Wednesday, 19 July 2017

Kurangi Pupuk Kimia Beralih ke Pupuk Organik


#ArtikelAgakSerius
Hasil gambar untuk organik
(sumber:http://www.tokomesin.com/peluang-usaha-makanan-organik-dan-analisa-usahanya.html)

 Negara Indonesia ini teramat luas dan memiliki lahan yang subur. Setiap jengkal tanahnya memberikan kehidupan bagi masyarakat. Tanah yang ditanami mempunyai hasil yang berbeda-beda. Sebut saja kopi, teh, kina, lada, cengkeh, dll. semuanya indah penuh makna dan berguna.
            Lahan di Indoensia yang subur ini nyatanya belum terkelola dengan baik. Mungkin karena kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengolah tanah air tercinta kita ini. sumber daya yang berlimpah dengan pengelolaan yang baik dan benar akan bisa menjadi faktor penentu majunya sebuah negara.
            Pernah dengan pupuk Urea? Pupuk Urea adalah pupuh yang kaya akan nitrogen namun penggunaan Urea yang berlebihan dalam jangka waktu lama juga bisa berdampak kurang baik bagi lapan pertanian. Seperti dikutip dari Sutariati, dkk. (2014)  Lahan yang dipupuk Urea secara terus menerus cenderung menampakkan respon kesuburan tanah yang cepat, tetapi berdampak terhadap cepat habisnya bahan organik tanah. Pemakaian pupuk dan pestisida kimia secara terus menerus dan tidak bijaksana menyebabkan tumpukan residu yang melebihi daya dukung lingkungan dan menyebabkan tanah menjadi “sakit”.
              Urea yang dulu menjadi primadona sebagai pupuk penyubur tanaman, kini jargon tersebut perlahan mulai luntur. Urea yang dahulu digadang-gadang sebagai Pupuk ajaib, yang mampu menyehatkan tanaman dengan seketika, kini efeknya sudah memudar. Dan kesalahan kembali terulang, untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat Urea yang tidak begitu berhasil digunakanlah pupuk kimia sintesis. Dan tanah pun semakin menjerit.
Penggunaan pupuk kimia sintesis menjadikan tanah sakit. Mikroba-mikroba penyubur tanah banyak yang mati tergerus dahysatnya pupuk kimia. Bukan hanya mikroba yang terkena dampak, namun juga hewan-hewan disekitarnya semacam ikan, yuyu dan kodok pun juga terimbas bahan kimia sinteis pertanian tersebut.
             Oleh karena itu peneliti LIPI mencoba mencari cara untuk memulihkan keadaan tanah seperti semula. Peneliti LIPI ini mengajukan solusi dengan pertanian organik. Para peneliti LIPI mencari cara untuk menyuburkan tanah, Mereka bereksperimen dengan Rizobakteri untuk memaksimalkan pertumbuhan. 


        Rizobakter adalah atau disebut juga dengan plant growth promoting bacteria (PGPR) adalah kumpulan bakteri menguntungkan yang ageresif mengkolonisasi rizosfir (lapisan tanah tipis antara 1-2 mm di sekitar zona perakaran. (Sumber: http://balittanah.litbang.pertanian.go.id)
          Pupuk organik ini menggunakan Rizobakteri. Pupuk ini telah dikembangkan oleh LIPI sebagai solusi untuk mengatasi kurang suburnya tanah dibidang pertanian karena penggunaan pupuk kimia sintetis. 


Foto rizobakteri Bradyrhizobium japonicum yang telah mengkoloni akar tanaman kacang kedelai dan membentuk simbiosis perbaikan nitrogen.
(Sumber: sains.kompas.com)

        Seperti dilansir dari sains.kompas.com (17/7/2017) Sarjiya Antonius, Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/7/2017)  mengatakan bahwa “Rizobakteri sangat berperan penting bagi pertumbuhan tanaman. Misalnya, rizobakteri menghasilkan root factor yang dapat memerintah akar bergerak ke tempat yang banyak nutrisi bagi tanaman,”
      Penggunaan Rizobakteri ini telah diujicobakan paling tidak dibeberapa kabupaten di Jawa. Seperti dilansir dari sains.kompas.com (17/7/2017) Sejauh ini, daerah yang telah menggunakan rizobakteri adalah Purbalingga, Wonogiri, dan Ngawi. Berkat formula tersebut, penggunaan pupuk kimiawi berhasil diturunkan hingga 50 persen.
            Penggunaan pupuk organik nyatanya lebih menyehatkan tanah dan tanaman daripda penggunaan pupuk sintetik ataupun kimia. Pembangunan berwawasan lingkungan dimulai dari hal yang kecil. Mulai sekarang mari cintai lingkungan dengan menggunakan pupuk organik.

Daftar pustaka:
ADMIN.(Tanpa Tahun).Rizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman.diambil dari : http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/en/berita-terbaru-topmenu-58/573-rptt (19 Juli 2017)
Putra, Lutfy Mairizal. 2017.Makhluk Cerdik itu Bernama Mikroba.diambil dari : http://sains.kompas.com/read/2017/07/18/160700523/makhluk-tercerdik-itu-bernama-mikroba.(19 Juli 2017)
Sutariati, Gusti Ayu Kade, dkk. 2014.Kajian Potensi Rizobakteri Pemacu Pertumbumbuhan Tanaman yang Diisolasi dari Rizosfer Padi Sehat.Kendari.Jurnal AGROTEKNOS Vol. 4 no.2 Hal. 71-77

Terbit pertama di UCNews dengan judul yang sama.

No comments:

Post a Comment