Friday, 8 May 2020

Futuhat Makiyah jilid 2 : sebuah coretan singkat tentang Bismilah



Judul Buku
: Al Futuhat Al Makiyah : Risalah tentang Makrifah Rahasia-rahasia Sang Raja dan KerajaanNya Jilid 2
Pengarang
: Ibnu Arabi, alih bahasa oleh Harun Nur Rosyid
Penerbit
: Darul Futuhat
Tahun Terbit
: 2018
Cetakan
: Kedua
Tempat Terbit
: Indonesia
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: xlii+408 hlm
ISBN
: 978.602.7398.85-3

Membaca sebuah masterpiece dari seorang ilmuan dan juga sufi jujur merupakan hal yang feeling good bagiku. Dari membaca sebuah karya ini aku menemukan keruntutan berpikir, logika dan tak ketinggalan adalah sebuah insight keilahian yang kadang relevan dalam hidupku sebagai manusia. Yah, gak bisa dipungkiri lagi beliau juga manusia. Sisi kemanusiaan itu ada dan menjadikannya ya sepertiku, kamu dan orang lain. Makan, minum dan berdoa pada Tuhannya. That’s it. Namun disamping ada kesamaan, aku dan dia berbeda wadah, waktu, momentum, horizon social dan kemasyarakatan..

Malam ini malam bulan purnama ramadhan 1441 Hijriah. Masa-masa sulit karena adanya pagebluk Covid 19. Entah kenapa aku ingin menulis lagi. Sebenarnya gabut sih, hehe. Sambil menghisap rokok jarum super. Dan diiringi lagu Putih dari Efek Rumah Kaca kata-kata meluncur di lembar word putih. Paragraph demi paragraph aku tulis perlahan agar supaya tidak kehabisan nafas narasi. Malam ini terasa sangat hening. Tak ada yang keluar rumah. Dalam hening ini kadang aku mikir apakah covid itu tahu siang dan malam ya? Maksudku pemberlakuan jam malam untuk pagebluk ini saya rasa kurang tepat sih. Apakah kalo siang covid 19 takut? Atau malam covid 19 tidur? entahlah. Yah kembali lagi, itu asumsi pribadi saja. Seep yuk mulai.

Buku yang akan diresensi kali ini adalah buku sang maestro sufi, Ibnu Arabi, seorang penganut tasawuf filsafati berasal dari Andalusia Spanyol 1165 (maaf ini keterangan dari Wikipedia). Ibnu Arabi mendapat julukan sang belerang merah. Menurut wikiperdia juga, Ibnu Arabi menganut konsep wahdatul wujud. Fyi, wahdatul wujud adalah sebuah konsep lelaku tasawuf yang garis besarnya adalah penyatuan antara ciptaan dan Tuhannya. Tokoh-tokoh yang sejalan dengan ini adalah Al Halaj, atau ketika kita melihat Nusantara kita akan bertemu dengan Syeh Lemah Abang (Syeh Siti Jenar) di kerajaan Demak Bintara. Sebenarnya masih lumayan banyak narasi yang berkaitan dengan konsep wahdatul wujud ini. Assalamualaina waalaibadillahi sholihin. Keselamatan atas kalian para abdi Allah Swt. dan orang-orang saleh semua.

Buku yang akan saya review disini adalah buku Futuhat Makiyah Julid 2. Futuhat Makiyah sendiri ada beberapa jilid. Yang setiap jilid memiliki tema tema besar tersendiri. Pada jilid 2 pun begitu. Banyak sub bab yang ada di dalam buku itu. Buku ini lumayan tebal sekiar 300 + lembar. Dan beruntungnya buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Harun. Yang sekarang juga masih  berproses untuk menterjemahkan jilid-jilid selanjutnya dari kitab Futuhat Makiyah. Banyak kisah luar biasa dibalik penterjemahan Futuhat. Tapi ranahnya bukan disini. Hehee

Pesan dari saya sebagai pembaca yang masih awam ini adalah: buku ini lumayan berat dari segi isi. Banyak hal-hal baru yang bagi saya masih bingung dalam mencerna kalimat. Jadi untuk membacaya diselang seling. Hehe. Tapi kemarin untuk pembacaan buku ini saya tabrak aja secara urut entah itu masuk atau tidak. Karena masuk, paham, itu urusan yang diatas. Hehe.

