Saturday, 22 April 2017

Suara Hati Kartini

#CatatanSantri

COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Raden Ajeng Kartini TMnr 10018776.jpg
Sumber gambar: id.wikipedia.org

Suara Hati Kartini
Sebuah Catatan Santri Ngaji Filsafat

Kartini lahir dari keluarga terpandang di pesesir utara Jawa, Jepara. Ia lahir sebagai seorang pembaharu yang sebentar lagi kita peringati tanggal 21 April. Kartini termasuk golongan orang berdarah biru. Dengan kekuasaaanya seharusnya dia mendapat tempat terhormat dalam kedudukan sosial masyarakat Jawa pada saat itu. Karena tergolong keluarga ningrat, seharusnya ia dipanggil Raden Rara (RR) Raden Ajeng (RA) namun ia menolaknya . Hingga Pramoedya Ananta Toer, menuilis buku Panggil Aku Kartini Saja!.
Namun sangat disayangkan saya baru mengenal Beliau dan Kakaknya. Kakak dari Kartini bernama Kartono, lengkapnya ia bernama R.M.P. (Raden Mas Panji) Sosrokartono. Lahir dari seorang bupati, kehidupan keluarga Kartini terpandang. Kakanya yang bersekolah sampai Leiden setiap bulan mengirimkan buku-buku untuk dibaca kartini sebagai hiburan. Kartini membacanya dengan lahap. Setiap buku-buku yang dikirimkan oleh kakaknya telah habis ia baca. Kartini pun  tumbuh sebagai wanita yang berbeda saat itu. ia tidak seperti kebanyakan wanita Jawa umumnya. Ia menjadi wanita Jawa yang kritis dan peka terhadap keadaan sosial masyarakat di sekitarnya.
Kartini lahir di tengah penjajahan pemikiran yang perporos pada patriarki, feodalisme, dan kolonialisme. Awalnya ia membabarkan kegalauanya itu kepada sahabat pena, yang kebetulan seorang noni dari Belanda. Selama berbulan-bulan ia menjalin pertemanan dengan sahabat penanya itu dengan baik. Kartini menarasikan ketertindasan kaum-kaum pribumi, yang karena mereka kurang cerdas, maka mereka tidak bisa melawan. Sampai pada suatu titik ketika beliau sudah mangkat, Curhat kegalauanya dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, Dalam bukunya ini Kartini ingin menceritakan kegalauanya tentang tiga pokok bahasan diatas.
Zaman dahulu yang namanya patriarki sangat dominan dan menyulitkan gerak langkah kaum perempaun yang sebaya dengan kartini. Perendahan martabat kaum peremapuan oleh laki-laki yang tidak mau status quonya diusik. Dalam kepungan patriarkhi, kebudayaan Jawa mengkategorikan wanita yang pas itu adalah  wanita yang taat suami, mau dimadu, tidak berbicara secara keras. dll. Dalam hal ini titik tumpu aspek material sangat kelihatan kelihatan. Sehingga aspek spiritual seperti kecerdasan, dan budi perketi sama sekali tidak digubris. Diskriminasi oleh kaum pria dan diamini juga oleh kaum wanitanya juga. Mungkin karena mereka kurang mendapat pendidikan yang layak sehingga tidak dapat berontak. Sehingga klop, patriarki dikombinasikan dengan kaum perempuan yang kurang berpendidiakan.  Namun  bukan Kartini.
Feodal juga begitu. Kartini tidak berbcara tentang kekokohan derajatnya sebagai anak seorang bupati. Sudah sepatutnya Katini dan keluarganya dihormati sedemikian rupa. Namun kartini tidak mau diperlakukan seperti itu. Ia meminta panggilan yang biasa saja, Kartini.  Keturunan luhur bukan karena darah atau apa yang sudah mutlak ditentukan berdasarkan keturunan, bukan anak kyai, bukan habib, namun yang patut diargai adalah akal dan budi seseorang. Akal dan budi seseorang yang membuat orang itu layak dihormati. Ketika akalnya cerdas dan berbudi pekerti baik orang itu layak menjadi wong agung. Patut menjadi panutan.
