Wednesday, 15 March 2017

Perlawanan Manusia Nigeria

#ResensiBuku




Judul Buku                  : Things Fall Apart
Pengarang                   : Chinua Achebe
Penerbit                      : Pinguin, London
Tahun Terbit               : cetakan pertama, 2001. Terbitan pertama tahun 1959
Bahasa                        : Inggris
Halaman                     :i+281

Okonkwo seorang miskin dari benua Afrika. Setiap hari ia bekerja dan mencari nafkah seperti kebanyakan orang lain. Ia tidak butuh dikasihani. Ia adalah lelaki yang kuat secara fisik maupun mental. Suatu hari ia dengan berat hati, berkata kepada adiknya bahwa ia akan dikorbankan kepada Chi, Tuhan dalam tradisi Nigeria. Persembahanya dengan penyerahan keparawanan yang dimiliki oleh adiknya yang nantinya diserahkan kepada tetua adat setempat. Dengan berat hati Okonkwo menerima hal tersebut. Hal ini menjadi semacam call of duty bagi Okonkwo karena adiknya berkorban untuk kemakmuran daerahnya yang sedang mengalami kekeringan. Antara sedih dan senang, Okonkwo merelakan keparawanan adiknya tersayang kepada tetua adat. kurang ajar benar!
Persembahan keperawanan seorang wanita kepada kepala suku adalah sebagaian dari rangkain acara ‘tolak bala’ yang dilakukan oleh salah satu suku di Nigeria, Afrika. Acara persembahan itu berlangsung selama 4-5 hari. Diselingi dengan tari-tarian, makan-makan, minuman, dan lain sebagainya. dan persembahan keperawanan dilaksanakan sebagai puncak perayaan acara tersebut. Pengorbanan itu berlangsung ketika tetua adat mulai komat-makit baca mantra. Setelah puas menyetubuhi adik dari Okonkwo ia melanjutkan kembali samadinya dan meminta kepada Chi agar semoga kekeringan segera berlalu, apa yang dicita-citakan kaumnya lekas terkabul.
Doa yang dipanjatkan oleh tetua adat kini sudah tidak ampuh lagi. Para orang kampug mulai gelisah ada apakah gerangan? Apa mungkin ada salah seorang dari anggota mereka yang melanggar adat? Ataukah mereka melupakan sesuatu yang menjadi rukun acara persembahan itu? mereka rasa tidak. Semuanya berjalan dengan baik, tertata rapi dan tidak ada suatu barang yang tercecer. Dan akhirnya mereka mulai berintrospeksi diri apa yang telah mreka lakukan selama ini. tidak terkecuali Okonkwo. Mungkin ketika ia bertamu di hutan kemarin ia tidak sengaja menyakiti ular piton yang melingkar di sela-sela batu. Apakah mungkin karena itu persembahan mereka ditolak?
Kesedihkan karena tidak turun hujan kini diperparah dengan kehadiran orang asing. Orang asing yang membawa agama yang kelihatanya baru bagi Okonkwo dan teman-temanya. Orang asing itu bernama Brown, ia seorang misionaris. Kedatangan tamu dari jauh, yang berbeda ras dengan Okonkwo, meskipun berbeda ras, Okonkwo dan saudara sesukunya menerima mereka dengan senang hari.. Dan Mr Brown pun menerima pemberian mereka dengan senang hati, dan terjadilah pertukaran informasi anara kedua suku yang baru saja kenal itu.
Namun tak disangka semua berubah seiring berjalanya waktu. Mr Brown mendirikan sebuah gereja di tanah atau lebih tepatnya hutan adat milik suku dewan adatnya. Hutan dibuka, kayu-kayu ditebang, dan lahanpun dibuka. Teman-teman Okonkwo mulai terpecah. Ada yang masih bertahan dengan adat mereka da nada juga yang memasuki agama baru yang diworo-worokan oleh Mr. Brown. Okonkwo setelah pusing karena tak turun hujan sehingga panennya gagal, adinya menjadi sarana persembahan, dan kini datang mahalah baru, hutan adat dibuka dan ekosistem dirusak. Menjadi semakin pusinglah ia.
Selain pembukaan hutan adat, yang menjadikan Okonkwo marah adalah penistaan agama yang dilakukan oleh Mr. Brown dan kawan-kawannya. Merena bilang kepada Okonkwo bahwa suku itu adalah suku tak Bertuhan, primitif, tidak logi dan aneh. Mr. Brown menyarankan agamanya sebagai agama agar diterima oleh suku dan dewan adat.. Okonkwo pun menceritakan dengan rapi dan tertata bahwa  suku mereka adalah penganut ajaran Tuhan yang taat. Tuhanku mungkin berbeda nama dengan Tuhamu tapi, esensi Tuhan kita sama.
“Kami bangsa bertuhan, paling tidak dengan kebertuhahan kami, kami tidak merusak alam yang dikaruniakanNya, dan selalu menjaganya dan melestarikanya”. Sanggah Okonkwo
Okonkwo mulai nekat dan frustasi. Apapun akan dilakukannya demi melampiaskan kejengkelanya tersebut. Saat pusing itulah Okonkwo mulai tidak berpikir jernih. Ia ingin membunuh misionaris itu, dan juga membakar gereja yang sedang ia buat. Namun ketua adat mewanti-wanti agar Okonkwo sabar dan berembuk dengan baik dengan dewan mr. Brown. Okonkwo tidak bisa terima hal tersebut. Maka ia mengajak teman-temannya untuk mengintimidasi teman-teman dari kalangan suku sendiri agat tidak berdibadah ke Gereja yang dibangun oleh mr. Brown. Karena mereka masih penganut agama yang taat, maka lama kelamaan penganut agama yang dibawa mr Brown mulai berkurang secara signifikan. dan karena itu Gereja menjadi sepi, tidak ada pengunjung yang datang.
Mr. Brown dan kawan-kawannya pun frustasi. Mereka telah mencoba berkali-kali untuk mengajak mereka kembali ke Gereja, manun hasilnya nihil.mereka kembali ke ajaran semula yang menurut pembacaan saya penganut naturalistik. Akhirnya mr. Brown pun pergi dari tanah hitam Afrika, itu dengan tangan kosong. Tidak ada penindasan, tidak ada kekerasan. Semua berjalan dengan tenang dan damai.
Sebermarmua narator ingin menceritakan perlawanan bangsa Nigeria yang menjadi bahan rundungan (bully, red) di media sosial maupun di dunia nyata. Sebagian orang kulit putih menyatakan bahwa mereka ras unggul dan memandang sebelah mata ras kulit hitam (negro). Pesanya adalah, pada hakikatnya kami sama adalah bertuhan seperti kalian.  Derajat kita sama. Tidak ada yang leih rendah dari satu ras dengan ras yang lain. Kita sejajar. Dan olok-olokan rasis itu sama sekali tidak lucu.

___
*siang yang terik 

bacaan lebih lanjut :

No comments:

Post a Comment