
Sumber gambar : balebukubekas.wordpress.com
Judul Buku
|
: Serat Nalawasa-Nalasatya
|
Pengarang
|
: Raden Panji Surya Wijaya
(Transliterasi dan alih bahasa oleh Seonarko H. Poespito
|
Penerbit
|
: Proyek Penerbitan Buku Bacaan
dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidiakan Nasional
|
Tahun Terbit
|
: 1979
|
Cetakan
|
: pertama
|
Tempat Terbit
|
: Jakarta
|
Bahasa
|
: Jawa-Indonesia
|
Halaman
|
: 131 halaman
|
ISBN
|
: -
|
Perbuatan yang baik itu
sensantiasa tumbuh dan berkembang. Semua berawal dari satu demi satu kebaikan
yang terjalin menjadi suatu kebaikan yang lebih besar. Kebaikan yang dilakukan
secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif menimbulkan ganjaran yang sendiri
sendiri sesuai dengan kekuatan kita sebagai manusia. Perbuatan baik itu harus
senantiasa dipupuk dan dipelihara agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Pasti
ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan yang kadang datang menghampiri. Namun
dengan kekuatan baik dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, saya yakin kita
bisa melewati cobaan itu dengan lancar. Mulus. Halangan ada untuk menjadikan
kita lebik dewasa dalam menghadapi masalah.
Tersebutlah dua orang saudara di
Kaki Gunung Semeru. Kedua orang ini adalah cikal bakal sebuah padukuhan yang
berada di kaki Gunung Semeru tersebut. mereka berdua bernama Nalasetya dan
Nalawasa. Mereka berdua bekerja sebagai petani seperti kebanyakan masyarakat
Jawa pada umumuya. Mereka runtang-runtung
selalu berdua. Maklum pada saat itu Jawa masih sepi penghuninya.
Kebersamaan itu mereka jalin hingga umur paruh baya. Namun suatu waktu ada
sebuah pertengkaran terjadi.
Nalasetya sedang membuka lahan di
kaki bukit, dibawah pohon randu alas yang besar. Saat menggali tanah tiba-tiba
cangkulnya mengenai sesuatu yang keras yang mengakibatkan mata cangkunya patah.
Merasa ada yang tidak beres maka Nalasetya pun menghentikan pembukakaan
lahanya. Dan mencari penyebab mata cangkulnya bisa patah. Ternyata mata cangkul
Nalasetya mengenai sebuah enceh (bokor, atau kendi berukuran besar yang biasaya
digunakan untuk wadah air, Jw) enceh itu terbuat dari besi. Dan kelihatanya ada
isinya. Karena taka da saksi yang melihat Nalasetya maka, ia tidak berani
membuka enceh tersebut. hingga hati kecilnya berkata untuk mengabari saudaranya
yang bertempat tinggal di dukuh yaitu Nalawasa. Naka pergilah Nalasetya ke
rumah Nalawasa.
Setibanya di rumah Nalawasa,
Nalasetyapun mengutarakaan maskudnya. Ia berkata kepada sahabatnya itu bahwa ia
baru saja menemukan sebuah enceh yang begitu besar. Ia yakin bahwa enceh
tersebut ada isinya, tapi entah apa itu Nalasetya tidak tahu. Datangnya
Nalasetya ke tempat Nalawasa adalah meminta Nalawasa menjadi saksi pembukaan
enceh tersebut. maka kedua bersaudara inipun berangkat menusju enceh yang waktu
ditinggal oleh Nalasetya kembali dikubur di tempat semula. Dan merekapun
berjalan.
Setibanya di bawah pohon randu
alas, tempat enceh itu ditemukan, Nalawasa dan Nalasetya membuka enceh itu
secara perlahan. Tak disangka isinya aalah raja
brana, mas picis. Yang sangat bernilai harganya. Mereka berdua silau akan
adanya emas picis yang seumur-umur tidak pernah dilihatnya seperti pada saat
ini. emas itu banyak dan mungkin jika dijual akan mampun menghidupi keluarga
mereka hingga tujuh turuan.
Melihat emas yang banyak dan
berkilauan itu, pikiran licik Nalawasa pun mulai bertindak. Ia mulai sesorah
kepada Nalasetya bahwa apa pun yang ada di bumi ini adalah milik sang raja
tidak ada yang boleh memilikinya. Hutan, gunung, sungai, pantai, jalan, jalan.
Itu semua milik raja. Dengan begitu emas satu enceh itu juga milik raja. Namun
ini hanya sekedar muslihat dari Nalawasa untuk mengambil alih mas picis itu. Nalawasa memebri saran
agar Nalawasa pulang kerumah, nantinya emas itu akan dilaporkan kepada
hulubalang raja untuk diserahkan. Dengan polosnya Nalasetya manut kepada saudaranya itu dan pulang.
