
Buku Theological highlights of Vatican
(Sumber: amazon.com)
#ResensiBuku
|
Judul Buku
|
: Puntjak-Puntjak Teologis dalam
Konsili Vatikan II
|
|
Pengarang
|
: Joseph Ratzinger (terj)
|
|
Penerbit
|
: Kanisius
|
|
Tahun Terbit
|
: 1970
|
|
Cetakan
|
: Pertama
|
|
Tempat Terbit
|
: Yogyakarta
|
|
Bahasa
|
: Indonesia
|
|
Halaman
|
: 173 hlm
|
|
ISBN
|
: -
|
Setelah membaca buku ini saya
menjadi lebih ngerti sedikit tentang sebuah Konsili. Kalau menurut saya,
konsili itu merupakan pertemuan yang membahas sebuah masalah teologis yang
berdampak radikal dan luas dalam agama Kristen. Dalam konsili Vatikan ke II
dibahas tentang sikap gereja dan pastoral menghadapi modernitas dan perubahan
terkait bidang-bidang vital bergeraknya sebuah Institusi Agama. Didalamnya
dirembug masalah-masalah radikal semacam pengambilan sikap Vatikan dalam
menghadapi modernitas, status gereja, pernikahan, misi, dan juga perang.
Konsili Vatikan ke II ini berlangsung di Vatikan pada abad ke 20.
Konsili Vatikan ke II ini dihadiri
beberapa negara pewakilan. Datang dari beberapa negara tetangga seperti
Perancis, Jerman dan Asia yang membawa uneg-unegnya
masing masing terkait dengan daerah misinya masing-masing. para misionaris
itu nguda rasa ketika harus
berhadapan dengan masyarakat yang berbeda kultur. Sehingga dalam Konsili
Vatikan Ke II ini, segalanya dirembug untuk mencari penyelesaian terhadap
sesuatu yang mengganjal tersebut.
Bidang bahasan yang masih nyanthol di pikiran saya yaitup pertama yang nyangkut di pikiran saya
adalah tentang sebuah modernitas. Modernitas yang telah merebak dan merasuk ke
segala bidang tak terkecuali warga negara menjadi bahasan yang mendasari adanya
Konsili Vatikan II. Pengambilan sikap menghadapinya juga dibahas. Sikap gereja
akankah menolak atau menerima secara bulat atau menerima dengan sebuah syarat-syarat khusus?
Kedua status gereja. Disini dibahas bagaimana posisi gereja. Gereja
yang sebelumnya terpusat (sentralistis) kini mulai melebarkan sayap mengan
membuat gereja semakin terbuka dan menyebar (disentralistis). Setiap gereja
diluar Vatikan diusulkan untuk membuat kultur tersendiri, dan mungkin bisa
dikembangkan lebih lanjut namun cetak biru misi masih atas kuasa penuh Vatikan.
Ketiga tentang pernikahan. Pernikahan bagi orang kristiani termasuk
ritual suci sehingga perlu dibahas juga dalam konsili. Pada bab ini dibahas
bagaimana seorang itu ketika akan menikah. Syarat-syaratnya dan juga hal-hal
lain yang berkaitan dengan hal tersebut.
Keempat hal yang dibahas adalah masalah misi. Seperti agama Islam
yang juga agama misi hal ini juga dirembug
di Konsili Vatikan ke II. Yang disebut agama misi adalah sebuah agama yang
didalamnya para penganut menyebarkan secara aktif paham-paham yang dianut
kepada manusia lain. Fokus dari rembug misi
pada konsili Vatikan ke II ini adalah untuk mengetahui kapan saat yang tepat
menyebarkan faham keagamaan. Secepatnya ataukah pada waktu-waktu tertentu saja?
Juga dalam hal ini disinggung penyebaran misi melalui dakwah kultural yang tidak
melulu berkiblat pada Eropa abad pertengahan. Kalau menurut saya dakwah kultural ini wujud konkret dari
Konsili Vatikan ke II ini adalah pembangunan Gereja Kristen Jawa (GKJ) di
beberapa daerah di Jawa ini atau gereja-geraja di daerah lain yang menyesuaikan
dengan kultur yang ada pada daerah yang ditempati.
Terakhir adalah masalah perang. Tata krama dalam berperang juga
diatur dalam Konsili Vatikan ke II ini. Dulu Agama sering menjadi kambing hitam
ketika terjadi pertumpahan darah. Agama yang seharusnya membawa damai dijadikan
kedok untuk meraih kekuasaan. Sehingga muncul istilah istilah sangar seperti Richard the Lionheart, Saladin al
Ayubi atau Kesatria Templar.
Oleh : Lingga Fajar
Sleman, Kamis Pahing 06 Juli 2017/12 Sawal 1438 Hijriah
No comments:
Post a Comment