Friday, 26 May 2017

Puasa Itu adalah…..

Hasil gambar untuk imam al ghazali
(sumber gambar:http://menatahidup.com/imam-al-ghazali/) 

Nama              : Imam Al Ghazali
Sumber kitab  : Ihya’ Ulumuddin bab Sirru Siam (Rahasia Puasa)


#ReligiusService
#FilsafatanMei
#Puasa

Berpuasa berarti ngempet alias menahan. ngempet sesuatu yang membatalkan puasa. Seperti makan, minum dan bercumbu bersama istri atau suami tercinta. Namun apakah sebatas itu?

Sebentar lagi akan dilaksanakan perhelatan besar anak manusia melawan dirinya sendiri. Seperti sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika ditanya sahabatnya dalam sebuah hadist.

“Kanjeng Nabi, kita telah melewati perang Badar dan tidak ada perang yang lebih dahsyat ketimbang hari ini.”

Pada saat perang Badar gigi depan Kanjeng Nabi Muhammad SAW tanggal.

Kanjeng Nabi menjawab. “ini belum seberapa, jihad yang lebih besar adalah melawan dirimu sendiri.”

Dan sahabat pun terdiam.

Ada pula cerita dari Hindia yang termaktub dalam serat Jawa Kuna, semacam Pustaka Raja Purwa. Perang ini merupakan perang saudara antara Pandhawa dan Kurawa yang menjadi cerminan sifat baik melawan sifat buruk yang ada pada masing-masing orang.

Hal ini perlu ditegaskan lagi bahwa melawan diri sendiri merupakan jihad besar ketimbang pasukan berani mati ala-ala ISIS atau bom bunuh diri yang terjadi di Inggris ataupun di Terminal Kampung Melayu baru-baru ini. jihad akbar adalah perjuangan untuk berani hidup dan menghadapi segala dinamikanya. Hal itu diperoleh dengan jalan puasa.

Malam ini, seperti Malem Kemis yang lain, saya berniat mencari ngelmu. Mencari tahu tentang kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tersirat dalam setiap gerak langkah dan pemikiran para _luhur_.

Saya masih berjuang ditengah mendung ketidakpastian. ketidakpastian kerja, upah, jodoh dan lainya.  Disaat Pak Jokowi membentuk Jargon ‘Ayo Kerja’ disaat itulah banyak dari para buruh di PHK. Lebih ketar-ketir lagi adalah, pak Jokowi mendatangkan tenaga kerja asing dari jauh. Banyak yang protes memang. Namun apa daya….

Cahaya bulan tinggal _sak srit_, menandakan seberntar lagi bulan baru akan datang. hari ini suasana cerah. Rasi binang Gubung Penceng menyapa di langit sebelah timur. Semilir angin malam juga menyapa riang.

Kuda besi kupacu, kuarahkan ke MJS seperti biasa. Dan datangku persis di belakang pak Faiz.

Mengambil air wudhu, supaya tubuh jadi segar.
Setelah itu saya masuk dan ketika saya mau mengambil teh, rasanya kok ada sesuatu yang kurang. Saya tidak melihat jumbo dan _morong_ yang biasanya tersedia. Pada kemana mereka? Oke tak apalah, ngempet.

Slamet maju menjadi MC untuk acara ngaji malam ini. “Mohon maaf, teh dan kopi belum tersedia malam ini dikarenakan petugas yang biasa bikin sedang membuat tongseng kambing.”

Wah, betapa bahagia hari ini. kami semua mendapat rejeki berupa makan daging kambing. Biasanya kami, sebagai mahasiswa, biasa makan angkrngan, ataupun burjo. Hahahaha….

“Akikah hari ini disponsori oleh mas Nugraha. Juga dalam rangka syukuran megengan, karena sebentar lagi bulan Ramadan datang. Cukup sekian informasi dari ketakmiran. Untuk mengawali ngaji filsafat hari ini mari kita dengan bacaan basmalah. Kepada pak Faiz, waktu dan tempat kami persilahkan.” Kata laki-laki sumeh, berkulit sawo kedaluarsa ini.

Slamet bernama asli Sugeng, namun teman-teman takmir menyebutnya Slamet. Karena dalam kamus jawa, Slamet dan Sugeng merupakan padanan kata. Sugeng itu bahasa krama sedangkan slamet itu bahasa ngoko.