Karena telah diberi tahu bahwa besok emas picis itu kan dibawa kehadapan raja
untuk diserahkan. Namun Nalawasa juga memutar otak agar emas itu menjadi
milikya.
Ketika senja mulai datang,
timbulah rasa ingin keserakaahan dari Nalawasa. Ia menemukan ide untuk agar
supaya emas itu menjadi miliknya pribadi,. Dan tidak akan dibagi kepada
saudaraya yang tolol itu. Nalawasa akhirya bersekongkol dengan sahabat karipya bernama
Naladusta. Malam hampir tiba. Dengan niat liciknya nalawasa bersekongkol dengan
Naladusta untuk menguasaai emas rajabrana tersebut. keesokan harinya Nalawasa
dan Naladusta mulaiberaksi. Mereka memawa kapak dan pahat untuk melubangi randu
alas yang besar itu. yang kira-kira cukup utuk bersebunyi Naladusta didalamnya.
Tidak sulit mereka melubangi
batang pohon randu alas tersebut,. karena mereka sudah tahu bahwa tekstur
batang pohon randu itu rapuh dan mudah patah. Setelah pohon randu mereka
lubangi, Naladusta disuruh bersebunyi disitu. Dan memeberi kesaksian kepada
Nalasetuya bahwa emas picis rajabrana tersebut telah dicuri orang. Akhirnya
Nalawasapun meanggil nalasetya.
Berlagak seolah-olah terkecjut, Nalawasa
histeeris karena tidak menyangka bahwa enceh yang berisi emas picis itu dicuri
orang. Dan untuk menguatkan ceritanya ia menyuruh Nalasetya agar
mengklarifikasi hal itu kepada makhluk halus penunggu pohon rndu alas tersebut.
karena masih polos, Nalastya pun bertanya kepada pohon randu alas tersebut. tak
disangka dari sana kuar suara yang membenarkan bahwa emas picis itu telah
dicuri oleh orang sakti. Dan Nalasetya pun pulang dengan tangan hampa.
Langkah pertama Nalawasa tealah
berhasil. Ia melakukan hal kotor selanjutnya. Saat itu Nalawasa pergi ke kota
dan melapor bahwa harta peninggalan kakek buyutnya yang disipan di bawah randu
alas di tengah hutan telah diambil oleh Nalasetya. Nalawasa merinci
barang-barang apa saja yang hilang. Dan secara rinci pula menyebutkanya di
depan seorang penyidik bernala Wignyasastra. Dengan baik Wignyasastra
mengetahui delik perkara yang diajukan oleh Nalawasa. Dan mengatakan agar
Nalawasa pulang kerumah, dan masalahnya akan segera ditangani.
Wignyasastra adalah hakim yang
mebawai puluhan polisi, penewu, dan
jaksa. Maka tidak heran setiap hari ia harus menerima laporan teteng berbagai
macam hal yang terjadi di daerah operasinya. Dan Wigyasastra mencium gelagat
yang kurang mengenakkan ketika Nalawasa manyusun laporan kepadanya. Dan untuk
kesekian kali Wigyasastra tidak mudah terprovokasi.
Untuk menguatakn arguementasinya
ia sowan kepada kakak seperguruanya karena hal ini melibatkan makhluk halus.
Nalawasa mengadirkan mahluk halus untuk menjadi saksi atas pencurian yang
dilakukan Nalasetya. Sebernarnya tidak ketemu nalar jika dalam persidangan,
saksinya adalah makhluk halus. Dan mereka berdua pun menyangsikan hal tersebut.
maka dengan berat hati guru dari Wigyasastra, yang bernama Wignyapradata pun
turun tangan. menyelesaikan masalah yanga ada. Dan akhrinyapun Wigyaparata
turntangan
Melihat permasalahan yang ada
Wignya pardata mulai menenlaah secara pelan-pelan berkas yang masuk. Dan
mengambil kesimpulan bahwa kesalahan terlaetak pada Nalawasa. Setelah
pemeriksaan yang rumit dan pemnggeledahan di rumah Nalawasa dan Nalasetya. Maka
telah ditetapkan Nalawasa sebagai pencuri dan barang bukti ditemukan enceh,
kumplit dengan isinya seperti yang dipaparkan ileh Nalawasa. Dan akhrinya happy
ending. Nalawasa dipenjara dan nalasetyapun memdapat bagian sepertiga dari
jumlah harta dalam enceh yang diektemukannya.
No comments:
Post a Comment