Tuesday, 1 May 2018

Lima Unsur yang Sedang Goyang

Hasil gambar untuk pancaroba

(sumber: https://sijai.com/cara-menjaga-kesehatan-tubuh/)


Nglamun siang-siang

Siang ini Yogyakarta panas banget lur. Apa lagi dengan kondisi kosan yang sempit dan ndak punya kipas angin. Sekarang sudah jarang hujan, dan menurut penelitan saya, hari-hari ini sudah masuk musim pancaroba. Alias pergantian musim.
Pancaroba menurut analisis saya berasal dari kata Panca artinya lima robba artinya banjir yang ndak lazim. Lima unsur yang gonjang-ganjing pada masa transisi ini adalah, menurut saya adalah tanah, air, udara, api dan prana. Kelima unsur itu dalam masa transisi ini, goyah, ingin menemukan keseimbangan kembali. Kelima unsur itu menjadi penyusun manusia secara keseluruhan. Aspek lahiriyah dan batiniah. Raga dan sukma.

Pada masa pancaroba banyak kejadian yang menyita perhatian. Sebut saja angin rebut, hujan deras, danah longsor dan kebakaran, selain itu manusianya juga ikut-ikutan koplo atau bodoh mendadak. Yah mungkin karena pancaroba ini ya? Ingat banjir di Lapindo beberapa waktu lalu? Lapindo Brantas, Sidoarjo entah kenama kemarin belum lama ada banjir. Penyebabnya tidak diketahui. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba air menggenang sengingga manyulikan orang yang bepergian ke atau menusi Sidoarjo dan sekitarnya.

Lain banjir, belum lama juga ada berita tentang angin putting beliung. Angin ini melanda daerah Yogya pinggir dan sekitarnya. Namanya lucu sih, seperti bunga. Tapi dampaknya lumayan merusak. Puluhan rumah gentingya amblas dan banyak pohon tumbang. Masalah korban jiwa saya kurang mengetahui. Namun saat ini sudah reda karena sudah ditangani oleh pihak yang berwenang.

Gempa bumi, kemarin sekitar bulan Mei atau April pertengahan Banjarnegara diguncang gempa. Gempa yang mengguncang tidak begitu kuat namun bisa merobohkan beberapa rumah warga. Disinyalir episentrum gempa berada di permukaan. Makanya dampak kerusakan lumayan terasa.

Kebakaran. Ingat sumur minyak ilegal yang ada Di Nangroe Aceh Darusalam? Sumur minyak ilegal milik warga kemarin sempat meledak dan mengeluarkan semburan api setinggi 70 meter. Entah karena pembuangan putung rokok sembarangan atau karena ada hal lain yang menyulut api tersebut. dilaporkan korban jiwa sekitar 20an orang.

Dan yang terakhir. Adalah prana atau sukma. Banyak manusia pada hari ini lupa akan kemanusiaannya. Emosi masih ditonjolkan dalam mengambil keputusan. Penarasian fakta menjadi pertimbangan kesekitan. Hal ini menjadikan manusia limbung tidak karu-karuan. Apalagi diperparah dengan masifnya peredaran berita bohong atau hoaks. Seakan-akan kita tidak aman atas saudara kia sendiri. Mulai dari pemikiran dan keputusan yang kita ambil kita menyisipkan keraguan di dalamnya. Sehingga kemantapan pilihan itu menjadi barang mahal sekarang ini.

Zamannya memang seperti ini. Semoga kita bisa melewati halangan ini dengan tabah. Meluaskan dan mendalamkan pemahaman tentang segala sesuatu yang kita bisa. Mumpung masih diberi kesempatan oleh sang Maha Kuasa.

“Jika tahun-tahun depan ujianMu datang, Gusti, saya mohon ringankanlah ujianMu atau kuatkanlah tekad hamba dan berilah kesabaran menjalani kebenaran ini.”  

Lingga Fajar
Sleman, Selasa 2 Mai 2018

No comments:

Post a Comment