Wednesday, 14 June 2017

Kun! dan Enam Hari Evolusi Pencipataan

Buku Daur ini kumpulan itiqad baik, husnudzon, kumpulan kemesraan dan cinta.
Sumber : caknun.com


Saya datang terlambat pada rilis buku baru yang dilakukan mbah Nun Di Bentang Pustaka jalan Plemburan, Ring Road Utara, Yogyakarta. Mendung mememani laju Honda prima 89’

Saya langsung masuk dan duduk dekat dengan tukang sound dan dokumentasi. Saya duduk disana agar lebih bisa menikmati ngaji ini dengan khidmat.

Beberapa poin saya skip disini karena saya rasa ‘kurang penting’ atau mungkin sebuah alasan pembenaran karena saya lupa materi huihi….

Pada pertengahan acara lunching buku Tadabur Daur, Sebuah makna diajukan mbah Nun untuk membahas keadaan di Indonesia yang sedang ruwet ini. menyadur tentang masalah penciptaan alam semesta dan isinya. Apakah alam semesta diciptakan dalam satu kali Kun atau melewati proses selama enam hari peciptaan?  Inilah mbah Nun dengan segala kemisteriusnnya mengungkap dua argumen yang seolah saling bertentangan ini.

“Allah itu menciptakan alam semesta dengan Kun atau melalui proses penciptaan selama enam hari?” Begitu kata mbah Nun di acara tadabur daur yang diadakan di Bentang Pustaka, kemarin (12/6/2017).

Para peserta diam. Saya diam. Angin juga diam. Semua tertegun atas pertanyaan yang diberikan mbah Nun.

Mbah Nun disana itu untuk melunching buku barunya Daur #3 dan Daur #4. Hingga kini Daur, milik mbah Nun yang diterbitkan Bentang Pustaka sudah genap empat buah. Yaitu, Tadabur Daur 1-4.

Kembali ke pertanyaan di atas. Pertanyaan yang diajukan mbah Nun masih belum ada yang berani menjawab. Sedetik, sepuluh detik. Dan akhirnya mbah Nun sendiri yang menjawab.

“Kalau saya begini Rek! Allah itu menciptakan alam semesta itu ya dalam satu waktu. yaitu setelah _Kun fa yakun_. Untuk waktu yang berjumlah enam hari itu adalah waktu yang dibutuhkan oleh para mahkuk untuk berevolusi. Nanging iki ya karanganu ae Rek!”

“Engko nek Gusti Allah nyeneni, aku ngomong, Lha Njenengan boten maringi keterangan ya tak karang dewe Gusti. Tapi sing penting niyate apik.”  Tambah Mbah Nun.

Kami tertawa sebentar, namun juga masih pusing apa yang dikarepkan oleh mbah Nun. Kami mencoba mencerna apa yang disampaikan mbah Nun dan masih belum paham.

“Ngene!. Sing masalah Kun kuwi wis padha ngerti kabeh ta?” Mbah Nun mencoba klarifikasi pada kami.

“Nah saiki sing masalah penciptaan sing jumlahe enam hari kuwi. Nek penjabaranku ngene Rek! Enam hari kuwi merupakan proses evolusi yang dilakukan makhluk untuk mencapai kesemprunaan”

“Dina pertama Gusti Allah nyiptakake benda (batu, air, api,udara, dll.), dina selanjute nyiptakake benda yang bertumbuh (lumut, perdu, pohon, dkk.) , dina ketelu nyiptake benda bertumbuh bernafsu (hewan), dina kepapat nyiptakake benda, bertumbuh, bernafsu, berakal yakuwi jenenge manungsa. Dina kelima, manungsa sing wis nduwe akal mau munggah tingkat dari Abdullah. Ngabdi Neng Ngarsaning Gusti Allah. Nah sing posisi terakhir kuwi jenenge Kalifah.”

Saya mencoba mencerna apa yang diutrakan Mbah Nun.

“Nah sing jenenge Abdulah kuwi manunsa sing wis isa mendayagunakan akale kanggo ngabdi marang Gustine. Nek Khalifah sak liyane ngabdi marang Gustine.  Tugase tambah ngolah nduya saisine.”

“Nek saiki urung. Urung wayahe khilafah sing dikarepke karo HTI dkk.. Kae sing jenenge HTI, FPI karo kanca-kancane kae urung mudheng karo apa sing dikarepke karo enam hari proses penciptaan kuwi mau.”

“Nek upama khilafah diterapke saiki, khilafah bakal mbabat entek apa sing wujude alang-alang, wit-witan, suket teki, termasuk Pancasila kuwi bakal dibabat kanggo mendirikan khilafah. Mengkone wediku bakal ana banjir getih kaya biyen.” Kata mbah Nun.

Saya mencoba membayangkan banjir darah yang dulu dilakukan pada zaman PKI. Dan takutnya jika sistem khilafah ini diterapkan akan akan ‘menyeragamkan’ perbedaan yang ada. Sehingga sesuatu yang tidak sama akan dibumi hanguskan tanpa sisa dan acara banjir darah seperti tahun 65’ akan terjadi kembali. Hal itu yang ditakutkan.

“Nek menurut aturan evolusi mau, saiki iki lagi hari ke tiga. Yooo nek ana luwihe paling antarane 3.5 nganti 4 kurang saithik. Nek papat ketoke urung”.

Hal ini berimplikasi bahwa manusia penduduk bumi masih pada tahap benda, bertumbuh, bernafsu, dan ‘hampir’ berakal. Manusia masih mengumbar nafsunya untuk kerengan dengan orang lain yang tidak sepaham dengannya (sifat hewani yang berkonotasi nafsu), dan masih  memiliki sifat benda. Gampang terombang-ambing oleh benturan-benturan informasi (diam, statis, bergerak jika ada sentuhan dll.) maskipun yang menggunakan akal sudah banyak namun belum mencapai mayoritas penduduk dunia. Pun sekaliber Harvard, Yale, ataupun universitas-universita mentererng dunia. mungkin jika dikalukasi sekitar 3.7 atau 3.8. pada skala 6. Mereka masih belum bisa medayagunakan akal mereka secara baik dan benar.


