#ResensiBuku
Sumber : www.lpsp3.com
Judul Buku
|
: Logika Terapan : Teknik
Berarguentasi, Berpikir sebagai Kecakapan HIdup
|
Pengarang
|
: Donny Gahral Adian dan Herdito
Sandi Pratama
|
Penerbit
|
: Kencana Prenada Media Group
|
Tahun Terbit
|
: Juni 2013
|
Cetakan
|
: Kedua, Januari 2015
|
Tempat Terbit
|
: Rawamangun, Jakarta
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
Halaman
|
: xi+162
|
ISBN
|
: 978-602-7985-28-5
|
Argumen sebagai kecakapan berfikir seorang manusia yang
sesuai dengan fitrah kemanusiaanya. Dalam berfikir, berlogika dan beragumen
seharusnya seorang manusia menyusunya secara rapi dan sistematis. Tiga kecakapan
berfikir ini hanya dimiliki oleh makhluk Tuhan yang bernama manusia. Selama
manusia itu sehat akal dan mentalnya, sebaiknya ia belajar berfikir secara
tertata secara logis. Karena sebuah argumentasi yang dibangun ini memerlukan
Ilmu yang wajib dipelajari.
Ketiga keterampilan ini bagaikan lingkaran yang saling
melingkupi, dengan intinya adalah argumentasi. Keterampilan berargumen adalah
semacam debat yang disana tersaji urutan-urutan logis yang berdasar yang runtut
dan jelas. Tidak menimbulkan ambiguitas
dalam berargumen harus didukung dengan logika-logika yang masuk akal dan
pengetahuan yang mumpuni. Pengetahuan dan logika inilah yang mebuat argument
seseorang dapat diterima.
berlogika sebagai lapis nomer dua setelah argument menyiratkan
tentang hal penting dan menjadikan berlogika runtut dan masuk akal. Bagian ini
menelanjangi logika-logika berfikir orang yang sedang atau ingin mengutarakan
argument. Logika ini juga bertugas untuk menelanjangi kecacatan-kecacatan dalam
sebuah argument yang lemah dan ngawur. Berlogika dalam kaitaya dengan
keterampilan berargumen harus memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam
berlogika. Seperti dalam berargumen hendaknya menyerang apa yang dibicarakan
secara cermat, tepat dan lugas. Penyerangan terhadap persona, latar belakangya
sangat dilarang. Karena hal tersebut telah lepas dari kaidah-kaidah baku
seorang yang berargumen. Bisa juga hal itu (penyerangan terhadap persona dan
latar belakangnya) adalah tanda bahwa lawan argument tersebut tidak begitu
paham tetang yang masalah yang diperdebatkan. Atau ingin menghindar dari premis
yang diajukan.
Lapis terluar dari seorang yang argumentasinya sulit
dipatahkan adalah masalah pemikiran. Pemikiran yang luas dan dalam memperkuat
argumentasi seseraong. Ilmunya yang luas menjadi batas yang tidak kelihatan
yang menjadikan seseorang itu akan unggul dibandingkan dengan lawan bicaranya.
Setelah menguasai keterampilan berpikir, bernalar, dan
berargumen kita masuk kepada bahasan selanjuntnya yaitu tesis, antitesis dan
sintesis. Ketiga pandangan ini sangat penting jika kita dendak menuliskan
argumentasi kita secara runtut dan baik. Perlu diingat bahwa tulisan seseraong
entah itu berwujud paragraf argumentasi ataupun model yang lainya menysyaratkan
kebaruan dan kedalaman sebuah materi bahasan. Inti dari sebuah tulisan adalah
hal yang spesifik bukan hal yan umum yang sering kali terjadi. Maka dari itu
untuk membuat sebuah ulasan argumentative, seserang harus menguasai berbagai
sumber tentang perkara yang dibahas. Hal ini diperlukan agar pembahasan dari ulasan
argumentative ini berjalan lancar. Sebuah ulasan argumentative paling tidak
menganut tiga fodasi. Yaitu tesis, antithesis dan sintesis.
Bangunan pertama yaitu tesis. Tesis adalah perkara
fundamental tentang ulasan yang akan kita berikan kepada pembaca tentang suatu
hal. Tesis sebaiknya berupa presusosisi atau kesimpulan yang baik yang dibuat
dengan menggunakan kalimat berita agar bisa diuji kebenaranya. pengujian kebenarnya lewat uji kritis empiris
ataupun kritis rasional. Keruntutan alur berpikir dalam membangun sebuah tesis
harus diperhitungkan agar tebangun sebuah tesis yang rapi dan berbobot.
Lanjut pada tahapan kedua, yaitu antithesis. Antithesis
ini adalah bangunan lain yang menjadi lawan dari tesis yang kita bangun.
Antithesis ini berwujud semua hal yang bertolak belakang dengan tesis yang kita
bangun. Hal-hal negatif membangun ulang argumentasi kita agar nantinya menjadi
kokoh. Antitesis mensyaratkan semua hal yang berlawanan. Antithesis ada untuk
penyeimbang antara tesis yang kita bangun. Bahwa tesis yang kita bangun, yang
kita sudah merasa sempurna akan pemikiranya ternyata hal tersebut ada
kontranya. Kontra tersebut mengiysatatkan bahwa ilmu itu tidak berujung. Ilmu baru
muncul kadang kala adalah kritik ilmu
yang sebulunnya ditemukan.
Dan akhrinya sampai pada taraf sintesis. Sintesis adalah
penyempurnaan dari teissi dan antithesis yang kita bangun sedari tadi. Ketika
bangunan yang sudah mapan dihancurkan dan dibangun lagi dengan kerangka yang
baru argumentasi yang baru. Sehingga persoalan-persoalan negatif yang terdapat
pada bangunan antithesis bisa terjawab. Dan akhirya membuka cakrawala baru
sistesis pengetahuan.
Berargumentasi tak selalu semudah yang kita bayangkan
Donny
Gahral Adian & Herdito Sandi Pratama.
No comments:
Post a Comment