Monday, 1 May 2017

Api Akan Tetap Menyala

Hasil gambar untuk nawal el saadawi
sumber:i-cias.com

Nama
: Nawal el Saadawi
TTL
: Mesir, 1931 (sekarang berumur 86 tahun
Buku Remomendasi
: Perempuan di Titik Nol

#CatatanSantri
#FilsafatanMJS

Sebuah arsip #FilsafatanMJS

Nawal el Saadawi perempuan berdarah Mesir. Ia adalah anak seorang pegawai negeri Mesir yang terusir. Namun api tetaplah api. Semangatnya menyala-nyala hingga walaupun berada di pengasingan, ia tetap menyuarakan ketertidasan kaum perempuan. Nawal adalah anak pertama dari sembilan bersaurada. Dan ketika mereka menjadi yatim-piatu, Nawal lah yang menggantikan kedua orang tuannya untuk mengurus ke delapan saudaranya yang masih kecil itu. Nawal kecil adalah seorang anak yang ceria dan enerjik. Ia adalah seorang anak yang ingin tahu tentang berbagai hal. 

Jenjang karir Nawal dimulai di sebuah fakultas kedokteran. ia tumbuh dan besar disana. Nawal el Saadawi menjadi seorang dokter yang terampil. Ia mengabdi untuk kenamusiaan khususnya kesehatan masyarakat luas. Nawal el Saadawi menjadi lulusan terbaik di almamaternya. Hal ini mungkin agak janggal ketika sistem yang dianut negara itu adalah patriarkal. Dinama wanita selalu dinomor duakan dalam segala hal. Namun Nawal el Saadawi membuktikan bahwa ia sebagai seorang wanita bisa melakukan hal itu.
 
Kesembuhan orang lain selalu ia perhatikan, namun tak jarang juga ia menerima curhat-curhat dari pasien tentang segala hal. Mulai dari keluhan yang diderita si pasien, obat-obatan, saran, dan tidak jarang ia menerima curhatan tentnag rumah tangga seorang pasien. Ternyata banyak yang curhat dengan Nawal pada saat itu mengeluhkan perlakuan yang tidak adil yang diakukan oleh suaminya yang terlalu kasar. Hingga akhirnya Nawal meberanikan diri untuk mengetahuai gambar besar yang menyebabkan ketertindasan di kalangan ibu-ibu itu.

Nawal akhrinya memindah fokusnya untuk mebela kaum perempuan. Dalam masa pemerintahan… bau patriarki sangat ketara. Bisa di bayangkan apa yang terjadi? Pemerntah menganggap Nawal adalah seorang wanita yang banyak omong, susah diatur, nglunjak dan semacamnya. Namun Nawal tak patah arang. Ia tetap melakukan protes-protes menyuarakan ketidakadilan yang diteruma dari sistem patriarki Mesir pada saat itu. Ia menyuarakan kebenaran keterbebasan dari kungkungan kaum pria yang bergitu kuat. Dengan semangat baja ia menyuarakan kesetaraan. Nawal menginginkan ukhwah insaniyah dimana status laki-laki dan perempuan sama, yang membedakanya adalah masalah kodratinya saja. Nawal menyuwakan pemberontakanya melalui apapun. Lewat demonstrasi, dan yang paling ketara adalah perjuangannya yang dituangkan lewat tajamnya pena, salah satu karya yang fenomenal dari Nawal dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Perempuan di Titik Nol.

Sejak lajang Nawal sudah menyuarakan ketertindasan kaumnya. Hingga ia menikahpun tetap sama. Nawal menikah sebanyak tiga kali, yang petama dengan teman kuliahnya di kedokteran namun dengan berat hati pernikahan terpaksa kandas di tengah jalan. Pernikahan kedua kaliya dengan konglomereat, namun gagal jua. Dan yang ketiga ia menemukan kecocokan dengan seorang dokter yang memiliki kesamaan hobi dengannya yaitu menulis. Dan hingga kini Nawal hidup bahagia dengan dokter penulis itu. Cinta Nawal dan dokter itu  tumbuh di antara ruam-ruam jeruji dingin dan lembab penjara Mesir. Cinta memang bisa tumbuh dimana saja. Saat itu Nawal dipenjara dengan tuduhan makar. Namun dikarenakan itu benih cinta Nawal kian bersemi.

Kini pejuangannya semakin tajam menentang ketidakadalan, dengan ditemani suaminya perlawanan Nawal seolah-olah mendapatkan suntikan semangat baru. Api perlawanan semakin berkobar dalam dadanya. Ia semakin aktif dalam menulis. Hingga akhirnya pemerintah Mesir jengkel dengan perempuan yang satu ini. akhirnya terjadi pembredelan besar-besaran terhadap buku-buku Nawal. Nawal tidak kehabisan akal, ia mencari penerbit lain di luar negerinya (Mesir) yang berkenan untuk menerbitkan naskah-naskahnya. Penerbit-penerbit Libanon masih membuka lebar terhadap naskah-naskah Nawal.