Sugeng belum lama tinggal di kandang Macan, ya sekitar dua tahun jalan. Namun lajang Tulung Agung ini sudah bisa menyatu dengan penghuni Kandang Macan.

Kandhang Macan adalah sebuatan tempat para takmir meluruskan punggung ketika mereka capek karena ngaji disini ada banyak dan macam-macam. intinya sih cuma buat berteduh saja.

Ngaji Filsafat pun dimulai.

“Megengan itu berarti menahan alias ngempet. Dalam tradisi Jawa, megengan itu berarti shodakoh, syukuran karena sebentar lagi mau memasuk bulan suci Ramadhan. Maka dari itu mereka megengan dalam rangka memurnikan niat dan mempersiapkan diri untuk melepaskan keterikatan duniawi agar bisa fokus beribadah kepada Allah saja. Namun dalam hal ini masih ada juga yang menyatakan megengan itu bid’ah, yang bid’ah bagian mananya?”

“sholat,  zakat, haji, itu balasanya berlipat, ada yang setiap pahalanya dikalikan 70, 700. Atau 700 ribu kali lipat. Hitungannya jelas. Sedangkan puasa sendiri adalah untuKu, kata Allah. Allah sendirilah yang memberi pahala kepada orang yang berpuasa itu.”

“Puasa itu sama lamanya dengan peradaban manusia. Puasa, kurban dan peribadatan (sholat) itu dilakukan paling tidak sejak zaman Nabi Adam dengan caranya masing-masing. pada tanggal 10 Zulhijah Nabi adam berpuasa untuk mengenang pertemuanya dengan Hawa di Jabal Rahmah”

Wah mbah Adam _so sweet_ banget.

“Pengorbanan ada sebelum Nabi Ibrahim. Hal ini telah dicontohkan oleh Habil dan Habil. Disanalah pengorbanan pertama dilakukan.”

“jika ditelisik lebih dalam, puasa bukan hanya milik manusia saja. Hewan dan tumbuhan pun juga berpuasa dengan caranya masing masing.”

Pembahasan tambah menarik.

“Ayam ketika mengerami telurnya ia berpuasa selama 21 hari, ular, ketika berganti kulit juga harus berpuasa, kupu-kupu bermetamorfosa, pada saat menjadi kepompong ia juga berpuasa, ikan salmon, mereka berpuasa ketika bermigrasi, agar geraknya lincah dan gesit. Ketika bermigrasi, ikan salmon menempuh jarak ribuan kilometer”

Perpindah ke tumbuhan

“Tumbuhan juga sama, pada saat kemarau, pohon jati menggugurkan daunya untuk menberi celah kepada pertumbuah tunas daun yang baru”

Sekarang manusia

“Selain binatang dan tumbuhan manusia juga melaksanakan perintah berpuasa”

Pak Faiz menegaskan bahwa perintah puasa bukan terbatas pada agama Islam saja, agama lain pun juga memiliki aturan tertentu dalam berpuasa.

“Nabi Musa, ketika terjadi banjir besar,  di kapalnya ia berpesan kepada kaumnya untuk berpuasa, Isa atau Yesus A.S., ia juga menyarankan puasa pada kaumnya. Jumlahnya lebih banyak dari kita, yaitu 40 hari. Yahudi pun sama. Filsuf pun juga berpuasa, ambil contoh Plato, peritnis ilmu kesehatan terbesar, Ibnu Sina juga berpuasa.”

Mencoba hening dan memperhatikan

“Mahatma Ganthi, pada saat pecah perang antara Islam dan Hindu ia juga berpuasa. Pada saat itu kedua belah pihak membawa kebebaranya sendiri-sendiri dan mengkafirkan yang lain. Kalau disini baru satu, yang lain belum.”

Pak Faiz juga bercerita bahwa Mahatma Gandhi itu adalah pendeta yang disegani oleh umat Islam ataupun Hindu di Tibet sana. Oleh karena itu ia mendapat julukan Mahatma, _Maha_ yang berarti besar, luhur dan _Atman_ ciptaan atau mahluk disini juga berarti manusia. Jadi Mahatma sendiri berarti manusia yang luhur.

“di Jawa pun juga mengenal puasa. Disini puasa dilakukan selama 40 hari 40 malam. Mungkin banyak yang bertanya ‘apa kuat?’ ya kuwat saja, karena mereka sudah terbiasa mekalukannya. Jadi intinya, puasa masalah pembiasaan, bukan hanya sekedar nemahan lapar, haus dan syahwat selama jangka waktu tertentu saja.”

