Tuesday, 21 March 2017

Silsilah Wayang 3

#resensi
 https://wayangpustaka02.files.wordpress.com/2011/06/cover-silsilah-wyng-prw-3-cmprs.jpg?w=1128&h=1677

Judul Buku
: Silsilah Wayang Purwa Mawa Cerita JIlid III
Pengarang
: Padmosoekotjo
Penerbit
: PT.Citra Jaya Murti, Surabaya
aTahun Terbit
: cetakan 2, 1992
Bahasa
: Jawa
Halaman
: 260 halaman

Cerita wayang yang kita dengar dari seorang dalang dalam pementasan wayang sering kali abu-abu. Terutama bagi kita yang ‘buta’ akan silsilah wayang mungkin akan kebingungan dalam mengikuti cerita pak dalang. Dalam pementasannya, saya sendiri juga sering buta dalam memahami cerita wayang dan tokoh-tokoh dalam wayang itu karena banyak sekali jumlahnya. Karena itu mungkin buku ini bisa menjadi peta dalam kita memahami wayang, terutama tetang seluk beluk sebuah lampahan wayang. Banyak yang saya dapatkan dalam kisah-kisah dalam buku ini. Padmosoekotjo sangat apik dalam meramu tulisanya menjadi sebuah cerita empat jilid.
Buku ini dibuka dengan akhir cerita dari Ramayana hingga akhir Baratayuda. Tokoh-tokoh didalamnya mengalami konflik-konflik dalam maupun luar dirinya yang sangat menarik untuk disimak, sehingga kita bisa tahu silsilah wayang. Ramawijaya dan dewi Sinta sebagai prototype percintaan yang ideal masa kini yang diselumuti kabut ketidak percayaan antar keduanya. Ramawijaya dihasut oleh warga Ngalengka sehingga ia mengucilkan sang Dewi ke dekat Sungai Gangga. Ketika pengasinyagnya, ia mengandhung. Syukur ada seorang resi yang bernama Walmiki yang menomlong dewi Sinta agar tidak kelaparan dan kedinginan. Nantinya resi Walmiki menggubah cerita sedih Ramayana yang bersumber dari cerita cinta Rama dan Sinta.
Setelah ditolong oleh resi Walmiki, Sinta yang mengandung itu akhirnya melahirkan dua orang lelaki tampan bernama Kusa dan Lawa. Setelah melahirkan, Dewi Sinta bersatu dengan Dewi Pertiwi. karena menunjukan kesucian cintanya kepada Ramawijaya. setelah menghilang, resi Walmiki mengutus Kusa dan Lawa untuk menuju Ngalengka untuk menghadiri sebuah sayembara. Dengan membawa pesan dari kakeknya untuk membawa gubahan kakawin Ramayana agar dibacakan di depan masyarakat Ngalengka saat itu. Kusa dan Lawa pun akhirnya sendika dhawuh, pergi ke negara Ngalengka menghadiri sayembara, dan bertemu dengan ayahnya Ramawijaya.
Negara Ngalengka begitu indah hari itu. begitu riuh dan sumringah. Semua orang ingin melihat sayembara yang diadakan oleh Prabu Ramawijaya, namun juga warna duka masih menyelimuti kerajaan Ngalengka waktu itu, karena sang Prabu baru saja kehilangan putri terkasihnya, Dewi Sinta. Sayembarapun dimulai, Kusa dan Lawa mengikuti sayembara itu dengan antre bersama peserta lain. Pada saat giliranya, Kusa dan Lawa membacakan gubahan Ramayana kepada paduka Sri Rama dan terhenyaklah masyarakat Ngalengka saat itu.
Suara Kusa dan Lawa begitu merdu, menngantar ingatan Sri rama ketika ia masih bersama-sama Sinta. Tak disangka bahwa yang dalam Ramayana itu merupakan cerita percintaanya dengan Sinta yang kini telah hilang bersatu dengan dewi Pertiwi. Akhirnya sayembarapun dimenangkan oleh Kusa dan Lawa. Namun hadiah yang diberikan oleh prabu Ramawijaya tidak diterima. Kusa dan Lawa hanya meminta untuk dekat dengan ayahnya saja, tidak ada yan lain. Ramawijaya menyanggupi permitaan mereka, akhirnya Ramawijaya pun menjadikan mereka sebagai anggota karajaan.  Yang setiap hari tugasnya membacakan gubahan Ramayana kepada Ramawijaya.
