(sumber gambar:http://menatahidup.com/imam-al-ghazali/)
Nama : Imam Al
Ghazali
Sumber kitab : Ihya’
Ulumuddin bab Sirru Siam (Rahasia Puasa)
#ReligiusService
#FilsafatanMei
#Puasa
Berpuasa berarti ngempet alias menahan. ngempet sesuatu yang membatalkan puasa.
Seperti makan, minum dan bercumbu bersama istri atau suami tercinta. Namun
apakah sebatas itu?
Sebentar lagi akan dilaksanakan
perhelatan besar anak manusia melawan dirinya sendiri. Seperti sabda Kanjeng
Nabi Muhammad SAW ketika ditanya sahabatnya dalam sebuah hadist.
“Kanjeng Nabi, kita telah
melewati perang Badar dan tidak ada perang yang lebih dahsyat ketimbang hari
ini.”
Pada saat perang Badar gigi depan
Kanjeng Nabi Muhammad SAW tanggal.
Kanjeng Nabi menjawab. “ini belum
seberapa, jihad yang lebih besar adalah melawan dirimu sendiri.”
Dan sahabat pun terdiam.
Ada pula cerita dari Hindia yang
termaktub dalam serat Jawa Kuna, semacam Pustaka Raja Purwa. Perang ini
merupakan perang saudara antara Pandhawa dan Kurawa yang menjadi cerminan sifat
baik melawan sifat buruk yang ada pada masing-masing orang.
Hal ini perlu ditegaskan lagi
bahwa melawan diri sendiri merupakan jihad besar ketimbang pasukan berani mati
ala-ala ISIS atau bom bunuh diri yang terjadi di Inggris ataupun di Terminal
Kampung Melayu baru-baru ini. jihad akbar adalah perjuangan untuk berani hidup
dan menghadapi segala dinamikanya. Hal itu diperoleh dengan jalan puasa.
Malam ini, seperti Malem Kemis
yang lain, saya berniat mencari ngelmu. Mencari tahu tentang
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tersirat dalam setiap gerak langkah dan
pemikiran para _luhur_.
Saya masih berjuang ditengah
mendung ketidakpastian. ketidakpastian kerja, upah, jodoh dan lainya. Disaat Pak Jokowi membentuk Jargon ‘Ayo
Kerja’ disaat itulah banyak dari para buruh di PHK. Lebih ketar-ketir lagi
adalah, pak Jokowi mendatangkan tenaga kerja asing dari jauh. Banyak yang
protes memang. Namun apa daya….
Cahaya bulan tinggal _sak srit_,
menandakan seberntar lagi bulan baru akan datang. hari ini suasana cerah. Rasi
binang Gubung Penceng menyapa di langit sebelah timur. Semilir angin malam juga
menyapa riang.
Kuda besi kupacu, kuarahkan ke
MJS seperti biasa. Dan datangku persis di belakang pak Faiz.
Mengambil air wudhu, supaya tubuh
jadi segar.
Setelah itu saya masuk dan ketika
saya mau mengambil teh, rasanya kok ada sesuatu yang kurang. Saya tidak melihat
jumbo dan _morong_ yang biasanya tersedia. Pada kemana mereka? Oke tak apalah, ngempet.
Slamet maju menjadi MC untuk
acara ngaji malam ini. “Mohon maaf, teh dan kopi belum tersedia malam ini
dikarenakan petugas yang biasa bikin sedang membuat tongseng kambing.”
Wah, betapa bahagia hari ini.
kami semua mendapat rejeki berupa makan daging kambing. Biasanya kami, sebagai
mahasiswa, biasa makan angkrngan, ataupun burjo. Hahahaha….
“Akikah hari ini disponsori oleh
mas Nugraha. Juga dalam rangka syukuran megengan, karena sebentar lagi bulan
Ramadan datang. Cukup sekian informasi dari ketakmiran. Untuk mengawali ngaji
filsafat hari ini mari kita dengan bacaan basmalah. Kepada pak Faiz, waktu dan
tempat kami persilahkan.” Kata laki-laki sumeh, berkulit sawo kedaluarsa ini.
Slamet bernama asli Sugeng, namun
teman-teman takmir menyebutnya Slamet. Karena dalam kamus jawa, Slamet dan
Sugeng merupakan padanan kata. Sugeng itu bahasa krama sedangkan slamet itu
bahasa ngoko.
Sugeng belum lama tinggal di
kandang Macan, ya sekitar dua tahun jalan. Namun lajang Tulung Agung ini sudah
bisa menyatu dengan penghuni Kandang Macan.
