Thursday, 2 March 2017

Cerita Indah Warga Indonesia (?)


 
Judul Buku                  : Cerpen Pilihan Kompas 2015 : Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?
Pengarang                   : Ahmad Tohari, dkk.
Penerbit                      : Kompas
Tahun Terbit               : 2016
Bahasa                        : Indonesia
Halaman                     : xviii+222

Jakarta adalah sebuah ibu kota negara yang begitu indah. Disana terdapat berbagai macam ras, suku, agama, kepribadian, yang mengadu nasip untuk sekedar bertahan hidup mencari sesuap nasi di belantara kota yang kata orang kejam. Jakarta dengan segala kemolekanya mengundang orang-orang untuk datang dan mencari penghidupan. Eh bukan hanya penghidupan ternyata, meraka disana juga melakukan sesuatu untuk meneguhkan eksistensi untuk berada dalam Jakarta tanpa harus kehilangan jatidiri mereka sebagai orang rantau. Setiap detik berlalunya, Jakarte menjadi tempat yang elok untuk di datangi, disinggahim untuk mengadu nasip beradu karya. Jakarta begitu molek, sedap dipandang mata, namun dalam kemolekanya juga ada sisi satirnya, nelangsanya hidup sebagai orang rantau di Jakarta.
Cerita dimulai di ujung sebuah pemukiman kumuh di bagian akar rumput di Jakata. Sebuah keluarga pemulung, pengamen atau apa itu saya juga kurang begitu mengenal, hidup nomaden dibawah jembatan layang kota Jakarta. Beton-beton keras menjadi saksi, bahwa mereka juga harus keras seperti beeton gedung pencakar langit itu jika tidak mau digusur dari Jakarta. Keluarga yang mempunyai beberapa anak yang kebanyakan harinya untuk makan meraka hanya makan mi instan. Tanpa direbus. Hanya disebuh dengan air panas. Itupun keluarga itu harus berbagi tengan anggota keluarga yang lain. Anaknya makan mi sedangkan ibunya minum kuahnya. Begitu menyayat hati. Bagaimana jika saya hidup seperti itu? mungkin sengsara atau mungkin karena biasa mereka menjadi kebal akan perasaan nelangsa? Saya kira tidak. Ahmad Tohari, sang maestro cerita, pembuat trilogi sang ronggeng (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantra Bianglala) menarasikan ceritanya. Begitu bulat dan utuh.
Cerita kedua yang begitu membekas hingga saat ini adalah cerita yang dibuat oleh narrator Bali, Gde Aryatha Soethama. Ia mengisahkan tentang adu ayam di Bali yang begitu ngetop. Ia menceritakan tentang seseorang yang gila akan adu ayam yang karena itu ia meninggalkan keluarganya, (sebenarya hanya seorang istri) demi menjalani pertarunagn adu ayam, agar ayamnya jago dan menjadi juara pada setiap laga pertandingan maka ia tidak segan-segan untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk merawat ayamnya. Memandikan, mengurus, mendukukunkan ayamnya dengan syarat-syarat yang tidak mudahpun ia lakoni. Hingga suatu ketika istrinya selingkuh dengan laki-laki lain. Tepat didepan mata, dan sedang memadu kasih. Sebagai seorang jantan yang normal. Marah itu menjadi hal yang wajar ketika melihat istri sedang serong dengan lelaki lain. Kemarahan memuncak dan seketika tokoh utama membacok tangan lelaki itu. dan lelaki itu jatuj ke jurang karena dikejar oleh aku.
Begitu indah cerita yang dikarang bli Gde, paling tidak saya bisa mencontoh sikap sayang istri (jikalau sudah punya nanti), memberikan nafkah lahir batin, dan tentunya perhatian. Selain sayang istri, bli Gde juga mengisyaratkan bahwa Bali saat itu adalah tempat yang setiap jengkalnya dieksplor oleh orang asing. Mulai deri kota hingga desa-desa pelosok. Dan karena itu Bali menjadi terbuka, tidak ada privasi, seoralh-olah semua yang ada disana bisa dikomersilkan, dijepret dan upload pada media sosial oleh turis-turis asing maupun domestic. Kemnalikan kesakralan Bali, tidak semua harus dieksplor sedalam itu. mungkin itu yang mau diceritakan bli Gde kepada kita.
Dan yang terakhir saya tertarik dengan cerita yang dituliskan oleh Joko Pinurbo. Ia mengisakan perjalanannya ketika hendak bertemu dengan Sapardi Joko Damono, yang sama-sama penyair. Ceritanya tentang hujang yang terwadahi dengan botol kecap. Airnya? Bukan sama sekali. Namun suaranya, iya suara hujan yang diwadahi oleh Joko dalam botol beling wadah kecap. Begitu mengesankan. Tidak sampai disitu. Joko juga berhasil memainkan imaji saya tentang sepotong senja. Sepotong senja yang terbawa oeh burung, dank arena macet senja itu tidak sampai tujuan. Maka oleh burung itu dijatuhkan dan dipungut oelh Joko. Sepotong senja itu dimasukan dalam saku butunya, dan simsalabim sepotong senja itu luntur, melunturi baju Joko, Asem tenan! Dan setelah Joko Pinurbo ketemu dengan kawan lamanya Saparti dicampurnya sepotong senja itu dengan suara hujan yang terwadahi oleh botol kecap. Dan mengocoknya. Simsalabim campuran dua elemen itu menjadi Bunga oranye yang begitu indah. Diimaji saya bunga oranye itu muncul sebagai bunga teratai yang berwara senja. Terimakasih untukmu Joko Pinurbo. Mantap!
Dan pada akhriya tiba di penghujung petang hari ketika saya harus meninggalkan sepotong senja tersebut. Purna sudah tulisan ini yang hanya sekedar menceritakan reviu buku mantap Kompas. Terimakasih teruntuk Anda sekalian karena telah menyempatkan untuk membaca sebuah reviu ini. salam sepesial utuk Anda dan semoga anda menemukan sepotong senja yang begitu menentramkan.
__
*syudah

No comments:

Post a Comment