|
Judul Buku
|
: Al Futuhat Al Makiyah : Risalah
tentang Makrifah Rahasia-rahasia Sang Raja dan KerajaanNya Jilid 2
|
|
Pengarang
|
: Ibnu Arabi, alih bahasa oleh Harun
Nur Rosyid
|
|
Penerbit
|
: Darul Futuhat
|
|
Tahun Terbit
|
: 2018
|
|
Cetakan
|
: Kedua
|
|
Tempat Terbit
|
: Indonesia
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: xlii+408 hlm
|
|
ISBN
|
: 978.602.7398.85-3
|
Membaca sebuah masterpiece dari seorang ilmuan dan juga
sufi jujur merupakan hal yang feeling
good bagiku. Dari membaca sebuah karya ini aku menemukan keruntutan
berpikir, logika dan tak ketinggalan adalah sebuah insight keilahian yang
kadang relevan dalam hidupku sebagai manusia. Yah, gak bisa dipungkiri lagi
beliau juga manusia. Sisi kemanusiaan itu ada dan menjadikannya ya sepertiku,
kamu dan orang lain. Makan, minum dan berdoa pada Tuhannya. That’s it. Namun disamping ada kesamaan,
aku dan dia berbeda wadah, waktu, momentum, horizon social dan kemasyarakatan..
Malam ini malam
bulan purnama ramadhan 1441 Hijriah. Masa-masa sulit karena adanya pagebluk
Covid 19. Entah kenapa aku ingin menulis lagi. Sebenarnya gabut sih, hehe.
Sambil menghisap rokok jarum super. Dan diiringi lagu Putih dari Efek Rumah
Kaca kata-kata meluncur di lembar word
putih. Paragraph demi paragraph aku tulis perlahan agar supaya tidak kehabisan
nafas narasi. Malam ini terasa sangat hening. Tak ada yang keluar rumah. Dalam hening
ini kadang aku mikir apakah covid itu tahu siang dan malam ya? Maksudku
pemberlakuan jam malam untuk pagebluk ini saya rasa kurang tepat sih. Apakah kalo
siang covid 19 takut? Atau malam covid 19 tidur? entahlah. Yah kembali lagi,
itu asumsi pribadi saja. Seep yuk mulai.
Buku yang akan
diresensi kali ini adalah buku sang maestro sufi, Ibnu Arabi, seorang penganut
tasawuf filsafati berasal dari Andalusia Spanyol 1165 (maaf ini keterangan dari
Wikipedia). Ibnu Arabi mendapat julukan sang belerang merah. Menurut wikiperdia
juga, Ibnu Arabi menganut konsep wahdatul wujud. Fyi, wahdatul wujud adalah
sebuah konsep lelaku tasawuf yang garis besarnya adalah penyatuan antara
ciptaan dan Tuhannya. Tokoh-tokoh yang sejalan dengan ini adalah Al Halaj, atau
ketika kita melihat Nusantara kita akan bertemu dengan Syeh Lemah Abang (Syeh
Siti Jenar) di kerajaan Demak Bintara. Sebenarnya masih lumayan banyak narasi
yang berkaitan dengan konsep wahdatul wujud ini. Assalamualaina waalaibadillahi
sholihin. Keselamatan atas kalian para abdi Allah Swt. dan orang-orang saleh
semua.
Buku yang akan
saya review disini adalah buku Futuhat Makiyah Julid 2. Futuhat Makiyah sendiri
ada beberapa jilid. Yang setiap jilid memiliki tema tema besar tersendiri. Pada
jilid 2 pun begitu. Banyak sub bab yang ada di dalam buku itu. Buku ini lumayan
tebal sekiar 300 + lembar. Dan beruntungnya buku ini sudah diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia oleh mas Harun. Yang sekarang juga masih berproses untuk menterjemahkan jilid-jilid
selanjutnya dari kitab Futuhat Makiyah. Banyak kisah luar biasa dibalik
penterjemahan Futuhat. Tapi ranahnya bukan disini. Hehee
Pesan dari saya
sebagai pembaca yang masih awam ini adalah: buku ini lumayan berat dari segi
isi. Banyak hal-hal baru yang bagi saya masih bingung dalam mencerna kalimat.
Jadi untuk membacaya diselang seling. Hehe. Tapi kemarin untuk pembacaan buku
ini saya tabrak aja secara urut entah itu masuk atau tidak. Karena masuk,
paham, itu urusan yang diatas. Hehe.