Semakin hari rasa kehilangan itu semakin terasa seiring dengan pembacaan kisanya yang begitu apik dalam Ramayana. Tidak kuat menahan kesehihan karena ditinggalkan permaisurinya, akhirnya Ramawijaya memutuskan untuk menyusul pemaisurinya ke alam kadewatan. Ramayijaya menggunakan pakaian serba putih ingin menyusul dewi Sinta ke alam lain. Ramawijaya akhrinya memasrahkan Alengka ke pewaris selanjutnya yaitu Gunawan Wibisana. Ramawijaya diikuti oleh semua cipataan yang berwujud manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. mereka ingin ngalap berkah beliau karena Sri Ramawijaya adalah titisan Bethara Wisnu. Ramawijaya bertapa di pinggir sungai Gangga yang dalam dan jernih. Setelah mendapat wangsit maka beliau turun ke Sungai Gangga dan moksa disana bersama para pengikutnya menuju swargaloka.
Ramawujaya menjadi wujud asliya yaitu Bethara Wisnu yang dijemput oleh kereta kencana. Para pendhereknyapun juga ikut masuk surga bersama Bethara Wisnu. kini pinggir sungai Gangga itu telah sepi, meninggalkan cerita yang sangat syahdu tentang dewa Wisnumurti yang mengejawantah untuk kesekian kalinya untuk menata dunia. Ngelenka kini telah berada ditangan Gunawan Wibisana dan kedua anak-anaknya Kusa dan Lawa.
Beralih kecerita selanjutnya, Mahabarata. Mahabarata terdiri dari 18 Parwa atau jalan cerita yang nantinya brrgabung menjadi satu kesatuan bulat. Dalam Mahabarata secara etimologis merupakan perang saudara antara Kurawa dan Pandhawa yang sebenarnya adalah keturunan dari Barata. Maka Dallam hal ini disebut dengan Baratayuda yang berarti pertempuran darah Barata.
Seperti yang kita tahu bahwa Mahabarata adalah sebuah sastra lama yang digubah oleh dua orang resi pada kerajaan Kediri yang disadur dari kakawin yang dengan nama yang sama.  Menurut Wikipedia, pembuat pertama kakawin Mahabarata adalah serorang resi dari India yang bernama resi Byasa, Abiyasa. Dengan beraksara Jawa Kuna. Diawali dengan pembuaangan Para Pandhawa ke hutan dan hiakhiri dengan para Pandhawa yang masuk ke surga.
Cerita Mahabarata yang tersaji dalam karya Padmopoespito yang lekat dalam benak saya adalah cetita tentang Begawan Ciptaning alias Mintaraga. Cerita ini mengisahkan sang penengah Pandhawa, lagi galau memikirkan kemaslahatan umat (memayu hayuning bawana), dan meminta kepada dewa agar kakaknya, Yudhistira, diperbolehkan untuk lenggah perabon. Selain itu juga pas di kahyangan sedang ada yang ngesruh yaitu Niwatakawaca yang ingin mempersunting seorang dewi. Karena galau Arjuna menyepi kesebuah hutan.
Ketetapan Arjuna begitu kuat, sehingga memupuskan godaan-godaan yang datang. malah ada seorang dewi yang kepincut dengan kegantengan seorang Arjuna. Karena tidak mempan digoda oleh apapun, maka dewa Indra pun turun ke bumi dan menyamar sebagai seorang pertapa yang mencari tempat ngiyup pada sebuah gua. dan pastilah pembaca tahu bahwa hujan yang turun itupun atas perintah bethara Indra jua.
