#ResensiBuku
Sumber : Balebukubekas.wordpress.com
Judul Buku
|
: Citra Manusia Indonesia dalam
Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer
|
Pengarang
|
: A. Teeuw
|
Penerbit
|
: Pustaka Jaya
|
aTahun Terbit
|
: cetakan Pertama, Jakarta
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
Halaman
|
: x + 428 Halaman
|
ISBN
|
: 979-419-237-6
|
Profesor Doktor A Teeuw mungkin semua pembaca munkin
sudah tahu siapa beliau. Jika belum tahu, tak
kasih tahu! Beliau adalah seorang Profesor yang mengabdikan hidupnya pada
perkembangan sastra masa peralihan hingga modern di Tanah Air Tercinta kita ini.
Beliau meraih gelar Guru besar alias Profesornya di Universitas Leiden. Banyak
karya-karyanya yang meneliti karya sastra Indonesia dan menjadi acuan atau
rujukan anak-anak kuliah terutama bidang sastra dan bahasa. (termasuk saya
he..he..he…)
Kini dalam perkembangannya, Prof A Teuuw membahahas
tentang romanis Indonesia yang sangat terkenal dan dan meraih berbagai macam penghargaan
sastra yaitu Pramoedya Ananta Toer. Pram menjadi penulis roman yang jaya hingga
sekarang. Namanya harum memberikan sindiran kepada manusia moralis Balai
Pustaka angkatan 45 semacam Muhamad Yamin, St. Alisyahbana Sanusi Pane dll.
Bagi Pram sastra yang tidak menyentuk pada masyarakat tidak begtu bernanfaat.
Buku-buku Pram pada era 80an pernah di bredel karena
mengandung ‘unsur merah’. Sudah menjadi
rahasia umum bahwa Pram pernah berafiliasi dengan LEKRA yang menjadi lembaga
pernerbitan Partai Komunis Indonesia. Mungkin karena itu, buku-buku Pram
dibredel, dilarang terbit. Namun pikiran negatif itu dapat diredam ketika Prof.
Teeuw melancarkan kritik sastra terhadap karya-karya Pram. Menurut Prof Teeuw
bahwa sastra Pram yang tendensius, yang membawa ideologi PKI itu hanya sebatas
dua atau tiga karya saja, selebihnya karya Pram menyuarakan tentang Humannisme
Universal. Pram menjabarkan humanisme universal sebagai perpaduan antara
menyenangkan, bernanfaat, adil, sosial yang melebur. Ini yang menjadi acuan
dalam membaca karya-karya Pram. Banyak seniman-seniman yang tidak sejalan
dengan pemikiran Pram tentang sosialisme, contoh yang paling saya ingat adalah
penulis Rubrik Catatan Pinggir di Majalah Tempo, Gunawan Mohamad. Beliau sangat
antipati dengan Pram, tapi saya lupa alasanya apa. Bagi saya Pram dan GM
merupakan penyeimbang dalam pengkajian kehidupan. Ada kanan-ada kiri, ada hitam
ada pitih, dan itu semua agar kita mencapai titik keseimbangan.
Buku-buku Pran tidak semuanya ‘berwarna merah’, menurut
Prof. Teeuw ada karya-karya Pram yang juga berwarna warni. Sebagai contoh, Tjerita dari Blora, dalam buku ini
dimulai dengan masa kecil Pram di Blora yang kental akan Kejawaanya. Pram kecil
sangat dekat dengan ibunya dan mengesampikan ayahnya. Cobaan-cobaan kepada Pram
kecil silih beraganti menerpa hidupnya. Pram yang sayang sekali dengan ibunya,
ibu itulah yang diambil oleh Tuhan dan menyisakan ayahnya yang doyan judi.
Sehingga membuat pram berusaha sendiri dalam mengurus adik-adinya yang masih
kecil. Hingga suatu saat nantinya ia akan berterima kasih kepada sang ayah
tukang judi itu.
Setelah menjalani pahit getir penghidupan di Blora Pram
hijrah ke Jakarta. Saat itu pergantian tampuk kepemimpinan dari Belanda ke
Jepang. Pram pergi ke Jakarta karena ingin menuntut ilmu dan membangun
jaringan, untuk masa selanjutnya. Pram dengan susah payah membawa ijazah SDnya
pulang ke Blora untuk di tunjukan dengan rasa bangga kepada Ayahnya. Namun
ayahnya tidak begitu rekspek kepadanya, dan membuat Pram semakin jengkel. Jaman
dahulu ijazah SD begitu berharga, harus menempuh waktu bertahun-tahun untuk
mendapat ijazah itu, namun begitu dapat ijazah itu diabaikan begitu saja.
Pram tidak patah arang ia mengembara menuju kemana angin
membawanya. Pram merupakan pemuda dengan tradisi literasi (baca dan tulis)
begitu kuat. Semua bahan bacaan mentah atau matang dilahapnya tak bersisa. Pram
kemudian memperdalam keterampilanya dalam menulis di Surabaya, dan Betawi.
Disama keterampilan menulisnya menjadi semakin tajam. Bagi Pram pena adalah
senjata untuk mereformasi keadaan yang selama ini menghimpitnya. Dan terbutki dengan
lahirnya roman Pulau Buru yang terkenal berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Pram menjadi penulis
Indoneia terbaik di abad 20. Roman ini adalah percampuran yang begitu halus
antara keilmuan, sejarah dan fiksi.
Prof Teeew mengapresiasi Pram lewat kritik sastra yang ciamik. Prof Teeuw yang aslinya Belanda
mengapresiasi karya Pram sebagai Masterpiece
yang patut dibanggakan oleh warga Indonesia, terutama bagi anak muda. Pikiran
Pram yang membawa humanisme universal layak disinau
lebih dalam ketika berhadapan dengan kapitalisme yang begitu menggejala pada
saat ini. Humanisme universal begitu kontekstual jika diterapkan pada masa
sekarang karena ia menjadi penyeimbang kemiringan ideologi kapitalis yang
begitu kuat terasa. Kita ambil contoh pembangunan Pabrik Semen di Kendeng,
pembukaan tambang emas di Banyuwangi, dan Freeport.
*Terus asah penamu (Pramoedya
Ananta Toer)
No comments:
Post a Comment