Monday, 10 April 2017

Humanisme Universal Pram

#ResensiBuku

Hasil gambar untuk cerita manusia indonesia dalam karya sastra pramoedya ananta toer A teeuw 
Sumber : Balebukubekas.wordpress.com
Judul Buku
: Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer
Pengarang
: A. Teeuw
Penerbit
: Pustaka Jaya
aTahun Terbit
: cetakan Pertama, Jakarta
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: x + 428 Halaman
ISBN
: 979-419-237-6

Profesor Doktor A Teeuw mungkin semua pembaca munkin sudah tahu siapa beliau. Jika belum tahu, tak kasih tahu! Beliau adalah seorang Profesor yang mengabdikan hidupnya pada perkembangan sastra masa peralihan hingga modern di Tanah Air Tercinta kita ini. Beliau meraih gelar Guru besar alias Profesornya di Universitas Leiden. Banyak karya-karyanya yang meneliti karya sastra Indonesia dan menjadi acuan atau rujukan anak-anak kuliah terutama bidang sastra dan bahasa. (termasuk saya he..he..he…)

Kini dalam perkembangannya, Prof A Teuuw membahahas tentang romanis Indonesia yang sangat terkenal dan dan meraih berbagai macam penghargaan sastra yaitu Pramoedya Ananta Toer. Pram menjadi penulis roman yang jaya hingga sekarang. Namanya harum memberikan sindiran kepada manusia moralis Balai Pustaka angkatan 45 semacam Muhamad Yamin, St. Alisyahbana Sanusi Pane dll. Bagi Pram sastra yang tidak menyentuk pada masyarakat tidak begtu bernanfaat.  

Buku-buku Pram pada era 80an pernah di bredel karena mengandung ‘unsur merah’.  Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pram pernah berafiliasi dengan LEKRA yang menjadi lembaga pernerbitan Partai Komunis Indonesia. Mungkin karena itu, buku-buku Pram dibredel, dilarang terbit. Namun pikiran negatif itu dapat diredam ketika Prof. Teeuw melancarkan kritik sastra terhadap karya-karya Pram. Menurut Prof Teeuw bahwa sastra Pram yang tendensius, yang membawa ideologi PKI itu hanya sebatas dua atau tiga karya saja, selebihnya karya Pram menyuarakan tentang Humannisme Universal. Pram menjabarkan humanisme universal sebagai perpaduan antara menyenangkan, bernanfaat, adil, sosial yang melebur. Ini yang menjadi acuan dalam membaca karya-karya Pram. Banyak seniman-seniman yang tidak sejalan dengan pemikiran Pram tentang sosialisme, contoh yang paling saya ingat adalah penulis Rubrik Catatan Pinggir di Majalah Tempo, Gunawan Mohamad. Beliau sangat antipati dengan Pram, tapi saya lupa alasanya apa. Bagi saya Pram dan GM merupakan penyeimbang dalam pengkajian kehidupan. Ada kanan-ada kiri, ada hitam ada pitih, dan itu semua agar kita mencapai titik keseimbangan.

Buku-buku Pran tidak semuanya ‘berwarna merah’, menurut Prof. Teeuw ada karya-karya Pram yang juga berwarna warni. Sebagai contoh, Tjerita dari Blora, dalam buku ini dimulai dengan masa kecil Pram di Blora yang kental akan Kejawaanya. Pram kecil sangat dekat dengan ibunya dan mengesampikan ayahnya. Cobaan-cobaan kepada Pram kecil silih beraganti menerpa hidupnya. Pram yang sayang sekali dengan ibunya, ibu itulah yang diambil oleh Tuhan dan menyisakan ayahnya yang doyan judi. Sehingga membuat pram berusaha sendiri dalam mengurus adik-adinya yang masih kecil. Hingga suatu saat nantinya ia akan berterima kasih kepada sang ayah tukang judi itu.

Setelah menjalani pahit getir penghidupan di Blora Pram hijrah ke Jakarta. Saat itu pergantian tampuk kepemimpinan dari Belanda ke Jepang. Pram pergi ke Jakarta karena ingin menuntut ilmu dan membangun jaringan, untuk masa selanjutnya. Pram dengan susah payah membawa ijazah SDnya pulang ke Blora untuk di tunjukan dengan rasa bangga kepada Ayahnya. Namun ayahnya tidak begitu rekspek kepadanya, dan membuat Pram semakin jengkel. Jaman dahulu ijazah SD begitu berharga, harus menempuh waktu bertahun-tahun untuk mendapat ijazah itu, namun begitu dapat ijazah itu diabaikan begitu saja.

Pram tidak patah arang ia mengembara menuju kemana angin membawanya. Pram merupakan pemuda dengan tradisi literasi (baca dan tulis) begitu kuat. Semua bahan bacaan mentah atau matang dilahapnya tak bersisa. Pram kemudian memperdalam keterampilanya dalam menulis di Surabaya, dan Betawi. Disama keterampilan menulisnya menjadi semakin tajam. Bagi Pram pena adalah senjata untuk mereformasi keadaan yang selama ini menghimpitnya. Dan terbutki dengan lahirnya roman Pulau Buru yang terkenal berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Pram menjadi penulis Indoneia terbaik di abad 20. Roman ini adalah percampuran yang begitu halus antara  keilmuan, sejarah dan fiksi.  

Prof Teeew mengapresiasi Pram lewat kritik sastra yang ciamik. Prof Teeuw yang aslinya Belanda mengapresiasi karya Pram sebagai Masterpiece yang patut dibanggakan oleh warga Indonesia, terutama bagi anak muda. Pikiran Pram yang membawa humanisme universal layak disinau lebih dalam ketika berhadapan dengan kapitalisme yang begitu menggejala pada saat ini. Humanisme universal begitu kontekstual jika diterapkan pada masa sekarang karena ia menjadi penyeimbang kemiringan ideologi kapitalis yang begitu kuat terasa. Kita ambil contoh pembangunan Pabrik Semen di Kendeng, pembukaan tambang emas di Banyuwangi, dan Freeport.

*Terus asah penamu (Pramoedya Ananta Toer)

No comments:

Post a Comment