Melihat ada seorang yang datang, Arjuna menghentikan pertapaanya barang sebentar dan menemui seorang pertapa itu. mereka berdua berbicara tentang beraneka ragam perkara. Sang pertapa mengaku sebagai seorang pertapa yang sedang melakukan ziarah di papan wingit tersebut. sang pertapa terpesona pada cahya yang dipancarkan oleh Arjuna ketika sedang melakukan samadi. Jika dilihat dengan mata batin, cahya Arjuna yang sedang bertapa itu  bagaikan bintang-bintang yang berklipan. Sang pertapa pun menanyakan balik kepada Arjuna untuk apa ia disini dan begitu khiusyuk dalam bersamadi.
Arjuna bekata sejujurnya bahwa ia disini sedang galau memikirkan kerajaan Astina dan Amarta yang kini telah rusak disebabkan oleh ulah saudara mereka sendiri. Dalam tapanya Arjuna menginginkan Yudistira yang semoga diberi kekuatan untuk menentramkan bumi Amarta dan Astina. Karena itu ia memohon kepada dewa agar kakaknya diijinkan untuk madeg keprabon.
Bethara Indra begitu kagum atas apa yang diinginkan oleh Arjuna. Dan menurutnya keinginan Arjua itu cocok dengan apa yang diinginkan oleh Bethara Indra. Pada akhir pembicaraanyam Betara Indra bertanya kepada Arjuna, “Tahukah engkau Bethara Indra sekarang berada dimana, wahai Arjuna?”. Arjuna pun menjawab “Bethara Indra, Beliau ada di depanku saat ini” dan karena sudah ketahuan, Bethara Indra berubah menjadi wujud aslinya dan terbang ke Khayangan.
Ujian selanjunya datang lagi. Tidak beberapa lama samadi Arjuna direcoki kembali oleh suara gemuruh yang dibimbulkan oleh suara babi hutan yang besarnya seperti gunung. Mesipun sedang samadi, Arjuna tidak meninggalkan senjata-senjata yang mereupakan ciri khas dari seorang ksatiria. Arjuna selalu eling dan waspada. Oleh karena itu Arjuna keluar membawa serta panahnnya untuk membunuh biang keributan. Yaitu celeng raksasasa. Celeng yang mengamuk dipanah oleh Arjuna. Tidak dinyana ada seorang pemburu juga yang melepaskan panahnya kepada celeng raksasa itu, dan tepat bersamaan menembus jantung dari caleng itu. dan mereka berdua pun eyel-eyelan.
Pemburu itu cekcok dengan Arjuna tentang anak panah siapa yang menembus jantung celeng raksasa itu untuk pertama kali. Dan akhirnya debat dimenangkan oleh Arjuana dan pemburupun berubah wujud menjadi Bethara Siwa. Dan memberikan senjata baru kepada Arjuna berwujud panah Pasupati. Panah itu diberikan kepada Arjuna karena niatnya yang baik dan  begitu kuanya samadi yang dilakukan Arjuna sehingga para dewa kagum.
Bethara Siwa juga memberi kabar kepada Arjuna bahwa di Kayangan sedang ada buta yang memebuat onar, bernama Niwatakawaca yang hendak memepersunting seorang dewi Kahyangan. Arjuna dengan senjata barunya diminta untuk menyingkirkan raksasa Niwatakawaca agar keadaan Kahyangan kembali tentram seperti sedia kala.
Akhir dari cerira ini adalah ketika perang Baratayuda telah berakhir. Dan diakhiri dengan kisah sedih prabu Salya bersama Istri yang saling berkasih-kasih. Menjadi contoh kehidupan mansia sekarang. Ada juga diceritakan tentang matinya aswatama ditangan bayi Parikesit. 
___
*Bersambung

Lebih Lanjut :

No comments:

Post a Comment