
Sumber : caknun.com
Saya datang terlambat pada rilis
buku baru yang dilakukan mbah Nun Di Bentang Pustaka jalan Plemburan, Ring Road
Utara, Yogyakarta. Mendung mememani laju Honda prima 89’
Saya langsung masuk dan duduk
dekat dengan tukang sound dan dokumentasi. Saya duduk disana agar lebih bisa
menikmati ngaji ini dengan khidmat.
Beberapa poin saya skip disini
karena saya rasa ‘kurang penting’ atau mungkin sebuah alasan pembenaran karena
saya lupa materi huihi….
Pada pertengahan acara lunching
buku Tadabur Daur, Sebuah makna diajukan mbah Nun untuk membahas keadaan di
Indonesia yang sedang ruwet ini. menyadur tentang masalah penciptaan alam
semesta dan isinya. Apakah alam semesta diciptakan dalam satu kali Kun atau
melewati proses selama enam hari peciptaan?
Inilah mbah Nun dengan segala kemisteriusnnya mengungkap dua argumen
yang seolah saling bertentangan ini.
“Allah itu menciptakan alam
semesta dengan Kun atau melalui proses penciptaan selama enam hari?” Begitu
kata mbah Nun di acara tadabur daur yang diadakan di Bentang Pustaka, kemarin
(12/6/2017).
Para peserta diam. Saya diam.
Angin juga diam. Semua tertegun atas pertanyaan yang diberikan mbah Nun.
Mbah Nun disana itu untuk melunching
buku barunya Daur #3 dan Daur #4. Hingga kini Daur, milik mbah Nun yang
diterbitkan Bentang Pustaka sudah genap empat buah. Yaitu, Tadabur Daur 1-4.
Kembali ke pertanyaan di atas.
Pertanyaan yang diajukan mbah Nun masih belum ada yang berani menjawab.
Sedetik, sepuluh detik. Dan akhirnya mbah Nun sendiri yang menjawab.
“Kalau saya begini Rek! Allah itu
menciptakan alam semesta itu ya dalam satu waktu. yaitu setelah _Kun fa yakun_. Untuk waktu yang
berjumlah enam hari itu adalah waktu yang dibutuhkan oleh para mahkuk untuk
berevolusi. Nanging iki ya karanganu ae Rek!”
“Engko nek Gusti Allah nyeneni,
aku ngomong, Lha Njenengan boten maringi keterangan ya tak karang dewe Gusti.
Tapi sing penting niyate apik.” Tambah
Mbah Nun.
Kami tertawa sebentar, namun juga
masih pusing apa yang dikarepkan oleh mbah Nun. Kami mencoba mencerna apa yang
disampaikan mbah Nun dan masih belum paham.
“Ngene!. Sing masalah Kun kuwi
wis padha ngerti kabeh ta?” Mbah Nun mencoba klarifikasi pada kami.
“Nah saiki sing masalah
penciptaan sing jumlahe enam hari kuwi. Nek penjabaranku ngene Rek! Enam hari
kuwi merupakan proses evolusi yang dilakukan makhluk untuk mencapai
kesemprunaan”
“Dina pertama Gusti Allah
nyiptakake benda (batu, air,
api,udara, dll.), dina selanjute
nyiptakake benda yang bertumbuh (lumut,
perdu, pohon, dkk.) , dina ketelu
nyiptake benda bertumbuh bernafsu (hewan), dina kepapat nyiptakake benda, bertumbuh, bernafsu, berakal yakuwi
jenenge manungsa. Dina kelima, manungsa sing wis nduwe akal mau munggah tingkat
dari Abdullah. Ngabdi Neng Ngarsaning
Gusti Allah. Nah sing posisi terakhir kuwi jenenge Kalifah.”
Saya mencoba mencerna apa yang
diutrakan Mbah Nun.
