
(sumber: https://sijai.com/cara-menjaga-kesehatan-tubuh/)
Nglamun
siang-siang
Siang ini Yogyakarta panas banget
lur. Apa lagi dengan kondisi kosan yang sempit dan ndak punya kipas angin. Sekarang
sudah jarang hujan, dan menurut penelitan saya, hari-hari ini sudah masuk musim
pancaroba. Alias pergantian musim.
Pancaroba menurut analisis saya
berasal dari kata Panca artinya lima robba artinya banjir yang ndak lazim. Lima
unsur yang gonjang-ganjing pada masa transisi ini adalah, menurut saya adalah
tanah, air, udara, api dan prana. Kelima unsur itu dalam masa transisi ini,
goyah, ingin menemukan keseimbangan kembali. Kelima unsur itu menjadi penyusun
manusia secara keseluruhan. Aspek lahiriyah dan batiniah. Raga dan sukma.
Pada masa pancaroba banyak kejadian
yang menyita perhatian. Sebut saja angin rebut, hujan deras, danah longsor dan
kebakaran, selain itu manusianya juga ikut-ikutan koplo atau bodoh mendadak. Yah
mungkin karena pancaroba ini ya? Ingat banjir di Lapindo beberapa waktu lalu? Lapindo
Brantas, Sidoarjo entah kenama kemarin belum lama ada banjir. Penyebabnya tidak
diketahui. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba air menggenang sengingga
manyulikan orang yang bepergian ke atau menusi Sidoarjo dan sekitarnya.
Lain banjir, belum lama juga ada
berita tentang angin putting beliung. Angin ini melanda daerah Yogya pinggir
dan sekitarnya. Namanya lucu sih, seperti bunga. Tapi dampaknya lumayan
merusak. Puluhan rumah gentingya amblas dan banyak pohon tumbang. Masalah korban
jiwa saya kurang mengetahui. Namun saat ini sudah reda karena sudah ditangani
oleh pihak yang berwenang.
Gempa bumi, kemarin sekitar bulan
Mei atau April pertengahan Banjarnegara diguncang gempa. Gempa yang mengguncang
tidak begitu kuat namun bisa merobohkan beberapa rumah warga. Disinyalir episentrum
gempa berada di permukaan. Makanya dampak kerusakan lumayan terasa.
Kebakaran. Ingat sumur minyak ilegal
yang ada Di Nangroe Aceh Darusalam? Sumur minyak ilegal milik warga kemarin
sempat meledak dan mengeluarkan semburan api setinggi 70 meter. Entah karena
pembuangan putung rokok sembarangan atau karena ada hal lain yang menyulut api
tersebut. dilaporkan korban jiwa sekitar 20an orang.
Dan yang terakhir. Adalah prana atau
sukma. Banyak manusia pada hari ini lupa akan kemanusiaannya. Emosi masih
ditonjolkan dalam mengambil keputusan. Penarasian fakta menjadi pertimbangan
kesekitan. Hal ini menjadikan manusia limbung tidak karu-karuan. Apalagi diperparah
dengan masifnya peredaran berita bohong atau hoaks. Seakan-akan kita tidak aman
atas saudara kia sendiri. Mulai dari pemikiran dan keputusan yang kita ambil
kita menyisipkan keraguan di dalamnya. Sehingga kemantapan pilihan itu menjadi
barang mahal sekarang ini.
Zamannya memang seperti ini. Semoga
kita bisa melewati halangan ini dengan tabah. Meluaskan dan mendalamkan
pemahaman tentang segala sesuatu yang kita bisa. Mumpung masih diberi
kesempatan oleh sang Maha Kuasa.
“Jika
tahun-tahun depan ujianMu datang, Gusti, saya mohon ringankanlah ujianMu atau kuatkanlah tekad hamba dan berilah
kesabaran menjalani kebenaran ini.”
Lingga Fajar
Sleman, Selasa 2 Mai 2018
No comments:
Post a Comment