Thursday, 23 March 2017

Menegaskan Jati Diri Lewat Wayang

#ResensiBuku


https://bukuwayang.files.wordpress.com/2013/01/wpid-img_20130121_075341.jpg?w=500 

Judul Buku
: Sejarah Wayang : Asal-Usul dan Cirinya
Pengarang
: Amir Mertosedono
Penerbit
: Dahara Prize, Semarang
Tahun Terbit
: 1994. cetakan keempat
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: 116 Halaman

Jas merah, Jangan Sekali kali melupakan sejarah. Begitu kata Bung Karno. sejarah merupakan cara untuk menemukan jatidiri bangsa, terutama kaum muda. Hal ini berlaku juga pada kebudayaan adiluhung, yaitu wayang,  dalam wayang banyak hal yang bisa kita pethik. Kisah yang patut untuk menjadi contoh dalam berfikir, bertindak serta berkontempalasi. Dalam sebuah cerita wayang juga diterangkan tentang karmapala, atau ngundhuh wohing pakarti. Siapa yang berlaku buruk akan menerima keburukan juga. Dalam cerita wayang, hal seperti itu lumrah terjadi. Namun pembalasan yang diterima oleh seseorang yang berbuat angkara murka tidak secara langsung diterima. Bisa jadi nantinya orang lain yang mebalas keangkara murkaan yang diakukan. Yang menerima itu pun juga bisa jadi adalah kita sendiri, anak, putu, canggah, wareng dll. Mungkin juga tidak secara langsung balasan itu sampai kepada kita, Begitu juga ketika kita bertindak baik, karmapala pasti akan berlaku.
Secara runtut, Mertosedono menyajikan alur yang begitu runtut kepada kita yang hendak memahami wayang. Mulai dari asal-susul wayang, paraga wayang (meskipun hanya sebagain), perlengkapan yang tersaji dalam lakon wayang,  wayang ketika masa pembangunan 98’, dan sekelumit potongan lampahan wayang Rama Tambak sebagai penutup.
Asal usul wayang yang berawal ketika bangsa Jawa berada di jaman animism dan dinamisme. Manusia Jawa saat itu percaya kepada arwah nenek moyang dan benda-benda mistik yang menjadi awal kebaikan dan keburukan yang terjadi kepada manusia yang masih hidup. Karena itu, persembahan, (baca:slametan) dengan menanggap wayang wajib dilakukan oleh mansia Jawa saat itu secara individual maupun kelompok. Selain itu wayang juga menjadi sarana tolak bala ketika manusia sedang melakukan kesalahan yang fatal, seperti mecahkan pipisan, memecahkan lumpang, dll. Sehingga pelaku perlu diruwat. Selain sebagai sarana persembahan dan ruwatan, tanggapan wayang berguna untuk mereduksi dampak negatif ketika seseorang melalui tahapan kehidupanya, misalnya ketika mitoni, sunatan, pernikahan dll.
Wayang dan tradisi mistik itu mulai luntur seiring perjalanann jaman. wayang hanya dianggap sebagai warisan budanya yang diam. Kalah dengan gawai (gadget) yang setiap hari tidak lepas dari anak-anak muda. Wayang yang penuh makna filosofis yang perlu dionceki, kini diam, tertata rapi di museum. Bagaimana tentang penelitian wayang berupa skripsi, thesis, desertasi? Paling hanya menjadi artefak diam (juga), yang termakan rayap. Kita ambil maknyanya pragmatisknya saja, yaitu bisa di’reproduksi’ oleh adik kelas kita. lainya, kebermaknaanya? Entahlah saya juga kurang tahu. Seolah penelitian humanioran khususnya wayang ini stagnan alias jalan ditempat.
Setelah asal usul, kita masuk kedalam perlengkapan yang dipergunakan di pagelaran wayang. Kita tahu biasanya wayang yang dipentaskan oleh seorang dhalang tersaji beberapa perlengkapan yang wajib ada. Entah itu berupa kelir, kothak, blencong dll. Selain itu juga ada insturmen musik pentatonis sebagai pengiring pagelaran wayang bernada slendro ataupun pelog. Semua itu tersaji dalam setiap pagelaran wayang. Manun ada juga yang hanya mementaskan pagelaran wayang hanya bermodalkan cangkem (mulut, red), murah? Pasti, namun kesel juga pasti.
