#CatatanSantri
Sumber gambar: id.wikipedia.org
Suara Hati Kartini
Sebuah Catatan Santri Ngaji Filsafat
Kartini lahir dari keluarga
terpandang di pesesir utara Jawa, Jepara. Ia lahir sebagai seorang pembaharu
yang sebentar lagi kita peringati tanggal 21 April. Kartini termasuk golongan
orang berdarah biru. Dengan kekuasaaanya seharusnya dia mendapat tempat
terhormat dalam kedudukan sosial masyarakat Jawa pada saat itu. Karena
tergolong keluarga ningrat, seharusnya ia dipanggil Raden Rara (RR) Raden Ajeng
(RA) namun ia menolaknya . Hingga Pramoedya
Ananta Toer, menuilis buku Panggil
Aku Kartini Saja!.
Namun sangat disayangkan saya baru
mengenal Beliau dan Kakaknya. Kakak dari Kartini bernama Kartono, lengkapnya ia
bernama R.M.P. (Raden Mas Panji) Sosrokartono. Lahir dari seorang bupati,
kehidupan keluarga Kartini terpandang. Kakanya yang bersekolah sampai Leiden
setiap bulan mengirimkan buku-buku untuk dibaca kartini sebagai hiburan.
Kartini membacanya dengan lahap. Setiap buku-buku yang dikirimkan oleh kakaknya
telah habis ia baca. Kartini pun tumbuh
sebagai wanita yang berbeda saat itu. ia tidak seperti kebanyakan wanita Jawa
umumnya. Ia menjadi wanita Jawa yang kritis dan peka terhadap keadaan sosial
masyarakat di sekitarnya.
Kartini lahir di tengah penjajahan
pemikiran yang perporos pada patriarki, feodalisme, dan kolonialisme. Awalnya
ia membabarkan kegalauanya itu kepada sahabat pena, yang kebetulan seorang noni
dari Belanda. Selama berbulan-bulan ia menjalin pertemanan dengan sahabat
penanya itu dengan baik. Kartini menarasikan ketertindasan kaum-kaum pribumi,
yang karena mereka kurang cerdas, maka mereka tidak bisa melawan. Sampai pada
suatu titik ketika beliau sudah mangkat, Curhat kegalauanya dibukukan dengan
judul Habis Gelap Terbitlah Terang, Dalam
bukunya ini Kartini ingin menceritakan kegalauanya tentang tiga pokok bahasan
diatas.
Zaman dahulu yang namanya
patriarki sangat dominan dan menyulitkan gerak langkah kaum perempaun yang
sebaya dengan kartini. Perendahan martabat kaum peremapuan oleh laki-laki yang tidak
mau status quonya diusik. Dalam
kepungan patriarkhi, kebudayaan Jawa mengkategorikan wanita yang pas itu adalah
wanita yang taat suami, mau dimadu,
tidak berbicara secara keras. dll. Dalam hal ini titik tumpu aspek material
sangat kelihatan kelihatan. Sehingga aspek spiritual seperti kecerdasan, dan
budi perketi sama sekali tidak digubris. Diskriminasi oleh kaum pria dan
diamini juga oleh kaum wanitanya juga. Mungkin karena mereka kurang mendapat
pendidikan yang layak sehingga tidak dapat berontak. Sehingga klop, patriarki
dikombinasikan dengan kaum perempuan yang kurang berpendidiakan. Namun bukan
Kartini.
Feodal juga begitu. Kartini tidak
berbcara tentang kekokohan derajatnya sebagai anak seorang bupati. Sudah
sepatutnya Katini dan keluarganya dihormati sedemikian rupa. Namun kartini
tidak mau diperlakukan seperti itu. Ia meminta panggilan yang biasa saja,
Kartini. Keturunan luhur bukan karena
darah atau apa yang sudah mutlak ditentukan berdasarkan keturunan, bukan anak
kyai, bukan habib, namun yang patut diargai adalah akal dan budi seseorang.
Akal dan budi seseorang yang membuat orang itu layak dihormati. Ketika akalnya cerdas
dan berbudi pekerti baik orang itu layak menjadi wong agung. Patut menjadi panutan.