Kandhang Macan adalah sebuatan
tempat para takmir meluruskan punggung ketika mereka capek karena ngaji disini
ada banyak dan macam-macam. intinya sih cuma buat berteduh saja.
Ngaji Filsafat pun dimulai.
“Megengan itu berarti menahan alias ngempet. Dalam tradisi Jawa, megengan itu berarti shodakoh,
syukuran karena sebentar lagi mau memasuk bulan suci Ramadhan. Maka dari itu
mereka megengan dalam rangka memurnikan niat dan mempersiapkan diri untuk
melepaskan keterikatan duniawi agar bisa fokus beribadah kepada Allah saja.
Namun dalam hal ini masih ada juga yang menyatakan megengan itu bid’ah, yang bid’ah
bagian mananya?”
“sholat, zakat, haji, itu balasanya berlipat, ada yang
setiap pahalanya dikalikan 70, 700. Atau 700 ribu kali lipat. Hitungannya
jelas. Sedangkan puasa sendiri adalah untuKu, kata Allah. Allah sendirilah yang
memberi pahala kepada orang yang berpuasa itu.”
“Puasa itu sama lamanya dengan
peradaban manusia. Puasa, kurban dan peribadatan (sholat) itu dilakukan paling
tidak sejak zaman Nabi Adam dengan caranya masing-masing. pada tanggal 10
Zulhijah Nabi adam berpuasa untuk mengenang pertemuanya dengan Hawa di Jabal
Rahmah”
Wah mbah Adam _so sweet_ banget.
“Pengorbanan ada sebelum Nabi
Ibrahim. Hal ini telah dicontohkan oleh Habil dan Habil. Disanalah pengorbanan
pertama dilakukan.”
“jika ditelisik lebih dalam,
puasa bukan hanya milik manusia saja. Hewan dan tumbuhan pun juga berpuasa
dengan caranya masing masing.”
Pembahasan tambah menarik.
“Ayam ketika mengerami telurnya ia
berpuasa selama 21 hari, ular, ketika berganti kulit juga harus berpuasa,
kupu-kupu bermetamorfosa, pada saat menjadi kepompong ia juga berpuasa, ikan
salmon, mereka berpuasa ketika bermigrasi, agar geraknya lincah dan gesit.
Ketika bermigrasi, ikan salmon menempuh jarak ribuan kilometer”
Perpindah ke tumbuhan
“Tumbuhan juga sama, pada saat
kemarau, pohon jati menggugurkan daunya untuk menberi celah kepada pertumbuah
tunas daun yang baru”
Sekarang manusia
“Selain binatang dan tumbuhan
manusia juga melaksanakan perintah berpuasa”
Pak Faiz menegaskan bahwa
perintah puasa bukan terbatas pada agama Islam saja, agama lain pun juga
memiliki aturan tertentu dalam berpuasa.
“Nabi Musa, ketika terjadi banjir
besar, di kapalnya ia berpesan kepada
kaumnya untuk berpuasa, Isa atau Yesus A.S., ia juga menyarankan puasa pada
kaumnya. Jumlahnya lebih banyak dari kita, yaitu 40 hari. Yahudi pun sama.
Filsuf pun juga berpuasa, ambil contoh Plato, peritnis ilmu kesehatan terbesar,
Ibnu Sina juga berpuasa.”
Mencoba hening dan memperhatikan
“Mahatma Ganthi, pada saat pecah
perang antara Islam dan Hindu ia juga berpuasa. Pada saat itu kedua belah pihak
membawa kebebaranya sendiri-sendiri dan mengkafirkan yang lain. Kalau disini
baru satu, yang lain belum.”
Pak Faiz juga bercerita bahwa
Mahatma Gandhi itu adalah pendeta yang disegani oleh umat Islam ataupun Hindu
di Tibet sana. Oleh karena itu ia mendapat julukan Mahatma, _Maha_ yang berarti
besar, luhur dan _Atman_ ciptaan atau mahluk disini juga berarti manusia. Jadi
Mahatma sendiri berarti manusia yang luhur.
“di Jawa pun juga mengenal puasa.
Disini puasa dilakukan selama 40 hari 40 malam. Mungkin banyak yang bertanya
‘apa kuat?’ ya kuwat saja, karena mereka sudah terbiasa mekalukannya. Jadi
intinya, puasa masalah pembiasaan, bukan hanya sekedar nemahan lapar, haus dan
syahwat selama jangka waktu tertentu saja.”
