#resensi

|
|
|
Judul Buku
|
: Silsilah Wayang Purwa Mawa Cerita JIlid III
|
Pengarang
|
: Padmosoekotjo
|
Penerbit
|
: PT.Citra Jaya Murti, Surabaya
|
aTahun Terbit
|
: cetakan 2, 1992
|
Bahasa
|
: Jawa
|
Halaman
|
: 260 halaman
|
Cerita wayang yang kita dengar dari seorang dalang dalam
pementasan wayang sering kali abu-abu. Terutama bagi kita yang ‘buta’ akan
silsilah wayang mungkin akan kebingungan dalam mengikuti cerita pak dalang.
Dalam pementasannya, saya sendiri juga sering buta dalam memahami cerita wayang
dan tokoh-tokoh dalam wayang itu karena banyak sekali jumlahnya. Karena itu
mungkin buku ini bisa menjadi peta dalam kita memahami wayang, terutama tetang
seluk beluk sebuah lampahan wayang. Banyak yang saya dapatkan dalam kisah-kisah
dalam buku ini. Padmosoekotjo sangat apik dalam meramu tulisanya menjadi sebuah
cerita empat jilid.
Buku ini dibuka dengan akhir cerita dari Ramayana hingga
akhir Baratayuda. Tokoh-tokoh didalamnya mengalami konflik-konflik dalam maupun
luar dirinya yang sangat menarik untuk disimak, sehingga kita bisa tahu
silsilah wayang. Ramawijaya dan dewi Sinta sebagai prototype percintaan yang
ideal masa kini yang diselumuti kabut ketidak percayaan antar keduanya. Ramawijaya
dihasut oleh warga Ngalengka sehingga ia mengucilkan sang Dewi ke dekat Sungai
Gangga. Ketika pengasinyagnya, ia mengandhung. Syukur ada seorang resi yang
bernama Walmiki yang menomlong dewi Sinta agar tidak kelaparan dan kedinginan. Nantinya
resi Walmiki menggubah cerita sedih Ramayana yang bersumber dari cerita cinta
Rama dan Sinta.
Setelah ditolong oleh resi Walmiki, Sinta yang mengandung
itu akhirnya melahirkan dua orang lelaki tampan bernama Kusa dan Lawa. Setelah
melahirkan, Dewi Sinta bersatu dengan Dewi Pertiwi. karena menunjukan kesucian
cintanya kepada Ramawijaya. setelah menghilang, resi Walmiki mengutus Kusa dan
Lawa untuk menuju Ngalengka untuk menghadiri sebuah sayembara. Dengan membawa
pesan dari kakeknya untuk membawa gubahan kakawin Ramayana agar dibacakan di
depan masyarakat Ngalengka saat itu. Kusa dan Lawa pun akhirnya sendika dhawuh, pergi ke negara
Ngalengka menghadiri sayembara, dan bertemu dengan ayahnya Ramawijaya.
Negara Ngalengka begitu indah hari itu. begitu riuh dan sumringah. Semua orang ingin melihat
sayembara yang diadakan oleh Prabu Ramawijaya, namun juga warna duka masih
menyelimuti kerajaan Ngalengka waktu itu, karena sang Prabu baru saja
kehilangan putri terkasihnya, Dewi Sinta. Sayembarapun dimulai, Kusa dan Lawa
mengikuti sayembara itu dengan antre bersama peserta lain. Pada saat giliranya,
Kusa dan Lawa membacakan gubahan Ramayana kepada paduka Sri Rama dan
terhenyaklah masyarakat Ngalengka saat itu.
Suara Kusa dan Lawa begitu merdu, menngantar ingatan Sri
rama ketika ia masih bersama-sama Sinta. Tak disangka bahwa yang dalam Ramayana
itu merupakan cerita percintaanya dengan Sinta yang kini telah hilang bersatu
dengan dewi Pertiwi. Akhirnya sayembarapun dimenangkan oleh Kusa dan Lawa.
