Judul Buku :
Akulah Debu di Jalan Al-Mustafa : Jejak-Jejak Awliya Allah
Pengarang :
Tri Wibowo BS
Penerbit :
Prenada
Tahun Terbit :
cetakan pertama, September 2015
Bahasa :
Indonesia
Halaman :
xv+548
Menjadi salik di jalan cinta kepada Gusti Allah ternyata
gampang-gampang susah. Dalam menjadi seorang salik seorang pecinta diharuskan
untuk tahu diri agar tahu yang dicintai. Man
arofa nafsahu faqad arofa Robbahu. (jawa:Sapa sing ngerti marang awake dhewe
prasasat ngeti Pangerane). Siapa yang mengetahui kedirianya pasti akan tahu
siapa Tuhanya. Setelah kita tahu bahwa mengerti diri sendiri adalah mutlak
penting, maka langkah pertama untuk mebuka hijab itu adalah dengan sarana
mensucikan diri dari hadas, ataupun dosa melalui tazkiyatun nafs. Menghitung kapasitas diri.
Di Nusantara ini, banyak sekali Awliyaallah yang mapir dan
singgah untuk membagi ilmu spiritualnya kepada masyarakat. Mulai dari Sumatra,
Jawa, Borneo, Bali, Sulawesi. Nama-nama Awliyaalah itu diantaranya adalah
Hamzah Fansuri, Nurrudin Arraniri, Sunan Kalijaga, Syekh Yusuf Al Makasari.
Dll. Mereka mengajarkan untuk membenarkan ajaran agar sampai ke Allah (Innalilahi Wa Inaillihi Rojiun). Dalam
penyebaranya meerka menggunakan berbagai macam sarana seperti musik, karomah
dan lain sebagainnya. Ajaran inti yang dibawa oleh mereka adalah memalui empat
tahap yaitu syariaat, tarekat, hakikat
dan makrifat.
Untuk menjadi seorang pejalan spiritual, harus melalui
tahapan-tahapan yang sudah tertulis oleh sufi-sufi besar. Tingkatan itu sudah
banyak diketahui orang. Antara lain syariat,
tarikat, hakikat, makrifat. Dalam syariat kita diajarkan untuk mengumpulkan
ilmu-ilmu yang banyak, dalam hal ini jika dianalogikan adalak persiapan bekal
untuk menjalani perjalanan spiritual, harus mempunyai bekal yang cukup. Setelah
itu menuju tarikat, yaitu perjananannya. Dalam perjalanan ini seseorang
disunahkan utnuk selalu mendekat dengan Allah melalui laku-laku spiritual
semacam mengurangi makan, dan minun dan tidur, beruzlah, wirid dan laku spiritual lain yang mendekatkan diri kita ke
Allah. Setelah semuanya terlampaui maka langkah selanjutnya adalah hakikat.
Dalam hakikat kita bisa mengetahui esensi-esensi setiap ciptaan, dan ternyata
itu semua adalah Allah yang ingin dikenal. Dalam sebuah hadist menyebutkan
bahwa Allah adalah khazanah yang tersembunyi, karena itu Ia ingin dikenal. Maka
Ia menciptakan ciptaan dari cuwilan
diriNya untuk dikenali dan dicintai adaNya. Dan puncak dari perjalanan saliik
itu adalah Makrifat. Yang dimaksud makrifat adalah ketika hijab, batas dari
seorang hamba dan Tuhanya telah terbuka dan ia dan Tuhanya menjadi satu
kesatuan yang tak terpisahkan. Maka disanalah makrifat terjadi. Ego hilang,
hancur, dan lenyap ketika berhadapan dengan Tuhan.
Dalam menjadi pejalan spiritual seseorang harus mendapatkan
bimbingan dari seorang guru. Banyak hal yang abu-abu yang dialami seorang murid
yang nantinya akan menyesatkan seseroang dalam meraih persatuan denagn Tuhanya.
Guru spiritual berfungsi sebagai tolak ukur seorang murid sudah mencapai tahap makrifaullah atau belum. Guru akan
memberi tahu langkah-langkah yang patutnya diambil olah seorang pejalan salik
yang masih hijau.
Dalam perkembanganya untuk menjadi seorang pejalan salik,
di Indonesia telah banyak bertebaran tarekat-tarekat yang menjadi sarana
pejalan untuk menemukan Tuhanya. Kita ambil contoh adalah Tarekat Syadziliyah
yang didirikan oleh Abu Hasan Assadzili, Naqsabandiyah, Qadiriyah dan masih
banyak lagi dalam perkembanganya yang diarsipkan oleh Nahdatul Ulama adalah 43
tarekat. Selain itu embuh. Karena
dalam perkembanganya yang namanya tarekat itu ketika sudah selesai dengan
tarekat yang dijalanniya, seorang murid bisa membuat tarekat baru atau
menggabungkanya dengan tarekat yang lain. Maka dari itu, mungkin jumlah tarekat
di Indonesia sendiri lebih dari 43.
Secara garis besar, kaum sufi dibagi menjadi dua golongan. Yaitu
sufi amali dan sufi falsafi. Kedua golongan tersebut menjadi hal yang teramat
vital perkembanganya dan mempengaruhi warna tarekat di Indonesia. Rabiah al
Adawiyah dan Ibnu Arabi kiranya mewakili kedua golongan besar tersebut. Rabiah
sebagai salik di jalan cinta (hub) sedangkan
Ibnu Arabi adalah golongan yang lain yang menekankan salik berdasar pengalaman
emprik dan pengetahuan. Meskipun penyatuan itu tidak bisa dinyatakan dalam
keempirisan suatu kejaian. Kedua ulama besar itu menjadi warna dalam pondok
pesantren di Nusantara pada saat ini. namun salik-saik lain seperti Imam Al
Ghazali, Suhrawardi Al Maqtul juga dibahas disini.
Berdirinya NU (Nahdatul Ulama) juga disinggung disini.
Berdirinya NU adalah sebagai antithesis kegelisahan Hadratus Syekh Hasyim Asari
yang melihat bahwa Wahabi mulai masuk dan menggerogoti kebinekaan. Maka dari
Itu NU lahir. Selain itu NU ada untuk menjadi wadah dari tarekat-tarekat yang
selumnya ada secara sporadis, kini telah mempunyai benteng yang kokoh. NU
bercorak Islam woles ditengah
kebanyakan islam tekstual takfiri. Huallahu
A’lam Bishawab.
__
*rampung
No comments:
Post a Comment