Berikutknya nenginjak sifat dan ciri-ciri wayang. Dalam buku ini tidak dijelaskan secara kumplit yang namanya paraga atau tokoh yang berjumlah 114 lebih itu. mungkin karena bukunya tipis ya? Bukan semacam ensiklopedi-ensiklopedi Britanica misalnya? Hehehe… namun penulisan watak dan sifat paraga ini cukup membantu kita yang masih pemula ini dalam memahami wayang. Paling tidak kita bisa mengeti watak-watak, tokoh Ramayana Pandhawa, dan sebagian kecil Kurawa. Selain itu ada juga yang menarik yaitu pembagaian kronologis wayang, yaitu 1) zaman Dews,Buta dan setan-setan; 2) prabu Arjuna Sastrabahu, 3) zaman Ramayana, dan keempat adalah Zaman Mahabaratayuda yang terkenal itu. seiring berjalanya waktu, wayang muai berkembang.wayang menjadi sarana propaganda pada masa ORBA.
Masa ORBA jiga kita kenal era pembangunan. Wayang pada masa ini digunakan untk sosialisasi program dari pemerintah. Apalagi kalau bukan sosialaisasi program PELITA, ya tentang KB lah, tentang Pancasila yang sakral dan tidak boleh diuwik-uwik lah, dan beraneka ragam hal lain yang terkait. Oleh karena itu muncul istilah Wayang Suluh, karena sifat suluh, diyan, atau damar adalah untuk penerangamn. Hmm masuk akal juga ya? Untuk tokoh-tokohnya juga berbeda. Ada yang berbentuk camat, walikota, dll. Selain itu mulai berkembang juga wayang Wahyu yang tokoh-tokohnya diambil dari  cerita langit ketika Yesus turun ke dunia.
Bab yang terakhir adalah sekelumit cerita tenteng wayang. Yang saya tangkap disini adalah cerita tentang Rama Tambak. Ketika itu Ramawijaya beserta rombongan kera dari Kiskedha sedang otewe untuk menggempur kerajaan Rahwana. Ramawijaya mengajak ribuan monyet-monyet itu untuk menueberang lewat laut. Saya nggak habis pikir, kenapa monyet-monyet itu tidak bisa melompat dan terbang keangkasa seperti Anoman? Oh dari sini saya tahu sekarang bahwa kera-kera itu tidak semuanya  sama saktinya seperti Anoman ataupun Ramawujaya yang bisa pencolotan kesana kemari.
Tambak ternyata tidak jadi-jadi. Ramawijayapun marah dan mendamprat dewa Baruna (alias dewa laut, di Yunani disebut Poseidon) untuk menghentikan deburan ombaknya barang sebentar. Dan Dewa Baruna pun sendika dhawuh, maka ombak tiddak lagi sekencang tadi, dan pembangunan tambak pun dilanjutkan dengan santai, disertai ngopi tipis-tipis.
Pembangunan tambak bampir rampung, namun ada juga yang menggoda. Yaitu kepiting raksasa, kekasih dari Sarpakenaka. Kekasih Sarpakenaka kini yang giliran ngrecoki pembangunan tambak yang hampir jadi.dan Ramawijayapun marah dibantainya kepiting-kepiting tersbut dan dijadikan kepiting lada hitam.
Eh ada lagi yang menggangu, raden Bukbis mencuri mustika bangsa kera, yang namanya bunga Worawari. Hal ini mengakibatkan kekuatan para kera hilang, dan apa boleh buat Ramawijaya terpaksa turun tangan lagi dalam mebunuh Raden Bukbis yang punya kaca mata ajaib yang bisa membakar apa saja. Ramawujaya berhasil mengalahkan raden Bukbis dan mengembalikan Mustika Worawari ketempatnya semula. Dan pembangunan tambakpun selesai. Yeee.
Begitu banyak hal yang bisa ktia ambil pelajaran dari berbagai macam hal di sekitar ktia. Semuanya bisa menjadi hal yang baik ketika kacamata kita baik, tidak terhalang oleh debu atau kotoran yang mengakibatkan kacamata kita kabur sehingga tidak bisa menimbang dengan jernih sehala persoalan yang datang. termasuk juga dalam wayang. Ini jga merupakan kacamata lain yang berguna untuk memandang realitas yang ada disektiar kita. mungkin tentang memayu hayuning buwana, karmapala, dan samadi bisa diaktualisasikan atau dikonkretkan menjadi laku hidup sehari-hari.
___
* terimakasih.

No comments:

Post a Comment