sumber gambar :griyabuku.co.id
|
Judul Buku
|
: Teori Belajar Orang Dewasa
|
|
Pengarang
|
: Anisah Basleman dan Syamsu Mappa
|
|
Penerbit
|
: Rosda
|
|
Tahun Terbit
|
: 2011
|
|
Cetakan
|
: pertama
|
|
Tempat Terbit
|
: Bandung
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: 172
|
|
ISBN
|
: 978-979-692-045-7
|
Pembelajaran tentang orang dewasa
sedikit berbeda dengan konsep pembelajaran anak-anak. Perbedaanya terletak pada
umur mereka (yang ini mutlak) dan yang lain tenang kematangan konsep, luas
wawasan, dan terkait dengan keterampilan yang akan di peroleh seseorang dewasa
tersebut. kererampilan orang dewasa biasanya terkait dengan keterampilan
praktis. Bukan lagi tataran konsepsi-atau masalah abstraksi. Apa lagi jika yang
diajar itu adalah manusia lanjut usia (menopause) akan berbeda juga cara
mengajarnya. Diperlukan keterampilan khusus untuk mengajar orang dewasa. Tidak
bisa disamakan antara pembelajaran orang dewasa dan anak-anak. Namun dalam hal
ini pembahasan yang saya lakukan bukanlah pembelajaran orang dewasa secara umum
namun ilmu yang berkesan dalam buku ini, sehingga saya tuliskan kepada Anda.
Ilmu itu adalah overlearning.
Dalam kasus pembelajaran orang
dewasa disini dikenal konsep overlearning.
Yang dimaksud overlearning adalah
pembelajaran yang secara terus menerus dilakukan. Maksud dari terus-menerus
disini adalah namusia ketika membaca, atau mendengarkan diharapkan menuliskan
apa yang didengarkan dan apa yang dibaca. Hal ini berkaitan dengan kondisi pelatihan
yang dilakukan oleh otak ketika menerima ilmu baru. Otak mengkondisikan
pengalaman, konsep, logaritma pengetahuan jika dilakukan secara berulang. Untuk
memasukan gagasan itu perlu waktu yang banyak dan piranti masukan yang beragam
agar pengetahuan itu bisa bertahan lama di dalam long term memory kita.
pembelajaran over learning ini
mungkin masih kontkestual dengan keadaan kita saat ini sebagai masyarakat
pembelajar. Ketika ada ilmu baru yang kita baca, atau informasi baru yang kita
dengarkan, kita disegerakan untuk mengulang-ulang kembali apa yang kita dengar
dan baca melalui media lain. Semacam tulisan. lewat tulisan kita bisa mengukur
seberapa jauh kita paham tetang materi yang diberikan oleh buku autaipun
pembicara pada sebuah seminar atau ngaji. Dan kemungkinan besar hal itu
terinternalisasi kedalam kepribadian kita lebih besar. Dari pada hanya datang,
duduk, diam, mendengarkan, terus pulang, tidur. Hal ini sangat disayangkan.
Guna overlearning bagi saya sendiri adalah untuk menggali kapsitas diri
tetang ilmu baru yang didapatkan. Ketika otak sering dilatih maka daya tangkap
otak teresebut akan tajam dan peka, serta dibantu oleh intuisi-intuisi rohani
akan menjadikan seseorang itu jos. Ibarat gentong yang tersisi air, jika air
itu dibiarkan mengendap pasti akan ada lumut yang menempel dan menjadikan air
dalam gentong itu berwarna hijau. Sama seperti itu ilmu pengetahuan jika tidak
disebarkan kepada orang lain hanya akan mengendap tak berguna. Overlearning ini sedikit berbeda dengan
gentong yang saya ibaratkan diatas. Otak manusia itu semakin diisi semakin
luas. Kapasiatas penerimaanya tetap namun neuron orak-kita akan semakin aktif
dan saling melaksanakan interkoneski atar neuron. Dan hasil dari koneksi neuron
itu menjadikan kita tangkas dalam berfikir dan bertindak. Cekatan dalam
mengambil keputusan. Dan yang pasti dengan memberikan ilmu itu kepada orang
lain maka ilmu kita akan berguna. Jugabagi orang lain. Dan menjadikan pahala
itu mengalir kepada ktia.
No comments:
Post a Comment