Lalu pikiran saya entah kenapa
meloncat ke masa Majapahit, tirakatnya
Patih Gajahmada pun juga sama. Ia berjanji tidak akan makan enak sebelum
berhasil menyatukan Nusantara.
Dan lebih baru lagi kemerdekaan
Indonesia. Hal itu juga dilakukan pada saat bulan Ranadhan.
Lalu saya berpikir, kok bisa ya
hal-hal besar, yang radikal itu diakukan pada saat badan jasmani sedang
‘dilemahkan’. Ada apa dibalik puasa yang bener itu? mungkin jika aksi bela
ulama #212 atau #411 dilakukan pada bulan Ramadhan ini saya yakin mereka akan
berhasil.
“Manusia itu karena akalnya maqam
kita lebih tinggi dari hewan, namun masih dibawah malaikat karena memiliki
nafsu. Manusia yang bisa mengatur Syahwatnya ia akan naik kelas ke kelasnya
Malaikat. Sedangkan jika tidak mampu mengendalikan syahwatnya ia akan turun
derajat.”
Apa untungnya derajat malaikat?
Yang kerjanya tunduk dan patuh pada Allah. Malaikat itu hanya melakukan sesuatu
yang monoton, dari awal penciptaanya hingga hari kiamat nanti ia hanya patuh
dan tunduk.
“Derajat malaikat dekat dengan
Allah, maka barang siapa nempati maqam malaikat maka ia akan dekat dengan
Allah.” jawaban pak Faiz membuyarkan lamunan saya.
Inti dari puasa bukan hanya
menahan lapar, haus dan syahwat saja. Puasa adalah sarana untuk permurnian diri
lahir batin yang hanya bisa didapat melalui sarana puasa.
Puasa dibagi menjadi tiga, puasa
orang biasa, khusus dan khususul khusus. Pintu gerbang awalnya adalah menahan
tidak memasukan makanan atau minuman kedalam perut dan menjaga kemaluan. Ini
pintu gerbang pertama yang harus dilewati. Menurut ghozali puasa seperti ini
masih taraf terendah dari tiga tahap penguasaan diri. puasanya anak TK, SD
Pada puasa taraf awal ini,
penganutnya masih memikirkan buka puasa dengan apa? Dimana? Seolah-olah Gusti
Allah tidak mampu mencukupi kebutuhan hambanya yang sedang berpuasa itu.
JIka sudah terbiasa puasa ala-ala
anak TK dan SD seharusnya kita naik
kelas menjadi puasanya anak SMA dan
kuliahan. Dengan cara menjaga mata, talinga, tangan dan kaki dari sesuatu yang
tidak berguna, lebih-lebih yang membatalkan puasa.
Saat itu kita dilarang
menggunjing, mendengarkan gosip, menyakiti mahluk lain dan berjalan ketempat
yang buruk.
Jika ini telah lulus maka
tingkatan terakhir adalah puasa khususul khusus. Puasanya para _sidiqin,
waliyullah_, dsb. Puasa pada taraf akhir ini mewajibkan manusia untuk mengawasi
akal dan hatinya.
Setiap _wali_ atau _sidiqin_
harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada hati ataupun pikirannya.
Terbersit keinginnan untuk ‘nakal’ pun tidak. Karena keinginan yang seperti ini,
bagi _sidiqin_ dan _waliyullah_, merupakan faktor rusaknya pahala puasa.
Kalau saya sih masih mencari
takjil kemana-mana. Pada siang hari bersantai nonton tivi, main hape, browsing,
hingga waktu berbuka tiba. Namun saya berjanji bahwa ramadhan tahun ini saya
akan mencoba untuk memasuki puasa annak TK dan SD.
Dan ngaji Filsafat hari ini
diakhiri dengan makan tongseng kambing bersama. Hmmmm….
“Ramadhan yang seharusnya bulan berhemat, ngempet tapi jika
dihitung-hitung pengeluaranya kok malah membengkak.”
Fahrudin Faiz
Kata kunci : (puasa, Al Ghazali, ngempet, metamorfosa)
Saya pribadi mengucapkan selamat ngempet bagi yang menjalankannya. Semoga
diakhir bulan ngempet ini kita bisa
berubah wujud menjadi Power Renjes yang selalu mencari apa dan bagaimana kebenaran
itu.
Marhaban Ya Ramadhan
Oleh : Lingga Fajar
25 Mei 2017
No comments:
Post a Comment