Dan yang terakhir adalah kolonialisme. Disini kartini
berbicara tenang penjajahan. Kartini dengan lantang menyuarakan perlawanan yang
diderita rakyatnya. Sebut saja pajak dan candu. Pajak merupakan pembayaran
wajib yang dilakukan oleh seseorang kepada negara untuk sesuatu yang dipunyai.
Pajak jaman Belanda ada macam-macam jenisnya. Seperti halnya pajak harta, pajak
bumi dan bangunan, pajak ternak, pajak rumah makan. Dan disini juga berlaku
pajak dobel. Semisal orang memebeli ternak dan akan menjadikan ternak itu
sebagai bahan konsumsi. Ia terkena pajak dua kali lipat yaitu pajak ternak dan
pajak makanan. Hal ini pastinya memberatkan bagi kaum pribumi. Apalagi ditambah
dengan kerja rodi. Yang pembayaranya semaunya belanda.
Pajak berlipat dan perang candu ini dilakukan Belanda
karena ia telah mengalami kerugian besar pada zaman perang Dunia II. Seluruh
sumber daya terkuras untuk keperluan perang. Sehingga untuk memulihkan kembali
pereonomian Belanda pada zaman itu dibuatlak dengan siasat pajak yang berlipat.
Lama kelamaan karena pajak semakin menumpuk, Belanda
punya akal untuk mereklamasi pantai. Dengan biaya berjuata-juta gulden yang
didapat salah satunya dari pajak yang dikenakan pada penduduk pribumi, belanda
membuat kota baru dengan cara mengeringkan laut. Dan menjadikanya sebagai kota
administratif Belanda. Hingga saat ini keberadaan kota itu sangat tenar. Kota
itu benama Amsterdam.
Pemasukan utama pembangunan kota Amsterdam bukan hanya
dari pajak. Pundi-pundi lain yang berperan vital juga adalah candu. Dengan
candu, belanda menjadikan warga pribumi ini ketagihan. Dan semakin terbelakang.
Importir, Produsen, maupun distribustor
candu dilindungi negara. Candu beredar luas demi keamanan, mereka para bandar
itu nyetor uang keamanan kepada negara. Rakyat yang sengsara karena terbebani
pajak yang sangat mencekik, diperparah dengan hadirnya candu. Tamat sudah
diwayat mereka, namun sekali lagi, bukan untuk Kartini.
Dengan mental baja Kartini optimis bahwa ketiga hal itu
bisa diatasi. Seberat apapun jalan itu harus tetap dilalui. Karena itu Kartini
merintis sekolah perempuan. Yang disana Kartini menfasilitasi anak-anak perempuan yang kurang
mampu utntuk mendapat pendidikan yang layak. Namun tak disangka sekolah
perempaun yang dibangun Kartini tersebut hanya bertahan dua belas tahun.
Sertelah itu raib. Hilangnaya sekolah perempuan itu mengakibatkan kaum perempun
sekolah perempuan angkatan pertama turun tangan. Mereka (alumni sekolah
perempuan) membangun dan melebarkan sayap di santero Jepara. Tujuanya masih sama yaitu melakukan
pendidikan pembebasan yang dilakukan Kartini kapada para perempuan Jawa pada
saat itu.
Namun untung tak dapat dirah malang tak dapat ditolak.
Sebagai perempuan penganut feminism yang manyuarakan anti terhadap poligami. Kartini
apes. Ia kena batunya. Kartini dipoligami oleh seorang keturuan berdarah biru.
Ia menjadi istri kedua. Perjuangan antipoligami yang ditolaknya mentah-mentah
kini ia juga marus melakuaknya.
********
“Aku Bepesan kepadamu wahai para wanita yang lahir setelahku. Seorang
pelopor berjalan untuk pertama kali untuk melawan arus dan membuka jalan. Tidak
apa aku harus melewati jalan terjal, tajam dan berbatu. Perjuanganku mungkin
patah atau bahkan maut menjemput ketika tujuanku belum tercapai. Namun paling
tidak aku telah memeberikan batu pijakan untuk kemajuan bangsaku”
Kartini.
Kata kunci : (Kartini, Patriarki,
Feodalisme, Kolonialisme, Perlawanan).
Oleh : Lingga Fajar
No comments:
Post a Comment