Thursday, 16 February 2017

Belajar Mencintai



Belajar Mencintai

Sebuah Arsip Ngaji Filsafat edisi Filsafat Cinta : Erich Fromm



Curhat sithik...

Hidup penuh dengan dinamika yang mengundang kita untuk bertanya  untuk apa kita ada disini?. Pertanyaan eksiatensial itu yang kini coba mengusik benak saya setelah ngaji filsafat yang barusan terlewat. Sejatinya, manusia membutuhkan orang lain untuk meneguhkan eksistensinya di bumi dan untuk saling bekerja sama dan mengisi satu sama lain dari kekosongn dan dan keterpisahan eksistensial.

Manusia ada bukan karena kehendaknya sendiri dan akan pergi nanti juga bukan karena kehendaknya sendiri. Kita dilahirkan melaui perantara bapak dan ibu kita, bukan kita sendiri yang minta dan hidup, mengecap manisnya dunia, dan setelah terbuai, maka ikatan itu kian kencang. Hingga saatnya tiba, kita juga  tidak kuasa menahan apa yang sudah menjadi garising pesthi, yaitu mati.

Untuk mengikis kesendirian dan keterpisahan eksistensial itu Tuhan menciptakan cinta. Dengan cinta, kita bisa menabal satu, dua mili luka karena kekosongan dan keterpisahan eksistensial ini. Dalam kesunyian dan keterpisahan ini, kita sebagai manusia ingin sekali melekat dengan liyan. Sudah menjadi fitrah manusia keadaan seperti ini lazim terjadi. Dengan cinta, kita melekat pada person ataupun benda yang kita rasa dapat menutup lubang yang menganga akibat kekosongan dan keterpisahan eksistensial ini. Namun kemelekatan ini juga nantinya akan membuat lubang baru dalam relung jiwa kita.

Cinta yang benar adalah cinta yang peduli, penuh tanggung jawab saling menjaga dan mendukung yang akhirnya cinta akan meluber kepada semuanya. Cinta yang bener akan memupuk berkembangnya potensi kebaikan yang  dimiliki. Tidak menguasai atau dikuasai, tidak berfikir tentang untung rugi apa lagi hanya sekedar birahi yang maknanya hanya seujung jari.

Kegalauan Erik...

Lebih dari 100 tahun.lampau pikiran ini telah direnungkan oleh sarjana kenamaan Jerman, Erich Fromm. Fromm merasakan dunianya yang sedang usum perang, ia teringat tentang sabda gurunya Sigmund Freud ahli psiko analisa yang menghasilkan teori behavioristik, yang dalam temuanya Freud mengatakan bahwa yang membuat manusia galau luar biasa karena anugrah berupa libido termasuk libido membunuh teman sendiri. Dalam perang hal itu lumrah. Dan karena mudahnya membunuh, dalam psikologis pelaku sebenarnya juga tertekan, karena itu pembunuh atau yang kehilangan anggota keluarganya karena perang menjadi galau.  Erich Fromm mencoba menemukan sudut pandang lain dalam penelitian yang dilakukan gurunya tersebut. Bahwa yang membuat manusia galau adalah kesendirian dan keterpisahan eksiatensial yang dialami oleh kebanyakan manusia modern.  Manusia modern apa lagi yang berada di kota besar sering terjangkiti penyakit ini. Fromm juga mengutarakan dan merasakan sendiri bahwa keterpisahan ini menimbulkan kengerian. Disaat kesendirian itu mampir, orang kota menerjemahkan keterpisahan dan kesendirian itu suatu hal yang mengerikan dan harus dijauhi. Karena itu, Fromm mulai belajar khazanah keseimbangan dan keagamaan untuk mengimbangi pemikiranya.

Faham zen Budhisme telah merasuk dalam gerak langkah keagamaan Fromm. Ia selalu menekankan keseimbangan bukan hanya fisik. Namun cinta yang holistik meliputi kejiwaan dan spiritiluatitas juga menjadi laham persemaian cinta.

Cinta dan Bhineka

Cinta itu menerima perbedaan bukan menuntut penyeragaman. Tidak mungkin jika mereka yang kita cinta harus menjadi sama dengan kita. Berdiri dengan warna kita masing-masing lebih terlihat menarik. Semangat cinta adalah semangat egaliarianisme, sejajar. Berdiri sama tinggi, dan berjalan seauai fungsi masing-masing. Jika dibaratkan dengan tiang masjid, tiang penyangga terletak terpisah namun hakikatnya satu, yaitu sebagai landas tumpu kubah masjid yang besar. Jika tiang terkumpul memusat maka masjid tidak akan berdiri. Begitu juga perbedaan dalam bernegara, kebangsaan tidak akan kokoh berdiri jika terjadi penyeragaman cara berfikir dan bertindak seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Ormas  garis keras menuntut penyeragaman. Pada titik ekstremnya, liyan akan dilarang mengada atau bereksiatensi. Sedih memang jika difikirkan. Jika kita lihat Qur'an pun semangat bhineka itu juga tertulis disana. Bahwa kita itu diutus oleh Tuhan untuk saling menghargai dan saling mengenal.

Katakanlah: Dialah Allah, yang Maha Satu, Allah tempat meminta segala sesuatu, Allah tidak beranak dan diperanakan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (Q.S. Al Ikhlas).

Jika Tuhan yang  mencipta keberagaman itu satu, mungkin saja pengenalan etnis, pikiran, dan segala seauatu yang berbeda itu mendekatkan kita kepada-Nya
_______
*sudah

No comments:

Post a Comment