#ResensiBuku
Judul Buku
|
: Sejarah Wayang : Asal-Usul dan Cirinya
|
Pengarang
|
: Amir Mertosedono
|
Penerbit
|
: Dahara Prize, Semarang
|
Tahun Terbit
|
: 1994. cetakan keempat
|
| Bahasa |
: Indonesia
|
Halaman
|
: 116 Halaman
|
Jas merah, Jangan Sekali kali melupakan sejarah. Begitu
kata Bung Karno. sejarah merupakan cara untuk menemukan jatidiri bangsa,
terutama kaum muda. Hal ini berlaku juga pada kebudayaan adiluhung, yaitu
wayang, dalam wayang banyak hal yang
bisa kita pethik. Kisah yang patut untuk menjadi contoh dalam berfikir,
bertindak serta berkontempalasi. Dalam sebuah cerita wayang juga diterangkan
tentang karmapala, atau ngundhuh wohing pakarti. Siapa yang
berlaku buruk akan menerima keburukan juga. Dalam cerita wayang, hal seperti
itu lumrah terjadi. Namun pembalasan yang diterima oleh seseorang yang berbuat
angkara murka tidak secara langsung diterima. Bisa jadi nantinya orang lain
yang mebalas keangkara murkaan yang diakukan. Yang menerima itu pun juga bisa
jadi adalah kita sendiri, anak, putu,
canggah, wareng dll. Mungkin juga tidak secara langsung balasan itu sampai
kepada kita, Begitu juga ketika kita bertindak baik, karmapala pasti akan berlaku.
Secara runtut, Mertosedono menyajikan alur yang begitu
runtut kepada kita yang hendak memahami wayang. Mulai dari asal-susul wayang,
paraga wayang (meskipun hanya sebagain), perlengkapan yang tersaji dalam lakon
wayang, wayang ketika masa pembangunan
98’, dan sekelumit potongan lampahan wayang Rama Tambak sebagai penutup.
Asal usul wayang yang berawal ketika bangsa Jawa berada
di jaman animism dan dinamisme. Manusia Jawa saat itu percaya kepada arwah
nenek moyang dan benda-benda mistik yang menjadi awal kebaikan dan keburukan
yang terjadi kepada manusia yang masih hidup. Karena itu, persembahan, (baca:slametan) dengan menanggap wayang wajib
dilakukan oleh mansia Jawa saat itu secara individual maupun kelompok. Selain itu
wayang juga menjadi sarana tolak bala ketika manusia sedang melakukan kesalahan
yang fatal, seperti mecahkan pipisan, memecahkan lumpang, dll. Sehingga pelaku
perlu diruwat. Selain sebagai sarana persembahan dan ruwatan, tanggapan wayang
berguna untuk mereduksi dampak negatif ketika seseorang melalui tahapan
kehidupanya, misalnya ketika mitoni,
sunatan, pernikahan dll.
Wayang dan tradisi mistik itu mulai luntur seiring
perjalanann jaman. wayang hanya dianggap sebagai warisan budanya yang diam.
Kalah dengan gawai (gadget) yang
setiap hari tidak lepas dari anak-anak muda. Wayang yang penuh makna filosofis
yang perlu dionceki, kini diam,
tertata rapi di museum. Bagaimana tentang penelitian wayang berupa skripsi,
thesis, desertasi? Paling hanya menjadi artefak diam (juga), yang termakan rayap.
Kita ambil maknyanya pragmatisknya saja, yaitu bisa di’reproduksi’ oleh adik
kelas kita. lainya, kebermaknaanya? Entahlah saya juga kurang tahu. Seolah
penelitian humanioran khususnya wayang ini stagnan alias jalan ditempat.
Setelah asal usul, kita masuk kedalam perlengkapan yang
dipergunakan di pagelaran wayang. Kita tahu biasanya wayang yang dipentaskan
oleh seorang dhalang tersaji beberapa perlengkapan yang wajib ada. Entah itu
berupa kelir, kothak, blencong dll. Selain itu juga ada insturmen musik
pentatonis sebagai pengiring pagelaran wayang bernada slendro ataupun pelog.
Semua itu tersaji dalam setiap pagelaran wayang. Manun ada juga yang hanya
mementaskan pagelaran wayang hanya bermodalkan cangkem (mulut, red), murah? Pasti, namun kesel juga pasti.
