Tuesday, 18 April 2017

Ngaji Bersama Mbak Katrin Bandel


#NgajiPascakolonial
 Katrin Bandel
 sumber gambar: http://usd.academia.edu/KatrinBandel

Hal Orisinil (adakah?)
Sebuah Narasi pada Ngaji Pascakolonial bersama Katrin Bandel

     Membaca kolonialisme pasti kita membahas pertentangan-pertentang sosial materi dan psikologis manusia yang terjajah. Ketika koloniallisme itu datang bukan hanya membawa sebuah kekerasan namun juga cara berpikir yang mengakibatkan kaum-kaum jajahan semakin terpasung dengan keadaanya sebagai budak. lucunya lagi, mereka sebagai hasil internalisasi yang dilakukan kaum penjajah, meraka yang terjajah menjadi tidak sadar bahwa mereka dijajah. Itu yang membikin bulu kudu saya merinding. Sebuah kolonialisme yang   saya ketahui sebagai kegiatan perang fisik, namun kini menjadi lebih halus pada tataran psikologi dan ideologi. Kolonialisme memnjadi nafas baru yang tersamar, lebih halus.
     Melawan koloniaslisme pasti ada cara untuk melawannya, cara itu benama nativisme. Nativisme adalah pikiran-pikiran ataupun tindakan  kedaerahan yang diharapkan nantinya dapat melawan hal-hal yang bebau koloniaslime. Nativisme dilakukan oleh kaum-kaum terjajah. mbak Katrin mencoba menarasikan tentang apa nativisme itu. Mbak Katrin mengambil contoh penjajahan di Aftika. Orang-orang Afrika yang berkat pendidikan Barat menjadi pintar, mereka mencoba melawan kaum-kaum yang menjajah mereka. Nativisme terbentuk dari perlawanan bangsa terdidik Afrika yang mengambil bentuk narasi-narasi sastra sebagai perlawanan. Narasi-narasi sastrawi yang dibuat orang Afrika sebagai orang terjajah sangat mengunggulkan ke-Afrikaanya. Dalam sastra itu mereka menyebut bahwa orang Afrika itu adalah orang yang eksotis, dekat dengan alam, responsif, penuh tanggung jawab, dan tingkat solodaritas tinggi. Berbeda dengan apa yang dinarasikan oleh kaum-kaum asing yang menarasikan mereka sebagai kaum yang tidak tahu adab, primitif, dan lain sebaginya. Seolah-olah dengan menggunakan narasi perlawanan sastra itu kaum kaum Afrika akan lepas dari jajahan dengan kebanggaan mereka tentang negro. Namun tanpa disadari mereka juga masuk dalam kolonialisme model baru.
     Jika ditarik pada konteks keindonesiaan, nativisme berlaku sama. Nativieme ini terkait dengan konteks kebudayaan asli yang dimiliki oleh suatu bangsa yang dibakukan oleh lembaga tertentu dan dengan tujuan tertenu. Apakah itu proyek atau ada kepentingan lain dibalik itu?. hal inilah yang kita pelajari malam ini di seri ngaji tematik #NgajiPascakolonial. Pemberlakuan otonomi daerah mengakibatkan steriotipe-steriotipe kesukuan yang beragam. Dakam kesukuan itu mereka mencari hal-hal yang patut dijual kepada turis asing yang mencirikan bahwa kebudayaan itulah yang orisinil atau asli. Yang laku ketika dijual. Nativisme budaya menyinggung masalah ‘keaslian’. Bener toh itu yang asli? Mbok kita cari lebih dalam lagi, mana yang asli. Apakah yang asli itu benar-benar ada?
Saya ambil contoh budaya Jawa. Dalam hal ini budaya Jawa separti apa yang dianggap asli? Apakah budaya Jawa Islam, ketika para Wali datang? ataukah Jawa ketika masih beragama Hindu-Budha? Atau lebih lama lagi apakah waktu Ajisaka mengalahkan Dewatacengkar? Itu semua merupakan batas yang cair dan kabur. Oke! jika kebudayaan Jawa yang Asli itu dimulai pada jaman Jawa Islam. Terus apakah kita bisa menemukan literatur-literatur, arsip, dokumen yang memadahi tentang suatu kebudayaan yang kita ambil contoh gamelan. Apakah pada jaman Jawa Islam itu gamelan telah dibuat? Sebelumya bagaimana? Adakah hal-hal yang menunjukan hal itu? adakah arsip-arsip yang menunjukan hal tersebut? validkah datanya? Bagaimana jika gamelan itu adalah produk kebudayaan kolonialisme?
      Akhtinya kebingungan itu datang, ada sebuah jawaban yang terlintas. Pengalaman ini mungkin berubah suatu saat nanti. Kebudayaan Jawa itu adalah yang ada pada saat ini. iya saat ini! referensi tentang kejayaan masa Jawa Islam dan referensi Jawa pada praislam itu mejadi landas tumpu atau akar yang patut diuri-uri. Namun jangan lupa bahwa kita di jaman modern. Hal ini berimpikasi pada kebudayaan Jawa yang ada pada ruang dan waktu kini. Kebudayaan Jawa yang kekinian, budaya Jawa yang kontekstual, cair dapat berubah bentuk. Dan selalu melakukan autokritik demi berputarnya syarat sahnya  kebudayaan itu tetap eksis. Yaitu berubah secara simultan. Hal ini juga terkait dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain juga. Sebuah kebudayaan itu patah, tumbuh, hilang dan berganti sesuai dengan tuntutan zamannya. Kebudayaan itu terus mengalir dan menempati ruang dan waktu yang ada. Kebudayaan itu sennatiasa berganti rupa. Ini syarat mutlak kebudyaan itu tetap hidup. ia harus terus menerus berubah dan menerima kritik dan mereformasi diri agar tidak kehilangan identitasnya dan musnah sebagai artefak belaka.

Kebudayaan itu berubah, bercampur, dan saling merekonstuksi
Katrin Bandel

(Kata kunci: kolonialisme, nativisme, perlawanan, budaya, cair).


Oleh : Lingga Fajar
16 April 2016

No comments:

Post a Comment