“Nah sing jenenge Abdulah kuwi
manunsa sing wis isa mendayagunakan akale kanggo ngabdi marang Gustine. Nek
Khalifah sak liyane ngabdi marang Gustine.
Tugase tambah ngolah nduya saisine.”
“Nek saiki urung. Urung wayahe
khilafah sing dikarepke karo HTI dkk.. Kae sing jenenge HTI, FPI karo
kanca-kancane kae urung mudheng karo apa sing dikarepke karo enam hari proses
penciptaan kuwi mau.”
“Nek upama khilafah diterapke
saiki, khilafah bakal mbabat entek apa sing wujude alang-alang, wit-witan,
suket teki, termasuk Pancasila kuwi bakal dibabat kanggo mendirikan khilafah.
Mengkone wediku bakal ana banjir getih kaya biyen.” Kata mbah Nun.
Saya mencoba membayangkan banjir
darah yang dulu dilakukan pada zaman PKI. Dan takutnya jika sistem khilafah ini
diterapkan akan akan ‘menyeragamkan’ perbedaan yang ada. Sehingga sesuatu yang
tidak sama akan dibumi hanguskan tanpa sisa dan acara banjir darah seperti
tahun 65’ akan terjadi kembali. Hal itu yang ditakutkan.
“Nek menurut aturan evolusi mau,
saiki iki lagi hari ke tiga. Yooo nek ana luwihe paling antarane 3.5 nganti 4
kurang saithik. Nek papat ketoke urung”.
Hal ini berimplikasi bahwa
manusia penduduk bumi masih pada tahap benda,
bertumbuh, bernafsu, dan ‘hampir’ berakal. Manusia masih mengumbar nafsunya
untuk kerengan dengan orang lain yang
tidak sepaham dengannya (sifat hewani yang berkonotasi nafsu), dan masih memiliki sifat benda. Gampang
terombang-ambing oleh benturan-benturan informasi (diam, statis, bergerak jika
ada sentuhan dll.) maskipun yang menggunakan akal sudah banyak namun belum
mencapai mayoritas penduduk dunia. Pun sekaliber Harvard, Yale, ataupun
universitas-universita mentererng dunia. mungkin jika dikalukasi sekitar 3.7
atau 3.8. pada skala 6. Mereka masih belum bisa medayagunakan akal mereka
secara baik dan benar.
“Tugas kita pada hari-hari ini
adalah mengkondisikan tanah-tanah, zat kimia dan atmosfir agar pas untuk
pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya neng tahap ke 4, 5, dan 6 ngono Rek!.”
“Tapi Jamaah Maiyah (JM) kuwi
jelas kelase wis dukur Rek!. JM iku nek menurutku wis melebihi dina 4. Malah
wis mundhak nok dina ke 5-6-5-6 kelase wis Abdullah, malah kelase wis Khaah
barang Rek!. Ning pas mbalik neng masyarakat mudhun maneh neng kisaran 4
kurang.”
Semua JM tertawa menyadari
ketololan diri. tamparan yang menyadarkan diri akan perlunya membuat suwasana
atau atmosfir agar evolusi kemanusiaan bisa bertumbuh subur.
Masalah evolusi ini juga terkait
dengan surah Tin yang tertulis dalam AlQur’an, yang juga merupakan evolusi
kemanusiaan atau juga disebut evolusi penciptaan. Wattin,wa zaitun, wa turrisinin, wa hadzal baladil amin. Dimulai
dari seorang nabi yang mencari Tuhanya
di bawan pohon Tin alias Pohon Bodi, dilanjutkan dengan tempat tumbuhan
zaitun banyak tumbuh yaitu di Yerusalem, Palestina, anak ajaib yang mampu
menyembuhkan penyakit kusta, dan buta atas izin Tuhanya. Bukit Tursinai yang
disana tempat sang Nabi menerima sepuluh peritah kenabian, atau dalam kitab
sebelumnya disebut dengan perjanjian lama. Dan yang terakhir adalah sebuah
terbentuknya sebuah komunitas masyarakat yang sudah ngerti omongan, sudah berpendidikan, tahu arah. Maka dari itu
dipillihlah kota yang aman (wa hadzal
baladil amin) yaitu Makkah Al Mukarommah yang disana tempat lahrinya nabi
terakhir, junjungan seluruh alam raya.