Dalam hati Nawal yang namanya kebenaran itu harus disuarakan. Nawal yakin bahwa yang namanya kebernaran tidak selalu baik dan manis. Kebenaran itu terkadang keras dan menyakitkan. Namun semuanya harus diutarakan demi kesaradan seorang manusia. Tanpa kesaradan, manusia akan selalu terkungkung dalam ketidaksadaran. Kesadaran yang ingin dibangun oleh Nawal adalah kesadaran bahwa kita semua (perempuan khususnya) adalah seimbang, sepantaran. Jika dibaca dalam perspektif Islam bukan hanya pada tataran ukhwah islamiyah (persaudaraan anatar sesama muslim), ukhwah watoniah (persaudaraan kebangsaan) namun menyangkut hal-hal esensial yaitu ukwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Implikasinya adalah kita sebagai manusia harus memangdang sama manusia lain dalam segala hal. Tidak terpacing masalah  kesukuan, atau rasis.

Nawal juga mengtuarakan tentang demokrasi. Bahwa sesungguhnya demokrasi itu menitik beratkan pada suara. Pendapat itu harus disuarakan kepada masyarakat secara lugas, tuntas, dan tidak berbelit-belit. Inti dari demokrasi adalah kebersuaraan warga negaranya. Warga negara yang berdaya, mempunyai intelegensia, dan keberanian mengutarakan pendapat. Itu yang menjadi nilai tambah warga negara penganut sistem demokrasi. Demokrasi yang ideal adalah demokresi ketika era Yunani, dimana semua orang yang berkumpul di alun-alun kota untuk menyuarakan pendapatnya ketika ada sesuatu yang mengganjal. Dan mereka dengan senang hati menerima dan mempertimbangkan usuilan itu.

Namun jika dilihat kembali dari kacamata keindoneisaan, demokrasi disini tidak berjalan sesuai dengan apa yang menjadi prototipe Yunani. Sebagaian besar masyarakat disini masih kurang diberdayakan dalam hal keterampilan dan pengetahuan. Sehuingga masnyarakat kebanyakan suka ikut-ikutan atau manut saja atas perintah atasan. Niat hati ingin memberontak namun dapat dengan mudah dipatahkan karena argumentasi lemah.

Masuk kedalam pemikiran yang lebih intim. Nawal mengutarakan pendapatnya bahwa laki-laki itu mendekat kepada perempuan karena ‘ada maunya’. Mereka para leleki itu mendekat karena menginginkan seks belaka. “Maka jangan percaya kepada ketulusan laki-laki yang mendekatimu” kata Nawal. Jika ia adalah seorang anak konglomereat ia akan mendektaimu dengan hartanya, dan jika ia seorang visioner, maka ia akan mendekatimu dengan visi hidupnya hanya untuk mendapatkan seks belaka.

Nawal tidak hanya menyemprot kebiasaan lelaki yang sepeti itu, namun juga perempuan. Nawal mengkritik perempuan yang bersolek menggunakan lipstick dan high heels agar para lelaki terarik dengan mereka. Menurut nawal, ini adalah kosntruk sosial yang didalangi oleh kaum kapitalis. Setiap bulan pasti akan keluar model baju baru, sepatu baru, tas, hijab dengan model baru. Para kapitalis sengaja  memberikan mitos itu kepada para wanita. Wanita modis itu paling tidak mirip seperti orang-orang yang berjalan berlenggak lenggok di catwalk di Milan sana. Seolah-olah kota Milan lah pusat mode dunia. Namun jika dilihat dari kacamata Nawal, Milan tak ubahnya dengan etalase kapitalis.

Saran Nawal bagi para perempuan adalah. memilihlah sebuah mode pakaian atau apapun yanag lain itu karena pilihan kalian sendiri. Bukan karena ikut-ikutkan tren yang sedang berlaku di dunia. Jika kalian hanya menggubris tren yang ada di dunia ini maka kalian tak punya pendirian. Berpakaianlah yang nyaman menurut kalian. Dalam analoginya Nawal juga mengibaratkan bahwa seorang yang berniqab, berburqa, berhijab itu sama dengan wanita telanjang yang ada di Barat jika mereka berpakaian hanya karena suruhan orang lain. Bukan karena Usaha rasional atas asas kebernanfaatan pakaian itu.

**
“Ngaji tentang Perempuan Bicara Perempuan untuk tema bulan April ini telah selesai. Betty Friedan, Fatima Mernissi, Kartini dan Nawal el Saadawi membawa pesan kepada kalian para perempuan, bahwa sebagai perempuan jangan takut untuk bermimpi setinggi-tingginya…”

Fahrudin Faiz

No comments:

Post a Comment