Dan yang terakhir adalah kolonialisme. Disini kartini berbicara tenang penjajahan. Kartini dengan lantang menyuarakan perlawanan yang diderita rakyatnya. Sebut saja pajak dan candu. Pajak merupakan pembayaran wajib yang dilakukan oleh seseorang kepada negara untuk sesuatu yang dipunyai. Pajak jaman Belanda ada macam-macam jenisnya. Seperti halnya pajak harta, pajak bumi dan bangunan, pajak ternak, pajak rumah makan. Dan disini juga berlaku pajak dobel. Semisal orang memebeli ternak dan akan menjadikan ternak itu sebagai bahan konsumsi. Ia terkena pajak dua kali lipat yaitu pajak ternak dan pajak makanan. Hal ini pastinya memberatkan bagi kaum pribumi. Apalagi ditambah dengan kerja rodi. Yang pembayaranya semaunya belanda.
Pajak berlipat dan perang candu ini dilakukan Belanda karena ia telah mengalami kerugian besar pada zaman perang Dunia II. Seluruh sumber daya terkuras untuk keperluan perang. Sehingga untuk memulihkan kembali pereonomian Belanda pada zaman itu dibuatlak dengan siasat pajak yang berlipat.
Lama kelamaan karena pajak semakin menumpuk, Belanda punya akal untuk mereklamasi pantai. Dengan biaya berjuata-juta gulden yang didapat salah satunya dari pajak yang dikenakan pada penduduk pribumi, belanda membuat kota baru dengan cara mengeringkan laut. Dan menjadikanya sebagai kota administratif Belanda. Hingga saat ini keberadaan kota itu sangat tenar. Kota itu benama Amsterdam.
Pemasukan utama pembangunan kota Amsterdam bukan hanya dari pajak. Pundi-pundi lain yang berperan vital juga adalah candu. Dengan candu, belanda menjadikan warga pribumi ini ketagihan. Dan semakin terbelakang. Importir,  Produsen, maupun distribustor candu dilindungi negara. Candu beredar luas demi keamanan, mereka para bandar itu nyetor uang keamanan kepada negara. Rakyat yang sengsara karena terbebani pajak yang sangat mencekik, diperparah dengan hadirnya candu. Tamat sudah diwayat mereka, namun sekali lagi, bukan untuk Kartini.  
Dengan mental baja Kartini optimis bahwa ketiga hal itu bisa diatasi. Seberat apapun jalan itu harus tetap dilalui. Karena itu Kartini merintis sekolah perempuan. Yang disana Kartini  menfasilitasi anak-anak perempuan yang kurang mampu utntuk mendapat pendidikan yang layak. Namun tak disangka sekolah perempaun yang dibangun Kartini tersebut hanya bertahan dua belas tahun. Sertelah itu raib. Hilangnaya sekolah perempuan itu mengakibatkan kaum perempun sekolah perempuan angkatan pertama turun tangan. Mereka (alumni sekolah perempuan) membangun dan melebarkan sayap di santero  Jepara. Tujuanya masih sama yaitu melakukan pendidikan pembebasan yang dilakukan Kartini kapada para perempuan Jawa pada saat itu.
Namun untung tak dapat dirah malang tak dapat ditolak. Sebagai perempuan penganut feminism yang manyuarakan anti terhadap poligami. Kartini apes. Ia kena batunya. Kartini dipoligami oleh seorang keturuan berdarah biru. Ia menjadi istri kedua. Perjuangan antipoligami yang ditolaknya mentah-mentah kini ia juga marus melakuaknya. 

********

“Aku Bepesan kepadamu wahai para wanita yang lahir setelahku. Seorang pelopor berjalan untuk pertama kali untuk melawan arus dan membuka jalan. Tidak apa aku harus melewati jalan terjal, tajam dan berbatu. Perjuanganku mungkin patah atau bahkan maut menjemput ketika tujuanku belum tercapai. Namun paling tidak aku telah memeberikan batu pijakan untuk kemajuan bangsaku”
Kartini.

Kata kunci : (Kartini, Patriarki, Feodalisme, Kolonialisme, Perlawanan).

Oleh : Lingga Fajar

No comments:

Post a Comment