.jpg)
foto lumut (byrophhyta)
(Sumber : http://www.artikelsiana.com)
Lumut tergolong tumbuhan purba.
Ia sudah ada sejak bumi ini ada sejajar dengan bangsa pakis-pakisan. Paling
tidak begitu menurut anak Kehutanan teman saya. dan belum tak klarifikasi lagi.
Kemarin ketemu di sebuah acara yang bertemakan hutan-hutan yang dilakukan oleh
BEM Fakultas Kehutanan kampus sebelah. Acaranya dilakukan di Wanasadi, Gunung
Kidul.
Lumut tumbuhan kecil yang sering
dianggap hama oleh orang sekitar. Biasanya nempel di tembok yang lembab. Lumut
jika diinjak ia akan cêmèt dan licin, salah-salah karena menginjak lumut kita
bisa nggeblak.Lumut bisa dianggap
sebagai menunjuk dimana sumber air berada. Semakin tetebal lumut yang menempel
pada sebuah pohon bisa jadi pertanda sudah dekatnya sumber air. Biasanya sih
berupa air terjun.
Pada siang itu, saya iseng-iseng
bertanya pada teman saya itu tentang pelapukan batuan, cara membuat tanah dari
pelapukan batuan. “Bro, kalo ditempat batu bertanah seperti bagian lain dari
Gunung Kidul ini caranya biar jadi tanah ginama bro?”. saya bertanya kepadanya.
Sebelum pertanyaan itu keluar
dari mulut saya saya sudah diberitahu tentang dua definisi yang terkait dengan
batuan. Pertama tanah berbatu dan kedua batu bertanah. Tanah berbatu,
seperti yang terdapat di Wanasadi ini, komposisi tanahnya lebih banyak ketibang
batuannya. Tanah seperti ini tidak sulit untuk ditanami, yah seperti tanah lumrah pada umumnya. Yang kedua batu
bertanah, sudah bisa ditebak kan? Batu bertanah, menitik beratkan pada
komposisi batunya lebih banyak ketimbang tanahnya. Tanah yang seperti ini tadi
yang saya tanyakan kepada teman saya tadi. Tanah semacam ini agak sulit
ditanami karena unsur hara kurang, gampang larut oleh bilasan air hujan.
“Nah untuk mesiasati batu
bertanah itu penggunaan lumut sangat diperlukan disini, Mas”.
“Penggarapan batu bertanah, pada
awalnya, adalah dengan menanami lumut. Gunanya lumut adalah untuk melapukan
batuan agar nantinya bisa ada tanah. Seteah itu dicek keasaman tanah, jika
dirasa masih terlalu asam maka tanah tersebut tidaburi dengan kapur”. Ia menjelaskan
secara rinci.
Paling tidak untuk satu hari ini
begitu berkesan bagi saya. menjadi lebih tahu akan lumut, ciptaan Tuhan yang
bermanfaat. Terima kasih Tuhan telah menciptakan lumut untuk kami.
Oleh : Lingga fajar
Sleman, 5 Juli 2017/ 11 Sawal
1438
No comments:
Post a Comment