“Tugas kita pada hari-hari ini adalah mengkondisikan tanah-tanah, zat kimia dan atmosfir agar pas untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya neng tahap ke 4, 5, dan 6 ngono Rek!.”

“Tapi Jamaah Maiyah (JM) kuwi jelas kelase wis dukur Rek!. JM iku nek menurutku wis melebihi dina 4. Malah wis mundhak nok dina ke 5-6-5-6 kelase wis Abdullah, malah kelase wis Khaah barang Rek!. Ning pas mbalik neng masyarakat mudhun maneh neng kisaran 4 kurang.”

Semua JM tertawa menyadari ketololan diri. tamparan yang menyadarkan diri akan perlunya membuat suwasana atau atmosfir agar evolusi kemanusiaan bisa bertumbuh subur.

Masalah evolusi ini juga terkait dengan surah Tin yang tertulis dalam AlQur’an, yang juga merupakan evolusi kemanusiaan atau juga disebut evolusi penciptaan. Wattin,wa zaitun, wa turrisinin, wa hadzal baladil amin. Dimulai dari seorang nabi yang mencari Tuhanya  di bawan pohon Tin alias Pohon Bodi, dilanjutkan dengan tempat tumbuhan zaitun banyak tumbuh yaitu di Yerusalem, Palestina, anak ajaib yang mampu menyembuhkan penyakit kusta, dan buta atas izin Tuhanya. Bukit Tursinai yang disana tempat sang Nabi menerima sepuluh peritah kenabian, atau dalam kitab sebelumnya disebut dengan perjanjian lama. Dan yang terakhir adalah sebuah terbentuknya sebuah komunitas masyarakat yang sudah ngerti omongan, sudah berpendidikan, tahu arah. Maka dari itu dipillihlah kota yang aman (wa hadzal baladil amin) yaitu Makkah Al Mukarommah yang disana tempat lahrinya nabi terakhir, junjungan seluruh alam raya.

Jika digabung dengan evolusi pencitpaan dan hal yang tercetak di surah At Tin. Mungkin penjabaranya begini. Tahap 1-2 diabaikan. Mulai hari ketiga, dimana evolusi makhluk telah sampai pada benda yang berdarah daging dan bernafsu alias hewan. Hewan yang telah paripurna, ia mampu menyelaraskan nafsu yang dipunyai dengan ketuhanan. Sebagai rasa syukur karena sebentar lagi hewan yang benda bertumbuh dan berdarah daging dan bernafsu itu akan memiliki akal. Proses bertuhan sangat penting disini. Peroses berketunahanan menjadikan manusia mampu mengendalikan nafsunya melalui akal yang berikan Tuhan kepadanya. Ada Darmogandhul, Gatoloco, dsb. Hal hal tersbut adalah cara orang mencari Tuhanya. Mirip seorang nabi yang mencari pencerahan di bawah pohon bodi atau seorang nabi yang darinya turun agama-agama samawi yang lain. Ibrahim. Kedua ini merasa jenuh dan emninggalkan keduniawiannya untuk mendekat dengan Tuhan dangan berbagai cara. Mungkin dengan bersamadhi atau pun berkiontamplasi dengan dintang-bulan-matahari.

Setelah itu manusia mulai mendaya gunakan akalnya.  HAM alias human right menjadi tujuannya. Tujuan seorang manusia adalah memperjuangkan hak dan martabatnya sebagai manusia dan keadilan yang merata. Pada saat ini ia sudah menjadi manusia secara utuh. Bermartabat dan berkeadilan. Tahap selanjutnya perkembangan ini ke hari hari kelima. Tahap Abdullah.

Namun setelah sampai pada tahap ini, sang manusia memikirkan ulang tentang Haknya yang selama ini digadang-gadang. Dan ternyata seiring berjalannya waktu. yang namanya HAM itu tidak ada. Kita secara mutlak adalah milik Allah Swt. Segala gerak, nafas, karep pun milik Nya. Hal ini menjadikan kita sebagai Abdullah yang benar dengan berpasrah mutlak kepada-Nya atas segala kodrat yang diberikan.

Saat ini manusia telah sadar bahwa ia adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Manusia  sudah mahir dalam berketuhanan, adil penuh cinta kasih sesama makhluk dan karena itu mereka pantas dipandang manusia beradab. Sekarang tiba satnya mengambil janji diantara mereka untuk bersatu. Semakin solidlah mereka menjalani kebertuhanan mereka untuk menjadi Abdullah.

Dan yang terakhir adalah masyarakat yang bisa diajak omongan, sudah mapan pemikirannya, ajeg dalam bertuhan, adil dan penuh kasih sayang. Mereka bermusyawarah untuk menggarap  bersama bumi ini. Pada masa ini khalifah yang sesungguhya telah muncul. Khilafah yang ada tanpa mengorabankan darah waga masyarakat, merangkul semua kecenderungan.

Tik…tik…tikk
Butiran air langit mulai turun membasahi jiwa-jiwa yang terkasih.

Allah cinta kepada mereka dan mereka pun mencintai Allah. dan Mereka kasihan kepada orang kafir. (Q.S. Al Maidah 54)

(Kata kunci: Kun!, Khilafah, Penciptaan, atmosfir, JM)

Selasa Wage, 18 Pasa 1438 H/13 Juni 2017

Oleh : Lingga Fajar

No comments:

Post a Comment