Saturday, 6 May 2017

Temukan Oalah Kalian Masing-Masing

#CatatanSantri
#NgajiFilsafatMei
#ReligiusService
#Ngibadah
 Hasil gambar untuk syekh abdul qodir
Sumber Gambar : Transferiority87.com

Sebuah arsip Ngaji Filsafat

Mendung tipis tersapu angin malam. Sepeda motor Prima 89 mulai ku stater. Seprti biasa, hari Rabu ini aku pingin nambah kaweruh tentang filsafat.

Namun ada yang menggelayut di hati, ketika menerima kabar bahwa teman kami, ayahnya telah meninggal dunia siang itu. Teman yang dari awal dibentuknya Ngaji Filsafat sudah mulai nimbrung, meramaikan purwa rupa Ngaji Filsafat dari nol hingga sekarang yang dihadiri oleh santri tidak kurang 100 santri ngaji.

“Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun, telah berpulang kehadirat Allah bapak Touqiran, bapak dari saudara Masud, tadi siang menjelang zuhur…” begitu kata Kang Wahid di salah satu group ngaji.

Sekejap kemudian saya telah sampai di Masjid Jendral Sudirman. Para santri masih berada diluar, benrcengkrama santai. Prima 89 beristirahat dibawah pohon sukun, dan segera masuk ke masjid.

Pembahasan ngaji filsafat kali ini sudah berganti. Kemarin kami membahas feminisme sekarang kami membahas tentang religius service alias ibadah. Untuk tokoh pertama yang dibahas adalah Sultonul Auliya, Syekh Abdul Qadir Jaelani.

“Namun sebelum ngaji kita mulai, kami dari ketakmiran Masjid Jendral Sudirman memohon keikhlasan para santri semua untuk membacakan Al Fatihah kepada ayah dari saudara kita Uud Masud yang telah berpulang siang tadi”. Begitu kata perwakilan takmir Masjid yang diwalkili oleh Kang Wahid.

Para santri pun mengirimkan Al Fatehah kepada ayah teman kami. Saya juga ikut membaca Fatehah yang saya tujukan untuk ayah teman kami yang baru saja berpulang.

Pembukaan ngaji juga dilakukan dengan Fatehah dan Shalwat kepada junjungan seru sekalian alam, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Harapan kami semoga dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi, Ngaji Filsafat ini bisa barokah. Baik untuk santri sendiri maupun untuk kemajuan bangsa.

Pada awal pembukaan tidak lupa Pak Faiz juga mengajak para santri ngaji untuk mengirimkan Fatehah kepada ayah Mas Masud. “Ala hadzihiniyah ala niyatus shollihah. Khususon illa abi akhi, lahumul fatihah.” Pembacaan fatehah genap tiga kali.

Ngaji pun dimulai. Pak Faiz menelaah satu persatu pemikiran Sultanul Auliya tentang perkara ibadah yang termuat dalam kitabnya yang berjudul Sirrul al Asrar.

“Syekh Abdul Qadir Jaelani, beliau adalah raja para wali. Tingkatannya satu tingkat dibawah wali qutub.” Begitu pak Faiz mencoba membuka pembahasan tentang Syekh Abdul Qadir.

Saya ingat waktu dulu beliau juga bernah membabar tenang tentang kewalian. Para Awliya Allah ini namanya macam-macam, dan jumlahnya juga lumayan banyak. Para Awliya ini menyebar ke penjuru dunia. Cinta Allah kepada mereka porsinya agak lebih besar dibandung kebanyakan manusia. Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Adanya mereka di bumi, menunda datangnya hari kiamat.

Pak Faiz juga berbicara sedikit tentang wali qutub. Bahwa yang dinamakan wali qutub di dunia hanya ada satu pada setiap periode kehidupan, yang nantinya akan digantikan oleh wali qutub lain jika beliau sudah meninggal dunia. Dia membawahi wali-wali lain. Dan posisi Syekh Abdul Qadir Jaelani berada satu tingkat dibawah Wali Qutub.

