Saturday, 15 April 2017

Berargumen Perlu Ilmu


#ResensiBuku

Sumber : www.lpsp3.com

Judul Buku
: Logika Terapan : Teknik Berarguentasi, Berpikir sebagai Kecakapan HIdup
Pengarang
: Donny Gahral Adian dan Herdito Sandi Pratama
Penerbit
: Kencana Prenada Media Group
Tahun Terbit
: Juni 2013
Cetakan
: Kedua, Januari 2015
Tempat Terbit
: Rawamangun, Jakarta
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: xi+162
ISBN
: 978-602-7985-28-5


Argumen sebagai kecakapan berfikir seorang manusia yang sesuai dengan fitrah kemanusiaanya. Dalam berfikir, berlogika dan beragumen seharusnya seorang manusia menyusunya secara rapi dan sistematis. Tiga kecakapan berfikir ini hanya dimiliki oleh makhluk Tuhan yang bernama manusia. Selama manusia itu sehat akal dan mentalnya, sebaiknya ia belajar berfikir secara tertata secara logis. Karena sebuah argumentasi yang dibangun ini memerlukan Ilmu yang wajib dipelajari.
Ketiga keterampilan ini bagaikan lingkaran yang saling melingkupi, dengan intinya adalah argumentasi. Keterampilan berargumen adalah semacam debat yang disana tersaji urutan-urutan logis yang berdasar yang runtut dan jelas. Tidak menimbulkan ambiguitas  dalam berargumen harus didukung dengan logika-logika yang masuk akal dan pengetahuan yang mumpuni. Pengetahuan dan logika inilah yang mebuat argument seseorang dapat diterima.
berlogika sebagai lapis nomer dua setelah argument menyiratkan tentang hal penting dan menjadikan berlogika runtut dan masuk akal. Bagian ini menelanjangi logika-logika berfikir orang yang sedang atau ingin mengutarakan argument. Logika ini juga bertugas untuk menelanjangi kecacatan-kecacatan dalam sebuah argument yang lemah dan ngawur. Berlogika dalam kaitaya dengan keterampilan berargumen harus memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam berlogika. Seperti dalam berargumen hendaknya menyerang apa yang dibicarakan secara cermat, tepat dan lugas. Penyerangan terhadap persona, latar belakangya sangat dilarang. Karena hal tersebut telah lepas dari kaidah-kaidah baku seorang yang berargumen. Bisa juga hal itu (penyerangan terhadap persona dan latar belakangnya) adalah tanda bahwa lawan argument tersebut tidak begitu paham tetang yang masalah yang diperdebatkan. Atau ingin menghindar dari premis yang diajukan.
Lapis terluar dari seorang yang argumentasinya sulit dipatahkan adalah masalah pemikiran. Pemikiran yang luas dan dalam memperkuat argumentasi seseraong. Ilmunya yang luas menjadi batas yang tidak kelihatan yang menjadikan seseorang itu akan unggul dibandingkan dengan lawan bicaranya.
Setelah menguasai keterampilan berpikir, bernalar, dan berargumen kita masuk kepada bahasan selanjuntnya yaitu tesis, antitesis dan sintesis. Ketiga pandangan ini sangat penting jika kita dendak menuliskan argumentasi kita secara runtut dan baik. Perlu diingat bahwa tulisan seseraong entah itu berwujud paragraf argumentasi ataupun model yang lainya menysyaratkan kebaruan dan kedalaman sebuah materi bahasan. Inti dari sebuah tulisan adalah hal yang spesifik bukan hal yan umum yang sering kali terjadi. Maka dari itu untuk membuat sebuah ulasan argumentative, seserang harus menguasai berbagai sumber tentang perkara yang dibahas. Hal ini diperlukan agar pembahasan dari ulasan argumentative ini berjalan lancar. Sebuah ulasan argumentative paling tidak menganut tiga fodasi. Yaitu tesis, antithesis dan sintesis.
Bangunan pertama yaitu tesis. Tesis adalah perkara fundamental tentang ulasan yang akan kita berikan kepada pembaca tentang suatu hal. Tesis sebaiknya berupa presusosisi atau kesimpulan yang baik yang dibuat dengan menggunakan kalimat berita agar bisa diuji kebenaranya.  pengujian kebenarnya lewat uji kritis empiris ataupun kritis rasional. Keruntutan alur berpikir dalam membangun sebuah tesis harus diperhitungkan agar tebangun sebuah tesis yang rapi dan berbobot. 
Lanjut pada tahapan kedua, yaitu antithesis. Antithesis ini adalah bangunan lain yang menjadi lawan dari tesis yang kita bangun. Antithesis ini berwujud semua hal yang bertolak belakang dengan tesis yang kita bangun. Hal-hal negatif membangun ulang argumentasi kita agar nantinya menjadi kokoh. Antitesis mensyaratkan semua hal yang berlawanan. Antithesis ada untuk penyeimbang antara tesis yang kita bangun. Bahwa tesis yang kita bangun, yang kita sudah merasa sempurna akan pemikiranya ternyata hal tersebut ada kontranya. Kontra tersebut mengiysatatkan bahwa ilmu itu tidak berujung. Ilmu baru muncul kadang kala  adalah kritik ilmu yang sebulunnya ditemukan.
Dan akhrinya sampai pada taraf sintesis. Sintesis adalah penyempurnaan dari teissi dan antithesis yang kita bangun sedari tadi. Ketika bangunan yang sudah mapan dihancurkan dan dibangun lagi dengan kerangka yang baru argumentasi yang baru. Sehingga persoalan-persoalan negatif yang terdapat pada bangunan antithesis bisa terjawab. Dan akhirya membuka cakrawala baru sistesis pengetahuan.

Berargumentasi tak selalu semudah yang kita bayangkan
Donny Gahral Adian & Herdito Sandi Pratama.

No comments:

Post a Comment