Friday, 28 April 2017

Cerita dari Lereng Semeru

Hasil gambar untuk serat nalawasa
Sumber gambar : balebukubekas.wordpress.com


Judul Buku
: Serat Nalawasa-Nalasatya
Pengarang
: Raden Panji Surya Wijaya (Transliterasi dan alih bahasa oleh Seonarko H. Poespito
Penerbit
: Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidiakan Nasional
Tahun Terbit
: 1979
Cetakan
: pertama
Tempat Terbit
: Jakarta
Bahasa
: Jawa-Indonesia
Halaman
: 131 halaman
ISBN
: -

Perbuatan yang baik itu sensantiasa tumbuh dan berkembang. Semua berawal dari satu demi satu kebaikan yang terjalin menjadi suatu kebaikan yang lebih besar. Kebaikan yang dilakukan secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif menimbulkan ganjaran yang sendiri sendiri sesuai dengan kekuatan kita sebagai manusia. Perbuatan baik itu harus senantiasa dipupuk dan dipelihara agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Pasti ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan yang kadang datang menghampiri. Namun dengan kekuatan baik dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, saya yakin kita bisa melewati cobaan itu dengan lancar. Mulus. Halangan ada untuk menjadikan kita lebik dewasa dalam menghadapi masalah.

Tersebutlah dua orang saudara di Kaki Gunung Semeru. Kedua orang ini adalah cikal bakal sebuah padukuhan yang berada di kaki Gunung Semeru tersebut. mereka berdua bernama Nalasetya dan Nalawasa. Mereka berdua bekerja sebagai petani seperti kebanyakan masyarakat Jawa pada umumuya. Mereka runtang-runtung selalu berdua. Maklum pada saat itu Jawa masih sepi penghuninya. Kebersamaan itu mereka jalin hingga umur paruh baya. Namun suatu waktu ada sebuah pertengkaran terjadi.

Nalasetya sedang membuka lahan di kaki bukit, dibawah pohon randu alas yang besar. Saat menggali tanah tiba-tiba cangkulnya mengenai sesuatu yang keras yang mengakibatkan mata cangkunya patah. Merasa ada yang tidak beres maka Nalasetya pun menghentikan pembukakaan lahanya. Dan mencari penyebab mata cangkulnya bisa patah. Ternyata mata cangkul Nalasetya mengenai sebuah enceh (bokor, atau kendi berukuran besar yang biasaya digunakan untuk wadah air, Jw) enceh itu terbuat dari besi. Dan kelihatanya ada isinya. Karena taka da saksi yang melihat Nalasetya maka, ia tidak berani membuka enceh tersebut. hingga hati kecilnya berkata untuk mengabari saudaranya yang bertempat tinggal di dukuh yaitu Nalawasa. Naka pergilah Nalasetya ke rumah Nalawasa.

Setibanya di rumah Nalawasa, Nalasetyapun mengutarakaan maskudnya. Ia berkata kepada sahabatnya itu bahwa ia baru saja menemukan sebuah enceh yang begitu besar. Ia yakin bahwa enceh tersebut ada isinya, tapi entah apa itu Nalasetya tidak tahu. Datangnya Nalasetya ke tempat Nalawasa adalah meminta Nalawasa menjadi saksi pembukaan enceh tersebut. maka kedua bersaudara inipun berangkat menusju enceh yang waktu ditinggal oleh Nalasetya kembali dikubur di tempat semula. Dan merekapun berjalan.

Setibanya di bawah pohon randu alas, tempat enceh itu ditemukan, Nalawasa dan Nalasetya membuka enceh itu secara perlahan. Tak disangka isinya aalah raja brana, mas picis. Yang sangat bernilai harganya. Mereka berdua silau akan adanya emas picis yang seumur-umur tidak pernah dilihatnya seperti pada saat ini. emas itu banyak dan mungkin jika dijual akan mampun menghidupi keluarga mereka hingga tujuh turuan.

Melihat emas yang banyak dan berkilauan itu, pikiran licik Nalawasa pun mulai bertindak. Ia mulai sesorah kepada Nalasetya bahwa apa pun yang ada di bumi ini adalah milik sang raja tidak ada yang boleh memilikinya. Hutan, gunung, sungai, pantai, jalan, jalan. Itu semua milik raja. Dengan begitu emas satu enceh itu juga milik raja. Namun ini hanya sekedar muslihat dari Nalawasa untuk mengambil alih mas picis itu. Nalawasa memebri saran agar Nalawasa pulang kerumah, nantinya emas itu akan dilaporkan kepada hulubalang raja untuk diserahkan. Dengan polosnya Nalasetya manut kepada saudaranya itu dan pulang. Karena telah diberi tahu bahwa besok emas picis itu kan dibawa kehadapan raja untuk diserahkan. Namun Nalawasa juga memutar otak agar emas itu menjadi milikya.