Namun hadiah yang diberikan oleh prabu Ramawijaya tidak diterima. Kusa dan Lawa
hanya meminta untuk dekat dengan ayahnya saja, tidak ada yan lain. Ramawijaya
menyanggupi permitaan mereka, akhirnya Ramawijaya pun menjadikan mereka sebagai
anggota karajaan. Yang setiap hari
tugasnya membacakan gubahan Ramayana kepada Ramawijaya.
Semakin hari rasa kehilangan itu semakin terasa seiring
dengan pembacaan kisanya yang begitu apik dalam Ramayana. Tidak kuat menahan
kesehihan karena ditinggalkan permaisurinya, akhirnya Ramawijaya memutuskan
untuk menyusul pemaisurinya ke alam kadewatan.
Ramayijaya menggunakan pakaian serba putih ingin menyusul dewi Sinta ke alam
lain. Ramawijaya akhrinya memasrahkan Alengka ke pewaris selanjutnya yaitu
Gunawan Wibisana. Ramawijaya diikuti oleh semua cipataan yang berwujud manusia,
hewan, dan tumbuh-tumbuhan. mereka ingin ngalap
berkah beliau karena Sri Ramawijaya adalah titisan Bethara Wisnu. Ramawijaya
bertapa di pinggir sungai Gangga yang dalam dan jernih. Setelah mendapat
wangsit maka beliau turun ke Sungai Gangga dan moksa disana bersama para
pengikutnya menuju swargaloka.
Ramawujaya menjadi wujud asliya yaitu Bethara Wisnu yang
dijemput oleh kereta kencana. Para pendhereknyapun
juga ikut masuk surga bersama Bethara Wisnu. kini pinggir sungai Gangga itu
telah sepi, meninggalkan cerita yang sangat syahdu tentang dewa Wisnumurti yang
mengejawantah untuk kesekian kalinya untuk menata dunia. Ngelenka kini telah
berada ditangan Gunawan Wibisana dan kedua anak-anaknya Kusa dan Lawa.
Beralih kecerita selanjutnya, Mahabarata. Mahabarata
terdiri dari 18 Parwa atau jalan cerita yang nantinya brrgabung menjadi satu
kesatuan bulat. Dalam Mahabarata secara etimologis merupakan perang saudara antara
Kurawa dan Pandhawa yang sebenarnya adalah keturunan dari Barata. Maka Dallam
hal ini disebut dengan Baratayuda yang berarti pertempuran darah Barata.
Seperti yang kita tahu bahwa Mahabarata adalah sebuah
sastra lama yang digubah oleh dua orang resi pada kerajaan Kediri yang disadur
dari kakawin yang dengan nama yang sama. Menurut Wikipedia, pembuat pertama kakawin
Mahabarata adalah serorang resi dari India yang bernama resi Byasa, Abiyasa.
Dengan beraksara Jawa Kuna. Diawali dengan pembuaangan Para Pandhawa ke hutan
dan hiakhiri dengan para Pandhawa yang masuk ke surga.
Cerita Mahabarata yang tersaji dalam karya Padmopoespito
yang lekat dalam benak saya adalah cetita tentang Begawan Ciptaning alias
Mintaraga. Cerita ini mengisahkan sang penengah Pandhawa, lagi galau memikirkan
kemaslahatan umat (memayu hayuning
bawana), dan meminta kepada dewa agar kakaknya, Yudhistira, diperbolehkan
untuk lenggah perabon. Selain itu
juga pas di kahyangan sedang ada yang ngesruh
yaitu Niwatakawaca yang ingin mempersunting seorang dewi. Karena galau Arjuna
menyepi kesebuah hutan.
Ketetapan Arjuna begitu kuat, sehingga memupuskan
godaan-godaan yang datang. malah ada seorang dewi yang kepincut dengan
kegantengan seorang Arjuna. Karena tidak mempan digoda oleh apapun, maka dewa
Indra pun turun ke bumi dan menyamar sebagai seorang pertapa yang mencari
tempat ngiyup pada sebuah gua. dan
pastilah pembaca tahu bahwa hujan yang turun itupun atas perintah bethara Indra
jua.
