit
|
: Open Court
|
Tahun Terbit
|
: 1989
|
Cetakan
|
: Pertama
|
Tempat Terbit
|
: Amerika Serikat
|
Bahasa
|
: Inggris
|
Halaman
|
: 447 hlm
|
ISBN
|
: 0-8126-4015-2
|
Menjadi anak kecil memang begitu menggembirakan. Bisa
bermain sepuasnya, tidak usah berpikir yang berat-berat, tidak usah patuh pada
tatanan sosial yang berlaku, boleh berlaku seenaknya dan bebas mengimajinasikan
sesuatu yang lebih luas. Pikiran anak-anak masih belum tersekat oleh
norma-norma orang dewasa. Mereka masih murni untuk menjelajah ruang-ruang yang
belum terbuka.
Impian, imajinasi, kreasi, kreatifitas dibentuk
ketika dalam masa kecil tersebut. menurut hukum psikologi perkembangan, umur 1
s.d 3 tahun merupakan kesempatan emas untuk mengembangkan potensi-potensi di
atas. Potensi-potensi di atas bisa terangsang salah satunya dengan merangsang
daya pikirnya menggunakan bacaan. Pembacaan buku cerita oleh orang tua menjelang
tidur ataupun mereka dapat membaca buku secara mandiri. Hal ini bisa merangsang
tumbukh kembang nalar, imajinasi, daya kreasi, dan emosi mereka secara
signifikan.
Saya membayangkan ketika dibacakan buku cerita
oleh ibu. Pelan-pelan meresapinya dan sesekali bertanya. Diterangi cahaya yang
redup, bantal, kasur, guling dan selimut yang empuk bergambar beruang berwarna
biru. Mainan-mainan di atas meja di samping kepala berupa action figure Naruto.
Pelan-pelan masuk kedalam dunia khayal membayangkan certita yang disampaikan
ibu. Dan ketika telah selesai membacanya ibu mengecup keningku dan mengucapkan
selamat tidur. Dan petualangan menembus tingginya bulan pun dimulai.
Mimpiku malam itu indah sekali. Pada detik
pertama aku berjumpa dengan hewan-hewan aneh, hewan motologi, dan cerita-cerita
lama yang mengagumi betapa syahdunya hal itu. Impian perlahan mulai menyentuh
kekenyataan. Tidak lagi perkara hewan-aneh. Kali ini aku bertemu
sahabat-sahabat lama yang begitu riang gembira bermain bersama. Ana Ani, Budi
dan Ratna. Kami lari lari bersama riang gembira. Bagian ketiga dari cerita aku
bertemu dengan Prometheus yang mebcuri api Zeus dan diberikannya kepada
manusia. dan karena itu manusia menjadi penguasa dunia, namun sayang malang
bagi Prometheus, ia harus menjalani hukuman yang diberikan Zeus.
Mimpiku sekarang bertambah nyata. Aku bersama
teman-teman membuat layang-layang. Setelah layang-layang sudah siap aku
membawanya ketebing hijau curam pinggir laut yang biru ditemani suara camar,
disana aku dan teman-teman bermain layangan sepuasnya, riang gembira. Disaat
yang sama aku jadi teringat temanku yang lain yang tidak bisa main layangan
pagi itu. kemarin ia habis jatuh dari pohon makannya kata ibunya ia harus
istirahat untuk memulihkan kondisinya dulu baru bisa bermain bersama kami.
Semuanya berubah aku tersedot oleh lubang hitam. Aku
tidak lagi berada di pinggir pantai dengan perpaduan hijau dan biru serta
semilir angin dan burung camar. Tiba tiba anganku terlempat kepada sebuah
lembar monokromatik. Disama aku disuguhkan kepada penemuan-penemuan yang luar
biasa: Awal Revolusi Industri. Penemuan mesin uap yang menjadi prototype mesin-mesin
jaman sekarang. Awal mulanya hanya sebuah penemuan yang kurang berarti dan kini
menjadi mesin penyedot sumber daya yang luar bersatu dengan manusia yang
serakah. Jadilah mesin penghancur yang mengerikan. Dan aku kini tengah memakai
salah satu produknya. Dari situ muncul bank-bank konvensional yang bertembah
terus menerus. Dolar-dolar senengtiansa mengalir menggati pohon-pohon yang
tumbang. Lahan kering dan tandus. Air? Lupakan!
HIngga pada suatu waktu ketika setiap kejenuhan
mulai memuncak, tejadilah bencana. Bencana alam dan bencana kemanusiaan hadir
secara bersamaan. Melumat manusia yang katanya bisa menjaga dan merawat.
Bergantilah manusia-manusia lama dengan manusia baru yang lebih open dengan
keadaan alam. Manusia-manusia baru sahabat alam. Kini dalam mimpi, aku
merenenung di sembuah kamar dengan lampu led berwarna putih. Sejenak kupandangi
layar-layar monokrom yang tersaji. Perlahan berganti dari satu warna-kewarna
lain. Muncul kemudian hilang.
Dan aku pun telah sadar dengan suara adzan Subuh.
Nanti akan aku tuliskan kejadian yang begitu panjang melewati ceruk-ceruk imaji
yang dalam setelah aku menghadap Tuhanku di Shalat Subuh ini.
Sekian.
No comments:
Post a Comment