Wednesday, 5 July 2017

Lumut dan Pelapukan Batuan

Hasil gambar untuk lumut
foto lumut (byrophhyta)
(Sumber : http://www.artikelsiana.com)

Lumut tergolong tumbuhan purba. Ia sudah ada sejak bumi ini ada sejajar dengan bangsa pakis-pakisan. Paling tidak begitu menurut anak Kehutanan teman saya. dan belum tak klarifikasi lagi. Kemarin ketemu di sebuah acara yang bertemakan hutan-hutan yang dilakukan oleh BEM Fakultas Kehutanan kampus sebelah. Acaranya dilakukan di Wanasadi, Gunung Kidul.

Lumut tumbuhan kecil yang sering dianggap hama oleh orang sekitar. Biasanya nempel di tembok yang lembab. Lumut jika diinjak ia akan cêmèt dan licin, salah-salah karena menginjak lumut kita bisa nggeblak.Lumut bisa dianggap sebagai menunjuk dimana sumber air berada. Semakin tetebal lumut yang menempel pada sebuah pohon bisa jadi pertanda sudah dekatnya sumber air. Biasanya sih berupa air terjun.

Pada siang itu, saya iseng-iseng bertanya pada teman saya itu tentang pelapukan batuan, cara membuat tanah dari pelapukan batuan. “Bro, kalo ditempat batu bertanah seperti bagian lain dari Gunung Kidul ini caranya biar jadi tanah ginama bro?”. saya bertanya kepadanya.

Sebelum pertanyaan itu keluar dari mulut saya saya sudah diberitahu tentang dua definisi yang terkait dengan batuan. Pertama tanah berbatu dan kedua batu bertanah. Tanah berbatu, seperti yang terdapat di Wanasadi ini, komposisi tanahnya lebih banyak ketibang batuannya. Tanah seperti ini tidak sulit untuk ditanami, yah seperti tanah lumrah pada umumnya. Yang kedua batu bertanah, sudah bisa ditebak kan? Batu bertanah, menitik beratkan pada komposisi batunya lebih banyak ketimbang tanahnya. Tanah yang seperti ini tadi yang saya tanyakan kepada teman saya tadi. Tanah semacam ini agak sulit ditanami karena unsur hara kurang, gampang larut oleh bilasan air hujan.

“Nah untuk mesiasati batu bertanah itu penggunaan lumut sangat diperlukan disini, Mas”.

“Penggarapan batu bertanah, pada awalnya, adalah dengan menanami lumut. Gunanya lumut adalah untuk melapukan batuan agar nantinya bisa ada tanah. Seteah itu dicek keasaman tanah, jika dirasa masih terlalu asam maka tanah tersebut tidaburi dengan kapur”. Ia menjelaskan secara rinci.

Paling tidak untuk satu hari ini begitu berkesan bagi saya. menjadi lebih tahu akan lumut, ciptaan Tuhan yang bermanfaat. Terima kasih Tuhan telah menciptakan lumut untuk kami.

Oleh : Lingga fajar
Sleman, 5 Juli 2017/ 11 Sawal 1438



No comments:

Post a Comment