Melihat ada seorang yang datang, Arjuna menghentikan
pertapaanya barang sebentar dan menemui seorang pertapa itu. mereka berdua
berbicara tentang beraneka ragam perkara. Sang pertapa mengaku sebagai seorang
pertapa yang sedang melakukan ziarah di papan wingit tersebut. sang pertapa
terpesona pada cahya yang dipancarkan oleh Arjuna ketika sedang melakukan
samadi. Jika dilihat dengan mata batin, cahya Arjuna yang sedang bertapa itu bagaikan bintang-bintang yang berklipan. Sang
pertapa pun menanyakan balik kepada Arjuna untuk apa ia disini dan begitu
khiusyuk dalam bersamadi.
Arjuna bekata sejujurnya bahwa ia disini sedang galau memikirkan
kerajaan Astina dan Amarta yang kini telah rusak disebabkan oleh ulah saudara
mereka sendiri. Dalam tapanya Arjuna menginginkan Yudistira yang semoga diberi
kekuatan untuk menentramkan bumi Amarta dan Astina. Karena itu ia memohon
kepada dewa agar kakaknya diijinkan untuk madeg
keprabon.
Bethara Indra begitu kagum atas apa yang diinginkan oleh
Arjuna. Dan menurutnya keinginan Arjua itu cocok dengan apa yang diinginkan
oleh Bethara Indra. Pada akhir pembicaraanyam Betara Indra bertanya kepada
Arjuna, “Tahukah engkau Bethara Indra sekarang berada dimana, wahai Arjuna?”.
Arjuna pun menjawab “Bethara Indra, Beliau ada di depanku saat ini” dan karena
sudah ketahuan, Bethara Indra berubah menjadi wujud aslinya dan terbang ke
Khayangan.
Ujian selanjunya datang lagi. Tidak beberapa lama samadi
Arjuna direcoki kembali oleh suara gemuruh yang dibimbulkan oleh suara babi
hutan yang besarnya seperti gunung. Mesipun sedang samadi, Arjuna tidak
meninggalkan senjata-senjata yang mereupakan ciri khas dari seorang ksatiria.
Arjuna selalu eling dan waspada. Oleh
karena itu Arjuna keluar membawa serta panahnnya untuk membunuh biang
keributan. Yaitu celeng raksasasa. Celeng yang mengamuk dipanah oleh
Arjuna. Tidak dinyana ada seorang pemburu juga yang melepaskan panahnya kepada
celeng raksasa itu, dan tepat bersamaan menembus jantung dari caleng itu. dan mereka berdua pun eyel-eyelan.
Pemburu itu cekcok
dengan Arjuna tentang anak panah siapa yang menembus jantung celeng raksasa itu
untuk pertama kali. Dan akhirnya debat dimenangkan oleh Arjuana dan pemburupun
berubah wujud menjadi Bethara Siwa. Dan memberikan senjata baru kepada Arjuna
berwujud panah Pasupati. Panah itu diberikan kepada Arjuna karena niatnya yang
baik dan begitu kuanya samadi yang
dilakukan Arjuna sehingga para dewa kagum.
Bethara Siwa juga memberi kabar kepada Arjuna bahwa di
Kayangan sedang ada buta yang memebuat onar, bernama Niwatakawaca yang hendak
memepersunting seorang dewi Kahyangan. Arjuna dengan senjata barunya diminta
untuk menyingkirkan raksasa Niwatakawaca agar keadaan Kahyangan kembali tentram
seperti sedia kala.
Akhir dari cerira ini adalah ketika perang Baratayuda
telah berakhir. Dan diakhiri dengan kisah sedih prabu Salya bersama Istri yang
saling berkasih-kasih. Menjadi contoh kehidupan mansia sekarang. Ada juga
diceritakan tentang matinya aswatama ditangan bayi Parikesit.
___
*Bersambung
Lebih Lanjut :
Pengarang : Padmosoekotjo (worldcat)
No comments:
Post a Comment