#CatatanSantri
#NgajiFilsafatMei
#ReligiusService
#Ngibadah

Sumber Gambar : Transferiority87.com
Sebuah arsip Ngaji Filsafat
Mendung tipis tersapu angin
malam. Sepeda motor Prima 89 mulai ku stater. Seprti biasa, hari Rabu ini aku
pingin nambah kaweruh tentang filsafat.
Namun ada yang menggelayut di
hati, ketika menerima kabar bahwa teman kami, ayahnya telah meninggal dunia siang
itu. Teman yang dari awal dibentuknya Ngaji Filsafat sudah mulai nimbrung, meramaikan purwa rupa Ngaji
Filsafat dari nol hingga sekarang yang dihadiri oleh santri tidak kurang 100
santri ngaji.
“Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun,
telah berpulang kehadirat Allah bapak Touqiran, bapak dari saudara Masud, tadi
siang menjelang zuhur…” begitu kata Kang Wahid di salah satu group ngaji.
Sekejap kemudian saya telah
sampai di Masjid Jendral Sudirman. Para santri masih berada diluar, benrcengkrama
santai. Prima 89 beristirahat dibawah pohon sukun, dan segera masuk ke masjid.
Pembahasan ngaji filsafat kali
ini sudah berganti. Kemarin kami membahas feminisme sekarang kami membahas
tentang religius service alias
ibadah. Untuk tokoh pertama yang dibahas adalah Sultonul Auliya, Syekh Abdul
Qadir Jaelani.
“Namun sebelum ngaji kita mulai,
kami dari ketakmiran Masjid Jendral Sudirman memohon keikhlasan para santri
semua untuk membacakan Al Fatihah kepada ayah dari saudara kita Uud Masud yang
telah berpulang siang tadi”. Begitu kata perwakilan takmir Masjid yang
diwalkili oleh Kang Wahid.
Para santri pun mengirimkan Al
Fatehah kepada ayah teman kami. Saya juga ikut membaca Fatehah yang saya
tujukan untuk ayah teman kami yang baru saja berpulang.
Pembukaan ngaji juga dilakukan dengan
Fatehah dan Shalwat kepada junjungan seru sekalian alam, Kanjeng Nabi Muhammad
SAW. Harapan kami semoga dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi, Ngaji Filsafat
ini bisa barokah. Baik untuk santri sendiri maupun untuk kemajuan bangsa.
Pada awal pembukaan tidak lupa
Pak Faiz juga mengajak para santri ngaji untuk mengirimkan Fatehah kepada ayah
Mas Masud. “Ala hadzihiniyah ala niyatus
shollihah. Khususon illa abi akhi, lahumul fatihah.” Pembacaan fatehah
genap tiga kali.
Ngaji pun dimulai. Pak Faiz
menelaah satu persatu pemikiran Sultanul Auliya tentang perkara ibadah yang
termuat dalam kitabnya yang berjudul Sirrul
al Asrar.
“Syekh Abdul Qadir Jaelani,
beliau adalah raja para wali. Tingkatannya satu tingkat dibawah wali qutub.”
Begitu pak Faiz mencoba membuka pembahasan tentang Syekh Abdul Qadir.
Saya ingat waktu dulu beliau juga
bernah membabar tenang tentang kewalian. Para Awliya Allah ini namanya
macam-macam, dan jumlahnya juga lumayan banyak. Para Awliya ini menyebar ke
penjuru dunia. Cinta Allah kepada mereka porsinya agak lebih besar dibandung
kebanyakan manusia. Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Adanya
mereka di bumi, menunda datangnya hari kiamat.
Pak Faiz juga berbicara sedikit
tentang wali qutub. Bahwa yang dinamakan wali qutub di dunia hanya ada satu
pada setiap periode kehidupan, yang nantinya akan digantikan oleh wali qutub
lain jika beliau sudah meninggal dunia. Dia membawahi wali-wali lain. Dan
posisi Syekh Abdul Qadir Jaelani berada satu tingkat dibawah Wali Qutub.
