sumber:i-cias.com
|
Nama
|
: Nawal el Saadawi
|
|
TTL
|
: Mesir, 1931 (sekarang berumur 86 tahun
|
|
Buku Remomendasi
|
: Perempuan di Titik Nol
|
#CatatanSantri
#FilsafatanMJS
Sebuah arsip #FilsafatanMJS
Nawal el Saadawi perempuan
berdarah Mesir. Ia adalah anak seorang pegawai negeri Mesir yang terusir. Namun
api tetaplah api. Semangatnya menyala-nyala hingga walaupun berada di
pengasingan, ia tetap menyuarakan ketertidasan kaum perempuan. Nawal adalah
anak pertama dari sembilan bersaurada. Dan ketika mereka menjadi yatim-piatu,
Nawal lah yang menggantikan kedua orang tuannya untuk mengurus ke delapan
saudaranya yang masih kecil itu. Nawal kecil adalah seorang anak yang ceria dan
enerjik. Ia adalah seorang anak yang ingin tahu tentang berbagai hal.
Jenjang karir Nawal dimulai di
sebuah fakultas kedokteran. ia tumbuh dan besar disana. Nawal el Saadawi
menjadi seorang dokter yang terampil. Ia mengabdi untuk kenamusiaan khususnya
kesehatan masyarakat luas. Nawal el Saadawi menjadi lulusan terbaik di
almamaternya. Hal ini mungkin agak janggal ketika sistem yang dianut negara itu
adalah patriarkal. Dinama wanita selalu dinomor duakan dalam segala hal. Namun
Nawal el Saadawi membuktikan bahwa ia sebagai seorang wanita bisa melakukan hal
itu.
Kesembuhan orang lain selalu ia
perhatikan, namun tak jarang juga ia menerima curhat-curhat dari pasien tentang
segala hal. Mulai dari keluhan yang diderita si pasien, obat-obatan, saran, dan
tidak jarang ia menerima curhatan tentnag rumah tangga seorang pasien. Ternyata
banyak yang curhat dengan Nawal pada saat itu mengeluhkan perlakuan yang tidak
adil yang diakukan oleh suaminya yang terlalu kasar. Hingga akhirnya Nawal
meberanikan diri untuk mengetahuai gambar besar yang menyebabkan ketertindasan
di kalangan ibu-ibu itu.
Nawal akhrinya memindah fokusnya
untuk mebela kaum perempuan. Dalam masa pemerintahan… bau patriarki sangat
ketara. Bisa di bayangkan apa yang terjadi? Pemerntah menganggap Nawal adalah
seorang wanita yang banyak omong, susah diatur, nglunjak dan semacamnya. Namun
Nawal tak patah arang. Ia tetap melakukan protes-protes menyuarakan
ketidakadilan yang diteruma dari sistem patriarki Mesir pada saat itu. Ia
menyuarakan kebenaran keterbebasan dari kungkungan kaum pria yang bergitu kuat.
Dengan semangat baja ia menyuarakan kesetaraan. Nawal menginginkan ukhwah
insaniyah dimana status laki-laki dan perempuan sama, yang membedakanya adalah
masalah kodratinya saja. Nawal menyuwakan pemberontakanya melalui apapun. Lewat
demonstrasi, dan yang paling ketara adalah perjuangannya yang dituangkan lewat
tajamnya pena, salah satu karya yang fenomenal dari Nawal dan sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Perempuan di Titik Nol.
Sejak lajang Nawal sudah
menyuarakan ketertindasan kaumnya. Hingga ia menikahpun tetap sama. Nawal
menikah sebanyak tiga kali, yang petama dengan teman kuliahnya di kedokteran
namun dengan berat hati pernikahan terpaksa kandas di tengah jalan. Pernikahan
kedua kaliya dengan konglomereat, namun gagal jua. Dan yang ketiga ia menemukan
kecocokan dengan seorang dokter yang memiliki kesamaan hobi dengannya yaitu
menulis. Dan hingga kini Nawal hidup bahagia dengan dokter penulis itu. Cinta
Nawal dan dokter itu tumbuh di antara
ruam-ruam jeruji dingin dan lembab penjara Mesir. Cinta memang bisa tumbuh
dimana saja. Saat itu Nawal dipenjara dengan tuduhan makar. Namun dikarenakan
itu benih cinta Nawal kian bersemi.
Kini pejuangannya semakin tajam
menentang ketidakadalan, dengan ditemani suaminya perlawanan Nawal seolah-olah
mendapatkan suntikan semangat baru. Api perlawanan semakin berkobar dalam
dadanya. Ia semakin aktif dalam menulis. Hingga akhirnya pemerintah Mesir
jengkel dengan perempuan yang satu ini. akhirnya terjadi pembredelan
besar-besaran terhadap buku-buku Nawal. Nawal tidak kehabisan akal, ia mencari
penerbit lain di luar negerinya (Mesir) yang berkenan untuk menerbitkan
naskah-naskahnya. Penerbit-penerbit Libanon masih membuka lebar terhadap
naskah-naskah Nawal.
