Belajar Mencintai
Sebuah Arsip Ngaji Filsafat edisi Filsafat Cinta : Erich Fromm
Curhat sithik...
Hidup penuh dengan dinamika yang mengundang kita untuk
bertanya untuk apa kita ada disini?.
Pertanyaan eksiatensial itu yang kini coba mengusik benak saya setelah ngaji
filsafat yang barusan terlewat. Sejatinya, manusia membutuhkan orang lain untuk
meneguhkan eksistensinya di bumi dan untuk saling bekerja sama dan mengisi satu
sama lain dari kekosongn dan dan keterpisahan eksistensial.
Manusia ada bukan karena kehendaknya sendiri dan akan pergi
nanti juga bukan karena kehendaknya sendiri. Kita dilahirkan melaui perantara
bapak dan ibu kita, bukan kita sendiri yang minta dan hidup, mengecap manisnya
dunia, dan setelah terbuai, maka ikatan itu kian kencang. Hingga saatnya tiba,
kita juga tidak kuasa menahan apa yang
sudah menjadi garising pesthi, yaitu mati.
Untuk mengikis kesendirian dan keterpisahan eksistensial
itu Tuhan menciptakan cinta. Dengan cinta, kita bisa menabal satu, dua mili
luka karena kekosongan dan keterpisahan eksistensial ini. Dalam kesunyian dan
keterpisahan ini, kita sebagai manusia ingin sekali melekat dengan liyan. Sudah
menjadi fitrah manusia keadaan seperti ini lazim terjadi. Dengan cinta, kita
melekat pada person ataupun benda yang kita rasa dapat menutup lubang yang
menganga akibat kekosongan dan keterpisahan eksistensial ini. Namun kemelekatan
ini juga nantinya akan membuat lubang baru dalam relung jiwa kita.
Cinta yang benar adalah cinta yang peduli, penuh tanggung
jawab saling menjaga dan mendukung yang akhirnya cinta akan meluber kepada
semuanya. Cinta yang bener akan memupuk berkembangnya potensi kebaikan
yang dimiliki. Tidak menguasai atau
dikuasai, tidak berfikir tentang untung rugi apa lagi hanya sekedar birahi yang
maknanya hanya seujung jari.
Kegalauan Erik...
Lebih dari 100 tahun.lampau pikiran ini telah direnungkan
oleh sarjana kenamaan Jerman, Erich Fromm. Fromm merasakan dunianya yang sedang
usum perang, ia teringat tentang sabda gurunya Sigmund Freud ahli psiko analisa
yang menghasilkan teori behavioristik, yang dalam temuanya Freud mengatakan
bahwa yang membuat manusia galau luar biasa karena anugrah berupa libido
termasuk libido membunuh teman sendiri. Dalam perang hal itu lumrah. Dan karena
mudahnya membunuh, dalam psikologis pelaku sebenarnya juga tertekan, karena itu
pembunuh atau yang kehilangan anggota keluarganya karena perang menjadi
galau. Erich Fromm mencoba menemukan
sudut pandang lain dalam penelitian yang dilakukan gurunya tersebut. Bahwa yang
membuat manusia galau adalah kesendirian dan keterpisahan eksiatensial yang
dialami oleh kebanyakan manusia modern.
Manusia modern apa lagi yang berada di kota besar sering terjangkiti
penyakit ini. Fromm juga mengutarakan dan merasakan sendiri bahwa keterpisahan
ini menimbulkan kengerian. Disaat kesendirian itu mampir, orang kota
menerjemahkan keterpisahan dan kesendirian itu suatu hal yang mengerikan dan
harus dijauhi. Karena itu, Fromm mulai belajar khazanah keseimbangan dan
keagamaan untuk mengimbangi pemikiranya.
Faham zen Budhisme telah merasuk dalam gerak langkah
keagamaan Fromm. Ia selalu menekankan keseimbangan bukan hanya fisik. Namun
cinta yang holistik meliputi kejiwaan dan spiritiluatitas juga menjadi laham
persemaian cinta.
Cinta dan Bhineka
Cinta itu menerima perbedaan bukan menuntut penyeragaman.
Tidak mungkin jika mereka yang kita cinta harus menjadi sama dengan kita.
Berdiri dengan warna kita masing-masing lebih terlihat menarik. Semangat cinta
adalah semangat egaliarianisme, sejajar. Berdiri sama tinggi, dan berjalan
seauai fungsi masing-masing. Jika dibaratkan dengan tiang masjid, tiang
penyangga terletak terpisah namun hakikatnya satu, yaitu sebagai landas tumpu
kubah masjid yang besar. Jika tiang terkumpul memusat maka masjid tidak akan
berdiri. Begitu juga perbedaan dalam bernegara, kebangsaan tidak akan kokoh
berdiri jika terjadi penyeragaman cara berfikir dan bertindak seperti yang
terjadi akhir-akhir ini. Ormas garis
keras menuntut penyeragaman. Pada titik ekstremnya, liyan akan dilarang mengada
atau bereksiatensi. Sedih memang jika difikirkan. Jika kita lihat Qur'an pun
semangat bhineka itu juga tertulis disana. Bahwa kita itu diutus oleh Tuhan
untuk saling menghargai dan saling mengenal.
Katakanlah: Dialah
Allah, yang Maha Satu, Allah tempat meminta segala sesuatu, Allah tidak beranak
dan diperanakan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (Q.S. Al
Ikhlas).
Jika Tuhan yang
mencipta keberagaman itu satu, mungkin saja pengenalan etnis, pikiran,
dan segala seauatu yang berbeda itu mendekatkan kita kepada-Nya
_______
*sudah
No comments:
Post a Comment