“Oleh karena itu, maka para
penganut Tarekat Qadiriyah membuat karangan yang dinamakan Manaqib. Isinya Manaqib
itu ya tentang perjalanan hidup dan karomah Syekh Abdul Qadir Jaelani, namun
hari ini banyak yang nyiyir, membid’ahkan pembacaan Manaqib” Kata pak Faiz.
“Namun disini, pembacaan manaqib
tidak hanya dilakukan oleh penganut Tarekat Qadiriyah saja. Manaqib, atau
Manaqiban telah menjadi keseharian masyarakat di Indonesia.” Tutur pak Faiz.
Mulai terbukalah siapa
sebernarnya Syekh Abdul Qadir Jaelani. Dulunya saya agak bingung juga tentang
jati diri beliau, kenapa pada setiap Yasinan, pada awal pembukaan Yasinan harus
dibuka dengan bertawasul kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani.
“Salah Satu isi manaqib adalah
karomah-karomah yang dipunyai oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani. Dan mereka
mengatakan hal itu tidak rasional. Ya jelas saja tidak rasional, lha wong
namanya saja karomah. Jika rasional itu menjadi hal yang biasa.” Karomah Syekh
Abdul Qadir Jaelani yang ditulis para pengikutnya di Tarekat Qadiriyah cukup
banyak. Hal ini menjadi sasaran empuk kenyinyiran penganut saudara Islam garis
lurus. Karomah, menurut mereka suatu hal yang tidak masuk akal. Namun jika
ditarik ke belakang, Nabi-Nabi lain juga mempunyai hal ajaib pemberian Tuhan
yang dinamakan Mukjizat.
“Mbok pembacaan manaqib itu
dihilangkan saja. Jika ingin hidayah baca saja Al-Quran atau Hadist”. Kata pak
Faiz menirukan golongan islam garis lurus.
“Hidayah Allah itu jalanya bisa
macem-macem. Termasuk mbaca Manaqib. Kita kan nggak tahu hidayah Allah itu
datang dari mana !? Bisa lewat jalur pengetahuan, keilmuan, mengkaji Qur’an dan Hadist, dan juga beramaqib.
Semakin banyak jalur, semakin banyak kemungkinan kita mendapat hidayah dari
Allah”. Terang pak Faiz.
Dalam pembukaan ngaji Filsafat
edisi _religius service_ alias ibadah ini, pemikiran Syekh Abdul Qadir Jaelani
yang dibedah adalah tentang dua sisi yang saling terkait, yaitu dzahir dan
batin. bungkus dan isi. Substansi dan esensi. Syariat dan Makrifat. keduanya
harus seiring sejalan. Tidak bisa diambil salah satu. Begitu pula ibadah.
Ibadah yang kita lakuakan juga
terkait dengan kedua hal ini. mulai dari syahadat, shalat, zakat, puasa, dan
naik haji. Semuanya bisa dilihat dari kacamata syariat dan makrifatnya.
Tingkat tertinggi dari ibadah
lahir-batin. Tingkatan ini diperoleh ini ketika kita sudah menemukan
hakikatnya. Kebanyakan kita mendefiniskan ketemunya sebuah hakikat sebuah
peristiwa itu dengan kata yang simpel yaitu “oalah,,,, ”
ketika seseorang telah menemukan
oalahnya, sejatinya ia telah menemukan hakikat dari suatu benda maupun hal yang
ia lakukan. Menurut pembacaan Syekh Abdul Qadir Jaelani, Oalah mengandung makna
yang dalam bukan hanya pengetahuan empiris saja. Namun hingga menghujam ke awal
segala sumber yaitu Allah. Sampai dimana tingkat ke-oalah-an kita?
ngaji malam mini bagi saya terasa
berat. Entah kenapa saya juga kurang tahu. Mungkin karena perkara baru, atau
pembahasan baru. Namun alasan kebingungan saya, saya sendiri juga kurang tahu.
Namun inilah yang terjadi.
Ngaji Filsafat seri religius service telah usai. Pembukaan
ngaji yang berat menurut saya. mungkin perlu banyak muhasabah untuk
menginternalisasi pemikiran Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Ngaji filsafat pun diakhiri. Para
santri pulang kerumah masing masing dengan sangu dari pembacan pak Faiz tentang
perkara lahir batin dari seorang Sultanul Auliya. Dan saya sendiri masih
mencoba menemukan oalah saya sendiri.