Jika digabung dengan evolusi
pencitpaan dan hal yang tercetak di surah At Tin. Mungkin penjabaranya begini.
Tahap 1-2 diabaikan. Mulai hari ketiga, dimana evolusi makhluk telah sampai
pada benda yang berdarah daging dan bernafsu alias hewan. Hewan yang telah
paripurna, ia mampu menyelaraskan nafsu yang dipunyai dengan ketuhanan. Sebagai
rasa syukur karena sebentar lagi hewan yang benda bertumbuh dan berdarah daging
dan bernafsu itu akan memiliki akal. Proses bertuhan sangat penting disini.
Peroses berketunahanan menjadikan manusia mampu mengendalikan nafsunya melalui akal
yang berikan Tuhan kepadanya. Ada Darmogandhul,
Gatoloco, dsb. Hal hal tersbut adalah cara orang mencari Tuhanya. Mirip
seorang nabi yang mencari pencerahan di bawah pohon bodi atau seorang nabi yang
darinya turun agama-agama samawi yang lain. Ibrahim. Kedua ini merasa jenuh dan
emninggalkan keduniawiannya untuk mendekat dengan Tuhan dangan berbagai cara.
Mungkin dengan bersamadhi atau pun berkiontamplasi dengan
dintang-bulan-matahari.
Setelah itu manusia mulai mendaya
gunakan akalnya. HAM alias human right
menjadi tujuannya. Tujuan seorang manusia adalah memperjuangkan hak dan
martabatnya sebagai manusia dan keadilan yang merata. Pada saat ini ia sudah
menjadi manusia secara utuh. Bermartabat dan berkeadilan. Tahap selanjutnya
perkembangan ini ke hari hari kelima. Tahap Abdullah.
Namun setelah sampai pada tahap
ini, sang manusia memikirkan ulang tentang Haknya yang selama ini
digadang-gadang. Dan ternyata seiring berjalannya waktu. yang namanya HAM itu
tidak ada. Kita secara mutlak adalah milik Allah Swt. Segala gerak, nafas, karep pun milik Nya. Hal ini menjadikan
kita sebagai Abdullah yang benar dengan berpasrah mutlak kepada-Nya atas segala
kodrat yang diberikan.
Saat ini manusia telah sadar
bahwa ia adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Manusia sudah mahir dalam berketuhanan, adil penuh
cinta kasih sesama makhluk dan karena itu mereka pantas dipandang manusia
beradab. Sekarang tiba satnya mengambil janji diantara mereka untuk bersatu.
Semakin solidlah mereka menjalani kebertuhanan mereka untuk menjadi Abdullah.
Dan yang terakhir adalah
masyarakat yang bisa diajak omongan,
sudah mapan pemikirannya, ajeg dalam bertuhan, adil dan penuh kasih sayang.
Mereka bermusyawarah untuk menggarap
bersama bumi ini. Pada masa ini khalifah yang sesungguhya telah muncul.
Khilafah yang ada tanpa mengorabankan darah waga masyarakat, merangkul semua
kecenderungan.
Tik…tik…tikk
Butiran air langit mulai turun
membasahi jiwa-jiwa yang terkasih.
Allah cinta kepada mereka dan mereka pun mencintai Allah. dan Mereka
kasihan kepada orang kafir. (Q.S. Al Maidah 54)
(Kata kunci: Kun!, Khilafah, Penciptaan, atmosfir, JM)
Selasa Wage, 18 Pasa 1438 H/13
Juni 2017
Oleh : Lingga Fajar
No comments:
Post a Comment