Judul Buku :
Cerpen Pilihan Kompas 2015 : Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?
Pengarang :
Ahmad Tohari, dkk.
Penerbit :
Kompas
Tahun Terbit :
2016
Bahasa :
Indonesia
Halaman :
xviii+222
Jakarta adalah sebuah ibu kota negara yang begitu indah.
Disana terdapat berbagai macam ras, suku, agama, kepribadian, yang mengadu
nasip untuk sekedar bertahan hidup mencari sesuap nasi di belantara kota yang
kata orang kejam. Jakarta dengan segala kemolekanya mengundang orang-orang
untuk datang dan mencari penghidupan. Eh bukan hanya penghidupan ternyata,
meraka disana juga melakukan sesuatu untuk meneguhkan eksistensi untuk berada
dalam Jakarta tanpa harus kehilangan jatidiri mereka sebagai orang rantau.
Setiap detik berlalunya, Jakarte menjadi tempat yang elok untuk di datangi,
disinggahim untuk mengadu nasip beradu karya. Jakarta begitu molek, sedap
dipandang mata, namun dalam kemolekanya juga ada sisi satirnya, nelangsanya
hidup sebagai orang rantau di Jakarta.
Cerita dimulai di ujung sebuah pemukiman kumuh di bagian
akar rumput di Jakata. Sebuah keluarga pemulung, pengamen atau apa itu saya
juga kurang begitu mengenal, hidup nomaden dibawah jembatan layang kota
Jakarta. Beton-beton keras menjadi saksi, bahwa mereka juga harus keras seperti
beeton gedung pencakar langit itu jika tidak mau digusur dari Jakarta. Keluarga
yang mempunyai beberapa anak yang kebanyakan harinya untuk makan meraka hanya
makan mi instan. Tanpa direbus. Hanya disebuh dengan air panas. Itupun keluarga
itu harus berbagi tengan anggota keluarga yang lain. Anaknya makan mi sedangkan
ibunya minum kuahnya. Begitu menyayat hati. Bagaimana jika saya hidup seperti
itu? mungkin sengsara atau mungkin karena biasa mereka menjadi kebal akan
perasaan nelangsa? Saya kira tidak. Ahmad Tohari, sang maestro cerita, pembuat
trilogi sang ronggeng (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan
Jantra Bianglala) menarasikan ceritanya. Begitu bulat dan utuh.
Cerita kedua yang begitu membekas hingga saat ini adalah
cerita yang dibuat oleh narrator Bali, Gde Aryatha Soethama. Ia mengisahkan
tentang adu ayam di Bali yang begitu ngetop. Ia menceritakan tentang seseorang
yang gila akan adu ayam yang karena itu ia meninggalkan keluarganya, (sebenarya
hanya seorang istri) demi menjalani pertarunagn adu ayam, agar ayamnya jago dan
menjadi juara pada setiap laga pertandingan maka ia tidak segan-segan untuk
mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk merawat ayamnya. Memandikan, mengurus,
mendukukunkan ayamnya dengan syarat-syarat yang tidak mudahpun ia lakoni.
Hingga suatu ketika istrinya selingkuh dengan laki-laki lain. Tepat didepan
mata, dan sedang memadu kasih. Sebagai seorang jantan yang normal. Marah itu
menjadi hal yang wajar ketika melihat istri sedang serong dengan lelaki lain.
Kemarahan memuncak dan seketika tokoh utama membacok tangan lelaki itu. dan
lelaki itu jatuj ke jurang karena dikejar oleh aku.
Begitu indah cerita yang dikarang bli Gde, paling tidak
saya bisa mencontoh sikap sayang istri (jikalau sudah punya nanti), memberikan
nafkah lahir batin, dan tentunya perhatian. Selain sayang istri, bli Gde juga
mengisyaratkan bahwa Bali saat itu adalah tempat yang setiap jengkalnya
dieksplor oleh orang asing. Mulai deri kota hingga desa-desa pelosok. Dan
karena itu Bali menjadi terbuka, tidak ada privasi, seoralh-olah semua yang ada
disana bisa dikomersilkan, dijepret dan upload pada media sosial oleh
turis-turis asing maupun domestic. Kemnalikan kesakralan Bali, tidak semua
harus dieksplor sedalam itu. mungkin itu yang mau diceritakan bli Gde kepada
kita.
Dan yang terakhir saya tertarik dengan cerita yang
dituliskan oleh Joko Pinurbo. Ia mengisakan perjalanannya ketika hendak bertemu
dengan Sapardi Joko Damono, yang sama-sama penyair. Ceritanya tentang hujang
yang terwadahi dengan botol kecap. Airnya? Bukan sama sekali. Namun suaranya,
iya suara hujan yang diwadahi oleh Joko dalam botol beling wadah kecap. Begitu
mengesankan. Tidak sampai disitu. Joko juga berhasil memainkan imaji saya
tentang sepotong senja. Sepotong senja yang terbawa oeh burung, dank arena
macet senja itu tidak sampai tujuan. Maka oleh burung itu dijatuhkan dan
dipungut oelh Joko. Sepotong senja itu dimasukan dalam saku butunya, dan
simsalabim sepotong senja itu luntur, melunturi baju Joko, Asem tenan! Dan
setelah Joko Pinurbo ketemu dengan kawan lamanya Saparti dicampurnya sepotong
senja itu dengan suara hujan yang terwadahi oleh botol kecap. Dan mengocoknya.
Simsalabim campuran dua elemen itu menjadi Bunga oranye yang begitu indah.
Diimaji saya bunga oranye itu muncul sebagai bunga teratai yang berwara senja.
Terimakasih untukmu Joko Pinurbo. Mantap!
Dan pada akhriya tiba di penghujung petang hari ketika saya
harus meninggalkan sepotong senja tersebut. Purna sudah tulisan ini yang hanya
sekedar menceritakan reviu buku mantap Kompas. Terimakasih teruntuk Anda
sekalian karena telah menyempatkan untuk membaca sebuah reviu ini. salam
sepesial utuk Anda dan semoga anda menemukan sepotong senja yang begitu menentramkan.
__
*syudah
No comments:
Post a Comment