“Oleh karena itu, maka para penganut Tarekat Qadiriyah membuat karangan yang dinamakan Manaqib. Isinya Manaqib itu ya tentang perjalanan hidup dan karomah Syekh Abdul Qadir Jaelani, namun hari ini banyak yang nyiyir, membid’ahkan pembacaan Manaqib” Kata pak Faiz.

“Namun disini, pembacaan manaqib tidak hanya dilakukan oleh penganut Tarekat Qadiriyah saja. Manaqib, atau Manaqiban telah menjadi keseharian masyarakat di Indonesia.” Tutur pak Faiz.  

Mulai terbukalah siapa sebernarnya Syekh Abdul Qadir Jaelani. Dulunya saya agak bingung juga tentang jati diri beliau, kenapa pada setiap Yasinan, pada awal pembukaan Yasinan harus dibuka dengan bertawasul kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani.

“Salah Satu isi manaqib adalah karomah-karomah yang dipunyai oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani. Dan mereka mengatakan hal itu tidak rasional. Ya jelas saja tidak rasional, lha wong namanya saja karomah. Jika rasional itu menjadi hal yang biasa.” Karomah Syekh Abdul Qadir Jaelani yang ditulis para pengikutnya di Tarekat Qadiriyah cukup banyak. Hal ini menjadi sasaran empuk kenyinyiran penganut saudara Islam garis lurus. Karomah, menurut mereka suatu hal yang tidak masuk akal. Namun jika ditarik ke belakang, Nabi-Nabi lain juga mempunyai hal ajaib pemberian Tuhan yang dinamakan Mukjizat.

“Mbok pembacaan manaqib itu dihilangkan saja. Jika ingin hidayah baca saja Al-Quran atau Hadist”. Kata pak Faiz menirukan golongan islam garis lurus.

“Hidayah Allah itu jalanya bisa macem-macem. Termasuk mbaca Manaqib. Kita kan nggak tahu hidayah Allah itu datang dari mana !? Bisa lewat jalur pengetahuan, keilmuan,  mengkaji Qur’an dan Hadist, dan juga beramaqib. Semakin banyak jalur, semakin banyak kemungkinan kita mendapat hidayah dari Allah”. Terang pak Faiz.

Dalam pembukaan ngaji Filsafat edisi _religius service_ alias ibadah ini, pemikiran Syekh Abdul Qadir Jaelani yang dibedah adalah tentang dua sisi yang saling terkait, yaitu dzahir dan batin. bungkus dan isi. Substansi dan esensi. Syariat dan Makrifat. keduanya harus seiring sejalan. Tidak bisa diambil salah satu. Begitu pula ibadah.

Ibadah yang kita lakuakan juga terkait dengan kedua hal ini. mulai dari syahadat, shalat, zakat, puasa, dan naik haji. Semuanya bisa dilihat dari kacamata syariat dan makrifatnya.

Tingkat tertinggi dari ibadah lahir-batin. Tingkatan ini diperoleh ini ketika kita sudah menemukan hakikatnya. Kebanyakan kita mendefiniskan ketemunya sebuah hakikat sebuah peristiwa itu dengan kata yang simpel yaitu “oalah,,,,

ketika seseorang telah menemukan oalahnya, sejatinya ia telah menemukan hakikat dari suatu benda maupun hal yang ia lakukan. Menurut pembacaan Syekh Abdul Qadir Jaelani, Oalah mengandung makna yang dalam bukan hanya pengetahuan empiris saja. Namun hingga menghujam ke awal segala sumber yaitu Allah. Sampai dimana tingkat ke-oalah-an kita?

ngaji malam mini bagi saya terasa berat. Entah kenapa saya juga kurang tahu. Mungkin karena perkara baru, atau pembahasan baru. Namun alasan kebingungan saya, saya sendiri juga kurang tahu. Namun inilah yang terjadi.

Ngaji Filsafat seri religius service telah usai. Pembukaan ngaji yang berat menurut saya. mungkin perlu banyak muhasabah untuk menginternalisasi pemikiran Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Ngaji filsafat pun diakhiri. Para santri pulang kerumah masing masing dengan sangu dari pembacan pak Faiz tentang perkara lahir batin dari seorang Sultanul Auliya. Dan saya sendiri masih mencoba menemukan oalah saya sendiri.

