Raden Ngabehi Rånggåwarsitå
(Sumber gambar: http://illahfadhilatulummah.blogspot.co.id/2014/12/ronggo-warsito_18.html)
Serat sabda Jati
Pupuh Megatruh
14/19
//Waluyané bénjang lamun ånå wiku/ Mêmuji ngèsthi sawiji/ Sabuk tebu lir
majênun/ galibêdam tudang-tuding/ anacahkên sakèhing wong//
Arti 1:
Jaman kesengsaraan ini akan sirna
ketika datang seorang wiku. Ia selalu memuja Yang Satu dalam hatinya. Memakai
sabuk dari tebu* mirip orang gila. Kesana-kemari sibuk tunjuk-tunjuk menghitung
jumlah manusia.
Arti 2:
Huru-hara ini akan padam bersamaan
dengan datangnya seorang wiku yang di dalam hatinya hanya menyembah Yang Ahad.
Dengan kemantapan hati (tebu: antebing kalbu) menunjuk-nunjuk, mengatur, dan menempatkan orang banyak itu
sesuai kemampuan mereka dan ditempatkannya di pos-pos yang membutuhkan kekuatan
tenaga dan pikiran mereka.
R. Ng. Rånggåwarsitå
Nb.
Wiku: pendheta yang bertapa
No comments:
Post a Comment