Berikutknya nenginjak sifat dan ciri-ciri wayang. Dalam
buku ini tidak dijelaskan secara kumplit yang namanya paraga atau tokoh yang
berjumlah 114 lebih itu. mungkin karena bukunya tipis ya? Bukan semacam
ensiklopedi-ensiklopedi Britanica misalnya? Hehehe… namun penulisan watak dan
sifat paraga ini cukup membantu kita yang masih pemula ini dalam memahami
wayang. Paling tidak kita bisa mengeti watak-watak, tokoh Ramayana Pandhawa,
dan sebagian kecil Kurawa. Selain itu ada juga yang menarik yaitu pembagaian
kronologis wayang, yaitu 1) zaman Dews,Buta dan setan-setan; 2) prabu Arjuna
Sastrabahu, 3) zaman Ramayana, dan keempat adalah Zaman Mahabaratayuda yang
terkenal itu. seiring berjalanya waktu, wayang muai berkembang.wayang menjadi
sarana propaganda pada masa ORBA.
Masa ORBA jiga kita kenal era pembangunan. Wayang pada
masa ini digunakan untk sosialisasi program dari pemerintah. Apalagi kalau
bukan sosialaisasi program PELITA, ya tentang KB lah, tentang Pancasila yang
sakral dan tidak boleh diuwik-uwik lah,
dan beraneka ragam hal lain yang terkait. Oleh karena itu muncul istilah Wayang
Suluh, karena sifat suluh, diyan,
atau damar adalah untuk penerangamn.
Hmm masuk akal juga ya? Untuk tokoh-tokohnya juga berbeda. Ada yang berbentuk
camat, walikota, dll. Selain itu mulai berkembang juga wayang Wahyu yang
tokoh-tokohnya diambil dari cerita
langit ketika Yesus turun ke dunia.
Bab yang terakhir adalah sekelumit cerita tenteng wayang.
Yang saya tangkap disini adalah cerita tentang Rama Tambak. Ketika itu
Ramawijaya beserta rombongan kera dari Kiskedha sedang otewe untuk menggempur
kerajaan Rahwana. Ramawijaya mengajak ribuan monyet-monyet itu untuk
menueberang lewat laut. Saya nggak habis pikir, kenapa monyet-monyet itu tidak
bisa melompat dan terbang keangkasa seperti Anoman? Oh dari sini saya tahu
sekarang bahwa kera-kera itu tidak semuanya
sama saktinya seperti Anoman ataupun Ramawujaya yang bisa pencolotan kesana kemari.
Tambak ternyata tidak jadi-jadi. Ramawijayapun marah dan
mendamprat dewa Baruna (alias dewa laut, di Yunani disebut Poseidon) untuk menghentikan
deburan ombaknya barang sebentar. Dan Dewa Baruna pun sendika dhawuh, maka ombak tiddak lagi sekencang tadi, dan pembangunan
tambak pun dilanjutkan dengan santai, disertai ngopi tipis-tipis.
Pembangunan tambak bampir rampung, namun ada juga yang
menggoda. Yaitu kepiting raksasa, kekasih dari Sarpakenaka. Kekasih Sarpakenaka
kini yang giliran ngrecoki
pembangunan tambak yang hampir jadi.dan Ramawijayapun marah dibantainya
kepiting-kepiting tersbut dan dijadikan kepiting lada hitam.
Eh ada lagi yang menggangu, raden Bukbis mencuri mustika
bangsa kera, yang namanya bunga Worawari. Hal ini mengakibatkan kekuatan para
kera hilang, dan apa boleh buat Ramawijaya terpaksa turun tangan lagi dalam
mebunuh Raden Bukbis yang punya kaca mata ajaib yang bisa membakar apa saja.
Ramawujaya berhasil mengalahkan raden Bukbis dan mengembalikan Mustika Worawari
ketempatnya semula. Dan pembangunan tambakpun selesai. Yeee.
Begitu banyak hal yang bisa ktia ambil pelajaran dari
berbagai macam hal di sekitar ktia. Semuanya bisa menjadi hal yang baik ketika
kacamata kita baik, tidak terhalang oleh debu atau kotoran yang mengakibatkan
kacamata kita kabur sehingga tidak bisa menimbang dengan jernih sehala
persoalan yang datang. termasuk juga dalam wayang. Ini jga merupakan kacamata
lain yang berguna untuk memandang realitas yang ada disektiar kita. mungkin
tentang memayu hayuning buwana,
karmapala, dan samadi bisa diaktualisasikan atau dikonkretkan menjadi laku
hidup sehari-hari.
___
* terimakasih.
Tentang Buku : Sejarah Wayang : Asal-Usul dan Cirinya (Worldcat)
No comments:
Post a Comment