 Saya berjalan memungut gelas, dan menempatkanya di krat-krat yang ada. Saya melakukan itu karena ketimbang sagelasnya ketendang kaki dan air tehnya tumpah? Ya lebih baik saya amankan. Selain itu karena tidak minum sejak awal ngaji. Maka saya minum dengan puas teh yang disajikan di jumbo. Hangat dan manisnya terasa sampai lubuk jiwa. Wehh…

Pengajian berakhir, saya dan teman-teman menyempatkan hadir ke rumah mas Uud untuk berbela sungkawa.

Kami naik motor berbonceng-boncengan. Lewat kapung kampung yang sepi. Semua orang sudah menutup pintunya. Namun ada sebagian yang masih terjaga.

Kami sampai dirumah Kang Masud. Disana kami disambut oleh yang punya rumah. Wajah sedih, dan mata merah telah perlahan memudar dari wajah sahabat kami yang kehilangan ayahnya itu. namun jejak-jejak kesedihan itu masih ada.

“Mangga silahkan duduk.” Kata kang Uud mempersilahkan kami.

Kami dattang ber 8, 9 orang. Dengan menggunakan lima motor. Kami juga melihat seseorang yang tidak asing, memakai kemeja kuning. Dan ternyata benar, beliau adalah pak Faiz. Beliau menyempatkan diri untuk mampir.

Jika boleh jujur, baru kali ini saya mamrpir di konter yang hits ini. Konter yang pernah dibahas oleh admin Jomblo Syari. Mungkin mereka berdua saling kenal? Entahlah.

Kami dari tadi sebenarnya menunggu tempat kosong untuk menyolatkan jenazah ayah kang Masud. Setelah beberapa saat, orang yang di dalam berganti dengan kami bersembilan orang. Pak Faiz menjadi imam.

Setelah kami menjalankan shalat jenazah. Sebagian teman-teman berpamitan. Dan menyisakan sebagian kecil dari kelompok takmir. Disana kami bercerita kembali.

“Sebenarnya meninggalnya seseorang itu sebenarnya memberi jalan kepada jiwa-jiwa yang baru untuk lahir” begitu kata mas Arip alias Garuda Sakti.

Saya diam dan mendengarkan.

“Jiwa yang fisik atau spiritualitas kang?” Saya menimpali.

“Jiwa fisik. Tempat ciptaan baru itu lahir dan mengada”. jawab Mas Arip.

“Hmmm…”

Percakapan pun beralih topik tentang ngaji filsafat barusan.

“Kalau  saya rasakan, Ngaji sama Cak Kus di Sewon sama hari ini kok ada hubungannya ya? Kemarin Cak Kus ngaji tentang wudhu. Setiap orang harus menjaga wudhunya. Setiap muslim harus menjaga kesuciaannya dengan wudhu. Dan hari ini Kyai Faiz juga membahas tentang ibadah lahir batin. Yang disitu ada juga bahasan tentang wudhu”. Kata mas Arip.

Jika masuk ke kajian pak Faiz barusan, wudhu yang yang dibahas mas Arip merupakan syariat. Dan hal itu mengimplikasikan lapis pamaknaan kedua yaitu taraf makrifat alias makna batiniyah. Dengan menjaga wudhu, diharapkan kita bisa menjaga kebersihan batin kita.

Namun jika dilihat dari ngaji-ngaji kemarin juga, pembahasan kedua Kyai ini sering sama. Seolah-olah batin Cak Kuswaidi Syafi’I dan Kyai Faiz tertaut dengan sebuah benang yang tak kelihtan. Namun itulah yang terjadi.

**
“Saya ini kaya gini ya masih belajar kok! Kalau saya sudah jadi Wali saya nggak mungkin mbahas Karl Marx atau Nietze.”
Fahrudin faiz

Kata kunci: (Abdul Qadir Jaelani, Oalah!!!)

Oleh : Lingga Fajar

Dan sekali lagi khususon illa abi akhi Uud Masudi Rahman, Al Fathihah…

No comments:

Post a Comment