Pertama yang saya dapat dari buku ini adalah sebuah narasi tentang Bismillah. Bismilah merupakan Ayat pertama dari surat alfatihah. Disini huruf arab itu dipreteli satu persatu dan dimaknai begitu dalam, huruf pertama dari alfatihah adalah huruf ba. Dalam huruf ba sendiri adalah titik awal mula kehidupan. Tatanan seharusnya yang harus dipatuhi secara sadar atau pun tidak, secara terpaksa ataupun dengan senang hati. hirarkis antar khalik dan makhluk. Antara Pencipta dan yang yang diciptakan. Jika dipreteli huruf ba sendiri terdiri dari sebuah garis lengkung seperti kapal yang dibawahnya ada titik. Bentuk garis lengkung pada huruf ba melambangkan  kuasa tuhan dan titik yang ada di bawahnya adalah ciptaan. Ciptaan disini meliputi alam raya, manusia, hewan, tumbuhan mineral dan lain-lain. Segala  ciptaan berbagi ruang di sebuah titik. Jika titik itu ketika dibuka berisi alam raya dan manusia di dalamnya. Disini manusia seharusnya minder. Kamu punya apa? Kamu bisa apa? Kamu punya upaya usaha apa? Punya daya apa? Hingga menganggap dirimu penting, Ruang untuk sombong seharusnya tidak ada. Lelaku manusia sebagai khalifah tidak adakan terjadi apabila tidak atas karena cinta dan juga kasih saying dan pertolonganNya.

Sedangkan kuasa Tuhan melingkupinya secara mutlak sehingga titik itu melebur dalam keagunganNya. Segala yang ada bersandar pada kemahaanNya menyerah tanpa syarat. Sesuai dan presisi dengan sunatullah dan kodratnya. Hanya manusia yang agak khusus, dia diberi pilihan utuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Kebaikan atau keburukan, kegelapan atau cahaya yang terang.. Dia bisa memilih. Alam raya, hewan, tumbuhan, mineral tidak. Tapi ini yang membuat manusia sombongnya bukan main. Sok soakan. Dia kira Tuhan butuh? Tidak sama sekali. Yang butuh adalah ciptaan itu sendiri terhadap belas kasih tuhannya. Adanya ciptaan adalalah untuk menyembah. Tuhan tidak akan batal menjadi tuhan ketika manusia ataupun alam raya tidak menyembahnya.  

Kedua yang saya dapat di buku ini adalah kanjeng nabi Muhammad yang sudah ada sebelum alam diciptakan. Jujur kaget, bagaimana ceritanya kanjeng nabi Muhammad yang lahir di 400 an masehi itu bisa ada pada awal pencipaan bumi langit ini? Kanjeng nabi Muhammad dalam wujud software menjadi cetak biru alam semesta seisinya. Nur Muhammad atau hakikat Muhammadiyah menjadi dasar semua sunatullah dan kodratullah atas semua ciptaan yang ada di alam semesta. “Aku telah menjadi nabi ketika Adam masih berwujud air dan tanah”. Dan setelah kanjeng nabi diwujudkan oleh Allah swt pada 22 april 571. Beliau menjadi kabar gembira untuk manusia dan alam semesta. Shalawlahu alla Muhammad. Kanjeng nabi Muhammad sebagai manusia yang dilahirkan dari ayah bernama Abdullah dan ibu bernama Aminah. Ada pertayaan retorik yang menarik di buku ini. Retorik itu berbunyi : “Nabi Adam dan Nabi Muhammad jika dibandingkan tingkat kesulitannya di bumi susah mana?”

Kelahiran beliau juga berimplikasi pada tatanan nature blessing setelahnya. Manusia-manusia luar biasa akan lahir lebih banyak dari pada sebelum beliau lahir ke bumi. Daratan arab punya Alkawarismi, di spanyol ada Ibnu Arabi, di barat ada Wewton, Einstein, Da Vinci dan di Nusantara sendiri ada Prabu Jayabaya, Hayamuwuk, Sunan Kalijaga, Syek Siti Jenar. Sebelum beliau lahir apakah tidak ada? Tentu saja ada, namun dari segi kuantitaas/ jumlahnya tidak sebanyak ketika beliau lahir. Sebut saja aristoteles, plato, Socrates, isa bin Maryam, budha, dll. Mungkin cukup dulu resensi untuk hari ini. Terpujilah engkau kanjeng nabi. Salam dariku yang bukan apa-apa ini. Allahuma sholiala sayidina Muhammad.




No comments:

Post a Comment