#ResensiBuku
Judul Buku
|
: Kasyful Asrar (Pembuka Rahasia)
|
Pengarang
|
: (anonim), terjemahan oleh Said Machmud Umar, dkk
|
Penerbit
|
1.
Al Ahmadiah, Singapura
2.
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan
Melayu (Melayulogi), Pekanbaru
|
aTahun Terbit
|
: cetakan 22, 1390 Hijriah
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
Halaman
|
: iv +85
|
Belajar memahami diri sendiri berarti belajar memahami
Tuhan. Sejatinya kita adalah ejawantah dari Tuhan. Membaca manusia ada berlapis
makna yang perlu dionceki. Pemahaman makna
diri merupakan jalan yang ditempuh oleh setiap individu menuju Tuhanya.
Pemahman itu bisa di lakukan melalui tiga cara yaitu dengan usuludin, fikih dan tasawuf. Ketiganya
merupakan jalan yang kita dalam menjadi manusia yang tahu kedirianya.
Kitab ini berisi tentang soal jawab antara seorang murid
dan guru ketika membabar ilmu Ketuhanan dan Kemanusian. Soal jawab yang pelik,
rigid, dan berat. Pembahasan itu antra lain, Hubungan Allah, Kanjeng Nabi, dan
Adam secara metaforik, pembahasaan wadah dan isi manusia secara menyeluruh,
makna syahadat atau persaksian, rahasia hati, gerakan shalat tatacara, mencari
ilmu, tataran ilmu yang setiap muslim wajb mempelajari dalam kitab Kasyful
Asrar juga dibabar tentang empat jalan menuju Tuhan. Empat jalan itu adalah syari’at, tarekat, kahikat dan makrifat., Dan bahasan terakhir diakhiri dengan makna orang
jahat kepada Allah
Kita mengetahui bahwa manusia akan kembali kepadaNya, kapan
itu terjadi? Apakan nanti ketika kita mati? memangnya tahu kapan kita mati?
laki-laki perempuan, tua-muda, kaya-miskin, semuanya mempunyai peluang untuk
mati, dan mati itu datangnya tak terduga. Apakah tidak sebaiknya dipersiapkan
mulai dari sekarang?
Setiap orang adalah pejalan, maka dari itu kita, tidak
perduli umur kita berapa, langkah spiritual harus tetap dijalankan. Jika
melihat dari sabda Maulana Rumi, beliau mengatakan bahwa : tetaplah datang
dengan uang palsumu kepadaKu, Ketika sholat kita masih setengah-setengah,
ketika puasa kita masih setengah-setengah, dan ketika membaca Qur’an masih
setengah-setengah jua, itu bagaikan uang palsu yang kita bawa untuk kita tukar
dengan cintaNya. Namun Tuhan tidak perduli dengan itu, lha wong kita masih belajar, tidak ada salahnya kan? Namun semuanya
merupakan proses yang teramat berharga ketika kita memenuhi panggilaNya dengan
‘uang palsu’ itu. Bersabar terus menerus (istiqamah) menjadi kunci seorang
pejalan dalam mendekat sejengkal demi sejengkal keharibaan Tuhanya.
___
Datanglah terus wahai pejalan, Aku rindu kepadamu!
No comments:
Post a Comment