Lalu pikiran saya entah kenapa meloncat ke masa Majapahit,  tirakatnya Patih Gajahmada pun juga sama. Ia berjanji tidak akan makan enak sebelum berhasil menyatukan Nusantara.

Dan lebih baru lagi kemerdekaan Indonesia. Hal itu juga dilakukan pada saat bulan Ranadhan.

Lalu saya berpikir, kok bisa ya hal-hal besar, yang radikal itu diakukan pada saat badan jasmani sedang ‘dilemahkan’. Ada apa dibalik puasa yang bener itu? mungkin jika aksi bela ulama #212 atau #411 dilakukan pada bulan Ramadhan ini saya yakin mereka akan berhasil.

“Manusia itu karena akalnya maqam kita lebih tinggi dari hewan, namun masih dibawah malaikat karena memiliki nafsu. Manusia yang bisa mengatur Syahwatnya ia akan naik kelas ke kelasnya Malaikat. Sedangkan jika tidak mampu mengendalikan syahwatnya ia akan turun derajat.”

Apa untungnya derajat malaikat? Yang kerjanya tunduk dan patuh pada Allah. Malaikat itu hanya melakukan sesuatu yang monoton, dari awal penciptaanya hingga hari kiamat nanti ia hanya patuh dan tunduk.

“Derajat malaikat dekat dengan Allah, maka barang siapa nempati maqam malaikat maka ia akan dekat dengan Allah.” jawaban pak Faiz membuyarkan lamunan saya.

Inti dari puasa bukan hanya menahan lapar, haus dan syahwat saja. Puasa adalah sarana untuk permurnian diri lahir batin yang hanya bisa didapat melalui sarana puasa.

Puasa dibagi menjadi tiga, puasa orang biasa, khusus dan khususul khusus. Pintu gerbang awalnya adalah menahan tidak memasukan makanan atau minuman kedalam perut dan menjaga kemaluan. Ini pintu gerbang pertama yang harus dilewati. Menurut ghozali puasa seperti ini masih taraf terendah dari tiga tahap penguasaan diri. puasanya anak TK, SD

Pada puasa taraf awal ini, penganutnya masih memikirkan buka puasa dengan apa? Dimana? Seolah-olah Gusti Allah tidak mampu mencukupi kebutuhan hambanya yang sedang berpuasa itu.

JIka sudah terbiasa puasa ala-ala anak TK dan SD seharusnya kita  naik kelas  menjadi puasanya anak SMA dan kuliahan. Dengan cara menjaga mata, talinga, tangan dan kaki dari sesuatu yang tidak berguna, lebih-lebih yang membatalkan puasa.

Saat itu kita dilarang menggunjing, mendengarkan gosip, menyakiti mahluk lain dan berjalan ketempat yang buruk.

Jika ini telah lulus maka tingkatan terakhir adalah puasa khususul khusus. Puasanya para _sidiqin, waliyullah_, dsb. Puasa pada taraf akhir ini mewajibkan manusia untuk mengawasi akal dan hatinya.

Setiap _wali_ atau _sidiqin_ harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada hati ataupun pikirannya. Terbersit keinginnan untuk ‘nakal’ pun tidak. Karena keinginan yang seperti ini, bagi _sidiqin_ dan _waliyullah_, merupakan faktor rusaknya pahala puasa.

Kalau saya sih masih mencari takjil kemana-mana. Pada siang hari bersantai nonton tivi, main hape, browsing, hingga waktu berbuka tiba. Namun saya berjanji bahwa ramadhan tahun ini saya akan mencoba untuk memasuki puasa annak TK dan SD.

Dan ngaji Filsafat hari ini diakhiri dengan makan tongseng kambing bersama. Hmmmm….

“Ramadhan yang seharusnya bulan berhemat, ngempet tapi jika dihitung-hitung pengeluaranya kok malah membengkak.”
Fahrudin Faiz

Kata kunci : (puasa, Al Ghazali, ngempet, metamorfosa)    

Saya pribadi mengucapkan selamat ngempet bagi yang menjalankannya. Semoga diakhir bulan ngempet ini kita bisa berubah wujud menjadi Power Renjes yang selalu mencari apa dan bagaimana kebenaran itu.  

Marhaban Ya Ramadhan


Oleh : Lingga Fajar
25 Mei 2017

No comments:

Post a Comment