Ketika senja mulai datang, timbulah rasa ingin keserakaahan dari Nalawasa. Ia menemukan ide untuk agar supaya emas itu menjadi miliknya pribadi,. Dan tidak akan dibagi kepada saudaraya yang tolol itu. Nalawasa akhirya bersekongkol dengan sahabat karipya bernama Naladusta. Malam hampir tiba. Dengan niat liciknya nalawasa bersekongkol dengan Naladusta untuk menguasaai emas rajabrana tersebut. keesokan harinya Nalawasa dan Naladusta mulaiberaksi. Mereka memawa kapak dan pahat untuk melubangi randu alas yang besar itu. yang kira-kira cukup utuk bersebunyi Naladusta didalamnya.
Tidak sulit mereka melubangi batang pohon randu alas tersebut,. karena mereka sudah tahu bahwa tekstur batang pohon randu itu rapuh dan mudah patah. Setelah pohon randu mereka lubangi, Naladusta disuruh bersebunyi disitu. Dan memeberi kesaksian kepada Nalasetuya bahwa emas picis rajabrana tersebut telah dicuri orang. Akhirnya Nalawasapun meanggil nalasetya.

Berlagak seolah-olah terkecjut, Nalawasa histeeris karena tidak menyangka bahwa enceh yang berisi emas picis itu dicuri orang. Dan untuk menguatkan ceritanya ia menyuruh Nalasetya agar mengklarifikasi hal itu kepada makhluk halus penunggu pohon rndu alas tersebut. karena masih polos, Nalastya pun bertanya kepada pohon randu alas tersebut. tak disangka dari sana kuar suara yang membenarkan bahwa emas picis itu telah dicuri oleh orang sakti. Dan Nalasetya pun pulang dengan tangan hampa.

Langkah pertama Nalawasa tealah berhasil. Ia melakukan hal kotor selanjutnya. Saat itu Nalawasa pergi ke kota dan melapor bahwa harta peninggalan kakek buyutnya yang disipan di bawah randu alas di tengah hutan telah diambil oleh Nalasetya. Nalawasa merinci barang-barang apa saja yang hilang. Dan secara rinci pula menyebutkanya di depan seorang penyidik bernala Wignyasastra. Dengan baik Wignyasastra mengetahui delik perkara yang diajukan oleh Nalawasa. Dan mengatakan agar Nalawasa pulang kerumah, dan masalahnya akan segera ditangani.

Wignyasastra adalah hakim yang mebawai puluhan polisi, penewu, dan jaksa. Maka tidak heran setiap hari ia harus menerima laporan teteng berbagai macam hal yang terjadi di daerah operasinya. Dan Wigyasastra mencium gelagat yang kurang mengenakkan ketika Nalawasa manyusun laporan kepadanya. Dan untuk kesekian kali Wigyasastra tidak mudah terprovokasi.

Untuk menguatakn arguementasinya ia sowan kepada kakak seperguruanya karena hal ini melibatkan makhluk halus. Nalawasa mengadirkan mahluk halus untuk menjadi saksi atas pencurian yang dilakukan Nalasetya. Sebernarnya tidak ketemu nalar jika dalam persidangan, saksinya adalah makhluk halus. Dan mereka berdua pun menyangsikan hal tersebut. maka dengan berat hati guru dari Wigyasastra, yang bernama Wignyapradata pun turun tangan. menyelesaikan masalah yanga ada. Dan akhrinyapun Wigyaparata turntangan

Melihat permasalahan yang ada Wignya pardata mulai menenlaah secara pelan-pelan berkas yang masuk. Dan mengambil kesimpulan bahwa kesalahan terlaetak pada Nalawasa. Setelah pemeriksaan yang rumit dan pemnggeledahan di rumah Nalawasa dan Nalasetya. Maka telah ditetapkan Nalawasa sebagai pencuri dan barang bukti ditemukan enceh, kumplit dengan isinya seperti yang dipaparkan ileh Nalawasa. Dan akhrinya happy ending. Nalawasa dipenjara dan nalasetyapun memdapat bagian sepertiga dari jumlah harta dalam enceh yang diektemukannya.

No comments:

Post a Comment