Monday, 6 March 2017

Jalan Sunyi Seorang Sufi



Judul Buku                  : Akulah Debu di Jalan Al-Mustafa : Jejak-Jejak Awliya Allah
Pengarang                   : Tri Wibowo BS
Penerbit                      : Prenada
Tahun Terbit               : cetakan pertama, September 2015
Bahasa                        : Indonesia
Halaman                     : xv+548

Menjadi salik di jalan cinta kepada Gusti Allah ternyata gampang-gampang susah. Dalam menjadi seorang salik seorang pecinta diharuskan untuk tahu diri agar tahu yang dicintai. Man arofa nafsahu faqad arofa Robbahu. (jawa:Sapa sing ngerti marang awake dhewe prasasat ngeti Pangerane). Siapa yang mengetahui kedirianya pasti akan tahu siapa Tuhanya. Setelah kita tahu bahwa mengerti diri sendiri adalah mutlak penting, maka langkah pertama untuk mebuka hijab itu adalah dengan sarana mensucikan diri dari hadas, ataupun dosa melalui tazkiyatun nafs. Menghitung kapasitas diri.
Di Nusantara ini, banyak sekali Awliyaallah yang mapir dan singgah untuk membagi ilmu spiritualnya kepada masyarakat. Mulai dari Sumatra, Jawa, Borneo, Bali, Sulawesi. Nama-nama Awliyaalah itu diantaranya adalah Hamzah Fansuri, Nurrudin Arraniri, Sunan Kalijaga, Syekh Yusuf Al Makasari. Dll. Mereka mengajarkan untuk membenarkan ajaran agar sampai ke Allah (Innalilahi Wa Inaillihi Rojiun). Dalam penyebaranya meerka menggunakan berbagai macam sarana seperti musik, karomah dan lain sebagainnya. Ajaran inti yang dibawa oleh mereka adalah memalui empat tahap yaitu syariaat, tarekat, hakikat dan makrifat.
Untuk menjadi seorang pejalan spiritual, harus melalui tahapan-tahapan yang sudah tertulis oleh sufi-sufi besar. Tingkatan itu sudah banyak diketahui orang. Antara lain syariat, tarikat, hakikat, makrifat. Dalam syariat kita diajarkan untuk mengumpulkan ilmu-ilmu yang banyak, dalam hal ini jika dianalogikan adalak persiapan bekal untuk menjalani perjalanan spiritual, harus mempunyai bekal yang cukup. Setelah itu menuju tarikat, yaitu perjananannya. Dalam perjalanan ini seseorang disunahkan utnuk selalu mendekat dengan Allah melalui laku-laku spiritual semacam mengurangi makan, dan minun dan tidur, beruzlah, wirid dan laku spiritual lain yang mendekatkan diri kita ke Allah. Setelah semuanya terlampaui maka langkah selanjutnya adalah hakikat. Dalam hakikat kita bisa mengetahui esensi-esensi setiap ciptaan, dan ternyata itu semua adalah Allah yang ingin dikenal. Dalam sebuah hadist menyebutkan bahwa Allah adalah khazanah yang tersembunyi, karena itu Ia ingin dikenal. Maka Ia menciptakan ciptaan dari cuwilan diriNya untuk dikenali dan dicintai adaNya. Dan puncak dari perjalanan saliik itu adalah Makrifat. Yang dimaksud makrifat adalah ketika hijab, batas dari seorang hamba dan Tuhanya telah terbuka dan ia dan Tuhanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Maka disanalah makrifat terjadi. Ego hilang, hancur, dan lenyap ketika berhadapan dengan Tuhan.
Dalam menjadi pejalan spiritual seseorang harus mendapatkan bimbingan dari seorang guru. Banyak hal yang abu-abu yang dialami seorang murid yang nantinya akan menyesatkan seseroang dalam meraih persatuan denagn Tuhanya. Guru spiritual berfungsi sebagai tolak ukur seorang murid sudah mencapai tahap makrifaullah atau belum. Guru akan memberi tahu langkah-langkah yang patutnya diambil olah seorang pejalan salik yang masih hijau.
Dalam perkembanganya untuk menjadi seorang pejalan salik, di Indonesia telah banyak bertebaran tarekat-tarekat yang menjadi sarana pejalan untuk menemukan Tuhanya. Kita ambil contoh adalah Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu Hasan Assadzili, Naqsabandiyah, Qadiriyah dan masih banyak lagi dalam perkembanganya yang diarsipkan oleh Nahdatul Ulama adalah 43 tarekat. Selain itu embuh. Karena dalam perkembanganya yang namanya tarekat itu ketika sudah selesai dengan tarekat yang dijalanniya, seorang murid bisa membuat tarekat baru atau menggabungkanya dengan tarekat yang lain. Maka dari itu, mungkin jumlah tarekat di Indonesia sendiri lebih dari 43.
Secara garis besar,  kaum sufi dibagi menjadi dua golongan. Yaitu sufi amali dan sufi falsafi. Kedua golongan tersebut menjadi hal yang teramat vital perkembanganya dan mempengaruhi warna tarekat di Indonesia. Rabiah al Adawiyah dan Ibnu Arabi kiranya mewakili kedua golongan besar tersebut. Rabiah sebagai salik di jalan cinta (hub) sedangkan Ibnu Arabi adalah golongan yang lain yang menekankan salik berdasar pengalaman emprik dan pengetahuan. Meskipun penyatuan itu tidak bisa dinyatakan dalam keempirisan suatu kejaian. Kedua ulama besar itu menjadi warna dalam pondok pesantren di Nusantara pada saat ini. namun salik-saik lain seperti Imam Al Ghazali, Suhrawardi Al Maqtul juga dibahas disini.
Berdirinya NU (Nahdatul Ulama) juga disinggung disini. Berdirinya NU adalah sebagai antithesis kegelisahan Hadratus Syekh Hasyim Asari yang melihat bahwa Wahabi mulai masuk dan menggerogoti kebinekaan. Maka dari Itu NU lahir. Selain itu NU ada untuk menjadi wadah dari tarekat-tarekat yang selumnya ada secara sporadis, kini telah mempunyai benteng yang kokoh. NU bercorak Islam woles ditengah kebanyakan islam tekstual takfiri. Huallahu A’lam Bishawab.
__
*rampung 

No comments:

Post a Comment