#Resensi

Sumber Gambar : Bukalapak.com
Judul Buku
|
: Literary Journalism : Jurnalistik Sastrawi
|
Pengarang
|
: Masri Sareb Putra
|
Penerbit
|
: Salemba Humanika
|
Tahun Terbit
|
: 2010
|
Cetakan
|
: Pertama, 2010
|
Tempat Terbit
|
: Jakarta
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
Halaman
|
: xvi+194 halaman
|
ISBN
|
: 978-602-8555-16-6
|
Jurnalistik sastrawi? Pernahkah
Anda mendengar hal tersebut? Jurnalistik sastrawi adalah jurnalistik yang
bernada sastra. Seni berlogika dan merangkai kata-kata. Jurnalistik sastrawi
juga disebut softnews, alias berita empuk.
Jurnalistik sastrawi adalah seni
menarasikan fakta sehingga enak dibaca. Fakta-fakta yang tersaji dinarasikan
sedemikian rupa sehingga enak dibaca.
Jurnalistik sastrawi harus manut
dengan kode etik jurnalistik. Dimana salah satu poinnya adalah tidak boleh
menambah-nambahi fakta yang tersaji. Hal itu haram menurtur kode etik
jurnalistik.
Jurnalsime sastrawi, menurut saya
merupakan ilmu baru. Sintesis ilmu dari hard news dan sastra. Teknik meramu
kata yang menyajikan fakta secara sastrawi itu dalam benak saya merupakan
pengetahuan baru. Pastinya ilmu baru ini sangat bermanfaat untuk pembuatan
narasi yang slow dan mengalir.
Beda dari hardnews dan softnews
adalah cara penarasianya. Jika hard news yang kita kenal itu hanya menggunakan
metode 5W+1H, tapi soft news itu merangkai 5W+1H ini dengan sebuah narasi.
Disana ada karakter, alur, sudut pandang,
emosi, dan dialog. Ini yang menbedakan antara hard news dan soft news.
Membaca berita yang dinarasikan
rasa-rasanya akan enak dirasakan.pukulan, tendangan alur dan emosi begitu kerasa Seolah-lah kita nonton film drama
Korea atau lagi nonton anime. Titik tekan yang membuat soft news enak dibaca
mungkin yang paling menonjol karena emosi penulis itut tertaut disitu. Kita
sebagai pambaca juga ikut mendayu-dayu.
Soft news mungjin berisi
kata-kata pendek. Pada setiap paragraf mengandung satu ide pokok. Hal ini
menyebabkan para pembaca ingin tahu lebih banyak tentang apa yang dibacanya.
No comments:
Post a Comment