Pertama yang
saya dapat dari buku ini adalah sebuah narasi tentang Bismillah. Bismilah
merupakan Ayat pertama dari surat alfatihah. Disini huruf arab itu dipreteli
satu persatu dan dimaknai begitu dalam, huruf pertama dari alfatihah adalah
huruf ba. Dalam huruf ba sendiri adalah titik awal mula kehidupan. Tatanan
seharusnya yang harus dipatuhi secara sadar atau pun tidak, secara terpaksa
ataupun dengan senang hati. hirarkis antar khalik dan makhluk. Antara Pencipta
dan yang yang diciptakan. Jika dipreteli huruf ba sendiri terdiri dari sebuah
garis lengkung seperti kapal yang dibawahnya ada titik. Bentuk garis lengkung pada
huruf ba melambangkan kuasa tuhan dan
titik yang ada di bawahnya adalah ciptaan. Ciptaan disini meliputi alam raya,
manusia, hewan, tumbuhan mineral dan lain-lain. Segala ciptaan berbagi ruang di sebuah titik. Jika titik
itu ketika dibuka berisi alam raya dan manusia di dalamnya. Disini manusia
seharusnya minder. Kamu punya apa? Kamu bisa apa? Kamu punya upaya usaha apa?
Punya daya apa? Hingga menganggap dirimu penting, Ruang untuk sombong
seharusnya tidak ada. Lelaku manusia sebagai khalifah tidak adakan terjadi
apabila tidak atas karena cinta dan juga kasih saying dan pertolonganNya.
Sedangkan kuasa
Tuhan melingkupinya secara mutlak sehingga titik itu melebur dalam
keagunganNya. Segala yang ada bersandar pada kemahaanNya menyerah tanpa syarat.
Sesuai dan presisi dengan sunatullah dan kodratnya. Hanya manusia yang agak
khusus, dia diberi pilihan utuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh.
Kebaikan atau keburukan, kegelapan atau cahaya yang terang.. Dia bisa memilih.
Alam raya, hewan, tumbuhan, mineral tidak. Tapi ini yang membuat manusia
sombongnya bukan main. Sok soakan. Dia kira Tuhan butuh? Tidak sama sekali.
Yang butuh adalah ciptaan itu sendiri terhadap belas kasih tuhannya. Adanya
ciptaan adalalah untuk menyembah. Tuhan tidak akan batal menjadi tuhan ketika
manusia ataupun alam raya tidak menyembahnya.
Kedua yang saya
dapat di buku ini adalah kanjeng nabi Muhammad yang sudah ada sebelum alam
diciptakan. Jujur kaget, bagaimana ceritanya kanjeng nabi Muhammad yang lahir
di 400 an masehi itu bisa ada pada awal pencipaan bumi langit ini? Kanjeng nabi
Muhammad dalam wujud software menjadi cetak biru alam semesta seisinya. Nur
Muhammad atau hakikat Muhammadiyah menjadi dasar semua sunatullah dan
kodratullah atas semua ciptaan yang ada di alam semesta. “Aku telah menjadi
nabi ketika Adam masih berwujud air dan tanah”. Dan setelah kanjeng nabi
diwujudkan oleh Allah swt pada 22 april 571. Beliau menjadi kabar gembira untuk
manusia dan alam semesta. Shalawlahu alla Muhammad. Kanjeng nabi Muhammad
sebagai manusia yang dilahirkan dari ayah bernama Abdullah dan ibu bernama
Aminah. Ada pertayaan retorik yang menarik di buku ini. Retorik itu berbunyi :
“Nabi Adam dan Nabi Muhammad jika dibandingkan tingkat kesulitannya di bumi susah
mana?”
Kelahiran beliau
juga berimplikasi pada tatanan nature blessing setelahnya. Manusia-manusia luar
biasa akan lahir lebih banyak dari pada sebelum beliau lahir ke bumi. Daratan
arab punya Alkawarismi, di spanyol ada Ibnu Arabi, di barat ada Wewton, Einstein,
Da Vinci dan di Nusantara sendiri ada Prabu Jayabaya, Hayamuwuk, Sunan Kalijaga,
Syek Siti Jenar. Sebelum beliau lahir apakah tidak ada? Tentu saja ada, namun
dari segi kuantitaas/ jumlahnya tidak sebanyak ketika beliau lahir. Sebut saja
aristoteles, plato, Socrates, isa bin Maryam, budha, dll. Mungkin cukup dulu
resensi untuk hari ini. Terpujilah engkau kanjeng nabi. Salam dariku yang bukan
apa-apa ini. Allahuma sholiala sayidina Muhammad.

No comments:
Post a Comment