Sunday, 19 March 2017

Tanya-Jawab Ketuhanan

#ResensiBuku

Judul Buku
: Kasyful Asrar (Pembuka Rahasia)
Pengarang
: (anonim), terjemahan oleh Said Machmud Umar, dkk
Penerbit
1.     Al Ahmadiah, Singapura
2.     Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Melayu     (Melayulogi), Pekanbaru
aTahun Terbit
: cetakan 22, 1390 Hijriah
Bahasa
: Indonesia
Halaman
: iv +85


Belajar memahami diri sendiri berarti belajar memahami Tuhan. Sejatinya kita adalah ejawantah dari Tuhan. Membaca manusia ada berlapis makna yang perlu dionceki. Pemahaman makna diri merupakan jalan yang ditempuh oleh setiap individu menuju Tuhanya. Pemahman itu bisa di lakukan melalui tiga cara yaitu dengan usuludin, fikih dan tasawuf. Ketiganya merupakan jalan yang kita dalam menjadi manusia yang tahu kedirianya.
Kitab ini berisi tentang soal jawab antara seorang murid dan guru ketika membabar ilmu Ketuhanan dan Kemanusian. Soal jawab yang pelik, rigid, dan berat. Pembahasan itu antra lain, Hubungan Allah, Kanjeng Nabi, dan Adam secara metaforik, pembahasaan wadah dan isi manusia secara menyeluruh, makna syahadat atau persaksian, rahasia hati, gerakan shalat tatacara, mencari ilmu, tataran ilmu yang setiap muslim wajb mempelajari dalam kitab Kasyful Asrar juga dibabar tentang empat jalan menuju Tuhan. Empat jalan itu adalah syari’at, tarekat, kahikat dan makrifat., Dan  bahasan terakhir diakhiri dengan makna orang jahat kepada Allah  
Kita mengetahui bahwa manusia akan kembali kepadaNya, kapan itu terjadi? Apakan nanti ketika kita mati? memangnya tahu kapan kita mati? laki-laki perempuan, tua-muda, kaya-miskin, semuanya mempunyai peluang untuk mati, dan mati itu datangnya tak terduga. Apakah tidak sebaiknya dipersiapkan mulai dari sekarang?
Setiap orang adalah pejalan, maka dari itu kita, tidak perduli umur kita berapa, langkah spiritual harus tetap dijalankan. Jika melihat dari sabda Maulana Rumi, beliau mengatakan bahwa : tetaplah datang dengan uang palsumu kepadaKu, Ketika sholat kita masih setengah-setengah, ketika puasa kita masih setengah-setengah, dan ketika membaca Qur’an masih setengah-setengah jua, itu bagaikan uang palsu yang kita bawa untuk kita tukar dengan cintaNya. Namun Tuhan tidak perduli dengan itu, lha wong kita masih belajar, tidak ada salahnya kan? Namun semuanya merupakan proses yang teramat berharga ketika kita memenuhi panggilaNya dengan ‘uang palsu’ itu. Bersabar terus menerus (istiqamah) menjadi kunci seorang pejalan dalam mendekat sejengkal demi sejengkal keharibaan Tuhanya.


___
Datanglah terus wahai pejalan, Aku rindu kepadamu!

No comments:

Post a Comment