#ResensiBuku
Judul Buku : Things
Fall Apart
Pengarang :
Chinua Achebe
Penerbit :
Pinguin, London
Tahun Terbit :
cetakan pertama, 2001. Terbitan pertama tahun 1959
Bahasa :
Inggris
Halaman :i+281
Okonkwo seorang miskin dari benua Afrika. Setiap hari ia
bekerja dan mencari nafkah seperti kebanyakan orang lain. Ia tidak butuh
dikasihani. Ia adalah lelaki yang kuat secara fisik maupun mental. Suatu hari
ia dengan berat hati, berkata kepada adiknya bahwa ia akan dikorbankan kepada
Chi, Tuhan dalam tradisi Nigeria. Persembahanya dengan penyerahan keparawanan
yang dimiliki oleh adiknya yang nantinya diserahkan kepada tetua adat setempat.
Dengan berat hati Okonkwo menerima hal tersebut. Hal ini menjadi semacam call of duty bagi Okonkwo karena adiknya
berkorban untuk kemakmuran daerahnya yang sedang mengalami kekeringan. Antara sedih
dan senang, Okonkwo merelakan keparawanan adiknya tersayang kepada tetua adat. kurang
ajar benar!
Persembahan keperawanan seorang wanita kepada kepala suku
adalah sebagaian dari rangkain acara ‘tolak bala’ yang dilakukan oleh salah
satu suku di Nigeria, Afrika. Acara persembahan itu berlangsung selama 4-5
hari. Diselingi dengan tari-tarian, makan-makan, minuman, dan lain sebagainya.
dan persembahan keperawanan dilaksanakan sebagai puncak perayaan acara
tersebut. Pengorbanan itu berlangsung ketika tetua adat mulai komat-makit baca
mantra. Setelah puas menyetubuhi adik dari Okonkwo ia melanjutkan kembali
samadinya dan meminta kepada Chi agar semoga kekeringan segera berlalu, apa
yang dicita-citakan kaumnya lekas terkabul.
Doa yang dipanjatkan oleh tetua adat kini sudah tidak ampuh
lagi. Para orang kampug mulai gelisah ada apakah gerangan? Apa mungkin ada
salah seorang dari anggota mereka yang melanggar adat? Ataukah mereka melupakan
sesuatu yang menjadi rukun acara persembahan itu? mereka rasa tidak. Semuanya
berjalan dengan baik, tertata rapi dan tidak ada suatu barang yang tercecer.
Dan akhirnya mereka mulai berintrospeksi diri apa yang telah mreka lakukan
selama ini. tidak terkecuali Okonkwo. Mungkin ketika ia bertamu di hutan
kemarin ia tidak sengaja menyakiti ular piton yang melingkar di sela-sela batu.
Apakah mungkin karena itu persembahan mereka ditolak?
Kesedihkan karena tidak turun hujan kini diperparah dengan
kehadiran orang asing. Orang asing yang membawa agama yang kelihatanya baru
bagi Okonkwo dan teman-temanya. Orang asing itu bernama Brown, ia seorang
misionaris. Kedatangan tamu dari jauh, yang berbeda ras dengan Okonkwo,
meskipun berbeda ras, Okonkwo dan saudara sesukunya menerima mereka dengan
senang hari.. Dan Mr Brown pun menerima pemberian mereka dengan senang hati,
dan terjadilah pertukaran informasi anara kedua suku yang baru saja kenal itu.
Namun tak disangka semua berubah seiring berjalanya waktu. Mr
Brown mendirikan sebuah gereja di tanah atau lebih tepatnya hutan adat milik
suku dewan adatnya. Hutan dibuka, kayu-kayu ditebang, dan lahanpun dibuka. Teman-teman
Okonkwo mulai terpecah. Ada yang masih bertahan dengan adat mereka da nada juga
yang memasuki agama baru yang diworo-worokan oleh Mr. Brown. Okonkwo setelah
pusing karena tak turun hujan sehingga panennya gagal, adinya menjadi sarana
persembahan, dan kini datang mahalah baru, hutan adat dibuka dan ekosistem
dirusak. Menjadi semakin pusinglah ia.
Selain pembukaan hutan adat, yang menjadikan Okonkwo marah
adalah penistaan agama yang dilakukan oleh Mr. Brown dan kawan-kawannya. Merena
bilang kepada Okonkwo bahwa suku itu adalah suku tak Bertuhan, primitif, tidak
logi dan aneh. Mr. Brown menyarankan agamanya sebagai agama agar diterima oleh
suku dan dewan adat.. Okonkwo pun menceritakan dengan rapi dan tertata
bahwa suku mereka adalah penganut ajaran
Tuhan yang taat. Tuhanku mungkin berbeda nama dengan Tuhamu tapi, esensi Tuhan
kita sama.
“Kami bangsa bertuhan, paling tidak dengan kebertuhahan
kami, kami tidak merusak alam yang dikaruniakanNya, dan selalu menjaganya dan
melestarikanya”. Sanggah Okonkwo
Okonkwo mulai nekat dan frustasi. Apapun akan dilakukannya
demi melampiaskan kejengkelanya tersebut. Saat pusing itulah Okonkwo mulai
tidak berpikir jernih. Ia ingin membunuh misionaris itu, dan juga membakar
gereja yang sedang ia buat. Namun ketua adat mewanti-wanti agar Okonkwo sabar
dan berembuk dengan baik dengan dewan mr. Brown. Okonkwo tidak bisa terima hal
tersebut. Maka ia mengajak teman-temannya untuk mengintimidasi teman-teman dari
kalangan suku sendiri agat tidak berdibadah ke Gereja yang dibangun oleh mr.
Brown. Karena mereka masih penganut agama yang taat, maka lama kelamaan
penganut agama yang dibawa mr Brown mulai berkurang secara signifikan. dan
karena itu Gereja menjadi sepi, tidak ada pengunjung yang datang.
Mr. Brown dan kawan-kawannya pun frustasi. Mereka telah
mencoba berkali-kali untuk mengajak mereka kembali ke Gereja, manun hasilnya
nihil.mereka kembali ke ajaran semula yang menurut pembacaan saya penganut naturalistik.
Akhirnya mr. Brown pun pergi dari tanah hitam Afrika, itu dengan tangan kosong.
Tidak ada penindasan, tidak ada kekerasan. Semua berjalan dengan tenang dan
damai.
Sebermarmua narator ingin menceritakan perlawanan bangsa
Nigeria yang menjadi bahan rundungan (bully,
red) di media sosial maupun di dunia nyata. Sebagian orang kulit putih
menyatakan bahwa mereka ras unggul dan memandang sebelah mata ras kulit hitam
(negro). Pesanya adalah, pada hakikatnya kami sama adalah bertuhan seperti kalian. Derajat kita sama. Tidak ada yang leih rendah
dari satu ras dengan ras yang lain. Kita sejajar. Dan olok-olokan rasis itu
sama sekali tidak lucu.
___
*siang yang terik
bacaan lebih lanjut :
penulis : Chinua Achebe (Ing)
resensi buku : Things Fall Apart (Worldcat)
No comments:
Post a Comment