Saya berjalan memungut gelas, dan
menempatkanya di krat-krat yang ada. Saya melakukan itu karena ketimbang
sagelasnya ketendang kaki dan air tehnya tumpah? Ya lebih baik saya amankan.
Selain itu karena tidak minum sejak awal ngaji. Maka saya minum dengan puas teh
yang disajikan di jumbo. Hangat dan manisnya terasa sampai lubuk jiwa. Wehh…
Pengajian berakhir, saya dan
teman-teman menyempatkan hadir ke rumah mas Uud untuk berbela sungkawa.
Kami naik motor berbonceng-boncengan.
Lewat kapung kampung yang sepi. Semua orang sudah menutup pintunya. Namun ada
sebagian yang masih terjaga.
Kami sampai dirumah Kang Masud.
Disana kami disambut oleh yang punya rumah. Wajah sedih, dan mata merah telah
perlahan memudar dari wajah sahabat kami yang kehilangan ayahnya itu. namun
jejak-jejak kesedihan itu masih ada.
“Mangga silahkan duduk.” Kata kang
Uud mempersilahkan kami.
Kami dattang ber 8, 9 orang. Dengan
menggunakan lima motor. Kami juga melihat seseorang yang tidak asing, memakai
kemeja kuning. Dan ternyata benar, beliau adalah pak Faiz. Beliau menyempatkan
diri untuk mampir.
Jika boleh jujur, baru kali ini
saya mamrpir di konter yang hits ini. Konter yang pernah dibahas oleh admin Jomblo
Syari. Mungkin mereka berdua saling kenal? Entahlah.
Kami dari tadi sebenarnya
menunggu tempat kosong untuk menyolatkan jenazah ayah kang Masud. Setelah
beberapa saat, orang yang di dalam berganti dengan kami bersembilan orang. Pak
Faiz menjadi imam.
Setelah kami menjalankan shalat
jenazah. Sebagian teman-teman berpamitan. Dan menyisakan sebagian kecil dari
kelompok takmir. Disana kami bercerita kembali.
“Sebenarnya meninggalnya
seseorang itu sebenarnya memberi jalan kepada jiwa-jiwa yang baru untuk lahir”
begitu kata mas Arip alias Garuda Sakti.
Saya diam dan mendengarkan.
“Jiwa yang fisik atau
spiritualitas kang?” Saya menimpali.
“Jiwa fisik. Tempat ciptaan baru
itu lahir dan mengada”. jawab Mas Arip.
“Hmmm…”
Percakapan pun beralih topik
tentang ngaji filsafat barusan.
“Kalau saya rasakan, Ngaji sama Cak Kus di Sewon
sama hari ini kok ada hubungannya ya? Kemarin Cak Kus ngaji tentang wudhu.
Setiap orang harus menjaga wudhunya. Setiap muslim harus menjaga kesuciaannya
dengan wudhu. Dan hari ini Kyai Faiz juga membahas tentang ibadah lahir batin.
Yang disitu ada juga bahasan tentang wudhu”. Kata mas Arip.
Jika masuk ke kajian pak Faiz
barusan, wudhu yang yang dibahas mas Arip merupakan syariat. Dan hal itu mengimplikasikan
lapis pamaknaan kedua yaitu taraf makrifat alias makna batiniyah. Dengan
menjaga wudhu, diharapkan kita bisa menjaga kebersihan batin kita.
Namun jika dilihat dari
ngaji-ngaji kemarin juga, pembahasan kedua Kyai ini sering sama. Seolah-olah batin
Cak Kuswaidi Syafi’I dan Kyai Faiz tertaut dengan sebuah benang yang tak
kelihtan. Namun itulah yang terjadi.
**
“Saya ini kaya gini ya masih belajar kok! Kalau saya sudah jadi Wali
saya nggak mungkin mbahas Karl Marx atau Nietze.”
Fahrudin faiz
Kata kunci: (Abdul Qadir Jaelani,
Oalah!!!)
Oleh : Lingga Fajar
Dan sekali lagi khususon illa abi
akhi Uud Masudi Rahman, Al Fathihah…
No comments:
Post a Comment