Dalam hati Nawal yang namanya
kebenaran itu harus disuarakan. Nawal yakin bahwa yang namanya kebernaran tidak
selalu baik dan manis. Kebenaran itu terkadang keras dan menyakitkan. Namun
semuanya harus diutarakan demi kesaradan seorang manusia. Tanpa kesaradan,
manusia akan selalu terkungkung dalam ketidaksadaran. Kesadaran yang ingin
dibangun oleh Nawal adalah kesadaran bahwa kita semua (perempuan khususnya)
adalah seimbang, sepantaran. Jika dibaca dalam perspektif Islam bukan hanya
pada tataran ukhwah islamiyah (persaudaraan anatar sesama muslim), ukhwah
watoniah (persaudaraan kebangsaan) namun menyangkut hal-hal esensial yaitu
ukwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Implikasinya adalah kita sebagai
manusia harus memangdang sama manusia lain dalam segala hal. Tidak terpacing
masalah kesukuan, atau rasis.
Nawal juga mengtuarakan tentang
demokrasi. Bahwa sesungguhnya demokrasi itu menitik beratkan pada suara.
Pendapat itu harus disuarakan kepada masyarakat secara lugas, tuntas, dan tidak
berbelit-belit. Inti dari demokrasi adalah kebersuaraan warga negaranya. Warga
negara yang berdaya, mempunyai intelegensia, dan keberanian mengutarakan
pendapat. Itu yang menjadi nilai tambah warga negara penganut sistem demokrasi.
Demokrasi yang ideal adalah demokresi ketika era Yunani, dimana semua orang
yang berkumpul di alun-alun kota untuk menyuarakan pendapatnya ketika ada
sesuatu yang mengganjal. Dan mereka dengan senang hati menerima dan
mempertimbangkan usuilan itu.
Namun jika dilihat kembali dari
kacamata keindoneisaan, demokrasi disini tidak berjalan sesuai dengan apa yang
menjadi prototipe Yunani. Sebagaian besar masyarakat disini masih kurang
diberdayakan dalam hal keterampilan dan pengetahuan. Sehuingga masnyarakat
kebanyakan suka ikut-ikutan atau manut saja atas perintah atasan. Niat hati
ingin memberontak namun dapat dengan mudah dipatahkan karena argumentasi lemah.
Masuk kedalam pemikiran yang
lebih intim. Nawal mengutarakan pendapatnya bahwa laki-laki itu mendekat kepada
perempuan karena ‘ada maunya’. Mereka para leleki itu mendekat karena
menginginkan seks belaka. “Maka jangan percaya kepada ketulusan laki-laki yang
mendekatimu” kata Nawal. Jika ia adalah seorang anak konglomereat ia akan
mendektaimu dengan hartanya, dan jika ia seorang visioner, maka ia akan
mendekatimu dengan visi hidupnya hanya untuk mendapatkan seks belaka.
Nawal tidak hanya menyemprot
kebiasaan lelaki yang sepeti itu, namun juga perempuan. Nawal mengkritik
perempuan yang bersolek menggunakan lipstick dan high heels agar para lelaki
terarik dengan mereka. Menurut nawal, ini adalah kosntruk sosial yang didalangi
oleh kaum kapitalis. Setiap bulan pasti akan keluar model baju baru, sepatu
baru, tas, hijab dengan model baru. Para kapitalis sengaja memberikan mitos itu kepada para wanita.
Wanita modis itu paling tidak mirip seperti orang-orang yang berjalan
berlenggak lenggok di catwalk di Milan sana. Seolah-olah kota Milan lah pusat
mode dunia. Namun jika dilihat dari kacamata Nawal, Milan tak ubahnya dengan
etalase kapitalis.
Saran Nawal bagi para perempuan
adalah. memilihlah sebuah mode pakaian atau apapun yanag lain itu karena
pilihan kalian sendiri. Bukan karena ikut-ikutkan tren yang sedang berlaku di
dunia. Jika kalian hanya menggubris tren yang ada di dunia ini maka kalian tak
punya pendirian. Berpakaianlah yang nyaman menurut kalian. Dalam analoginya
Nawal juga mengibaratkan bahwa seorang yang berniqab, berburqa, berhijab itu
sama dengan wanita telanjang yang ada di Barat jika mereka berpakaian hanya
karena suruhan orang lain. Bukan karena Usaha rasional atas asas kebernanfaatan
pakaian itu.
**
“Ngaji tentang Perempuan Bicara
Perempuan untuk tema bulan April ini telah selesai. Betty Friedan, Fatima
Mernissi, Kartini dan Nawal el Saadawi membawa pesan kepada kalian para
perempuan, bahwa sebagai perempuan jangan takut untuk bermimpi setinggi-tingginya…”
Fahrudin Faiz
No comments:
Post a Comment